Peringatan 101 Tahun MA dan adanya Klaim Lembaga Yang Sama

  • 09 July, 2017  22:23:34 

  • Ketua Majelis Amanah Mathla’ul Anwar, Drs. KH.M.Irsyad Djuwaeli (Doc/Adi Fikri)

    Pandeglang, mathlaulanwar.or.id- Halal bi halal dan peringatan 101 tahun Mathla’ul Anwar di perguruan MA Pusat Menes berlangsung meriah. Acara yang cukup menyedot perhatian keluarga besar MA, beberapa penceramah hadir diantaranya Prof. Dr. Bambang Pranowo, MA, Ketua Umum PBMA dan Ketua Majelis Amanah MA.

    Dalam sambutannnya Ketua Majelis Amanah Mathla’ul Anwar, Drs.H.M. Irsyad Djuwaeli menjelaskan keberadaan Mathla’ul Anwar yang sudah bisa perlahan naik kelas menjadi organisasi yang sejajar dengan dua organisasi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Di setiap kempatan, presiden RI Indonesia selalu mengundang Pengurus Besar Mathla’ul Anwar di setiap acara.

    Ia sempat menyinggung bahwa Mathla’ul Anwar, alumnusnya telah banyak melahirkan lembaga lembaga pendidikan terutama di sekitar Menes di mana MA berdiri, dan masih memiliki hubungan yang baik dengan MA. Yang ia sayangkan adalah adanya lembaga yang mengklaim MA dengan nama tambahan lain. Hal ini tentu saja merugikan MA, bahkan mengklaim berdirinya sama dengan MA.

    Ia mengakui bahwa perguruan MA pusat Menes pernah menjadi tempat Muktamar Nahdatul Ulama pada tahun 1938, di mana KH Mas Abdurrahman dan KH  E. Yasin memang pengurus NU Pandeglang. Namun keberadaan madrasah tetap bernama Mathla’ul Anwar, tidak ada embel embel lainnya.

    Baca juga :  PBMA : EBTAMA UNTUK MENGONTROL KUALITAS ANAK DIDIK DI MATHLA'UL ANWAR

    “Pada dasarnya kami baik baik saja dengan lembaga tersebut, silahkan memakai nama Mathla’ul Anwar di depannya, tapi jangan pernah mengklaim tokoh dan tahun berdirinya sama donk, ” tegas Irsyad

    Senada dengan Irsyad, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Mathla’ul Anwar,Dr. Akhsan Sukroni, di sela-sela pemberian penghargaan kepada keluarga Pendiri Mathla’ul Anwar, memaparkan bahwa klaim adanya lembaga dengan tambahan nama lain terus terang sangat merugikan MA. Dijelaskan olehnya selama ini nama dan organisasi serta lembaga pendidikan  Mathla’ul Anwar merupakan organisasi yang bukan milik golongan atau keluarga, melainkan milik ummat.

    Mungkin yang dimaksud oleh Irsyad Djuwaeli dan Dr. Akhsan Sukroni adalah Malnu (Mathla’ul Anwar li Nadhatul Ulama) karena redaksi  mencatat bahwa di Menes berdiri beberapa perguruan pendidikan Islam seperti Anwarul Hidayah di Ciputri Menes,  Perguruan Malnu (Mathla’ul Anwar li Nahdatil Ulama) di alun alun Menes, dan Perguruan Ahlussunah wal jamaah yang jaraknya sepelemparan batu dari perguruan Ma Pusat Menes.

    Baca juga :  Lima Khutbah K.H. Mas Abdurrahman

    Saat redaksi mencari tahu informasi tentang Malnu, dalam websitenya memang ditulis sejarahnya persis apa yang ditulis oleh Mathla’ul Anwar, kapan berdirinya dan siapa pendirinya.

    Secara perbandingan sebagaimana blog Malnu menulis  “Secara legalitas kelembagaan dibentuk Yayasan Perguruan Islam MALNU di Menes Pandeglang-Banten pada tanggal 7 Juli 1972 yang dikukuhkan dengan akta Notaris Tb. MH. Suhadisastra, No. 111 tanggal 11 Juli 1972, sebagai ketua Umumnya KH. Tb. Ma’ani Rusydi”. Sedangkan Mathla’ul Anwar disahkan sebagai badan Hukum yang berbentuj serikat sebagaimana Tambahan berita Negara RI tanggal 28 – 03 – 1959 No. 25 KUTIPAN dari Daftar Penetapan Menteri Kehakiman tertanggal 13 Djanuari 1959 No. J.A 5/6/15.

    Redaksipun bertanya kepada salah satu cucu KH Mas Abdurrahman, Bayi Rohimah. Ia mengatakan bahwa madrasah Malnu didirikan oleh KH Adung Abdurrahman puteranya KH Mas Abdurrahman.

    “Kalau tidak salah memang madrasah Malnu berdiri di periode tahun 1960 an saya tidak terlalu ingat persis, dan setelah madrasah berjalan, baru Ki Ma’ani terlibat” tutur Bayi Rohimah, ibu yang pernah menjabat kepala Madrasah Tsanawiyah MA Sodong.

    Baca juga :  MA Care Salurkan 1916 Sepatu dan Tas Tahap Pertama

    Ia menjelaskan bahwa Secara kekeluargaan ia tidak ada masalah dengan keluarga besar KH Adung Abdurrahman, “kami  setiap tahunnya selalu bertemu” tutur Ibu yang pernah menjadi kepala MTs MA Sodong Pandeglang beberapa periode.

    Redaksipun menanyakan hal yang sama kepada anaknya bernama Maman di sela sela pertemuan keluarga Besar KH Mas Abdurrahman yang tinggal di Leuweung Kolot, Menes, ia mengamini bahwa memang bapaknya dulu mendirikan Malnu.

    “Yang saya tahu memang bapak saya mendirikan Madrasah Malnu saat saya masih kecil dan keluarga besar dan masayarakat saat itu tahu siapa yang mendirikan madrasah malnu awalnya” ujar Maman.

    Saat redaksi menanyakan mengapa ia sebagai dari anak pendiri malnu tidak terlibat di Malnu, ia hanya tersenyum. (DON)

    1,518 total views, 6 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial