Profil singkat Maria Ulfah Santosa, Kader Mathla’ul Anwar yang menjadi Menteri Sosial pertama Indonesia

  • 10 October, 2017  10:04:32 

  • Foto : Maria Ulfah Santoso (Sumber : profilbiografidia.blogspot.com)

     

    Pandeglang, Mathlaulanwar.or.id – Bagi para dosen dan mahasiswa Fakultas hukum, Aktivis pembela hak-hak perempuan, sejarawan nasional dan bahkan mungkin bagi petinggi Negara, Maria Ulfah Santosa adalah sosok yang sangat dikenal serta menjadi panutan. Hal tersebut lantaran Maria Ulfah adalah wanita pertama asal Indonesia yang menjadi sarjana hukum di Universitas Leiden, Belanda. Selain itu, beliau juga diketahui pernah menjabat sebagai Menteri Sosial pertama Republik Indonesia, dan sosok pejuang hak-hak perempuan.

    Dari catatan gemilang tersebut, tak banyak yang mengetahui jika Maria Ulfah adalah kader organsisasi islam Mathla’ul Anwar (MA). Fakta tersebut diketahui dari pidato wakil ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (HNW), dalam acara Sosialisasi 4 pilar kebangsaan sekaligus Rapat Kerja Pengurus Wilayah Mathla’ul Anwar (PWMA) Jawa Tengah, di Semarang pada Senin, (25/9) yang lalu.

    Seperti dikutip dari laman Republika.co.id, HNW berharap agar seluruh warga MA bisa mencontoh perjuangan salah satu kader terbaik mereka yakni Maria Ulfah Santosa. Sosok seperti Maria Ulfa, menurut HNW sangat dibutuhkan bangsa Indonesia. Wawasan dan keyakinannya sangat kuat, tetapi demi kepentingan bangsa Indonesia, dia mau  mengalah. Tidak sekadar mementingkan pemikiran dan keyakinannya saja, tetapi mau berkorban demi bangsa dan negara.

    “Inilah pengorbanan yang ditunjukkan Maria Ulfa dan harus ditiru seluruh anggota  Mathla’ul Anwar,” ujar HNW.

    Redaksi Mathlaulanwar.or.id berhasil menghimpun profil singkat dan beberapa fakta mengenai Maria Ulfah santosa, yang dikutip dari berbagai sumber.

     

    1. Warga Mathla’ul Anwar harus bisa mencontoh perjuangan kader terbaik mereka, Maria Ulfah Santosa (Dikutip seluruhnya dari laman Republika.or.id)

    REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG — Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Hidayat Nur Wahid mengatakan sudah sejak lama Umat Islam memberikan pengorbanan besar dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pernyataan itu disampaikannya saat Sosialisasi Empat Pilar MPR dikalangan anggota dan pengurus Mathla’ul Anwar se-Jawa Tengah, di Wisma Perdamaian Jawa Tengah, Semarang, Senin (25/9) lalu.

    Hidayat berharap organisasi massa (ormas) Islam seperti Mathla’ul Anwar bisa berperan besar dalam praktek pengamalan Pancasila. Seperti yang pernah dicontohkan oleh pemimpin Mathla’ul Anwar dimasa perjuangan, yaitu Maria Ulfa Santosa. Dia adalah wanita pertama yang bergelar sarjana hukum. Selain itu Maria Ulfa merupakan menteri sosial pertama, dan pengurus Pimpinan Pusat Mathla’ul Anwar.

    Pada zamannya, Maria Ulfa merupakan satu dari dua perempuan yang ikut merancang konstitusi. Dia termasuk orang yang gigih mempertahankan Pancasila seperti yang terdapat dalam Piagam Jakarta. Tetapi Maria Ulfa juga bisa mengalah untuk menghilangkan tujuh kata dalam Piagam Jakrta, semata-mata agar Indonesia tetap utuh, dan tidak bercerai-berai.

    Baca juga :  Puluhan Muridnya lulus PTN Favorit, Madrasah Aliyah MA Pusat dapat banyak pujian dari Netizen

    Sosok seperti Maria Ulfa, menurut Hidayat sangat dibutuhkan bangsa Indonesia. Wawasan dan keyakinannya sangat kuat, tetapi demi kepentingan bangsa Indonesia, dia mau  mengalah. Tidak sekadar mementingkan pemikiran dan keyakinannya saja, tetapi mau berkorban demi bangsa dan negara.

    “Inilah pengorbanan yang ditunjukkan Maria Ulfa dan harus ditiru seluruh anggota  Mathla’ul Anwar,” kata Hidayat menambahkan.

    Pengorbanan yang telah dilakukan Maria Ulfa menurut Hidayat menjadi salah satu penanda  bahwa masyarakat Muslim sudah memberikan pengorbanan besar dalam menjaga keutuhan NKRI. Oleh karena itu menjadi sangat tidak tepat jika Umat Islam dikatakan mau merusak. Sebab menurut Hidayat sesungguhnya umat Islamlah yang banyak berkorban demi keutuhan NKRI.

    (Link berita : http://www.republika.co.id/berita/mpr-ri/berita-mpr/17/09/26/owv6tz423-hidayat-nur-wahid-umat-islam-sudah-banyak-berkorban)

     

    1. Mengenal Maria Ulfah, Tokoh Emansipasi Wanita asal Banten (Dikutip seluruhnya dari laman com) 

    Merdeka.com – Beberapa hari lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) menahanRatu Atut Chosiyah . Gubernur Banten itu disangka melakukan suap dalam sengketa Pilkada Lebak, Banten di Mahkamah Konstitusi ( MK ).

    Selain itu, Atut juga diduga melakukan korupsi dalam pengadaan alat-alat kesehatan (alkes) Provinsi Banten. Atut mendekam di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur.

    Ironis memang, sebagai seorang tokoh perempuan malah terlibat kasus korupsi. Terlibatnya Atut dalam kasus suap ini mencoreng Banten. Padahal, dulu Banten dikenal melahirkan tokoh-tokoh perempuan hebat seperti Maria Ulfah Santoso.

    Maria Ulfah, lahir di Serang, Banten, pada 18 Agustus 1911. Dia merupakan anak dari pasangan Raden Mochammad Achmad dan Chadidjah Djajadiningrat.

    Walaupun tergolong orang mampu, Maria Ulfah tetap membuktikan dirinya dapat berbakti pada bangsa dan negara. Bahkan, perempuan ini menjadi tokoh perjuangan kaum perempuan di Indonesia. Lalu, siapakah sebenarnya Maria Ulfah?

    1. Tokoh Emansipasi Wanita

    Merdeka.com – Selain R.A Kartini, Maria Ulfah juga berjuang untuk kaum perempuan. Dia menjadi pemula dalam sejarah awal kemunculan pelajar perempuan sekaligus aktivitas publik perempuan Tanah Air.

    Bahkan, dia memilih untuk kuliah dalam bidang studi hukum. Karena menurut Maria, kedudukan wanita secara hukum masih sangat lemah sehingga perlu diperbaiki.

    Maria Ulfah menjadi pencetus gerakan-gerakan perkumpulan perempuan yang ada di Indonesia. Figurnya dalam sejarah Indonesia modern sangat sulit diabaikan. Maria merupakan sosok artikulatif yang mengoperasionalkan gagasan-gagasan Kartini mengenai aktualitas kaum perempuan.

    Maria bisa dibilang menjadi penarik gerbong aktivitas dan arus pemikiran organisasi perempuan Indonesia modern. Bahkan, Maria menjadi perempuan pertama peraih gelar Master dan sarjana hukum.

     

    1. Menteri Sosial RI

    Merdeka.com – Maria pernah menjabat sebagai Menteri Sosial pertama RI pada Kabinet Sjahrir II. Dengan masa jabatan 12 Maret 1946 26 Juni 1947.

    Baca juga :  Universitas Mathla'ul Anwar Rayakan Milad ke-XV

    Perjalanannya menjadi menteri sosial sangat panjang. Dengan diawalinya hijrah ke Belanda untuk menempuh gelar master hukumnya. Setelah itu bertemu dengan Sjahrir dan menjadi salah satu kepercayaan Soekarno dan Mohammad Hatta.

    Bahkan, Maria Ulfah menjadi salah satu saksi pendirian Negara Republik Indonesia. Dia juga turut ambil bagian dalam menyusun konstitusi Republik Indonesia.

    Mantan Ketua Dewan Film Nasional ini menjadi anggota Panitia Perancang Undang-Undang Dasar. Dalam proses perumusan terakhir dasar negara yang dilakukan pada persidangan kedua mulai 10 Juli 1945 itu dibahas rencana UUD, termasuk soal pembukaan Panitia Perancang Undang-Undang Dasar.

    Panitia ini diketuai oleh Soekarno dengan anggota-anggota lainnya seperti Agus Salim, Supomo, Wachid Hasjim, Husein Djajadiningrat, Sukiman, termasuk Maria Ulfah.

     

    1. Menjadi Pengusul Linggarjati 

    Merdeka.com – Maria Ulfah sangat memiliki ikatan emosional dengan Kuningan dan Linggarjati. Pasalnya, foto Maria Ulfah terpampang di Gedung Perundingan Linggarjati. Dalam perundingan Linggarjati sendiri Sjahrir yang ditunjuk menjadi pimpinan delegasi.

    Peran Maria adalah mengusulkan dan menjadikan Linggarjati sebagai tempat perundingan kepada Sjahrir. Mungkin saja ada keinginan Maria Ulfah untuk bernostalgia dengan kota di mana dia dibesarkan. Tapi, Maria Ulfah menganggap Linggarjati secara geografis bisa menjadi alternatif tempat karena baik pihak Indonesia dan Belanda sempat menemui jalan buntu.

    Awalnya, Soekarno dan Hatta menawarkan Yogya sebagai tempat perundingan. Namun, ditolak mentah-mentah oleh pihak Belanda karena Belanda ingin perundingan tersebut dilaksanakan di Jakarta.

    Saat perundingan, Sjahrir menginap di Gedung Sjahrir di dekat kolam renang Linggarjati, sementara Soekarno dan Hatta bermalam di Pendopo Kabupaten Kuningan. Perundingan Linggarjati drafnya ditandatangani pada 15 November 1946 di Jl Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Sementara penandatanganan resmi dilakukan pada 25 Maret 1947.

    (Link Berita : https://www.merdeka.com/peristiwa/mengenal-maria-ulfah-tokoh-emansipasi-wanita-asal-banten/menjadi-pengusul-linggarjati.html)

     

    1. Maria Ulfah Santoso : Tokoh Pejuang Kaum Perempuan (Dikutip Seluruhnya dari laman kumparan.com)

    Maria Ullfah lahir di kota Serang, Banten pada 18 Agustus 1911. Ia terlahir dari keluarga priyayi, ayahnya Raden Mohammad Achmad merupakan seorang Pamong Praja didikan Belanda. Lalu kemudian ayahnya menjadi Bupati Kuningan, setelah sebelumnya sempat bertugas sebagai amtenar di Serang, di Rangkasbitung dan kemudian jadi bupati Meester (kini Jatinegara) di Batavia.

    Ibu kandungnya, RA. Hadidjah Djajadiningrat, anak kelima Raden Bagoes Djajawinata, Wedana Kramatwatu dan Bupati Serang. Raden Mohammad Achmad merupakan sosok yang paling berpengaruh dalam kehidupan Maria Ullfah, masa kecil Maria dilewati di Serang, Banten. Ia bersekolah dasar di Rangkasbitung, mengikuti ayahnya yang bekerja di kota. Tak lama tinggal di Rangkasbitung, ayahnya pindah ke Batavia, di mana dia bertugas sebagai Patih di Meester (kini Jatinegara), kemudian Maria ikut pindah ke Batavia.

    Baca juga :  Presiden Resmikan Badan Siber dan Sandi Negara

    Pada 1929 Mohammad Achmad memperoleh kesempatan belajar perkoperasian di Denhaag, Belanda. Ia juga memboyong ketiga anaknya. Kebetulan Maria beru lulus sekolah dan berniat untuk melanjutkan pendidikannya. Meski awalnya sempat di tawari menjadi dokter, namun atas izin ayahnya dan pilihan Maria sendiri, dia mendaftar ke Fakultas Hukum di Universiteit Leiden. Maria Ullfah merupakan perempuan Indonesia pertama yang berhasil mendapatkan gelar Meester in de Rechten (Mr) dari Universitas Leiden pada 1933.

    Sepak terjang Maria Ullfah dalam kancah pergerakan nasional sudah terlihat sejak 1934, di mana ia menjadi guru di sekolah menengah Muhammadiyah dan Perguruan Rakyat. Selain itu, Maria Ullfah aktif pula mengadakan kursus pemberantasan buta huruf bagi ibu-ibu di Salemba Tengah dan Paseban. Peranannya dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan dimulai ketika Maria Ullfah ikut dalam Kongres Perempuan Indonesia kedua 1935 di Batavia. Pasca kongres Maria Ullfah dipercaya untuk memimpin sebuah Biro Konsultasi yang bertugas mengurusi segala permasalahan dalam perkawinan, khususnya membantu kaum perempuan yang mengalami kesulitan dalam perkawinan.

    Pada masa pendudukan Jepang Maria Ullfah memilih untuk bekerja di Departemen Kehakiman (shikooku). Menjelang proklamasi kemerdekaan tahun 1945, Maria Ullfah menjadi anggota BPUPKI dan berhasil memasukkan pasal 27 UUD 1945 tentang kesetaraan warga negara di dalam hukum tanpa pengecualian. Setelah Indonesia merdeka dan sibuk menata pemerintahannya Maria Ullfah ditugaskan oleh Sutan Sjahrir untuk menjadi liaison officer, yaitu sebagai penghubung antara pemerintahan Republik dengan pemerintah sekutu.

    Puncak karirnya dalam dunia perpolitikan Indonesia terjadi pada saat ia dipercaya Sutan Sjahrir untuk duduk sebagai Menteri Sosial dalam Kabinet Sjahrir II dan III. Pada waktu itu hal krusial yang harus diatasi yaitu mengurus para tawanan wanita dan anak-anak Belanda yang ditawan di kamp-kamp Jepang. Selain itu, Maria Ullfah juga mengeluarkan Maklumat Kementerian Sosial tentang hari buruh sedunia. Sejak tanggal 19 Agustus 1947 hingga September 1962 Maria Ullfah menjabat sebagai Sekretaris Perdana Menteri dan Sekretaris Dewan Menteri, selanjutnya jabatan tersebut dirumuskan menjadi Direktur Kabinet RI. Sejak tahun 1950 -1961 Maria Ullfah menjabat sebagai ketua Sekretariat Kongres Wanita Indonesia.

    Dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan, khususnya dalam hukum keluarga dan perkawinan akhirnya dapat terwujud ketika pemerintah mengesahkan Undang-Undang Perkawinan nomor 1 tahun 1974 pada tanggal 2 Januari 1974. Secara keseluruhan undang-undang tersebut memberi perlindungan kepada kaum perempuan, khususnya dalam hukum keluarga dan perkawinan.

    (Link Berita : https://kumparan.com/potongan-nostalgia/maria-ulfah-santoso-tokoh-pejuang-kaum-perempuan)

    (Kahfi)

    1,220 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial