Selamat Jalan Prof Bambang Pranowo

  • 08 January, 2018  15:23:50 

  • Berita mengejutkan selepas Shalat Jum’at 5 Januari 2017  dari nomor pribadi Prof.Dr. Bambang Pranowo bahwa Pemegang nomor tersebut telah meninggal dunia. Kabar tersebut kemudian menjadi viral di media sosial.

    Kami terakhir bertemu dengan almarhum pada saat halal bihal yang berlokasi di Perguruan MA Pusat Menes Tahun ini. Ia menjadi penceramah saat itu dan menjelaskan kepada halayak tentang hakikat halal bihalal.

    Meski tidak terlalu banyak berkesempatan bertemu, kami berkesimpulan bahwa almarhum adalah sosok yang sederhana, rendah hati dan tawadhu. semasa hidupnya Pernah satu ketika penulis berkesempatan menjemput almarhum di kediamannya untuk satu acara. Kami diterima dengan ramah dan ia bercerita tentang pengalaman hidupnya.

    Ia menceritakan sudah berapa assiten rumah tangga yang ia sekolahkan dan lulus menjadi sarjana. ia memposisikan bahwa asisten rumah tangga harus naik derajat dengan pendidikan. “jangan sampai mereka ingin maju kita tidak fasilitasi, dengan begitu kita akan bermanfaat bagi orang lain”

    Baca juga :  PBMA: Pancasila Sudah Final

    Wafatnya Rektor Universitas Mathla’ul Anwar sekaligus Guru Besar Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta yang dikenal ramah dan rendah hati ini menyisakan kehilangan mendalam bagi sivitas akademik UNMA Banten dan UIN Jakarta.

    Wakil Rektor III UNMA, Dr. H. Ali Nurdin menuturkan wafatnya almarhum merupakan kehilangan besar bagi sivitas akademik UNMA.  “almarhum merupakan figur pendidik dengan kedalaman ilmu dan pengalaman. Tidak hanya konsisten dalam mengajar dan membimbing mahasiswa jenjang sarjana hingga doktoral, almarhum juga banyak berkiprah di berbagai lembaga publik”.

    Diketahui, almarhum lahir di Magelang 27 Agustus  1947. Setelah menamatkan Pendidikan Guru Agama Atas Negeri Yogyakarta tahun 1965, Bambang melanjutkan pendidikan di jurusan Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin, IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, hingga tamat di tahun 1972.

    Selanjutnya, Bambang melanjutkan studi magister dan doktornya ke Department of Anthropology and Sociology, Monash University, Australia (1985-1991). Di kampus ini, ia menulis disertasi Creating Islamic Tradition in Rural Java,salah satu disertasi berpengaruh dalam kajian Islam di Jawa.

    Baca juga :  Gema Mathla`ul Anwar dukung peningkatan status BNN

    Selain mengajar di UIN Jakarta, beragam pengalaman kerja pernah dilalui almarhum. Bambang pernah menjadi rohaniawan Islam untuk para tahanan politik PKI di Pulau Buru, peneliti LP3ES, Peneliti Balai Penelitian Agama dan Kemasyarakatan Departemen Agama, Direktur Pembinaan Urusan Haji, Hingga Staf Ahli Departemen Pertahanan bidang Sosial Budaya.

    Sebagai akademisi, Bambang merupakan guru besar yang produktif. Ia rajin menulis opini di berbagai media, artikel di berbagai jurnal ilmiah, dan sejumlah buku dengan tema yang menjadi concern keilmuannya seperti Stereotip Etnik, Asimilasi, Integrasi Sosial (1988), Islam Faktual: Antara Tradisi Dan Relasi Kuasa (1998), Runtuhnya Dikotomi Santri-Abangan: Refleksi Sosiologis Atas Perkembangan Islam Di Jawa Pasca 1965 (2001), Memahami Islam Jawa (2009), dan Orang Jawa Jadi Teroris (2011).

    Dari beberapa karyanya, Memahami Islam Jawa merupakan salah satu karya terbaik Bambang. Melalui buku ini, penelitian Bambang turut menantang pemilahan “santri-abangan” antropolog Clifford Geertz atas masyarakat Muslim Jawa yang cukup mendominasi wacana sosial, budaya, dan politik Indonesia.

    Baca juga :  Polsek Kota Masohi Maluku Tengah Gelar Program Polisi Peduli Pendidikan di SMA Mathla'ul Anwar Masohi

    Melalui bukti-bukti etnografis, Bambang menunjukkan ketidaktepatan Geertz. Berpegang pada penelitian lapangan, penulis mendeskripsikan, membandingkan, dan menganalisis aspek-aspek kehidupan sosial-keagamaan masyarakat pedesaan Jawa yang sama sekali tidak bisa dipahami secara hitam putih dalam dikotomi santri-abangan. Tetapi menurut Bambang melalui buku ini Islam Jawa merupakan satu hal yang kompleks dan majemuk, sebuah sistem religiusitas yang tidak sekadar proses ‘mengada’ (state of being) melainkan proses ‘menjadi’ (state of becoming).

    Selain aktif sebagai pejabat pemerintahan, dosen, dan guru besar, Bambang juga rajin memberikan berbagai ceramah keislaman. Tercatat, semasa hidupnya Bambang turut serta mendirikan Monash Indonesian Islamic Society, Australia.

    Selamat jalan, Prof Bambang!

    328 total views, 22 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial