10 Hari Lagi Akan Ada Pameran Pendidikan Islam International

  • 11 November, 2017  00:51:11 

  • Mathlaulanwar.or.id- Sepuluh hari lagi Pameran Pendidikan Islam Internasional (IIEE) dimulai, acara ini mungkin merupakan acara pendidikan terbesar yang akan dilakukan oleh Kementerian Agama, Republik Indonesia, pada akhir 2017. Serangkaian program akan diintegrasikan ke dalam pameran tersebut, termasuk Annual International Conference pada Studi Islam (AICIS), Deklarasi Jakarta, Apresiasi Pendidikan Islam, Seminar Internasional tentang PesantrenStudi. dan Pertunjukan Seni. Pameran ini akan berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE), sebuah tujuan baru yang muncul dari industri MICE (pertemuan, insentif, konferensi, pameran) di Indonesia. Diatur untuk berlangsung selama empat hari 21-21 November 2017, pameran tersebut akan dimeriahkan sekitar 200 stand yang disediakan untuk peserta dari institusi pendidikan dan mitra dalam negeri dan luar negeri.

    Tujuan pameran ini adalah untuk mengekspos Pendidikan Islam Indonesia agar bisa dikenal baik oleh masyarakat nasional maupun internasional. Dengan mengikuti pameran tersebut, diharapkan para pengunjung akan diuntungkan untuk mendapatkan informasi yang memadai mengenai beragam kekayaan Pendidikan Islam Indonesia sepanjang sejarah Islam di negara ini dan juga perkembangannya belakangan ini.

    Baca juga :  Keluarga Besar Alumni Mathla'ul Anwar Terbentuk

    Kepada pemerintah Republik Indonesia, khususnya Kementerian Agama, pameran dianggap penting dan strategis untuk meningkatkan potensinya. Indonesia adalah negara dengan komunitas Muslim terbesar di dunia. Dengan tidak kurang dari 200 juta penduduk mengidentifikasi diri mereka sebagai Muslim (87,2% dari total populasi Indonesia), hal ini membuat Islam menjadi agama yang dominan di negara ini. Selanjutnya, negara ini juga dikenal sebagai negara dengan berbagai budaya lokal dan berbagai etnis dan agama. Meski memiliki keragaman, bagaimanapun, mereka dapat hidup bersama dalam kedamaian dan harmoni.

    Dibandingkan dengan negara-negara Muslim lainnya, Indonesia sangat dominan karena memiliki sejumlah besar institusi pendidikan Islam di bawah Kementerian Agama, mulai dari madrasah(75.000 institusi di sekitar), pesantren(28.000), ke institusi pendidikan tinggi (650). Lembaga-lembaga ini sebagian besar didirikan oleh lembaga swasta dan organisasi keagamaan-sosial, seperti Al-Khairat, Al-Washliyah, Nahdlatul Wathan, Mathlaul Anwar, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Al-Irsyad, dan Persatuan Islam (PERSIS). Selain mengelola sekolah dan universitas, organisasi ini juga memperhatikan layanan publik lainnya, seperti layanan keuangan dan keuangan. Sebenarnya, sekolah, universitas dan rumah sakit dapat ditemukan dengan mudah di seluruh negeri atas nama organisasi ini, terutama dua yang terbesar, yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Keberadaan organisasi ini memainkan peran penting dalam membangkitkan gerakan keagamaan pada umumnya dan gerakan pendidikan pada khususnya.

    Baca juga :  Seba Baduy, Temui Empat Pemimpin Daerah

    Hal ini juga layak disebutkan bahwa sejarah Pendidikan Islam di Indonesia telah menyaksikan munculnya sarjana Muslim yang berpengaruh ( ulama ) melalui karya akademik monumental mereka, seperti Syekh Nawawi al Bantany (1813-1897), Syekh Yusuf al-Makassary (1626- 1699), Syekh Nuruddin ar-Raniry (1658), Syekh Abdus Samad al-Falimbany (1704-1785), dan banyak ulama besar lainnya. Karya ilmiah mereka masih diakui secara akademis di Dunia Muslim, dan menjadi objek penelitian yang menarik.

    Kekayaan harta karun (kepulauan) Nusantara telah sejak beberapa dekade menjadi “laboratorium pengetahuan” banyak peneliti asing. Thomas Stamford Raffles (1781-1826) dengan Sejarahnya di Jawa , Cliffort Geertz (1926-2006) dengan teori antropologi dalam Agama Jawa , dan Benedict Anderson (1936-2015) dengan teori politiknya dalam Imagined Communities: Reflections on the Asal dan Penyebaran Nasionalisme , hanya untuk menyebutkan beberapa peneliti asing, adalah mereka yang telah mengembangkan magnum opus mereka dengan melakukan penelitian di Indonesia.

    Baca juga :  Airlangga Harapkan, Kawasan Industri Perlu Ditopang Infrastruktur Memadai

    Berdasarkan potensi tersebut, Indonesia mendapat pengakuan sebagai salah satu pusat peradaban Islam. Keberadaan Islam di Indonesia dengan banyak sumber daya institusional, akademis, dan Islam benar-benar harus dipromosikan secara luas ke negara-negara lain di seluruh dunia.

     

    322 total views, 4 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial