Hikmah Puasa Ramadhan

  • 20 May, 2018  23:07:16 

  • Segala puji bagi Allah, Rabb alam semesta. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

    Berikut adalah beberapa hikmah di balik puasa Ramadhan yang kami sarikan dari beberapa kalam ulama. Semoga bermanfaat.

    1. Menggapai Derajat Takwa

    Allah  Ta’ala  berfirman,

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas orang-orang yang berpuasa diwajibkan orang-orang atas sebelum kamu -… ” (QS. Al Baqarah: 183). Ayat ini menunjukkan bahwa di antara hikmah puasa adalah agar seorang hamba dapat menggapai derajat takwa dan puasa adalah sebab-guna yang mulia ini. Hal ini dikarenakan dalam puasa, seseorang akan melakukan perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Inilah pengertian takwa. Bentuk takwa dalam puasa dapat kita lihat dalam berbagai hal berikut.

    Pertama, orang yang berpuasa akan melimpahkan semua yang Allah larang kompilasi yaitu ia melepaskan makan, minum, berjima ‘dengan istri dan mengungkapkan yang benar-benar sangat condong dan ingin melakukannya. Ini semua dilakukan dalam rangka taqorrub atau mendekatkan pada Allah dan meraih pahala dari-Nya. Inilah bentuk takwa.

    Kedua, orang yang berpuasa nyata mampu melakukan penelitian duniawi yang ada. Namun dia mengetahui bahwa Allah selalu Menyebabkan diri-Nya. Ini juga shalat bentuk takwa yaitu hal yang selalu diawasi oleh Allah.

    Ketiga, kompilasi berpuasa, setiap orang akan semangat melakukan amalan-amalan ketaatan. Dan ketaatan merupakan jalan untuk menggapai takwa. [1]  Inilah sebagian di antara bentuk takwa dalam amalan puasa.

    2. Hikmah di Balik Meninggalkan Syahwat dan Kesenangan Dunia

    Di dalam berpuasa, setiap muslim diperintahkan untuk memisahkan berbagai syahwat, makanan dan minuman. Itu semua dilakukan karena Allah. Dalam hadits qudsi [2] , Allah  Ta’ala  berfirman,

    يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى

    Dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku “. [3]

    Di antara  hikmah  lepas syahwat dan membebaskan dunia kompilasi berpuasa adalah:

    Pertama, dapat mengendalikan jiwa. Rasa kenyang karena banyak makan dan minum, kepuasan saat berhubungan dengan istri, itu semua akan membuat seseorang lupa diri, kufur demi nikmat, dan menjadi lalai. Demikian dengan berpuasa, jiwa pun akan lebih dikendalikan.

    Kedua, hati akan menjadi sibuk untuk hal-hal baik dan sibuk mengingat Allah. Orang-orang juga tersibukkan dengan mengisi duniawi dan terbuai dengan makanan yang dia lahap, hati pun akan menjadi lalai dari memerhatikan hal-hal yang baik dan lalai dari Mengingat Allah. Oleh karena itu, hati tidak terpaku dengan mengisi duniawi, juga tidak disibukkan dengan makan dan minum kompilasi berpuasa, hati pun akan bercahaya, akan semakin lembut, hati pun tidak mengeras dan akan semakin mudah untuk tafakkur (merenung) dan berdzikir pada Allah.

    Ketiga, dengan berlindung dari berbagai dunia duniawi, orang yang berkecukupan akan semakin tahu bahwa dia telah memberi nikmat begitu banyak orang-orang fakir, miskin dan yatim piatu yang sering merasakan lapar. Dalam rangka mensyukuri nikmat ini, orang-orang kaya pun gemar berbagi dengan mereka yang tidak mampu.

    Keempat, dengan berpuasa akan mempersempit jalannya darah. Sedangkan setan berada di jalan darahnya manusia. Disebut sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

    Sesungguhnya setan merangkul diri sendiri pada tempat mengalirnya darah .” [4]  Jadi puasa dapat meresapkan setan yang memberikannya adalah-was. Puasa pun dapat menggantikan syahwat dan rasa marah. Oleh karena itu, Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam  menjadikan puasa sebagai salah satu obat mujarab bagi orang yang memiliki keinginan untuk menikah namun belum kesampaian. [5]

    3. Mulai Beranjak Menjadi Lebih Baik

    Di bulan Ramadhan tentu saja setiap muslim harus menjauhi berbagai macam maksiat agar puasanya tidak sia-sia, juga agar tidak mendapatkan lapar dan dahaga saja. Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

    رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

    Betapa banyak orang yang berpuasa tapi dia tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali rasa lapar dan dahaga saja .” [6]

    Puasa menjadi sia-sia seperti ini saat bulan Ramadhan masih bisa diisi dengan berbagai maksiat.  Orang-orang yang bekerja demi orang-orang lisan dari  rasani orang lain (baca: ghibah), dari berbagai perkaataan maksiat, dari perkataan debu, perbuatan maksiat dan hal-hal yang sia-sia.

    Dari Abu Hurairah, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

    مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

    Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan debu bahkan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan .” [7]

    Dari Abu Hurairah, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

    ليس الصيام من الأكل والشرب, إنما الصيام من اللغو والرفث, فإن سابك أحد أو جهل عليك فلتقل: إني صائم, إني صائم

    Puasa pembelajaran hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofat. Jika ada seseorang yang mencelamu atau melakukannya, katakanlah, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa” . ” [8]  Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah. [9]  Sedangkan rofats adalah istilah untuk setiap hal yang memungkinkan laki-laki pada wanita [10]  atau dapat pula kata kata kuat kotor. [11]

    Oleh karena itu, membuat bulan keluar Ramadhan setiap hari menjadi lebih baik dengan bulan sebelumnya karena dia sudah ditempa di madrasah Ramadhan untuk berangkat berbagai macam maksiat. Orang yang dulu malas-malasan shalat 5 waktu menjadi sadar dan rutin mengerjakannya di luar bulan Ramadhan. Juga dalam masalah shalat Jama’ah bagi kaum pria, inginlah pula dapat dirutinkan dilakukan di masjid, rajin dilakukan membuat bulan Ramadhan. Demikian pula dalam bulan Ramadhan banyak wanita muslimah yang mencoba menggunakan jilbab yang bersembunyi dengan sempurna, maka di luar bulan Ramadhan mengupas ini tetap dijaga.

    Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

    وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

    “(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) meski sedikit .” [12]

    Ibadah dan amalan ketaatan pasang ibarat bunga yang mekar pada waktu tertentu saja. Jadi, ibadah shalat 5 waktu, shalat jama’ah, shalat malam, gemar bersedekah dan berbusana muslimah, uang jadi ibadah. Namun sudah mengeluarkan di luar bulan Ramadhan juga tetap dijaga. Para ulama katakan mengatakan, “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah (rajin ibadah, -pen) hanya pada bulan Ramadhan saja.”

    Ingatlah pula pesan dari Ka’ab, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan lantas terbetik dalam hati setelah lepas dari Ramadhan akan perbuatan maksiat pada Rabbnya, maka sungguh puasanya yang tertolak (tidak membayar apa-apa).” [13]

    4. Kesempatan untuk Saling Berkasih Sayang dengan Si Miskin dan Merasakan Penderitaan Mereka

    Puasa akan menyebabkan seseorang lebih menyayangi si miskin. Karena orang yang berpuasa pasti merasakan lapar dalam sebagian waktunya. Keadaan ini pun praktis rasakan begitu lama. Akhirnya ia pun bersikap lemah lembut terhadap sesama dan berbuat baik kepada mereka. Dengan sebab inilah ia mendapatkan jawaban melimpah dari sisi Allah.

    Demikian pula dengan puasa seseorang akan merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang miskin, fakir, yang penuh kekurangan. Orang yang berpuasa akan merasakan lapar dan dahaga sebarang yang dirasakan oleh mereka-mereka tadi. Inilah yang menyebabkan derajatnya meningkat di sisi Allah. [14]

    Inilah beberapa hikmah syar’i yang luar biasa di balik puasa Ramadhan. Oleh karena itu, para salaf eksekutif merindukan bertemu dengan bulan Ramadhan agar hasil hikmah-hikmah yang ada di dalamnya. Sebagian ulama mengatakan, “ Para salaf biasa berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Dan 6 bulan setelah mereka agar agar amalan-amalan mereka diterima ”. [15]

    Hikmah Puasa yang Keliru

    Adapun hikmah puasa yang biasa sering dibicarakan sebagian kalangan bahwa puasa dapat menyehatkan badan (seperti dapat menurunkan berat badan, mengurangi risiko stroke, menurunkan tekanan darah, dan mengurangi diabetes [16] ), maka itu semua adalah hikmah ikutan saja [17]  dan bukan hikmah utama. Anda inginlah seseorang meniatkan puasanya untuk mendapatkan hikmah syar’i terlebih dahulu dan janganlah dia berpuasa hanya untuk mengungkap nikmat sehat semata. Karena jika niat puasanya hanya untuk mencapai kenikmatan dan kemaslahatan duniawi, maka pahala melimpah di sisi Allah akan membantu dia akan mendapatkan nikmat dunia atau nikmat sehat yang dia cari.

    Allah  Ta’ala  berfirman,

    من كان يريد حرث الآخرة نزد له في حرثه ومن كان يريد حرث الدنيا نؤته منها وما له في الآخرة من نصيب

    Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat. Kami akan menambahkan lebih banyak dan lebih menguntungkan dari dunia dan tidak ada lagi yang ada di akhirat .” (QS. Asy Syuraa: 20)

    Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Orang yang gemar berlaku riya’ akan memberikan balasan kepada mereka di dunia. Mereka sama sekali tidak akan dizholimi. Namun ingatlah, barangsiapa yang melakukan amalan puasa, amalan shalat atau amalan shalat malam namun hanya ingin dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan dunia yang dia cari-cari. Akan tetapi, amalannya akan lenyap diakhirat nanti karena mereka hanya ingin mencari keuntungan dunia. Diakhirat, mereka juga akan mencakup orang-orang yang merugi ”.” [18]

    Memang yang benar, puasa harus dilakukan dengan niat ikhlas untuk mengharap wajah Allah. Sedangkan nikmat kesehatan, itu hanyalah hikmah yang ikutan dari melakukan puasa, dan bukan tujuan utama yang dicari-cari. Jika seseorang bernya ikhlas dalam puasanya, niscaya nikmat dunia akan datang dengan sendirinya tanpa dia cari-cari. Ingatlah selalu nasehat Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam ,

    من كانت الآخرة همه جعل الله غناه فى قلبه وجمع له شمله وأتته الدنيا وهى راغمة ومن كانت الدنيا همه جعل الله فقره بين عينيه وفرق عليه شمله ولم يأته من الدنيا إلا ما قدر له

    Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam leher, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan setia hina resistor. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia yang telah ditentukan untuk itu . ” [19]

    Adapun hadits yang mengatakan,

    صُوْمُوْا تَصِحُّوْا

    Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat .” Perlu diketahui bahwa hadits semacam ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if) menurut hadits ahli ulama. [20]

    Semoga kita bisa menarik hikmah kekayaan di balik puasa kita di bulan penuh kebaikan, bulan Ramadhan.

    Penulis:  Muhammad Abduh Tuasikal

    Artikel  www.muslim.or.id


    [1]  Taisir Karimir Rahman, hal. 86.

    [2]  Hadits qudsi adalah hadits yang maknanya dari Allah  Ta’ala , lafazhnya dari Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam .

    [3]  SDM. Muslim no. 1151

    [4]  SDM. Bukhari no. 7171 dan Muslim no. 2174

    [5]  Disarikan dari Latho’if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 276-277.

    [6]  SDM. Ahmad 2/373. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid.

    [7]  SDM. Bukhari no. 1903.

    [8]  SDM. Ibnu Khuzaimah 3/242. Al A’zhomi mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih.

    [9]  Perkataan Al Akhfasy, dinukil dari Fathul Bari, 2/414.

    [10]  Perkataan Al Azhari, dinukil dari Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/114, 9/119.

    [11]  Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 9/119.

    [12]  SDM. Muslim no. 782.

    [13]  Lathoif Al Ma’arif, 378.

    [14]  Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/9906

    [15]  Lathoif Al Ma’arif, 369

    [16]  Lihat  http://swaramuslim.net

    [17]  Lihat Tafsir Al Qur’an Al Karim Surat Al Baqoroh, 1/317.

    [18]  Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7/422.

    [19]  SDM. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat penjelasan hadits ini dalam Tuhfatul Ahwadzi, 7 / 139-140.

    [20]  Al Hafzih Al ‘Iroqiy dalam Takhrij Al Ihya’ (5/453) mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Awsath, Abu Nu’aim dalam Ath Thib An Nabawiy dari hadits Abu Hurairah dengan sanad yang lemah (dho ‘ jika). Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al Hadits Adh Dho’ifah no. 253 kata yang hadits ini dho’if (lemah).

    76 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Baca juga :  Khutbah Wukuf 1438 H dari Arafah

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial