Biografi KH. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i

  • 23 March, 2016  09:11:18 

  • Oleh: Ade Hidayat, M.Pd.

    (Dosen Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mathla’ul Anwar Banten)

    KH. Uyeh Baluqiyah

     

    Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i atau biasa dipanggil oleh kalangan santri dan masyarakat sebagai Mama Uyeh lahir di Kampung Nenon Desa Sukawening Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung pada tanggal 22 Maret tahun 1926. Ayahnya bernama KH. Ahmad Syuja’i merupakan seorang ulama dan pimpinan pesantren di Kampung Nenon Ciwidey. Aktifitas KH. Ahmad Syuja’i sebagai seorang ulama dan pendakwah telah membentuk pemikiran keislaman KH. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i yang kental dan taat. Pola pendidikan yang diberikan KH. Ahmad Syuja’i terhadap Mama Uyeh yang penuh disiplin, terutama dalam bidang agama, mampu memberikan pengaruh terhadap pemikiran Mama Uyeh yang sejak kecil telah terbiasa dengan lingkungan pesantren dan pendidikan agama Islam yang ketat.

    Watak, perilaku dan kecerdasan KH. Ahmad Syuja’i dalam mendalami ilmu agama diwariskan kepada putranya, Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i. Ibunda Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i bernama Ibu Hj. Julaeha, yang dipanggil sebutan Mimih oleh keluarga besarnya adalah putri dari seorang kiai yang bernama KH. Muhammad Tahqiq yang merupakan guru dari KH. Ahmad Syuja’i.

    Pernikahan antara KH. Ahmad Syuja’i dan Hj. Julaeha didasarkan pada penilaian KH. Muhammad Tahqiq terhadap KH. Ahmad Syuja’i yang memiliki kelebihan baik dari watak, perilaku maupun kecerdasannya dalam mendalami pelajaran agama, yang kemudian hari kelebihannya ini diturunkan kepada anaknya KH. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i. Oleh karena itu, KH. Ahmad Syuja’i dipandang tepat untuk dijadikan menantu gurunya, menjadi suami Ibu Julaeha.

    Akhirnya, Bapak Ahmad Syuja’i resmi menikah dengan Mimih Julaeha sekitar tahun 1922. Beberapa bulan setelah Bapak Syuja’i dan Ibu Julaeha menikah, mereka meminta izin kepada KH. Muhamad Tahqiq beserta istri untuk meninggalkan pesantren Palgenep, Margahayu. Tujuan mereka adalah Kampung Nenon Sukawening, sebuah perkampungan yang  tidak jauh dari tempat kelahiran Bapak Ahmad Syuja’i. Di  samping mereka mencoba hidup mandiri, mereka juga segera merintis mendirikan sebuah pesantren agar mereka dapat mengamalkan ilmu-ilmu yang telah dipelajari selama di pesantren. Pesantren yang dibangun inilah yang akhirnya dikenal sebagai  sebutan Pesantren Nenon, Sukawening.

    Pada tahun 1923, kebahagiaan pertama menyelimuti Bapak Ahmad Syuja’idan Mimih Julaeha pada saat sedang giat-giatnya membangun pesantren di Kampung Nenon, mereka dikaruniai anak. Anak pertama Bapak-Mimih seorang perempuan yang diberi nama Uum Rumanah. Tiga tahun kemudian, pada tahun 1926 Bapak Syuja’i dan Mimih Julaeha mendapatkan kebahagiaan kelahiran anak keduanya seorang anak laki-laki yang diberi nama Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i, yang kelak menjadi pendiri dan sesepuh pimpinan Pondok Pesantren Yamisa Soreang. Saudara-saudara KH. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i lainnya adalah KSA Tanzihah, Lilih Kholisoh, Yayah Nurjanah, Ohah Rohaniah, Aisyah Khurosan, Deden Syarif Hamdani dan Ahmadi.

    Berikut silsilah keturunan KH.Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i  dari Bapak:

    • Rd. Jayamanggala (Dalem Sukapura VIII)
    • Ranceni Jayamanggala
    • Lampi
    • Tamri 2
    • Arsawijaya
    • Kartawijaya
    • KH. Ahmad Syuja’i
    • KH. Uyeh Balukiya Syakir

    Dari Ibu :

    • Khotib Muwahhid (Panyalahan Pamijahan)
    • Anisil Muttaqin
    • Syarif
    • KH. Muhammad
    • Ibu Hj. Julaeha
    • KH. Uyeh Balukiya

    Dari silsilah keturunan tersebut, KH. Uyeh Balukiya  Syakir Syuja’i dapat dianalisis adalah seorang keturunan bangsawan dari pihak Bapak dan ahli agama (ulama) dari pihak Ibu. Hal ini dapat dilihat dari hubungan garis keturunan KH. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i dengan Dalem Sukapura VIII dan Eyang Khotib Muwahhid (Panyalahan Pamijahan).

    1. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i menerima pendidikan agama yang sangat kuat sejak kecil dengan pendidikan pesantren. Sebagaimana anak ulama lain, Uyeh Balukiya kecil mendapatkan pendidikan agama sejak usia dini. Kemampuannya membaca, menulis dan dasar-dasar bahasa Arab ia dapatkan tidak langsung dari ayahnya, karena ketika menjelang pemberangkatan ke Tanah Suci Mekah, Bapak Ahmad Syuja’i dan Mimih Julaeha menitipkan kedua anaknya yang masih balita Uum Rumanah dan Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i kepada kakak kandung Mimih Julaeha tertua yang bernama Hj. Siti Maryam dan suaminya KH. Ahmad Karim.
    2. Ahmad Karim adalah seorang santri Pesantren Palgenep di Margahayu yang dinikahkan KH. Muhammad Tahqiq dengan putri tertuanya. KH. Ahmad Karim inilah yang merintis dan mendirikan pondok pesantren di Pasirnangka sekitar tahun 1943 setelah meninggalkan pesantren Palgenep di Margahayu untuk mengamalkan ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya.

    Sekembalinya Bapak Ahmad Syuja’i dan Mimih Julaeha dari Mekah, mereka awalnya akan mengambil kembali kedua anaknya yang dititipkan tersebut, namun kakak kandung Mimih, Hj. Siti Maryam dan, KH. Ahmad Karim, meminta izin dan keikhlasannya untuk merawat dan membesarkan kedua anak Bapak KH.Ahmad Syuja’i dan Mimih Hj. Julaeha dengan  alasan mereka belum dikaruniai seorang anak, dan mereka bermaksud meringankan beban Bapak KH.Ahmad Syuja’i dan Mimih  Hj. Julaeha, karena pada saat itu Bapak KH.Ahmad Syuja’i dan Mimih Hj. Julaeha relatif sangat sibuk mengelola Pesantren Nenon. Hj. Siti Maryam dan KH. Ahmad Karim menginginkan menjadi orang tua angkat kedua anak Bapak KH.Ahmad Syuja’i dan Mimih Hj. Julaeha tersebut dan mereka pun merelakannya.

    Dengan demikian, sejak kecil hingga dewasa, kedua anak Bapak KH.Ahmad Syuja’i dan Mimih Hj. Julaeha, yakni Uum Rumanah dan Uyeh Balukiya Syakir dirawat, dididik, digembleng, dibesarkan oleh kakak kandung Mimih. Bahkan, ketika KH. Ahmad Karim beserta istri pindah ke Pasir Nangka pun, Uum Rumanah dan Uyeh Balukiya Syakir dibawa serta ke Pasir Nangka.

    Setelah lulus dari pendidikan dasar pada tahun 1939 yang dulu disebut  Vervolg School, Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i berangkat menuju apa yang dicita-citakannya yaitu masantren sambil sekolah di Pondok Pesantren Sukamiskin sampai tahun 1944. Setelah itu beliau melanjutkan ke Perguruan Tinggi Islam di Jakarta dan Yogyakarta. Berkat pendidikan pesantren serta tidak melupakan pendidikan umum, Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i mempunyai ilmu yang sangat luas dan konsisten terhadap pendidikan keagamaan. Seperti pepatah bijak yang diturunkan kepada anak-anaknya “Ilmu pengetahuan tanpa agama akan buta, dan ilmu Agama tanpa pengetahuan akan lumpuh”

    Baca juga :  Kisah Perjuangan Ki Abdurahman dan Kereta Mogok

    Dalam kehidupan keluarga, KH. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i dengan Hj. E. Juhriyah dikaruniai sebelas orang anak, terdiri dari 2 laki-laki dan 9 perempuan, yaitu:

    1. Elinnasaadah
    2. Yayan Hasuna Hudaya
    3. Yuyu Hayyuna Zahra
    4. E. Priyati Gina Asri
    5. Epi Hipmi Baroya
    6. Astuti Puji Nisa
    7. Ahadiyati Emila
    8. Nursati Kurniasih
    9. Titik Kartika Parahdiba
    10. Hj. Sirri Aeni Nisa Hani
    11. Aida Karima Permatasari

    uyeh dan keluarga

    Foto Mama Uyeh beserta istri dan anak-anaknya (dok. Keluarga)

    Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i dapat dikategorikan sebagai ulama serba bisa. Dia adalah tokoh agama sekaligus tokoh politik. Sebagai tokoh agama KH. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i memiliki tugas untuk membina masyarakat melalui pengajaran-pengajaran dalam materi keislaman seperti tauhid, fiqih dan akidah. Sementara keterlibatannya dalam wilayah politik tidak terlepas dari kondisi sosial bangsa Indonesia yang masih dalam keadaan terjajah bangsa lain.

     

    uyeh dan keluargaPada tahun 1946 Belanda kembali ingin menduduki Indonesia, pemuda Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i tidak tinggal diam, maju ke medan perang mempertahankan agama dan kemerdekaan Negara Indonesia dengan membentuk barisan Sabilillah dan pasukan Hizbullah Batalyon III Divisi Sunan Gunung Jati yang bermarkas di pesantren Babakan Padang. Pada tahun 1946 Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i berjuang bersama KH. Asep Syaroni (Ajengan Syaroni) yang menjadi komandan Batalion dan Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i menjadi Kepala Staf, berjuang melawan penjajah Belanda yang ingin menjajah kembali bumi Indonesia. Pada tahun 1946 pula Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i diangkat menjadi komandan Batalyon III/Divisi IV, selanjutnya dilantik menjadi Komandan Batalyon I/Siliwangi Brigade XIV bersama dengan Ajengan Syaroni.

    Pada tahun 1951 Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i diangkat menjadi perwira dinas Agama yang kemudian disebut Corp Perwira Rohani Angkatan Darat (CPRAD) dan berubah menjadi Rohaniawan Kodam (ROHDAM). Dari sini juga Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i bertemu dengan KH. Muhammad Hasan Armin (Ki Armin) yang mengajaknya untuk mempelajari tarekat dari Cibuntu Pandeglang Banten.

    Setelah mendapat izin dari ayahnya KH. Ahmad Syuja’i, maka Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i pun mulai berguru mengenai tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah kepada Ki Armin. Tidak ada sumber yang menjelaskan seputar ketertarikan KH. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i terhadap Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah, tetapi faktor pertemuan dengan KH. Muhammad Hasan Armin inilah yang mendorong KH. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i untuk mempelajari Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah dan mengamalkan ajaran tarekat tersebut.

    Semasa menjabat Rohdam, KH. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i ikut serta dalam menumpas pemberontakan PKI di Jawa Tengah atas anjuran Mayor Ahmad Wiratakusumah yang disampaikan oleh Kapten Saleh yang menjadi teman KH. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i waktu menjadi Laskar Hizbullah pada tahun 1945, serta supaya menghubungi kiai-kiai dan alim ulama yang berada di daerah pemberontakan PKI di Jawa Tengah.

    Dalam pandangan politiknya, KH. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i selalu mendukung pemerintah, karena beliau menganggap untuk memajukan kehidupan masyarakat dan agama harus ada peran aktif dari pemerintah, maka KH. Uyeh Balukiya Syakir  Syuja’i menganggap pemerintah adalah sebagai mitra kerja sama dalam membangun umat. Atas dasar pemikirannya tersebut, beliau aktif mendukung orde baru dengan membesarkan Golkar sejak Pemilu 1971 sampai akhir hayatnya. KH. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i meninggal pada tanggal 3 Agustus tahun 2002 bertepatan pada tanggal 23 Jumadil Awal 1423 H dalam usia 76 tahun.

     

    Kiprah di Mathla’ul Anwar

    Perkenalan KH. Uyeh dengan Mathla’ul Anwar dapat diselidiki terkait dengan tugas kemiliterannya di wilayah Banten (Lebak-Pandeglang). Kecintaan KH. Uyeh pada ilmu (agama) yang diwarisi dari ayahnya, seorang tokoh sufi yakni KH. Ahmad Syuja’i (Mama Pasirnangka Ciwidey) turut membawanya berguru pada KH. Muhammad Hasan Armin (Ki Armin) seorang ahli Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah di daerah Pandeglang, Banten pada awal tahun 50-an. Pertemuan pertama antara Ki Armin terjadi ketika KH. Uyeh masih aktif menjadi imam tentara Rohisdam VI Siliwangi. Dirinya merasa tertarik untuk mempelajari ajaran Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah atas ajakan Ki Armin. Setelah mendapat izin dari ayahnya KH. Ahmad Syuja’i, maka ia pun mulai berguru mengenai tarekat tersebut kepada Ki Armin.

    Pada masa tahun 50-an ketika KH. Uyeh berdinas militer di Banten, khususnya Pandeglang telah berkembang Mathla’ul Anwar. KH. Uyeh melihat Mathla’ul Anwar sebagai wadah yang tepat untuk menyalurkan semangat dakwah dan keagamaannya, ditambah dengan pembawaan KH. Uyeh yang senang berorganisasi membuat dirinya dan Mathla’ul Anwar mempunyai visi dan misi yang sama untuk membangun dakwah Islam melalui wadah yang solid dan terorganisir. Selama bertugas sebagai Rohdam dan berguru bersama Ki Armin, KH. Uyeh telah melihat kiprah Mathla’ul Anwar melalui tokoh-tokohnya yang telah berinteraksi bersamanya terkait tugasnya di Rohdam yang khusus membina kerohanian di kalangan militer.

    Karir kemiliteran KH. Uyeh terbilang singkat, tahun 1952 beliau memutuskan berhenti ketika berpangkat sersan dua (serda) karena alasan kesehatan. KH. Uyeh kemudian memutuskan untuk total membangun pesantren dan mendedikasikan hidupnya untuk dakwah Islam.

    1. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i dengan latar belakang pendidikan pesantren merasa terpanggil untuk mendirikan suatu lembaga Pendidikan Islam yang dapat dijadikan sarana pembinaan dan pendidikan bagi masyarakat serta generasi muda Islam. Cita-cita untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam menuntut segera untuk diwujudkan, terutama didukung kondisi keagamaan masyarakat Soreang Bandung yang belum memahami Islam sepenuhnya.

    Walaupun pada dasarnya masyarakat Soreang telah memeluk Islam, akan tetapi dalam kehidupan sehari-harinya jauh dari ajaran Islam seperti kosongnya mesjid ketika waktu pelaksanaan sholat jum’at. Selain dari faktor dari  masyarakat sendiri, faktor luar juga menuntut adanya lembaga pendidikan Islam yakni berkembangnya praktek kristenisasi di kalangan masyarakat Soreang sekalipun tidak terorganisir.

    Pada tahun 1952 KH. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i mendirikan Sekolah Menengah Islam. Secara Yuridis formal, dalam operasionalnya Sekolah Menengah Islam ini berdasarkan UU. No. 4 tahun 1950 Yo. UU. No. 12 tahun 1954, menurut jenisnya Sekolah Menengah Islam ini sederajat dengan sekolah menengah umum tingkat pertama.

    Setelah berhenti dari militer, dakwah melalui organisasi (ormas) Islam Mathla’ul Anwar juga secara total dilakukan KH. Uyeh. Dimulai pada Kongres Mathla’ul Anwar VIII dilaksanakan di Ciampea Bogor, pada tahun 1952. KH. Uyeh menjadi utusan dari Anwariyah Bandung. Pada waktu itu, melalui kongres VIII telah diterima penggabungan Anwariyah dari Bandung untuk berfusi menjadi Mathla’ul Anwar di bawah pimpinan Ajengan Syaroni. Kehadiran Anwariyah dalam kongres Mathla’ul Anwar VIII diwakili Ajengan Syaroni selaku ketua, M.B. Ace selaku bendahara dan Uyeh Baluqia Syakir sebagai unsur pemuda. Tercatat juga bahwa KH. Uyeh menjadi utusan termuda kongres VIII Mathla’ul Anwar, yaitu saat beliau masih berusia 26 tahun.

    Baca juga :  "Khithah Mathla'ul Anwar Harus Diimpelementasikan".

    Salah satu keputusan kongres VIII Mathla’ul Anwar adalah mendirikan Kepanduan (pramuka) sendiri, bernama Pandu Tjahaya Islam yang disingkat PANTI. Melalui wadah PANTI ini, kiprah KH. Uyeh semakin kentara di Mathla’ul Anwar. PANTI yang secara resmi didirikan tahun 1953, bagi Mathla’ul Anwar adalah tonggak bangkitnya angkatan mudanya, dimana KH. Uyeh saat itu menjadi salah satu tokoh muda yang menonjol. KH. Uyeh bersama tokoh muda lainnya bahu membahu ikut serta mengambil bagian dalam barisan Mathla’ul Anwar. Selain nama Uyeh Balukiya Syakir, nama-nama tokoh muda Mathla’ul Anwar yang bisa disebut diantaranya adalah Komari Saleh HG, M. Nahid Abdurrahman, Mohammad Rifa’i, Mohammada Idjen, Ismail Cairo (Djaelani), M. Muslim, Ghozali, TB. Suja’i, Abdurrahim, Hasan Muslihat, E.A. Burhani, E. Udan Hudari, Ma’mun, Chabri dan masih banyak lagi di antara nama-nama pemuda yang muncul di kala itu.

    Berbekal fusi organisasi Anwariyah Bandung menjadi Mathla’ul Anwar, KH. Uyeh bersama Ajengan Syaroni mulai membangun dan mengembangkan organisasi Mathla’ul Anwar di Bandung. Ajengan Syaroni secara emosional sangat dekat dengan KH. Uyeh, karena pernah bersama-sama membentuk barisan Sabilillah dan pasukan Hizbullah Batalyon III Divisi Sunan Gunung Jati yang bermarkas di pesantren Babakan Padang, Ajengan Syaroni yang menjadi komandan Batalion dan Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i menjadi Kepala Stafnya. Kedekatan emosional dan tugas itu kemudian berlanjut dalam dakwah di organisasi Mathla’ul Anwar. Ajengan Syaroni membangun Mathla’ul Anwar melalui Pesantren Palgenep Margahayu, kemudian KH. Uyeh Balukiya Syakir melalui Yamisa mendirikan pesantren di Soreang. Mereka bersama-sama mengembangkan Mathla’ul Anwar di Jawa Barat, khususnya di Bandung dan sekitarnya.

    Kiprah KH. Uyeh di Mathla’ul Anwar tidak berhenti dalam tataran daerah dan wilayah saja, dalam lingkup pusat, beliau pernah menjadi ketua majelis fatwa yang dikukuhkan pada Muktamar Mathla’ul Anwar XIII yang diselenggarakan di Menes pada tahun 1985. Pada kongres 1985, Mathla’ul Anwar menghasilkan sejumlah keputusan yang mengubah pandangan politiknya. Di bawah kontrol ketat dari para perwira militer yang memainkan peran besar dalam mencegah kelompok “radikal” yang dipimpin oleh Nafsirin Hadi dan Wahid Sahari untuk mengambil bagian dalam kongres.

    Dimotori oleh KH. Uyeh Balukiya, Mathla’ul Anwar memutuskan untuk mengadopsi Pancasila sebagai satu-satunya ideologi. Pancasila juga dinyatakan sebagai produk dari konsensus masyarakat (ijma al-umma), konsensus umum dari semua masyarakat Muslim di Indonesia, dengan demikian, setiap muslim terikat untuk sepenuhnya mematuhi itu. Kongres ini juga menyatakan dukungannya terhadap program pembangunan pemerintah yang dianggap telah melindungi minat yang tulus dari umat Islam sebagai mayoritas penduduk. Atas dasar pertimbangan ini, Mathla’ul Anwar melanjutkan untuk menyatakan bahwa itu adalah agama dibenarkan untuk menunjukkan loyalitas penuh kepada pemerintah. Untuk membenarkan gagasan ini, mengacu pada prinsip-prinsip ahlus sunnah wal jamaah. Menurut KH. Uyeh Balukiya, salah satu prinsip yang dijunjung dari ahlus sunnah wal jamaah adalah kesetiaan kepada pemerintah sah dan berkuasa. Dia berargumen bahwa pemerintah Orde Baru adalah agama yang sah karena terpilih di Majelis Rakyat (Majelis Permusyawaratan Rakyat atau MPR) sebagai wujud nyata dari konsep ahlul halli wal ‘aqd (orang-orang yang berwenang untuk melonggarkan dan mengikat) di mana semua kelompok masyarakat yang diwakili. Jadi, dalam kesimpulan akhir, Mathla’ul Anwar menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam mengembangkan masyarakat dan mengangkat semua masalah yang membebani dihadapi oleh masyarakat, khususnya umat Islam di negara ini.

    Buah pikiran dan pandangan KH. Uyeh Balukiya di atas telah digunakan Mathla’ul Anwar dan menjadi salah satu peletak rumusan khittah yang digunakan Mathla’ul Anwar. Beliau tercatat sebagai salah satu Tim Perumus Khittah Mathla’ul Anwar dengan surat keputusan PB Mathla’ul Anwar No. 180/SK/PBMA/X/1995 M tertanggal 25 Oktober 1995 yang terdiri dari :

    1. KH. Abdul Wahid Sahari, MA – Ketua
    2. KH. Uyeh Baluqia Syakir – Anggota
    3. KH. Bai Ma’mun – Anggota
    4. KH. Abdul Hadi Mukhtar – Anggota
    5. KH. Drs. Ali Afandi – Anggota

    Menjadi menarik, karena kelima tim perumus tersebut seperti mewakili berbagai pemikiran keagamaan yang berkembang di Mathla’ul Anwar. Menurut Didin Nurul Rosidin (2005), setidaknya ada tiga fitur umum pemikiran keagamaan yang berkembang di Mathla’ul Anwar pada 1970-an. Dua anak KH. Mas Abdurrahman, KH. Muslim dan KH. Kholid, memimpin gagasan pertama. Keduanya mendukung gagasan bahwa sumber utama Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah, sementara Ijtihad semata-mata metode menganalisis dan menafsirkan kedua sumber agama tersebut. Setiap aturan hukum agama harus didasarkan pada dalil yang bersumber dari Qur’an dan Hadits. KH. Muslim, misalnya, pernah mengatakan, bahwa “anjing tidak haram, karena Al-Qur’an dan Hadits tidak secara eksplisit menyebutkan keharamannya.” Kelompok ini selanjutnya menolak gagasan mewajibkan kepatuhan terhadap mazhab tertentu. Dalam politik, kelompok ini mengambil sikap menolak Pancasila, karena sebagai ideologi diluar Islam.

    Kelompok kedua lebih menekankan pentingnya mengikuti mazhab terutama empat madhab terkemuka, dikenal sebagai Madzahibul Arbaah bahwa mereka dianggap sebagai interpretasi yang benar dari hukum Islam. Salah satu tokoh terkemuka dari kelompok ini adalah KH. Uyeh Balukiya. Dalam politik, kelompok ini mengambil sikap akomodatif terhadap negara. Misalnya, KH. Uyeh memandang ideologi Negara (Pancasila) sebagai hasil dari ijma (konsensus) dari masyarakat Indonesia, sehingga setiap Muslim di Indonesia berkewajiban agama untuk mematuhinya. Menolak Pancasila berarti melanggar keputusan ijma yang dilarang agama.

    Baca juga :  Kiai Abidin: Wajib Belajar 9 Tahun Sudah Ada Sejak Dulu

    Kelompok ketiga adalah moderat baik dalam pemikiran agama dan gagasan politik. Mereka mengakui mazhab tetapi menyatakan bahwa tidak ada kewajiban untuk mematuhi mazhab tertentu. Setiap orang yang memiliki kemampuan untuk langsung memahami sumber-sumber Islam bisa latihan ijtihad mereka sendiri. KH. Abdul Hadi dari Tangerang adalah salah satu pemimpin kelompok ini.

     

    Pemikiran dan Ajaran Keagamaan

    Pemikiran keagamaan dan ajaran KH. Uyeh Balukiya Syakir banyak dipengaruhi oleh ajaran tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, KH. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i menerima tarekat tersebut dari KH. Muhammad Hasan Armin (Ki Armin) seorang ahli Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah di daerah Banten, dan dari ayahnya juga seorang tokoh sufi yakni KH. Ahmad Syuja’i (Mama Pasirnangka Ciwidey).

    Ajaran tarekat dari Mama Uyeh terangkum pada sebuah buku berjudul Ageman Ilmu Tharekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah Dina Melesna Cara Pengabdian ka Gusti Allah SWT. Buku yang disusun Mama Uyeh berbahasa sunda ini berisi bacaan zikir serta pengamalannya, seperti adab-adab yang harus dilakukan, dan larangan-larangan yang harus dijauhi.

    Kemudian dalam buku karya Mama Uyeh berbahasa sunda lain berjudul Terjemah Kitab Azkiya Syekh Addimyati: Keur Ngudag Akhlak Tassawuf Islam Sepanjang Ajaran Thoreqat Qodiriyah Naqsyabandiyah Nu Mu’tabar Tina Qur’an Sareng Hadist berisi nadzham (lagu) yang terdiri beberapa bab, yaitu Bab Thobat (tobat), bab ngoreksi diri (introspeksi diri), bab sederhana, bab teu nyantelkeun hate kana dunya (tidak mengaitkan hati pada urusan dunia), bab salamet tina urusan dunya (selamat dari urusan dunia), bab elmu (ilmu), bab adab-adaban (tata krama), bab tawekal (tawakal), dan bab tengtrem hate (tentram hati).

    Cara yang dilakukan oleh Mama Uyeh dalam mengajarkan tarekat kepada santrinya adalah melalui ceramah yang dilakukan setelah melaksanakan shalat dan zikir bersama, terutama setelah melaksanakan shalat magrib dan shalat subuh. Untuk mempertahankan keberadaan dan mempertahankan ajaran agama, KH. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i selaku pempinan pesantren dan guru tarekat mengadakan pengajian bulanan yang dinamakan syahriah.

    Pelaksanaan pengajian bulanan syahriah ini, dilaksanakan pada setiap minggu ke 2 setiap bulannya. Pengajian syahriah ini diperuntukkan khusus bagi para Misi Yamisa. Misi Yamisa adalah para santri yang telah menamatkan pendidikan pesantren YAMISA. Dalam pengajian bulanan syahriah ini, pimpinan pesantren memberikan pengarahan tentang hal-hal yang berhubungan dengan ajaran agama. Para santri ini diberi tugas untuk menyebarkan ajaran dan dakwah Islam ke daerah-daerah.

    Ajaran dan dakwah yang dilakukan KH. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i ini berperan dalam pembinaan masyarakat. Pembinaan masyarakat yang paling utama dilakukannya adalah pembinaan dalam bidang agama. Pembinaan ilmu agama dilakukan dalam bentuk pengajian-pengajian, majelis taklim, dan ceramah di mesjid dengan materi yang mencakup berbagai aspek kehidupan agama Islam terutama yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari seperti akidah, ibadah dan muamalah.

    Dalam pemikirannya, Mama Uyeh berpandangan bahwa kehidupan di dunia ini harus seimbang antara  urusun dunia dan akhirat. Selain melakukan amalan wirid setiap hari para santri dan jamaah diajarkan KH. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i untuk mencari ilmu sebanyak mungkin dan bekerja sekuat tenaga utuk memenuhi kebutuhan kehidupan.

    Dakwah KH. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i banyak mempengaruhi kondisi  sosial keagamaan masyarakat di sekitar Pesantren YAMISA. Hal tersebut ditambah dengan diangkatnya Misi (murid) KH. Uyeh Balukiya Syakir Syuja’i yang ditempatkan di daerah-daerah sekitar Soreang. Misi-misi ini diharuskan menjadi patok masjid (menjadi imam dan pengurus mesjid) sehingga penyebaran dakwah Islam semakin berkembang.

    Tokoh yang memberikan perhatian penuh terhadap dakwah ini cukup produktif dalam menulis buku, tercatat 30-an judul berupa karangan dan terjemahan telah ditulisnya. Buku (kitab) karangan KH. Uyeh Balukiya Syakir sebagai berikut:

    1. Ilmu Nahwu Shorof Bahasa Indonesia
    2. Fiqih Syafi’i Berdalil

    –  Jilid 1 Bab Thoharoh

    –  Jilid 2 Bab Sholat

    1. Al-Bisyaroh Jilid 1, 2, dan 3
    2. Adab-Adab Dalam Berdo’a
    3. Jum’at Kita (Juma’t dan Permasalahannya)
    4. Kumpulan Sholat Sunat
    5. Al-Jumanah (Mutiara 100 Hadits)
    6. Khulasoh Sejarah Penyebar Islam di Pulau Jawa
    7. Khulasoh Kisah Nabi Muhammad SAW
    8. Terjemah / Tafsir Juz ‘Amma
    9. Terjemah Al-Hikam
    10. Terjemah Jauhar Tauhid
    11. Terjemah Al-Barjanji
    12. Terjemah Qosidah Burdah Bahasa Sunda disertai Sajak Bahasa Indonesia
    13. Terjemah Kifayatul Adzkia Bahasa Sunda
    14. Terjemah Lathoiful Isyaroh
    15. Aqidah Ahli Sunah Wal Jama’ah
    16. Terjemah Manaqib SyeKH. Abd. Qadir Jaelany ra. “Jawahirul Ma’ani”
    17. Khulasoh / Kesimpulan Ilmu Thoreqat Qodiriyyah Naqsabandiyyah
    18. Khataman Thareqat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah
    19. Nur Ilahi (Tata Cara Pengamalan Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah)
    20. Ghoniyah SyaiKH. Abdul Qodir r.a
    21. Ziarah Kubur dan Karamat Wali
    22. Dangdingan Khotaman Al-Qur’an
    23. Tartibul Aurod
    24. Sejarah Tahun Hijriyah
    25. Kisah dua sejoli (Adi bin Hatim & Laila) Dalam Awal Sejarah Islam
    26. ‘Urjunilqodim (Kisah Isra’ Mi’raj & Fadhilah Bulan Rajab)
    27. Jam’ul Minan Fifadhilati Sya’ban Wa Romadhon
    28. Fadhilah Dzulhijah (Amalan Sunah pada bulan Dzulhijah)

     

     

    DAFTAR PUSTAKA

     

    Arsip dan Dokumen Pesantren YAMISA Soreang Kabupaten Bandung Jawa Barat (2013). Observasi tanggal 13 Desember 2013

    Pengurus Besar (PB) Mathla’ul Anwar (1996). Sejarah dan Khittah Mathla’ul Anwar, Jakarta: PB Mathla’ul Anwar.

    Rosidin, Nurul Rosidin (2005). Introducing New Religious Ideas to Mathla’ul Anwar: K.H. Uwes Abu Bakar (1939-1973). [online]. Tersedia: http://www.academia.edu/1112235/Introducing_New_Religious_Ideas_to_Mathlaul_Anwar [10 Desember 2013]

    ____________ (2005). Authority Contested: Mathla’ul Anwar in The Last Years of The New Order. [online]. Tersedia: http://www.academia.edu/1375242/Authority_Contested_in_Mathlaul_Anwar [10 Desember 2013].

    ____________ (2005). Madrasah and Politics in 1950s:A Study of the Rise of New Madrasah in Menes of Banten. [online]. Tersedia: http://www.academia.edu/1112273/Madrasah_and_Politics_in_Banten_in_1950s [10 Desember 2013].

    Syarjaya, E. Syibli, dan Jihaduddin (2003). Dirasah Islamiyah I: Sejarah dan Khittah Mathla’ul Anwar, Pandeglang: Perguruan Mathla’ul Anwar Pusat Menes, 2003.

    Uyeh Balukiya (1985). Laporan dan Pengarahan Ketua Majelis Fatwa Mathla’ul Anwar K.H.U. Balukiya Syakir SY Pada Muktamar Mathla’ul Anwar Tanggal 10 Juli 1985 di Menes Banten.

     

    6,051 total views, 12 views today

    Please follow and like us:

    3 comments

    1. Sangat inspirative sejarah KH. Uyeh baluqia Syakir Syujai, semoga para kader MA bs meneladaninya

    2. Ramdani Saputra

      Pesantren Pal Genep, SMA Mathla’ul Anwar…Berarti masih satu Induk dengan Mathla’ul Anwar menes ya kang admin?

      Saya Veteran SMA MA Margahayu 2004, Kepsek waktu Pak Iyan Sibyan adiknya Pak Yasmin kalau ga salah.

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial