Presiden Didesak Copot Kapolri

  • 01 February, 2018  11:52:50 

  • Presiden Didesak Copot Kapolri

    Pengamat politik Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) Banten, Dr Ali Nurdin, mendesak Presiden Joko Widodo untuk segera mencopot Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Pasalnya, Tito telah mengeluarkan penyataan yang sangat berbahaya dan melukai umat Islam.

    “Kami mendesak Presiden RI Joko Widodo untuk segera mencopot Kapolri Tito Karnavian dan menggantinya dengan Kapolri baru yang memahami peran kesejarahan umat Islam serta mampu membawa keteduhan suasana kehidupan bermasyarakat,” kata Ali di Jakarta, kemarin.

    Menurut Ali, pernyataan Tito bahwa hanya NU dan Muhammadiyah yang memiliki peran dalam mendirikan Negara, sangat berbahaya dan berpotensi merusak tatanan kehidupan bermasyarakat. Karena nyata-nyata, lanjutnya, Kapolri telah menafikkan peran Ormas Islam lain di luar dua ormas dimaksud dalam perjuangan mempertahankan Republik ini.

    Ali menambahkan, bahwa pernyataan Tito di salah satu media televisi yang sekarang telah meluas di media sosial tersebut, telah mendiskreditkan umat/jamaah di luar NU dan Muhammadiyah. Memang, lanjut Ali, tak bisa dibantah, bahwa kedua ormas Islam terbesar itu memiliki jasa besar ke Republik. Namun, menafikkan dan menganggap jamaah umat yang lain semisal Mathla’ul Anwar, Al-Khairaat, Nahdlatul Wathan, Persis, PUI, Al Washliyah, PERTI, dan ratusan ormas Islam lain tidak memiliki peran, tidak berjasa dan resisten di masyarakat, merupakan statemen yang berbahaya dan bisa mengancam keutuhan NKRI.

    “Sebagai alat Negara, Polri jangan bikin gaduh. Seharusnya menciptakan suasana teduh,” imbuhnya.

    Untuk itulah, selain mendesak pencopotan Tito, Ali juga mendesak Presiden Jokowi untuk lebih cermat dalam mengangkat pejabat publik. Presiden, imbuh Ali, juga harus menghindari pengangkatan figur-figur pejabat yang potensial memecah belah umat.

    Tak kalah penting, Ali juga menuntut Kapolri untuk bisa menjelaskan maksud pernyataanya tersebut. “Kapolri juga harus segera meminta maaf kepada umat Islam, yang merasa terluka karena perannya dalam sejarah perjuangan memerdekakan Republik ini ditiadakan atau dianggap tidak ada oleh Kapolri,” tegas Ali.

    Penyataan Tito yang saat ini menjadi viral di media sosial tersebut, memang sangat kontroversial. Dalam kesempatan tersebut, Tito menginstruksikan kepada jajarannya di seluruh daerah, mulai Kapolda hingga Kapolsek, untuk memperkuat hubungan kerja sama dengan NU dan Muhammadiyah. “Para Kapolsek wajib untuk di tingkat kecamatan bersinergi dengan NU dan Muhammadiyah, jangan dengan yang lain. Dengan yang lain, itu nomor sekian. Mereka bukan pendiri negara, mau merontokkan negara malah iya,” kata Kapolri ketika itu. (*)

    3,017 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial