Generasi Muda dalam Merangkai Masa Depan

  • 07 November, 2017  16:30:58 

  • Oleh, Dadan Saepudin*

    Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 28 Oktober 2017 ada peristiwa bersejarah yang menjadi bagian penting dinamika perjalanan bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut, tentu menjadi inspirasi bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.
    Semangat pemuda pada masa lalu dalam konteks membangun persatuan dan kesatuan bangsa patut kita tiru. Semangat dan jiwa patriot menjadi pelajaran penting pagi generasi muda saat ini. Cita-cita mereka yang mulia perlu dilanjutkan pada masa sekarang di tengah belbagai persoalan bangsa yang secara gradual menggerogoti kekuatan bangsa ini seperti; terorisme dan berita hoax.

    Di sisi lain generasi muda dihadapkan dengan persoalan bahaya narkoba. Penulis cukup prihatin ketika mendapatkan informasi mengenai penyalahgunaan narkoba dan minuman keras (miras) yang lakukan oleh generasi muda baik di media cetak maupun elektronik. Hal tersebut menjadi renungan di tengah masifnya peredaraan narkoba di Indonesia dan generasi muda menjadi sasaran empuk pengedar narkoba.

    Melihat persoalan di atas, keprihatinan kita bukan sekadar tanpa arti. Kita mesti keluar dari persoalan tersebut dengan mencari solusi agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar apalagi Indonesia memiliki potensi yang menjadi modal dalam membangun kemajuan bangsa. Apalagi sejarah telah membuktikan bahwa pergerakan nasional dan perjuangan kemerdekaan Indonesia salah satunya diisi oleh anak-anak muda seperti; Hos Cokroaminoto, Ir. Soekarno, Muhammad Hatta, Bung Tomo, dan tokoh-tokoh lainnya.

    Baca juga :  Jumat 212 dan Simbol Ketidakadilan

    Lalu, apa yang harus dipersiapkan bagi generasi muda saat ini? Pertanyaan itu tentu menjadi PR bersama. Penulis teringat kepada Sabda Nabi Muhammad Saw bahwa kita harus mempergunakan lima hal sebelum datang lima hal pula di antaranya masa muda sebelum datang masa tua.

    Pertama, hiasi masa muda dengan ilmu. Masa muda merupakan masa yang indah, masa merangkai cita dan asa. Masa muda tentu bukan waktu untuk disia-siakan, akan tetapi masa yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Salah satu langkah positif dalam memanfaatkan masa muda dengan menuntut ilmu.

    Pada prinsipnya, dalam menuntut ilmu tidak mengenal batasan usia, akan tetapi masa muda merupakan rentang usia manusia yang produktif sehingga perlu dimanfaatkan secara maksimal. Jika kita melihat perjalanan bangsa Indonesia, anak-anak muda Indonesia memanfaatkan masa mudanya untuk belajar sehingga mereka menjadi tokoh-tokoh yang berpengaruh bagi dinamika pergerakan dan perjuangan dalam kemerdekaan Indonesia. Sebut saja misalnya, Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, Muhammad Hatta, Wakil Presiden RI pertama, pendiri ormas keagamaan, pendiri Budi Utomo, dan tokoh-tokoh besar lainnya yang menghiasi masa muda dengan menuntut ilmu.

    Baca juga :  Meneropong 'Plus Minus' Rencana Pendirian Bank Banten

    Menuntut ilmu bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Hal itu mengisyaratkan bahwa ilmu tidak hanya diraih di lembaga formal akan tetapi dapat dilakukan melalui pendidikan nonformal seperti di pesantren, lembaga diklat, bahkan di organisasi. Bagi penulis, organisasi merupakan tempat yang baik untuk diikuti oleh generasi muda karena melalui organisasi, mereka dapat mengembangkan jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, belajar bicara di depan publik, menulis, manajemen, membangun networking, dan pendidikan karakter lainnya.
    Kedua, hiasi hidup dengan iman. Kepintaran bukanlah ukuran untuk meraih sebuah kesuksesan, kebahagiaan, serta manfaat yang dirasakan oleh diri sendiri dan orang lain kalau tidak disertai dengan keimanan. Iman menjadi penerang dan benteng bagi setiap manusia dalam menjalani kehidupannya.

    Dalam ajaran Islam, manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai abdullah, hamba Allah dan khalifah di muka bumi ini. Yusuf Al-Qordlowy, dalam bukunya Iman dan Kehidupan (1983) mengatakan bahwa individu tanpa agama dan keimanan, laksana sehelai bulu yang diterbangkan oleh hembusan angin, yang tentunya tidak akan tetap pada suatu keadaan dan tidak akan mengetahui sesuatu arah tertentu, serta tidak akan menetap pada suatu tempat.
    Ketiga, hiasi hidup dengan fisik yang kuat. Hal tersebut dapat dilakukan dengan berolahraga yang teratur serta menjaga fisik kita dengan tidak mengkonsumsi makanan yang haram seperti penyalahgunaan narkoba dan mengkonsumsi minuman keras.

    Baca juga :  “Mengukur Komitmen Anti Korupsi Gubernur dan Wakil Gubernur Banten"

    Merawat dan menjaga anggota tubuh merupakan sebuah keharusan. Dengan fisik yang kuat kita dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan yang positif dengan baik. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw mengisyaratkan agar setiap orang tua mengajari anak-anaknya berolahraga seperti berkuda, berenang, dan memanah.

    Keempat, hiasi hidup dengan seni. Bagi generasi muda, seni tentu menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan. Kegemaran sebagai penikmat seni apalagi berkarya dalam bidang seni menjadi bagian yang positif bagi aktualisasi generasi muda. Dengan seni hidup akan terasa indah, apalagi seni yang dibingkai dengan etika.

    Epilog
    Ketika generasi muda kuat, insya Allah Indonesia akan kuat. Untuk itu, kita isi masa muda dengan hal-hal yang positif dan kita tanamkan dalam jiwa sanubari untuk melanjutkan cita-cita mulia para pendiri bangsa. Berbuat agar bangsa dan negara Indonesia lebih baik. Semoga.

    *penulis adalah Guru di MTs Mathla’ul Anwar Sukaguna Kabupaten Bandung Barat dan Mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia STKIP Siliwangi  

    178 total views, 4 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial