Tuesday , 11 December 2018

Maroko di Kala Ramadhan

  • 31 May, 2018  23:25:52 

  • Salah satu seni budaya maroko

    Mathlaulanwar,-Maroko biasa dikenal dengan sebutan Magrib (Negeri Matahari terbenam). Negeri ini pernah dijajah oleh Perancis dan Spanyol. Agama Islam di negeri ini menjadi agama resmi bagi masyarakatnya, walaupun sebenarnya masih tampak beberapa bangunan Gereja yang berdiri megah di beberapa kota terbesar, seperti Tangier, Cassablanca, dan Rabat.

    Mayoritas umat Islam di negeri ini menganut Madzab Maliki baik dalam berfiqih maupun ber-ushul. Bahkan Amirul mukminin (julukan Raja Maroko) memfatwakan untuk mengikuti satu mazhab, yaitu Mazhab Maliki. Walaupun demikian, masih ada juga sebagian masyarakat Maroko yang mengikuti Mazhab Hambali seperti kebanyakan masyarakat kota Tangier (kota sebelah utara Maroko).

    Begitu juga dalam itsbat (penetapan) awal dan akhir Ramadan, masyarakat muslim Maroko selalu menunggu keputusan Raja. Jadi, tidak ada istilah perbedaan penetapan Ramadan seperti layaknya umat Islam di Indonesia. Biasanya, Maroko selalu tidak pernah bersamaan dengan Saudi Arabia dalam penetapan awal dan akhir Ramadan.

    Seperti ungkapan lain ladang lain ilalang, suasana Ramadan di Maroko sangat berbeda dengan tanah air, meski mayoritas penduduknya sama-sama beragama Islam. Selain waktu puasanya yang lebih panjang (kurang lebih 17 jam) lantaran Ramadan kerap bertepatan dengan musim panas, menu sahur dan berbuka pun sangat jauh berbeda,

    Di Maroko masyarakat terbiasa melakukan empat kali untuk jamuan santap malam yang dilakukan usai berbuka puasa dan sebelum sahur. Tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat kelas menengah ke atas, tapi juga hampir berlaku bagi semua lapisan masyarakat Maroko dengan menu yang tidak jauh berbeda.

    Baca juga :  Cahaya Keikhlasan dari Bumi Lancang Kuning

    Di Maroko hanya sebagian kecil saja masjid yang menyediakan futur (makanan untuk berbuka puasa) kepada para jamaahnya. Tidak seperti marak terdapat di masjid-masjid negara bagian Teluk seperti Qatar, Kuwait, Saudi dan negara-negara penghasil minyak lainnya itu.

    Sebagai pendahuluan, di rumah masing-masing, ketika azan Magrib berkumadang, umat Islam di Maroko segera menelan beberapa butir kurma dan menengguk air putih secukupnya, hanya sekedar untuk membatalkan puasa. Kemudian mereka pun bergegas ke Masjid untuk menjalankan ibadah salat magrib secara berjamaah.

    Bahkan banyak pula yang beberapa menit menjelang azan Magrib mereka sudah berada di Masjid untuk menunggu Magrib tiba serta tidak lupa membawa bekal beberapa butir kurma dan sebotol air putih.

    Selepas salat Magrib itu, mereka segera kembali ke rumah untuk menikmati hidangan khas Maroko. Dalam tahap kedua ini, menu wajib terdiri dari:

    Subaikiyah (manisan khas Maroko yang terbuat dari tepung dengan campuran gula dan madu) atau juga manisan sejenis yang menurut lidah orang Indonesia sangat kuat manisnya.

    Roti tawar kering yang merupakan makanan pokok masyarakat Maroko pun turut dihidangkan dalam tahap kedua ini, berikut mentega, madu atau sejenisnya sebagai pasangannya.

    Milwi, makanan khas Maroko yang terbuat dari terigu bentuknya agak sedikit mirip dengan martabak (di Indonesia). Dilengkapi pula dengan beberapa butir telur rebus sesuai porsi masing-masing.

    Khariroh (sup khas Maroko) yang terbuat dari kacang khumus, bawang, tomat, telur, dan aneka rempah-rempah, kadang juga dicampur sedikit daging dan jeroan.

    Bisa dipastikan, tidak ada orang Maroko dalam berbuka puasa yang melewatkan sup bernama khariroh ini. Bahkan saking dibanggakannya khariroh ini oleh orang-orang Maroko, sehingga dianggap sebagai menu istimewa dan khas di hotel-hotel dan restoran mewah sekali pun. Termasuk banyak dijual di warung-warung khariroh dalam kemasan cepat saji.

    Baca juga :  Jumlah santri baru di Pondok Pesantren Mathla'ul Anwar Pontianak melonjak drastis

    Tak ketinggalan teh yang dicampur daun na’na dan khalib (susu), juga jus buah dan kadang kopi susu (sesuai selera).

    Menu tersebut, bagi porsi perut orang Indonesia, adalah sudah melebihi kapasitas.

    Tarawih di Maroko dijadikan dua putaran, 8 rakaat sehabis jamaah salat Isya, dan tarawih putaran kedua satu jam, menjelang adzan Subuh. Tarawih putaran pertama selesai pada pukul 22.30 waktu setempat. Satu jam selepas tarawih putaran pertama itu, yaitu antara pukul 23.30 -24.30 waktu setempat, mereka kembali ke meja makan yang umumnya bersama keluarga masing-masing di rumah, sesuai dengan tradisi masyarakat Maroko yang gemar makan bersama keluarga.

    Orang Maroko pun tak kenal istilah ‘Bukber’ (Buka puasa bersama),  baik itu di kantor-kantor atau di instansi tertentu dengan rekan kerja seperti marak di Indonesia itu. Otomatis banyak restoran yang omsetnya menurun di bulan Ramadan ini.

    Di tahap ketiga ini, mereka menamainya dengan ‘makan malam’, tentu saja dengan menu yang berat-berat sebagaimana layaknya hidangan makan malam atau makan siang di luar bulan Ramadan.

    Apalagi di bulan Ramadan ini, tak jauh beda dengan di Indonesia , orang-orang mengutamakan menu makanan istimewa. Sehingga di Maroko pun harga sembako naik saat-saat bulan Ramadan.

    Makan Sahur, bagi orang Maroko dianggap kurang begitu penting. Kita pun bisa membayangkan, mulai selepas salat Magrib, aneka makanan dilahap mereka. Tentu saja membuat perut masih kenyang.

    Baca juga :  Empat Tokoh Dapat Gelar Pahlawan Nasional

    Bagi orang Maroko, sahur itu umumnya mereka lakukan pada pukul 3.00 waktu setempat, sebelum mereka bergegas ke masjid untuk melaksanakan salat tarawih putaran kedua sebagaimana dikatakan di atas tadi. Sahur bagi mereka sekadar untuk melaksanakan ibadah. Cukup dengan meminum beberapa gelas susu, air putih, dan makanan ringan dari kue-kue kering khas Ramadan di Maroko. Bahkan banyak sekali orang Maroko yang sering melewatkan makan sahur begitu saja karena masih kekenyangan.

    Fenomena malam Lailatul Qadar tentunya tak kalah heboh bagi Masyarakat Maroko. Di sana kegembiraan menyambut malam seribu bulan bak menyambut tamu agung. Kaum adam dan hawa mengenakan jalabah (busana muslim tradisional Maroko, sejenis jubah atau gamis dengan penutup kepala).

    Tingkat modifikasi jalabah berbanding lurus dengan harga yang bisa  mencapai ratusan dollar Amerika. Jalabah biasanya dikenakan pada tanggal-tanggal ganjil akhir bulan (25, 27, dan 29 Ramadan) untuk bepergian dari masjid ke masjid. Momen ini dimanfaatkan banyak fotografer untuk mencari rezeki. Tak sedikit pengguna jalabah ingin diabadikan dengan kilatan kamera.

    Ketika Ramadan sampai pada malam ke-27, orang Maroko biasanya mengadakan ritual khusus, yaitu berjaga malam di masjid-masjid dengan melakukan salat sunnah hingga fajar untuk mengejar lailatul qadar. Bahkan, kadang mereka membawa bekal makan sahurnya ke masjid itu.

    Sumber Beritasatu yang dikutip dari laman nuonline

    220 total views, 4 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial