ES BUAH TERNIKMAT , PERJUANGAN SEORANG GURU UNTUK KELUARGANYA

  • 14 June, 2017  16:45:42 

  • ES BUAH TERNIKMAT , PERJUANGAN SEORANG GURU UNTUK KELUARGANYA

    (Bulan puasa 2007)

    mathlaulanwar.or.id —  Berfikir tentang pendidikan dan masa depan mereka, seorang ibu nekat memboyong empat anaknya pindah dari Tangerang Selatan ke Jakarta Selatan . Tidak terlalu jauh, sih.. tapi…. pindahan dari rumah sendiri ke kontrakan sangat minimalis dengan anak empat lumayan heboh.

    Diantar uwaknya yang memiliki losbak, merekapun pindah membawa serta dua buah kasur, lemari kecil, barang pecah- belah, dan beberapa buntelan pakaian.

    Anak pertamanya kelas 2 SMP. Anak ke dua dan ke tiga pindah ke kelas 5 dan kelas 2. Sedangkan yang terkecil daftar di play grup tak jauh dari tempat tinggal mereka.

    Tinggal di kontrakan, dengan suasana baru dan segalanya harus beli, membuat mereka harus bersikap super hemat. Sang ibu harus membayar SPP, uang kontrakan, polis asuransi, listrik, dan tentu saja bahan makanan.

    ‌Uang kontrakan dan SPP dapat dibayar dengan lancar. Begitu pula polis asuransi yang pembayarannya tahunan, biasanya bisa dibayar saat lebaran, saat ada satu dua rezeki THR dari sekolah tempat sang ibu mengajar.

    ‌Namun mereka seringkali terkendala kehidupan sehari-hari, alias kesulitan mendapatkan bahan pangan. Bukan, bukan karena laut mereka kekurangan ikan, atau sawah negara diserang hama. Hal ini hanya gegara masalah distribusi. Agak sulit kedua bahan pokok tersebut sampai di rumah mereka.

    ‌Nah, di bulan puasa tahun 2007 itu, kendala distribusi pangan masih menimpa sang ibu dengan empat anak beranak itu.

    ‌Hari pertama puasa, tak dapat mereka lupakan saat menjelang maghrib belum punya apa-apa untuk berbuka. Keempat anaknya yang berpuasa tak begitu memahami saat sang ibu keluar masuk pintu. Putar otak bagaimana menghadirkan keceriaan saat nanti beduk bertalu .

    ‌Pondok Pinang adalah tempat baru bagi mereka, dan pemilik warung sembako belumlah terlalu akrab untuk mendengar frasa : “Kami utang dulu, yaaa..”

    ‌Jadi ketika shalawatan menggema menjelang azan, sang ibu malah menata kerudung di kepalanya, bersiap pergi.

    Baca juga :  Profil KH.Oke Setiadi Anggota Amirul Hajj dari Mathla'ul Anwar

    ‌”Ma.. sebentar lagi maghrib.. apakah mama tidak masak?” Ujar si sulung.

    ‌”Mama mau kemanah?” Seru si bungsu yang masih cadel.

    ‌Ia menyembunyikan titik yang hampir jatuh dari kelopak matanya dengan menutupkan kerudung ke wajahnya.

    ‌”Sebentar.. mama mau..beli aja… buat kita buka ” katanya hampir tak terdengar. Kata “beli” dia tekan sedemikian rupa agar lebih meyakinkan.

    Sungguh. Tak ada seperakpun di kantong dasternya. Ia melangkah saja tanpa arah. Hampir tersandung batu saat ia berbelok di sebuah tikungan. Tikungan itu menuju sebuah sungai yang bernama sungai Pesanggrahan. Entah kenapa dia menuju ke sana.

    ‌”Bu.. mau kemana?” Seru seorang ibu yang ternyata tetangganya. Ia pedagang buah keliling.

    Baca juga :  Introducing New Religious Ideas to Mathla’ul Anwar: K.H. Uwes Abu Bakar (1939-1973)

    ‌”Oh.. mau ke…” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, si ibu tukang buah menyodorkan sebungkus alpukat.

    ‌”Bu.. mau nggak, ini?” Katanya.

    Dia ragu. “Ini sisa dagangan saya.. nggak abis. Tapi maaf ya kalau ada yang kurang seger.. ayo.. ambil aja!” Katanya setengah memaksa melihat si ibu ragu-ragu

    ‌Ia menerimanya dan mengucapkan terimakasih.

    ‌”Oya.. ini juga.. kelapa muda.. masih utuh ! ” sodornya lagi. Sang ibu melongo.
    ‌Terbayang di benaknya semangkuk besar es kelapa muda dengan potongan alpukat yang lezat..

    ‌Ia segera berlari pulang. Gemetar tangannya membelah kelapa, dan memotong-motong alpukat dibantu gadis-gadis kecilnya yang sama sekali tak memiliki beban dalam hidup mereka.

    Baca juga :  Peran Besar Guru Agama



    ‌Allahu Akbar
    ‌Allahu Akbar..

    ‌Asyhadu Allaa ilaaha Illallooooooh….
    Merekapun berbuka dengan bahagia saat gelap mulai tiba.

     

    Cerita inspiratif dari Bu Endoh Mahfudhoh, seorang Guru di Jakarta dan tokoh Muslimat Mathla’ul Anwar. Anak tertuanya Ohim, telah lulus dari Fakultas Hukum UGM.

    3,760 total views, 14 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial