AL-QUR’AN DAN ILMU KELAUTAN

  • 05 November, 2017  04:11:03 

  • Oleh: Muhammed Bin Abdullah ( Mahasiswa Program Doktoral Pascasarjana Institut Perguruan Tinggi Ilmu A-Qur’an (PTIQ) Jakarta)

    Alquran merupakan kitab suci yang membahas tentang berbagai ilmu pengetahuan, salah satunya yang berkaitan dengan oceanografi. Oceanografi merupakan cabang ilmu bumi yang mempelajari samudera atau lautan.[1] Laut sebagai salah satu pilar dari sumber daya alam di samping daratan dan udara keberadaannya masih belum dikaji secara mendalam, kalaupun ada kajiannya belum secara holistik, yaitu hanya dikaji sebatas sumber daya ekonomi semata. Sehingga kajian mendalam tentang kelautan sulit ditemukan.[2] Padahal tidak sedikit ayat Alquran yang berbicara tentang lautan.

    Laut merupakan karunia Tuhan yang diperuntukkan bagi kepentingan bersama, dengannya setiap manusia tidak saja berhak untuk mengambil manfaat darinya, tetapi juga menanggung kewajiban untuk melestarikannya bagi generasi berikutnya yang juga memiliki hak yang sama terhadap karunia ini.[3] Hendaknya manusia beragama, khususnya umat Islam di Indonesia, tidak hanya memandang laut sebagai obyek “pengkayaan diri” bagi satu generasi tanpa mempedulikan kebutuhan generasi mendatang, tetapi juga harus memandangnya sebagai karunia Tuhan yang perlu dijaga kelestariannya dan tidak menggunakannya demi kepentingan jangka pendek. Sebab, setiap pengelolaan yang dilakukan untuk kepentingan tersebut dapat melahirkan kerugian besar bagi umat manusia.

    Baca juga :  MERAWAT KEMURNIAN MAKNA “KEMERDEKAAN“

    Perusakan terhadap lingkungan laut terjadi akibat pola pendekatan manusia terhadap alam yang merawat teknokratis. [4] Sikap teknokratis dapat menghargai sebagai sikap merampas secara serampangan. Maksudnya, alam dibongkar dan dieksploitasi secara besar-besaran tanpa dampak negatif dari hal tersebut. Lepas, setiap kegiatan yang dilakukan secara serampangan dapat menggerogoti dasar-dasar alamiah kehidupan generasi-generasi yang berikutnya. [5] Bila ditinjau dari sudut pandang filsafat etika, hal ini bersumber dari etika yang bercorak antroposentris, yaitu pandangan atas manusia sebagai pusat alam semesta dan hanya manusialah yang memiliki, sementara alam semesta berserta, termasuk lautan, alat pemuat untuk kepentingan dan kebutuhan manusia[6] Akhirnya, pandangan ini menjadi justifikasi bagi manusia untuk mengeksploitasi laut secara serampangan.

    Semangat eksploitasi tentu sangat tidak sejalan dengan semangat Alquran yang menghendaki manusia untuk melakukan pelestarian dan eksplorasi terhadap kekayaan laut. Dalam Alquran, hamparasan lautan dengan segala yang ada di dalamnya adalah karunia Tuhan yang wajib untuk dijaga, perawatan, dilestarikan dan dimanfaatkan dengan sebaik-az. Alquran menghendaki manusia untuk tidak bersikap serakah terhadap potensi lautan yang telah disediakan oleh Tuhan. Sikap ini bisa membuat manusia tamak dalam arti potensi kelautan yang telah dititipkan oleh-Nya. Sebagai wakil Tuhan di bumi, umat Islam tidak boleh memandang laut hanya sebagai obyek yang bisa melahirkan keuntungan semata, tapi juga bisa dilihat sebagai tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam semesta ini. [7] Begitu, umat Islam bisa menguasai dan melestarikannya demi kepentingan khalayak.

    Pelestarian potensi laut dapat dilakukan umat Islam, dengan tidak melakukan eksploitasi secara membabi buta terhadap kekayaan potensi di dalamnya. Hal ini hanya bisa dilakukan jika umat Islam menerapkan nilai Alquran dalam pengelolaanya. Pandangan Alquran tentang lautan cepat menghendaki manusia untuk menelaah secara mendalam melalui ilmu pengetahuan, sehingga manfaatnya dapat diperuntukan bagi perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.

    Lebih Lengkapnya silahkan unduh dibawah ini👇

    Alquran dan Ilmu Kelautan

    374 total views, 4 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial