Santri dan Bela Negara

  • 23 October, 2017  19:16:36 

  •  Oleh M Bambang Pranowo*

    Sejarah santri adalah bela negara! Guru dan kyai di pesantren sejak dulu punya pegangan hadist: mencintai negara adalah bagian dari iman. Karena bagian dari iman, menurut ajaran fiqih, wah negara adalah wajib. Itulah sebabnya, sejarah pesantren dan santri-santrinya sejak dulu pekat dengan perjuangan penuh negara.

    Ketika Menhan Ryamizard Ryacudu punya ide untuk mengkader 100 juta pemuda sebagai pembela negara, kaum santri tentu saja – niscaya terlibat di sana. Mungkin akan jadi garda depan bela negara. Ajaran-ajaran agama yang lebih mementingkan kebersihan hati dan perbaikan akhlak manusia pada hakikatnya merupakan inti dari bela negara. Tanpa manusia berhati jernih, berakhlak mulia, dan bermartabat tinggi, apalah jadinya negara ini.

    Kita tahu, berdasarkan hadist di atas, Islam mengatur umatnya untuk mencintai dan isi negaranya. Ini artinya, jika seseorang berhasil negara maka sesungguhnya ia agamanya agamanya. Nabi Muhammad menyatakan:  hubbul wathan minal iman . Menyintai negara adalah sebagian dari iman. Dalam kehidupan tak ada harta yang lebih tinggi dari cinta. Tak ada tujuan yang lebih tinggi dari cinta. Karena cinta negara adalah bagian dari iman, maka bela negara pun bagian dari iman. Para santri jelas sangat mendalami makna cinta dan bela negara tersebut.

    Sejarah perjuangan Nabi Besar Muhammad penuh dengan tindakan dan prakarsa untuk diselamatkan negara. Ini merupakan lembaga yang harus ada untuk melindungi warga negara dari kejahatan, terorisme, dan hukum. Sebagai Pemimpim Umat dan Rasulullah, Muhammad memerintahkan Tuhan untuk menyebarkan Iman Islam dengan pendekatan moral dan  akhlakul karimah. Karena pendekatannya moral dan akhlak, maka penyebaran Islam bernuansa inklusif. Nabi Muhammad memang berdakwah menyebarkan Islam sebagai agama baru di Mekah. Tapi Nabi Muhammad sangat menghargai orang-orang yang bermoral baik dan berakhlak karimah tanpa memandang agamanya. Ini namanya, Nabi Muhammad sangat menghargai kemanusiaan. Pernyataan Al-Qur’an itu tidak ada paksaan dalam beragama menguatkan pandangan umat Islam is agama harus dipeluk mengikuti hati nurani. Bukan mulut Kenapa? Karena di hati nurani inilah bersemayam rasa ketuhanan. Jika agama dipeluk hati nurani, niscaya tidak ada kebohongan dalam beragama. Kebohongan dalam beragama sangat berbahaya. Para pembohong ini menggunakan lidah dan otaknya untuk mengelabuhi manusia. Mereka mau-akan beriman kepadaAllah, tidak! Mereka mau-akan membangun negara, tidak. Di hati mereka ada kotoran. Mereka munafik. Allah menyeleksi orang-orang seperti itu dalam Qur’an.

    Dan sebagian dari manusia ada yang mengatakan, kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, yang mereka lakukan itu orang orang yang beriman.  Mereka h endak memperdayakan Allah dan orang-orang yang beriman, yang mereka tidak bisa memperdayakannya, kecuali diri mereka sendiri dan mereka tidak merasakannya. Di dalam hati itu ada penyakit, maka Allah menambah penyakinya. Dan bagi mereka azab yang pedih karena kebohongannya. Dan selingkuh di atas mereka janganlah kamu ikut rusak di muka bumi, mereka jawab. kami sedang bangun Ketahuilah, sebenarnya mereka sedang merusak, tapi mereka tidak sadar. (Al-Baqarah 8-12).

    Orang-orang yang penting Al-Qur’an ini adalah para pembohong, munafik, dan perusak. Manusia seperti itu kini banyak bermunculan di muka bumi, termasuk di indonesia. Mereka pintar, kerja keras, tapi korupsi dan korupsi. Yang mereka pentingkan adalah hawa nafsunya. Bukan amal jariyahnya. Mereka inilah para pengkhianat agama. Juga pengkhianat negara.

    Kaum santri yang belajar agama niscaya tahu apa konsekwensi kaum munafik dan pengkhianat negara tersebut. Para santri, siang malam mengaji berbagai kitab – Qur’an, hadist, fiqih, tasawuf, dan lain-lain – semata untuk memahami dan menyerap ilmu-ilmu agama untuk perbaikan moral dan akhlak. Dengan demikian, kaum santri sejak melangkahkan ke ke pesantren untuk belajar agama sebenarnya kita sedang mempersiapkan diri untuk bela negara. 

    Salah seorang ulama di abad 19 KH Ahmad Rifa’i (1786-1870) dari Kalisasak, Batang, misalnya, prestasi santrinya melawan Belanda dalam kondisi apa pun. Dalam salah satu kitabnya KH Ahmad Rifa’i menyatakan bahwa   luwih becik mangan telo ngabdi ngga londo  (lebih baik makan ketela pohon penuh Belanda). Tak hanya Belanda yang diserang KH Ahmad Rifa’i melalui puisi-puisi perjuangannya. Tapi juga para priyayi yang sedang menuju Belanda. Dalam kitab   Nazham Wiqayah,  Ki Ripangi (sebutan akrab Jama’ah Rifa’iyah di Kalisasak untuk KH Ahmad Rifa’i) menyatakan:

           Sumerepbadan hina seba ngelangsur

         Manfaate ilmu lan amal dimaha lebur

         Tinemune priyayi laku gawe gede kadosan

         Ratu, Bupati, Lurah, Tumenggung, Kebayan

         Maring rojo kafir pada asih anutan

         Haji, abdi, dadi tulung maksiyat

         Nuli dadi khotib ibadah

         Maring alim adil laku bener syareate

         Sebab khawatir yen ora nemu derajat

         Ikulah lakune wong munafik imane suwung

         Anut maksiyat wong dadi Tumenggung

    Artinya:

    Melihat tubuh hina wajah dengan tubuh merayap

    Manfaatnya ilmu dan amal hilang binasa

    Keputusan dan tindakan kaum priyayi

    Ratu, Bupati, Lurah, Tumenggung, Kebayan

    Kepada raja kafir senang jadi pengikut

    Termasuk haji abdi, menolong kemaksiatan

    Kemudian menjadi kadi khotib ibadah

    Kepada alim adil bertindak membenarkan syareat

    Sebab khawatir bila tidak mendapat jabatan

    Itulah amalan orang munafik yang kosong imannya

    Mengikuti perbuatan maksiat orang yang jadi Tumenggung.

     Akibat ajaran-ajaran bela negaranya, Ki Ripangi ditangkap Belanda, kemudian diasingkan ke Menado dan wafat di sana. Pada tahun 2004, kyai yang berpolitik tanpa kompromi dengan Belanda itu mendapat gelar Pahlawan Nasional.

    Kalau kita mau jeli suka para pejuang kemerdekaan, hampir semuanya adalah orang-orang yang punya keimanan teguh. Diponegoro, misalnya. Meski berasal dari keturunan ningrat, tapi dia angkat senjata melawan belanda –  mbalelo  dari kraton – karena tidak sudi orang kafir belanda menjajah tanah airnya. Rakyat pun berbondong-bondong mengikuti Pangeran Diponegoro.

    Nama asli Pangeran Diponegoro (1785-1855) adalah Raden Mas Ontowiryo. Ia bergelar Sultan Abdul Hamid Herucokro Amirulmukminin Sayidin Panatagama Khalifatullah Ing Tanah Jawi. Diponegoro adalah anak Pangeran Adipati Anom (Hamengku Buwono III) dari garwa selir. Ia melawan Belanda saat penjajah mau membangun jalan dengan menyerobot (merobohkan) bangunan masjid dan tanah leluhurnya. Jadi motivasi perlawanan Diponegoro – tidak seperti sejarawan belanda hanya hanya tanah leluhurnya – adalah karena Belanda mau merobohkan masjid. Sekali lagi, motivasi keimanan Islamlah yang membuat Diponegoro angkat senjata melawan Belanda. Ayahanda Diponegoro sendiri pada masa itu menjadi sasaran kritik Ki Ripangi karena HB III mau kerja sama dengan Belanda. Tapi putranya, Diponegoro, menjadi teman seperjuangan Ki Ripangi.

              Selain Diponegoro, priyayi kraton yang sangat nyantri adalah Kyai Samber Nyowo. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa alias Raden Mas Said (lahir di Kraton Kartasura, 7 April 1725 – Surakarta di Surakarta, 28 Desember 1795 pada umur 70 tahun) adalah pendiri Praja Mangkunegaran, sebuah kadipaten agung di wilayah Jawa Tengah bagian timur , dan Pahlawan Nasional Indonesia. Ayahnya bernama Pangeran Arya Mangkunegara Kartasura dan ibunya bernama RA Wulan. Julukan Pangeran Samber Nyowo yang diberikan oleh Nicolaas Hartingh, Gubernur VOC, karena di dalam peperangan RM. Said selalu membawa kematian bagi musuh-musuhnya. Apa yang diketahui Belanda, Pangeran Samber Nyowo selalu membawa Al-Qur’an dalam setiap pertempuran. Dia tak pernah tinggal salat dan membaca Al-Qur’an meski dalam kondisi peperangan. Dan tampaknya mu’jizat Al-Qur’an inilah yang membuat Pangeran Samber Nyowo dan pasukannya selalu menang dalam pertempuran melawan Belanda. Dalam setiap pertempuran, Sang Pangeran selalu bisa membunuh tentara Belanda. Jelas, Pangeran Samber Nyowo adalah seorang yang taat agama. Ia seorang santri yang selalu mohon kepada Allah dan mohon menang dalam peperangan melawan Belanda.

    Sejarah mencatat nama-nama tokoh santri yang menggerakkan perlawanan terhadap penjajah. KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah dan KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU), misalnya, tertangkap dengan tinta emas sebagai pembela negara. Sedang santri dan belakang mengembangkan dunia pendidikan islam, madrasah yang mendirikannya, Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy ‘ ari telah berhasil mendidik jutaan kader bela negara yang mumpuni dan berkualitas yang kini mengabdi dan berkarya untuk bangsa dan negara. sejarah telah terbukti kaum santri tidak hanya menjadi kader bela negara tapi juga mendidik dan menyebarkan kader-kader bela negara ke seluruh nusantara.

    *Guru Nesar UIN Jakarta/Rektor Universitas Mathlaul Anwar

    210 total views, 2 views today

    Please follow and like us:
    Baca juga :  AL-QUR’AN DAN ILMU KELAUTAN

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial