Demi Ruang Kelas Baru MI MA Cibongkok…! Iuran Rutin Para Guru hingga Nurani Alumni Diburu

  • 12 July, 2017  17:29:03 

  • MI MA Cibongkok, Pandeglang (Doc/auh)

    Pandeglang, mathlaulanwar.or.id. Cerita mengharukan tentang dunia pendidikan di Indonesia sepertinya masih belum bisa beranjak. Tak terkecuali apa yang dialami Madrasah Ibtidaiyah-Mathla’ul Anwar (MI-MAA) Cibongkok, Desa Ramaya Kec. Menes Kab. Pandeglang. Sekolah ini menempati lahan yang tidak luas (total lahan tak lebih dari 200m2), sehingga ruang kelas yang terbangun hanya bisa untuk 5 ruangan saja.

    Madrasah yang telah berdiri sejak tahun 1967 tersebut, terpaksa jam belajar kelas 1 dan kelas 2 terpaksa harus bergantian, selesai jam pelajaran kelas 1 pada pukul 10.00, langsung digantikan oleh kelas 2 hingga selesai. Kondisi ini sesungghunya kurang ideal dan sangat mengganggu, contohnya setiap hari senin setelah apel pagi, maka siswa kelas 2 terpaksa keluyuran tidak bisa masuk kelas karena harus menunggu adik kelasnya selesai, sementara para guru kelas 1 dan 2 juga tidak bisa mengoptimalkan jam mengajarnya karena keterbatasan waktu.

    Kondisi ini tentu saja membuat siswa, para guru, dan kepala sekolah tidak nyaman dan merasa ada yang kurang. Muminah, seorang guru yang merangkap Wali Kelas 2 mengatakan,

    “saya hampir bosan ditanya anak-anak murid saya, mengapa jam masuk kelas kami berbeda dengan yang lain..?, saya hanya bisa jawab sabar saja suatu saat nanti sekolah kita akan memiliki ruang kelas yang lengkap, bisa belajar dengan leluasa, dan kita bisa masuk serta keluar kelas sama dengan teman-teman kelas yang lain”, begitu tuturnya denga nada getir.

    Baca juga :  Expression from foreign students to Mathla'ul Anwar

    Upaya pengajuan permohonan pengadaan lahan kepada Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pandeglang maupun Perguruan Mathla’ul Anwar (sebagai organisasi induk) hingga kini belum membuahkan hasil. “…bukannya kami diam, berbagai upaya permohonan ke berbagai pihak sudah kami lakukan, tapi belum ada respon positif,” ujar Kepala MI/MA Cibongkok, Lukman, SPd.I.

    Setelah mentok kesana-kemari, Lukman yang sudah dari tahun 2013 mengajak para guru untuk menyisihkan sebagian honornya untuk kebutuhan pengadaan lahan baru.

    Beliau menjelaskan, pada awalnya para guru, terutama guru-guru honorer (non PNS) merasa keberatan, namun setelah dilakukan pendekatan dan diyakinkan bahwa hal tersebut juga bagian dari investasi ibadah dan pengabdian total para guru. Maka akhirnya disepakati, setiap 3 bulan, para guru menyisihkan honornya dengan jumlah yang bervariasi antara 100-250 ribu rupiah per guru sesuai jumlah penghasilan masing-masing. “Alhamdulillah saat ini telah terkumpul 27 juta rupiah,” kata kepala MI yang biasa dipanggil Pak Elsam ini dan sempat memiliki dan mengelola stasiun radio ini.

    Kebutuhan untuk pengadaan lahan baru dengan luas 200m2 diperkirakan dibutuhkan dana sejumlah 50 juta rupiah. Untuk menutupi kebutuhan tersebut, dengan dana yang sekarang ada tentu saja masih jauh dari cukup. Dibutuhkan 5 hingga 6 tahun lagi agar bisa menutupi kebutuhan dana dan itu bukan waktu yang pendek. Selama itu pula para siswa dan guru-guru dibuat tidak nyaman. Lukman selaku Kepala Sekolah merasa tidak sabar dengan kondisi itu dan harus ada upaya baru yang harus dilakukan.

    Setelah ia bertanya kesana kemari, kemudian muncul gagasan untuk meminta bantuan dengan mengetuk hati para alumni yang tersebar dimana-mana. Dia berkeyakinan bahwa para alumni tetap bisa mengenang almamaternya dan berpotensi untuk untuk peduli jika dibandingkan dengan masyarakat lainnya yang tidak ada ikatan emosional langsung. Walaupun, Lukman (yang saat ini telah menginjak usia kepala lima ini) tahu, bahwa tidak semua alumni memiliki kecukupan ekonomi yang baik, tapi meyakini ada sebagian lain yang dianggap kehidupnya terbilang sukses.

    Baca juga :  Semarak Event Tahunan MTs MA Award 2017

    Dengan menggunakan jaringan meda sosial yang saat ini lagi tren, akhirnya beliau mengajak dan mengetuk hati para alumni.

    “Respon para alumni MI-MA Cibongkok ternyata luar biasa, sangat positif, dan rata-rata menyatakan siap membantu. Dian joni herdiana salah satu almuni tahun 1993 yang saat ini menjadi pelayan masyarakat/tenaga honorer di Kabupaten pandeglang, menyatakan siap dan langsung membantu .

    Begitu pula Ahmad Ruslan,  salah satu alumni lulusan  IT dari UIN Jakarta ini menyatakan, siap mem-back up apa yang menjadi program MI/MA Cibongkok, saat redaksi mengubungi melalui sambungan telepon,

    Hal yang sama di dengan Didin Rosyidin alumni MI/MA Cibongkok Angkatan 1988, seorang PNS Kemenag yang juga pengusaha telur sukses di Pandeglang, siap mendukung pembangunan almamaternya.

    Baca juga :  Mathla'ul Anwar Tolak Perpu No 2 Tahun 2017

    Mendengar respon para alumni, Lukman yang 6 tahun lagi masuk masa pensiun, menyatakan, “alhamdulillah..sejak awal saya yakin bahwa Allah akan bantu kami, saya bangga dengan Ibu/Bapak guru dan adik-adik alumni yang sangat peduli dengan madrasah kita semoga keinginan anak didik kami dan para guru bisa terwujud”, tutupnya dengan mata berkaca-kaca.(Ucik)

    716 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial