Mengenal Gerakan Zionisme

  • 05 November, 2017  00:06:04 

  • Mathlaulanwar.or.id-Tidak ada perbincangan serius mengenai masalah Timur Tengah tanpa mengaitkannya dengan ideologi Zionisme. David Vital, profesor di Universitas Tel Aviv dalam bukunya T dia Asal usul Zionisme  (1975) menulis tentang Zionisme modern (sering disebut juga Zionsime politik) pada mulanya merupakan impian seorang wartawan Theodore Herzl setelah menyaksikan pengadilan pengkhianatan Kapten Dreyfuss di mahkamah militer Paris. Zionisme modern lahir setelah Kongres Basle pada 29-31 Agustus 1897, tahun yang lalu.

    Sebelum lahirnya gerakan Zionisme modern, ide tentang Zion sudah cukup kuat mengakar dalam kehidupan masyarakat Yahudi, khususnya kalangan Ashkhenazi (Yahudi Eropa). Di antara gerakan Zionis pra-Kongres Basle yang secara umum disebut sebagai proto-Zionisme, yang terpenting adalah Hovevei-Zion, Hibbat-Zion, dan Poalei-Zion. Semua gerakan Zionisme itu sering juga dikenal sebagai gerakan ” utopia ”, dan baru setelah Kongres I di Basle, gerakan Zionisme menemukan jati dirinya sebagai gerakan politik yang memiliki program yang jelas.

    Semula Theodore Herzl ingin menggelar Kongres di Muenchen, Jerman. Namun dia mendapat tantangan keras dari kalangan pemuka agama Yahudi dan kelompok pro asimilasionis yang suka Kongres Zionis dan kegiatan yang terkait hanya akan meningkatkan rasa kebencian masyarakat Jerman terhadap mereka. Oleh pelengkap, Herzl suka memindahkan tempat kongres di kota kecil Basle yang berada di wilayah Swiss tapi masih berbatasan dengan Jerman. Kongres dibuka pada Ahad pagi tanggal 29 Agustus 1897 dengan mengambil tempat di gedung Kasino milik pemerintah kotapraja Basle.

    Sungguh aneh saja agama Yahudi mengharamkan perjudian, pelaksanaan kongres yang memperjuangkan kembalinya ke tanah leluhur itu dilakukan di tempat judi. Ini bisa dimaklumi karena sebenarnya Theodore Herzl penggagas dan aktor utama kebangkitan Zionisme adalah seorang sekuler. Persiapan kongres dilakukan dengan matang dan rapi. Beberapa bulan sebelumnya Herzl sibuk melobi ke berbagai tokoh Yahudi di London, Paris, Polandia, Rusia, dan lain-lain tempat agar bisa mengirimkan wakilnya atau datang sendiri. Meski demikian, hanya sekelompok kecil yang berani ke Basel. Israel Zangwill, adalah sedikit dari intelektual terkemuka yang memberanikan diri hadir di kongres.

    Kongres tersebut dihadiri antara 200 sampai 250 wanita dan pria yang datang dari 24 negara. Jumlah yang tampak tidak pasti ini karena beberapa delegasi yang datang dari Rusia meminta agar namanya tidak dicantumkan secara resmi. Dengan kata lain mereka datang secara ilegal Beberapa delegasi tidak mau repot dengan daftar secara resmi karena mereka mungkin tidak sedang sedang konsultasi kongres yang sangat bersejarah. Sebab, lima puluh tahun kemudian cita-cita mendirikan negara Israel berhasil diwujudkan dengan mengusir dan merampas tanah dari bangsa Palestina.

    Pintarnya Herzl mengorganisasi Kongres I Zionis di Basle ini terlihat dari rapinya administrasi maupun agenda acara yang dibicarakan. Semua peserta yang hadir sebelum memasuki arena kongres sudah ada materi yang tercetak rapi. Masing-masing delegasi lencana yang dirancang oleh Bodenheimer. Badge ini merupakan lingkaran biru dengan garis akar merah dengan lambang singa dan bintang david sebanyak 12 buah. Di tengah-tengahnya ada kata-kata: ” Berdirinya negara Yahudi adalah satu-satunya jawaban yang masuk akal bagi penyelesaian masalah Yahudi ”.

    Menjadi wartawan profesional yang bekerja untuk koran Neue Freie Presse, Herzl mengerti benar media media dalam penyebaran ide-idenya. Jauh sebelum orang menyadari masalah PR (public relations), Herzl sudah mengetahui manfaat media untuk kepentingannya. Koran Die Welt yang saat itu sudah cukup besar mendapat layanan khusus. Seakan imbuhannya, koran ini pun memuat edisi khusus Kongres I Zionis tersebut. Publikasi mengenai kongres juga ada di koran-koran Eropa lainnya, seperti The Times of London, The Daily News, The Daily Mail, The Spectator, dan Pall Mall Gazette di Inggris. Koran Jerman yang memberitakan secara besar-besaran adalah Frankfurter Zeitung, Kolnische Zeitung. Koran-koran besar di negara lain juga memuat berita kongres itu, misalnya di Hongaria, Rusia, Polandia, Swiss, Amerika Serikat, dan Prancis. Dengan demikian dari segi propaganda dan perebutan opini publik, Herzl sukses besar.

    Kongres yang berlangsung selama tiga hari itu bisa berlangsung mulus karena jumlah masalah sudah dalam penyelesaian pra-kongres yang berlangsung selama dua hari. Dalam pertemuan khusus ini berhasil ditunjuk 7 orang pelaksana yang diketuai Max Nordau. Mereka bertanggung jawab atas lancarnya sidang-sidang yang dilaksanakan. Meski demikian Herzl semula sempat ragu dia akan mampu menggelar kongres dengan baik.

    Untuk memberi kesan itu kongres bukan dihadiri oleh orang-orang ” gembel ” saja, Herzl meminta semua delegasi yang akan masuk ruang sidang memakai baju resmi, yaitu jas panjang dan dasi putih. Ketika Nordau sebagai ketua pengarah sidang muncul di arena kongres hanya dengan tema jaket biasa, Herzl memaksanya balik ke hotel dan regang dengan stelan resmi itu. Nordau berhasil dirayu agar agar ganti ganti pakaian dan dia kemudian dipeluk pendiri Zionis itu dengan hangat. Seperti yang diharapkan Herzl, kongres berjalan lancar dan khususnya acara pembukaan berlangsung khidmat.

    Konon, para peserta banyak yang mencucurkan air mata. Mereka terharu, untuk pertama kalinya warga Yahudi yang terserak-serak di berbagai negara dan berbeda bahasa bisa dengan tujuan yang sama: memperjuangkan berdirinya Israel. Meski masih banyak yang sangsi akan mampu membangun negara khusus untuk bangsa Yahudi, tapi langkah positif sudah mereka laksanakan dengan menyatukan tekad dalam cita-cita yang sama.

    Konspirasi zionisme
    Jika kita mendikami masalah Israel dan Zionisme dengan orang Arab atau mereka yang kurang dalam pemahamannya soal Timur Tengah, akan sangat mudah sekali kita terjebak ke dalam teori konspirasi. Banyak dikesankan adalah Zionisme yang merupakan konspirasi kaum kolonial untuk melemahkan dunia Arab atau Islam. Tidak pernah dikaji secara mendalam gerakan Zionisme sukses karena kerja keras para pendukungnya ditambah dengan lemahnya atau cerai berainya bangsa Arab sendiri.

    Hal ini bisa dilihat dari daftar siapa yang hadir dalam Kongres I di Basle tersebut. Dari 200 sampai 250 peserta yang hadir, hanya 162 orang yang berani pasang pandangannya secara terbuka. Di antara mereka ini, selain Theodore Herzl maka yang memiliki reputasi internasional terpilih Israel Zangwill (intelektual Inggris) dan profesor Herman Schapira, pakar matematika dari Universitas Heidelberg, Jerman. Secara umum para delegasi Kongres I adalah kaum kelasil Yahudi, seperempat di kalangan pengusaha, industriawan, dan keuangan. Kelompok terbesarnya adalah sastrawan, mahasiswa, dan kaum profesional seperti pengacara, wartawan, dokter, dan sebagainya. Juga ada 11 orang rabbi, seorang penjaga sinagog, seorang petani, seorang pemahat, dua orang ahli stenografi, dan seorang tukang cetak.

    Mayoritas dari hadirin kaum modernis dan liberal dalam pandangan agamanya. Ini untuk membedakan kelompok Orthodoks yang saat ini membentuk kehidupan politik Israel. Bahkan, ada pula yang ragu-ragu dalam kepercayaannya kepada Tuhan (agnostik). Bisa dikatakan tidak ada kelompok ekstremis seperti kaum messianik karena mereka percaya dengan kembalinya bangsa Yahudi dengan cara politik adalah pengingkaran terhadap hukum Tuhan. Bangsa Yahudi, kata mereka, hanya akan kembali ke tanah suci dengan mukjizat.

    Dari asal negara, sebagian besar dari Eropa Timur, Rusia, Rumania, Serbia, Bulgaria, Austria, Polandia, Lithuania, dan Latvia. Beberapa kelompok berasal dari Eropa Barat, Prancis, Inggris, Swiss, Jerman, dan Amerika Serikat. Mungkin yang pantas dianggap tidak terlihat dari negara-negara Arab atau Islam yang dikenal sebagai kaum Sephardim. Dengan demikian, sebenarnya Kongres I Zionis adalah Kongresnya Yahudi Ashkhenazi atau Yahudi Eropa.

    Fakta ini menunjukkan ” masalah Yahudi ” (pertanyaan Yahudi) adalah masalah Eropa. Bangsa Yahudi di dunia Arab atau Sephardim yang hidup berabad-abad dengan umat Islam tidak ada masalah yang serius. Persoalan antara Yahudi dan Yahudi baru muncul setelah lahirnya Israel. Edward Said, intelektual Amerika terkemuka kelahiran di era kecilnya sebelum ada Israel, hubungan masyarakat Islam, Kristen, dan Yahudi di Palestina cukup baik. Memang sekali-kali muncul imbuhnya masih dalam batas-batas yang wajar. Setelah gelombang Zionisme Masuk tanah Palestina dengan Deklarasi Balfour 1921, kerusuhan antara komunitas makin memuncak.

    Setelah melalui perdebatan yang cukup seru, kongres yang berlangsung selama tiga hari ini merupakan empat pokok program kerja. Hal yang penting yang disepakati adalah Zionisme merupakan suatu gerakan yang mampu membangun ” perumahan ” bagi bangsa Yahudi di Palestina melalui jalan hukum. Untuk itu dirumuskan empat tujuan pokok sebagai berikut:

    Pertama, beli tanah Palestina dengan hasil karya petani, seniman, dan pedagang Yahudi. Kedua, mengorganisasikan dan mempersatukan semua bangsa Yahudi dengan berbagai cara yang tepat sesuai dengan kondisi lokal dan sesuai dengan peraturan umum yang berlaku di masing-masing negara. Ketiga, menguat rasa kebangsaan dan rasa kesadaran nasional Yahudi. Keempat, menyiapkan berbagai tindakan dalam upaya pemerintah yang diperlukan untuk dicapainya tujuan Zionisme.

    Semua program ini menjadi tanggung jawab kongres yang dalam sehari-hari oleh sebuah badan eksekutif di bawah pimpinan Herzl. Dialah, dengan pengalamannya sebagai wartawan internasional mulai menggarap beberapa politisi dan pejabat pemerintah di Barat untuk memberikan dukungan bagi Zionisme.

    Manipulasi sejarah

    Tidak ada manipulasi sejarah yang lebih dahsyat dari pada yang dilakukan kaum Zionis terhadap bangsa Palestina. Kongres Zionis I di Basle merupakan titik balik dari sejarah usaha perampasan tanah Palestina dari bangsa Arab. Tapi hebatnya, para perampas ini tidak dianggap sebagai ” perampok ” malahan dipuja sebagai ” pahlawan ” dan bangsa Arab yang melawannya dianggap sebagai ” teroris ” dan penjahat yang perlu dihancurkan.

    Salah satu kunci untuk memahami semua ini karena sejak Kongres I kaum Zionis sudah mengerti kunci perjuangan abad XXaktu: diplomasi, lobi, dan penguasaan media massa. Herzl sebagai seorang wartawan yang berpengalaman dengan tangkas memanfaatkan tiga senjata andal dalam perjuangan politik abad modern ini. Dari Kongres I, dia sangat rajin melobi para pembesar di Eropa, mendekati wartawan, dan melancarkan diplomasi ke berbagai negara. Sungguh luar biasa. Zionisme lantas diterima sebagai gerakan politik yang sah bagi usaha merampas tanah Palestina untuk bangsa Yahudi.

    Tokoh-tokoh Yahudi banyak jatuh ke media massa, berita koran dan industri film. Hollywood misalnya dibentuk oleh Adolf Zuckjor bersaudara dan Samuel-Goldwyn-Meyer (MGM). Dengan dominasi yang luar biasa ini, mereka berhasil mengubah bangsa Palestina yang sebenarnya adalah korban kaum Zionis menjadi pihak ” penjahat ”.

    Edward Said, dalam bukunya  Menyalahkan Korban secara global. Sekitar 25 persen wartawan di Washington dan New York adalah orang Yahudi, sebaliknya hampir tidak ada koran atau TV Amerika terkemuka yang memiliki wartawan Arab atau Muslim. Kondisi ini berbeda dengan media Eropa yang dalam jumlah terbatas masih memiliki wartawan Arab atau muslim. Dengan demikian laporan tentang media di media Eropa secara umum lebih ” fair ” media media Amerika.

    Edward Said yang terkenal dengan bukunya Orientalisme (Verso 1978), mengurai apa yang dilakukan kaum Zionis terhadap bangsa Palestina adalah praktik kaum Orientalis yang sangat nyata. Pertama, sejarah ditulis ulang, Palestina sebelum berdirnya Israel adalah: wilayah tanpa bangsa untuk bangsa yang tidak memiliki tanah air. Kedua, bangsa Palestina yang menjadi korban dikesankan sebagai bangsa biadab yang jadi penjahat. Ketiga, tanah Palestina hanya bisa makmur setelah kaum Zionis beremigrasi ke sana.

    Yerusalem dan tanah Palestina akan akan semakin panas. Zionisme yang semula tergabung menjadi isu kekerasan yang muncul: yang isinya Palestina yang sampai sekarang tidak pernah selesai.

    Sumber Republika

    298 total views, 2 views today

    Please follow and like us:
    Baca juga :  Lomba Menulis Artikel, Poster, dan Video Iklan Layanan Masyarakat "Sensor Mandiri" 

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial