MERAWAT KEMURNIAN MAKNA “KEMERDEKAAN“

  • 20 August, 2017  17:45:41 

  • Oleh : Dimas Dharma Setiawan*

    Pada hari Kamis tanggal 17 Agustus 2017 bangsa Indonesia memperingati Hari Besar Nasional Kemerdekaan Indonesia ke-72. Sudah menjadi agenda Nasional bahwa setiap tahunnnya kegiatan tersebut selalu dirayakan. Pemerintah menjadi pihak yang bertanggung jawab dalam suksesi moment perayaan. Cara yang dilakukan biasanya diawali melalui himbauan formal kepada masyarakat luas agar memasang bendera Merah Putih hingga menyelenggarakan Upacara Besar. Masyarakat menyambut dengan antusias hari 17 Agustus dengan memasang bendera merah putih, mengadakan perlombaan atau mengadakan kegiatan positif lainnya
    Publikasi perayaan yang diunggah oleh Netizen (Masyarakat Internet) di media sosial bentuknya bervariasi. Ada yang mengunggah kegiatan upacara bendera, mengunggah kegiatan perlombaan berikut moment-moment lucu yang terjadi selama perlombaan berlangsung hingga ada beberapa yang mengunggah makna kemerdekaan menurutnya sendiri.

    Beberapa Netizen mengunggah makna kemerdekaan dalam bentuk membuat kalimat yang diposting di media sosial, seperti : (1) Siang-siang makan bakso pedas itu Merdeka; (2) Bangun tidur minum kopi dan makan Pisang Goreng itu Merdeka, atau (3) Bahagia itu Merdeka. Bahkan ada gambar wanita setengah busana berbalut kain warna merah dan putih dikombinasikan dengan tulisan dirgahayu Indonesia.

    Sikap seperti itu memang tidak dapat salahkan oleh karena ada beberapa perbedaan terminologi tentang Kemerdekaan. Namun bagaimana merawat makna “Merdeka” bertepatan dengan moment Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia setiap tangga 17 Agustus ?
    Terminologi Merdeka

    Menurut beberapa sumber, Kemerdekaan adalah: (kata benda) di saat suatu negara meraih hak kendali penuh atas seluruh wilayah bagian negaranya. (kata benda) di saat seseorang mendapatkan hak untuk mengendalikan dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain dan atau tidak bergantung pada orang lain lagi.

    Merdeka/mer·de·ka/ /merdéka/ a 1 bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri: sejak proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 itu, bangsa kita sudah –; 2 tidak terkena atau lepas dari tuntutan: — dari tuntutan penjara seumur hidup; 3 tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa: majalah mingguan –; boleh berbuat dengan –;– ayam ki bebas merdeka (dapat berbuat sekehendak hatinya).

    Baca juga :  Rombongan Raja Salman tiba di Jakarta

    Beberapa sejarah perjuangan kemerdekaan
    Seperti kita ketahui bersama bahwa bangsa ini memiliki sejarah panjang atas penindasan yang dilakukan oleh penjajah. Sejarah penjajahan di bumi pertiwi bukan dongeng cerita murahan, melainkan fakta pedih juga suram. Menjelaskan peristiwa sejarah perjuangan dalam merebut kemerdekaan bukanlah hal baru. Banyak catatan dan dokumentasi yang merangkan riwayat perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan.

    Pada masa kerajaan, rakyat Banten pada saat sebelum diduduki oleh V.O.C hidup dengan kekayaan alam yang melimpah. Pedagang dari luar banyak datang ke Banten untuk membeli rempah-rempah, Banten menjadi sentra perdagangan yang ramai saat itu. Keadaan berubah karena kedatangan Penjajah Belanda yang semula ingin turut berdagang dengan bendera V.O.C. Belanda melakukan politik monopoli dan juga pola penindasan sehingga Sultan Ageng Tirtayasa melakukan perlawanan. Perang mempertahankan martabat tanah air tersebut mengakibatkan Sultan Ageng Tirtayasa harus kehilangan kekuasaannya, rakyat Banten banyak yang gugur dan perlahan kerajaan Banten mulai runtuh.

    Setelah pembacaan Proklamansi tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia masih berjuang melawan bangsa penjajah. Pada tanggal 10 November 1945, Bung Tomo bersama K.H.Hasyim Ashari, KH. Wahab Hasbullah, para santri dan rakyat Surabaya, melakukan serangan berani mati terhadap tentara Inggirs bersama sekutu. Pertempuran berlangsung sengit, sekuat tenaga para pejuang bertempur melawan musuh.

    Pada tanggal 23 Maret 1946, rakyat Bandung dengan sendirinya membakar rumah mereka dengan tujuan untuk menghalau tentara sekutu dan tentara Nica Belanda masuk kembali ke Kota Bandung. Dalam hitungan tujuh jam, sekitar 200.000 rumah sudah berbentuk bara api. Rakyat Bandung dengan suka rela mengungsi kewilayah Bandung Selatan.

    Baca juga :  Mathla'ul Anwar akan Miliki Perwakilan MA Arab Saudi

    Sepanjang tahun 1948 Panglima Besar Jenderal Soedirman melakukan perlawan terhadap tentara sekutu dengan cara bergerilya. Keadaan kesehatan yang buruk tidak menghalangi jenderal besar tersebut untuk Pada tanggal 1 Maret 1949 melakukan serang umum di Yogyakarta.

    Selanjutnya penulis sedikit mengulas pada era orde baru, saat itu pada momen-moment tertentu diputar film-film sejarah perjuangan ditayangkan dilayar televisi. Bahkan para pelajar adakalanya diwajibkan untuk menonton film itu di bioskop. Hemat penulis hal itu tersebut dilakukan demi pemahaman bahwa kemerdekaan dilakukan dengan semangat perjuangan para pejuang yang tidak mudah dan tidak murah.
    Paradigma media sosial (Medsos)

    Saat ini arus informasi sangat cepat sehingga sehingga keadaan itu tidak dapat dihidarkan. Dalam hitungan detik informasi dapat terbarukan. Aneka bentuk informasi yang menyebar berupa tulisan, gambar, suara atau tayangan. Informasi yang dihasilkan dari kantor berita yang resmi pasti telah melalui peliputan dan penyaringan redaksional secara komprehensif. Lain dengan akurasi publikasi informasi yang diunggah oleh masyarakat pengguna internet (Netizen) secara pribadi.

    Berbekal perangkat elektronik yang dimiliki, kapan dan dimana saja seorang Netizen dapat membuat rangkaian kalimat dari apa yang ia ketahui. Kombinasi antara gambar dan kalimat atau antara tayangan dan kalimat juga bisa dibuat. Penyuntingan informasi dan pendistribusian informasi itu pun dilakukan sendiri.

    Penulis mengamati pemanfaatan Medsos oleh beberapa Netizen diantaranya: (1) sebagai sarana komunitatif atas nama akun pribadi/kelompok, (2) sarana berniaga dan (3) sarana publikasi informatif umum. Tujuan nomor (1) pengguna akun pribadi dengan sesuka hatinya menggunggah kalimat tekstual, suara, gambar, tayangan atau kombinasi diantara kesemuanya itu.

    Seorang pengguna media sosial tanpa diminta pun akan menerima informasi dari pengguna sosial lainnya. Tak jarang penerima informasi mengirimkan kembali berita tersebut kepada siapapun yang dia inginkan. Suatu gejala fenomena sosial dimana tanpa mesti diajari ilmu jurnalistik, Netizen kini diibaratkan sudah bertindak sebagai reporter dan/atau sebagai kontributor berita yang tidak memiliki kantor berita.
    Pembahasan

    Baca juga :  Abdul Rosyid Resmi akan Dilantik Menjadi Komisioner Bawaslu Banten

    Memaknai Kemerdekaan harus secara utuh mulai dari adanya rangkaian perjuangan panjang, perumusan kemerdekaan, pembacaan ikrar kemerdekaan hingga mempertahankan kemerdekaan itu sendiri. Meskipun saat ini tidak ada lagi penjajahan milter Bangsa Asing, rakyat Indonesia dari Sabang sampai Meraku, dari Pulau Miangas hingga Pulau Rote, bangsa Indonesia dan segenap tumpah darah Indonesia wajib mempertahankan kedaulatan untuk menguasai dan mempertahankan tanah, air dan udaranya dari pihak yang ingin merusak kembali Bangsa Indonesia.

    Anies Baswedan menuturkan bahwa merayakan kemerdekaan Indonesia adalah melunasi janji Kemerdekaan itu sendiri. Penulis menggaris bawahi dua kata yaitu “Merayakan” dan “Melunasi”. Pertama, merayakan kemerdekaan harus lah secara khitmad, bendera merah putih merupakan panji agung yang harus berkibar pada perayaan tersebut. Selanjutnya melunasi sebagai merawat kebhinekaan untuk berdaulat adil dan makmur.

    Gambar bendera merah putih tidak dapat dikombinasikan secara sembarangan dengan objek gambar atau tulisan apapun. Penempatan gambar hanya dapat dilakukan untuk hal yang formil. Posting kata “merdeka atau kemerdekaan” pada momen 17 Agustus harus harus ada korelasi dengan Indonesia itu sendiri, misalkan “Mari kita mempertahankan kemerdekaan ini dengan semangat membangun Indonesia”.

    Pada jaman modern saat ini spirit perjuangan para pahlawan harus ada didada dan di mindset anak bangsa. Mereka lah ahli waris kemerdekaan, mereka penerus bangsa ini pada masa akan datang. Menjaga kedaulatan bangsa akan semakin berat pada masa yang akan datang sehingga jiwa patriot dan cinta tanah air harus sudah muncul pada saat ini.

    *Bidang Hukum dan HAM Pengurus Besar Mathla’ul Anwar

    378 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial