Prostitusi dan Tanggung Jawab Sosial Umat

  • 18 November, 2017  01:57:52 

  • Oleh: Bambang Pranowo*

    Ketika Rasulullah sedang berkumpul dengan para sahabatnya, tiba-tiba seorang pemuda mendekatinya. Para sahabat pun kaget, ada apa gerangan? Sang pemuda pun berkata: ”Wahai Rasulullah, izinkanlah aku berbuat zina.’ Tentu saja para sahabat terkejut. Mereka pun marah sambil menghardik pemuda itu. ”Diam kamu, diam!” Tapi Rasulullah sendiri tidak marah.

    Pemuda itu diminta Rasul untuk makin mendekat dan duduk di sampingnya. Dengan suara lembut Rasul pun bertanya kepada pemuda itu.

    ”Apakah kamu suka perbuatan zina dilakukan terhadap ibumu?”

    ”Tidak, demi Allah. Semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu,” kata pemuda itu.

    ”Orang lain pun tentu tidak suka hal tersebut dilakukan terhadap ibu-ibu mereka,” kata Rasul.

    Tak lama kemudian, Rasulullah bertanya lagi. “Apakah kamu suka bila perbuatan zina dilakukan terhadap anak perempuanmu?”

    Pemuda itu pun menjawab: ”Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, semoga diriku menjadi tebusanmu.”

    “Orang lain pun tentu tidak suka hal tersebut dilakukan terhadap anak perempuan mereka,” jelas Rasul.

    Rasul bertanya lagi. “Apakah kamu suka bila perbuatan zina dilakukan terhadap saudara perempuanmu?”

    ”Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu.”

    Rasulullah pun melanjutkan: “Orang lain pun tentu tidak suka hal tersebut dilakukan terhadap saudara perempuan mereka.”
    “Apakah kamu suka bila perbuatan zina dilakukan terhadap bibi (dari pihak ayah)-mu?”

    Pemuda itu menjawab: ”Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu.”

    Rasulullah pun bersabda: “Orang lain pun tentu tidak suka hal tersebut dilakukan terhadap bibi (dari pihak ayah) mereka.”
    Pertanyaan terakhir, “Apakah kamu suka bila perbuatan zina dilakukan terhadap bibi (dari pihak ibu)-mu?”

    Pemuda itu menjawab: ”Tidak, demi Allah, semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu.”

    Rasulullah bersabda: “Orang lain pun tentu tidak suka hal tersebut dilakukan terhadap bibi (dari pihak ibu) mereka.”
    Kemudian Rasulullah meletakkan tangannya ke dada pemuda itu seraya berdoa: ”Ya Allah, ampunilah dosanya dan bersihkanlah hatinya serta peliharalah farjinya.”

    Baca juga :  Profil KH.Oke Setiadi Anggota Amirul Hajj dari Mathla'ul Anwar

    Pemuda itu diam. Kesadaran sosiologisnya terhadap larangan perbuatan zina muncul dari dalam hatinya.

    Sejak saat itu, pemuda tersebut tidak lagi tertarik pada perbuatan zina sedikit pun (hadis dari Imam Ahmad).

    ***


    Perzinaan dan derivasinya, termasuk prostitusi, mucikari, lokalisasi, dan sertifikasi (pinjam gagasan Gubernur Ahok) sangat terlarang dalam Islam. Bahkan terlarang bagi semua agama. Tapi faktanya, mencegah perbuatan zina bukanlah persoalan mudah.

    Dalam Islam, misalnya, zina termasuk kategori dosa besar. Tapi menuduh orang lain berbuat zina tanpa bukti meyakinkan termasuk dosa besar pula. Dan bukti yang meyakinkan itu harus disertai saksi mata empat orang dengan detail yang terukur. Di mana, kapan, dalam kondisi apa, dan seberapa jauh perzinaan itu.

    Tanpa bukti-bukti meyakinkan, gugurlah tuduhan tersebut. Bahkan Rasul pernah mengabaikan orang yang minta dihukum rajam karena dia mengaku telah berbuat zina tapi tidak membawa bukti yang cukup.

    Gambaran di atas menunjukkan, perzinahan merupakan fenomena sosiologis yang kompleks. Kompleksitas ini terjadi karena secara sosiologis ada perbedaan antara zina dan prostitusi.

    Zina dalam kategori Islam (juga agama lain) adalah hubungan badan antara dua insan berbeda kelamin tanpa ikatan perkawinan. Sedangkan prostitusi adalah komersialisasi perzinaan. Yang jadi masalah: dari sisi manakah kita harus melihat persoalan tersebut?

    Dalam kasus artis AA dan mucikari RA yang ditangkap di sebuah kamar hotel bintang empat di Jakarta beberapa waktu lalu, misalnya, hukum positif sekuler, hanya bisa menindak sang mucikari karena dia menjadi agen prostitusi.

    Sebagai agen, RA bisa dianggap pelaku trafficking atau perdagangan manusia. Sedangkan AA sendiri hanya dianggap sebagai korban trafficking. Dengan logika hukum seperti itu, jelas sulit sekali melarang atau mencegah prostitusi.

    Baca juga :  RAMADHAN, THE MONTH OF CHANGE

    Yang menjadi soal, prostitusi di zaman modern yang sekuler ini tidak dikaitkan dengan ”perzinaan” yang menabrak norma agama. Sementara itu, pendekatan sosiologis di Indonesia akarnya dari Barat yang menganggap fenomena-fenomena sekuler telah terlepas dari hukum agama.

    Heboh kasus Deudeuh Alfisahrin (Tata Chubby) yang tewas di kamar kos-kosannya di Tebet belum lama ini bukanlah semata karena prostitusinya itu sendiri, tapi karena pembunuhan kejam pasca-“‘perzinaan berbayar” tersebut.

    Seandainya Deudeuh tidak terbunuh, niscaya kasus tersebut tidak akan ramai. Begitu pula kasus AA dan RA. Ia heboh karena melibatkan mucikari RA yang menjadi agen ratusan artis dengan bayaran puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

    RA dalam konteks hukum positif dianggap melakukan trafficking. Dan AA, lagi-lagi dianggap sebagai korban belaka. Padahal bisa jadi antara AA dan RA ada kerja sama. Tapi “hukum positif” belum mencakup kemungkinan seperti itu.


    Dari gambaran tersebut, secara sosiologis memang amat kompleks melihat kasus prostitusi sebagai derivasi perzinaan. Hukum agama menetapkan perzinaan sebagai dosa besar yang harus dijauhi manusia tanpa kompromi, sedangkan hukum positif – apalagi di Barat – perzinaan dianggap sebagai masalah sosiologis yang terus berubah akibat perkembangan zaman.
    Dengan pendekatan kemanusiaan (anthroposentris), kemudian perzinaan dianggap sebagai sesuatu yang ”halal” asalkan mau sama mau tanpa ada yang dirugikan. Konstruksi hukum di Indonesia merujuk pendekatan antroposentris ini. Itulah sebabnya ‘prostitusi’ hanya bisa dihukum kalau ada pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Sedangkan mucikari atau agen prostitusi terlarang karena termasuk kasus trafficking itu tadi.

    Dari gambaran inilah, usulan Ahok untuk menghidupkan kembali ”lokalisasi” di Jakarta tidak relevan karena tidak akan menyelesaikan masalah. Sebab jika ada lokalisasi, niscaya mucikarisasi akan berkembang pula. Di pihak lain, jika pemerintah mencegah atau menghukum ”pemesan” prostitute seperti di Swedia (dengan asumsi makin sedikit pemesan maka makin berkurang prostitusi), itu pun tak akan menyelesaikan masalah. Apalagi dengan mempertimbangkan kecanggihan teknologi informasi.

    Baca juga :  Sepenggal Kisah Sang Nabi

    Solusi ala Swedia adalah pendekatan ekonomi, sedangkan perzinaan itu sendiri bukan sekadar masalah ekonomi. Di Barat, salah satu bentuk perzinaan –seperti hidup bersama tanpa pernikahan (kumpul kebo) dan mencari kepuasan seks– sudah menjadi gaya hidup.

    Dengan latar belakang itulah, kisah Rasul dan sang pemuda yang minta izin berzina tersebut perlu kita renungkan kembali. Hadis di atas tidak sekadar mengungkapkan ”kekejian” zina secara sosiologis, melainkan juga mengungkapkan penolakan ”hati nurani” manusia terhadap perzinaan karena dampak buruknya yang menjijikkan terhadap kehormatan umat manusia. Jika kemudian hati nurani sudah tidak lagi bisa merasakan kejinya perzinaan karena pengaruh kehidupan sekuler yang liberal dan permisif, so what next?

    Perzinaan dan prostitusi adalah saudara kandung, sedarah dan sesusuan. Tapi jika keduanya dilihat secara terpisah, maka mustahil masalahnya bisa diselesaikan. Ahok dan Swedia melihat prostitusi secara ekonomi, sedangkan masyarakat Indonesia yang relijius melihatnya secara moral dan agama. Jelas sulit dipertemukan.

    Tapi jika bangsa Indonesia kembali ke dasar negara Pancasila, maka pendekatan terbaik untuk mengatasi prostitusi, jelas berdasarkan ”Ketuhanan”. Bagaimana bentuknya, itulah yang perlu kita pikirkan bersama. Hukum-hukum yang berdasarkan Pancasila hendaknya lebih ditegakkan ketimbang hukum-hukum yang bedasarkan sosio-kultural Barat sekuler! Jika itu terjadi, masalah perzinaan, prostitusi, kumpul kebo, dan mucikari bisa diatasi.


    (M. Bambang Pranowo)

    Guru besar sosiologi agama UIN Jakarta, Rektor Universitas Mathla’ul Anwar, Banten 

    Tulisan ini pernah dipublikasi di https://www.gatra.com/kolom-dan-wawancara/148215

    950 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial