Monday , 25 January 2021

Pandu Cahaya Islam Mathla’ul Anwar Minta Pemerintah Tegas Konflik Rohingnya

  • 29 August, 2017  22:08:15 

  • Burma Aung San Suu Kyi menuduh para pejuang Rohingya membakar rumah dan menggunakan tentara anak-anak selama gelombang kekerasan baru-baru ini di negara Rakhine yang bermasalah, tuduhan ditolak oleh militan itu sendiri (STR / AFP / Getty Images)

    Jakarta, mathlaulanwar.or.id- Panglima Pandu Cahaya Islam Mathla’ul Anwar, H. Ade Badri bersikap atas konflik Rohingnya. H. Ade Badri meminta kepada Pemerintah Indonesia agar tegas terhadap Myanmar agar kejahatan kemanusiaan yang menimpa kaum muslim Rohingya untuk segera diakhiri. Hal ini ia nyatakan di Jakarta pada 29/8/2017

    Ia meminta pemerinya Indonesia untuk mengambil sikap dan tegas atas kejahatan Genosida di Rohingya, Myanmar. Serta mencabut Nobel Perdamaian yang diterima oleh Aung San Suu Kyi.

    “Kami minta juga PBB agar segera mengawal Pemerintah Myanmar terhadap kejahatan kemanusiaan di Myanmar. Dan mencabut Nobel Perdamaian yang diterima Aung San Suu Kyi,” ujarnya

    Masih menurut Ade Badr, ia menyuarakan agar Pemerintah Indonesia berperan aktif dalam menyelesaikan kejahatan manusia di Myanmar dan Meminta Pengadilan Internasional mengusut atas kejahatan Genosida yang dilakukan tentara dan Pemerintah Myanmar terhadap masyarakat muslim Rohingya

    Baca juga :  ACT Distribusikan Puluhan Ribu Liter Air di Wilayah Kekeringan Tasikmalaya

    “Saya membaca di media masa bahwa pernyataan pihak Kedubes Myanmar menyebutkan bahwa penduduk Rohingya itu teroris adalah ucapan tidak masuk akal.

    “Tidak mungkin seorang anak yang berusia puluhan atau belasan tahun adalah teroris. Ini adalah pembantaian luar biasa. Ini adalah kejahatan kemanusiaan yang seharusnya tidak dilakukan oleh sebuah negara pada rakyatnya, walaupun dia minoritas. Saya sangat kecewa, bahwa mereka (Rohingya) dianggap teroris. Tidak mungkin anak-anak itu teroris,” tegasnya.

    Konflik Rohingnya

    menurut sumber vivanews. Bentrokan antara warga Muslim etnis Rohingya di Rakhine dengan pihak keamanan Myanmar kembali pecah.  Menurut versi pemerintah Myanmar, kerusuhan diawali oleh terjadinya serangan yang dilakukan oleh Harakah al-Yaqin alias Tentara Penyelamat Rohingya Arakan.

    Serangan terjadi pada Kamis malam, 24 Agustus 2017. Kelompok Harakah al-Yaqin yang mengaku bertanggung jawab atas aksi  itu diberitakan menyerang 30 pos polisi dan pangkalan militer di Maungdaw. Dilaporkan The Guardian, hingga Minggu malam kemarin, 98 orang tewas akibat bentrokan bersenjata itu. Korban dari kubu pemberontak mencapai 80 orang, sedangkan dari pihak keamanan 12 orang.

    Baca juga :  Banyak Calhaj Tersesat dalam Sepekan

    Gerilyawan Rohingya dikabarkan melakukan serangan menggunakan tongkat dan pedang. Mereka juga menggunakan bom atau ranjau darat untuk menghancurkan jembatan. “Serangan terjadi pada pukul 1 pagi, gerilyawan Bengali melancarkan serangan ke pos polisi. Mereka membawa bom dan senjata rakitan,” kata seorang  tentara pemerintah seperti dikutip dari Reuters, 25 Agustus 2017.

    Dilaporkan The Guardian , hingga Sabtu bentrokan sengit terus berlanjut di pinggiran kota utama di Maungdaw. Penjaga perbatasan Bangladesh memberikan kesaksian, ribuan orang termasuk perempuan dan anak-anak berusaha menyeberangi sungai Naf yang memisahkan Myanmar dan Bangladesh. Mereka juga mencoba melintas melalui perbatasan darat dua negara untuk menyelamatkan diri.   Sementara pemerintah Myanmar mengatakan telah mengevakuasi lebih dari 4.000 non-Muslim, termasuk seluruh staf pemerintahan.

    Baca juga :  10 Parpol Terancam Tak Masuk Senayan

    Serangan ini kembali menghangatkan konflik yang sempat memuncak pada Oktober tahun lalu. Konflik pada Oktober 2016 itu bahkan memicu operasi militer besar-besaran dan membuat perhatian dunia berpaling ke Rohingya.  Militer Myanmar dikabarkan melakukan pelanggaran hak asasi dan melakukan kekerasan pada warga Rohingya atas nama etnis dan agama. Belasan ribu warga Rohingya mengungsi. Sebagian besar melarikan diri ke Bangladesh, bahkan ke Indonesia. (doc)

     1,324 total views,  2 views today

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial