Muslimah Mathla’ul Anwar, Dari “Jimpitan” Hingga “Kebon Remeh” (Suri Tauladan Yang Dilupakan)

  • 18 October, 2017  19:29:33 

  • Foto : Ibu-ibu Muslimah Mathla’ul Anwar (Barisan Kanan) berfoto bersama tokoh, kiyai, dan komando PCI dalam acara kuliah taman. (Doc : Kahfi)

     

    Oleh : Syahrudin Al-Fathir

    Tidak bisa dipungkiri, Mathla’ul Anwar (MA) menjadi besar seperti sekarang ini karena ada partisipasi atau peran serta kaum perempuan. Di tengah-tengah kesibukannya mengurus rumah tangga, mereka turun ke medan juang, berjibaku bahu-membahu bersama kaum lelaki membangun MA. Tepat seperti apa yang digambarkan oleh Bung Karno,”laki-laki dan perempuan seperti dua sayap burung.Apabila patah salah satu sayapnya,burung tdk bisa terbang!”. Bahkan Bung Karno menulis buku berjudul “Sarinah Indonesia” yang menggambarkan betapa pentingnya dan betapa besarnya  “peran” perempuan-perempuan Indonesia dalam mengisi kemerdekaan.

    Nyi Hj. Jenab binti Yasin, Nyi Kulsum dan Nyi Aisyah adalah tokoh muslimah MA, Perintis Madrasah Putri MA. Pada tahun 1929, nama mereka ditulis oleh “tinta emas” sejarah. Terpatri direlung hati kita. Untuk menyokong,membangun dan memelihara madrasah, ibu-ibu tersebut adakan berbagai usaha. Salah satunya adalah “jimpitan” (iuran beras remeh). Caranya adalah setiap kali hendak menanak nasi, terlebih dahulu diambil satu sendok makan dari beras yang akan dimasak tersebut, ditampung dalam tempat tersendiri. Kemudian beras dihimpun oleh “petugas khusus” dengan imbalan sepuluh persen dari hasil pungutannya. Selanjutnya, oleh petugas tadi beras disetorkan kepada kader yang ikut pengajian setiap Kamis. Hingga akhirnya, oleh kader tersebut, beras diserahkan lagi kepada koordinator pusat MA.

    Baca juga :  “Mengukur Komitmen Anti Korupsi Gubernur dan Wakil Gubernur Banten"

    Hasil usaha ibu-ibu tersebut luar biasa, kendati kelihatannya kecil, tapi hasilnya riil. Kendati kelihatannya murah, tapi hasilnya “meriah” nan barokah. Diantara sekian tanda buktinya adalah  ada beberapa bidang tanah milik MA yang dibeli dari hasil jimpitan ini. Salah satunya adalah tempat yang dikenal dengan nama “Kebon Remeh”. Letaknya di desa Menes Kecamatan Menes, Pandeglang.

    Hemat saya,”jimpitan” ini seyogyanya dihidupkan lagi oleh Pengurus MA,k arena banyak sekali manfaatnya.  Pertama, melanjutkan perjuangan para pendahulu tersebut. Teladan yang baik ini jangan hanya tinggal cerita, dimana seiring waktu ditinggalkan atau dilupakan. “Kalau baik buat teladan, kalau tak baik buat sempadan”,kata pepatah. Yang artinya,”Yang baik-baik diambil, dan yang buruk dibuang jauh-jauh”.

    Baca juga :  Kisruh taksi dan ojek aplikasi : "wake-up call"

    Saat ini warga MA berjuta-juta keluarga jumlahnya, tersebar di seluruh Indonesia. Bahkan ada juga warga MA di luar negeri. Bisa kita bayangkan jika “Berjuta” sendok jimpitan akan terkumpul setiap hari, berapa ratus ton beras akan terkumpul dalam kurun waktu sepuluh atau dua puluh tahun kedepan? Dan berapa juta ton beras akan terkumpul seratus tahun kedepan? Jangankan Kebon Remeh,Banten bisa kita beli!

    Kedua, perasaan memiliki (sense of belonging) warga MA. Perasaan cinta terhadap MA, akan lebih tumbuh dan semakin kuat. Betapa tidak? Sebab setiap hendak tanak nasi, anggota keluarganya saling ingatkan “kewajiban” ambil satu sendok makan dari beras yang akan dimasak dihimpun ditempat jimpitan yang sudah disediakan. “Rasa” wajib  berkhidmat kepada agama, bangsa dan negara inilah yang memotivasi “founding father” MA ikhlas berkorban “memberi makan” organisasi supaya tetap hidup dan berkembang. “Jangan berkata apa yg diberikan MA kepadaku Tapi katakanlah apa yang bisa aku berikan kepada MA?”, begitu kurang lebih motto juang mereka. “Orang yang ikhlas cintanya kepada tanah air dan bangsanya harus mau berkorban. Cinta yang tidak dibuktikan dengan pengorbanan harus dipertanyakan!”, kata Buya Hamka.

    Baca juga :  RAMADHAN DAN KESENIAN BEDUG

    Ketiga, jimpitan sebagai investasi akherat karena merupakan amal jariah yang pahalanya akan terus mengalir kepada pelakunya. Harta yang dimakan jadi kotoran, harta yang disimpan jadi rebutan, harta yang diinfakkan akan jadi penolong. Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (al-Quran) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rizki yang Kami anugrahkan kepadanya dengan diam-diam  dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menbahkan karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri”, (Qs.Fatir:29-30).

    Ayo..Jimpitan.! Jimpitaan!! Jimpitaann..!!!

    Sumber tulisan : Dirosah Islamiah I, Pribadi Hebat (HAMKA), Mushaf al-Bantani.

    1,374 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial