Mudik dan Rentenir Penjebak Warga Desa

  • 25 June, 2018  17:57:09 

  • Tantan Hermansah

    Oleh: Tantan Hermansah *

    Mudik tahun ini ke dua desa pada dua provinsi (Banten dan Jabar) saya mendapatkan kenyataan yang sama-sama miris bahkan mengerikan: Jebakan Rentenir berkedok pinjaman usaha.

    Rentenir adalah penyedia jasa keuangan kepada masyarakat. Sebenarnya secara kelembagaan mirip-mirip dengan bank. Maka ada juga yang menyebutnya “bank keliling”. Kehadiran rentenir dalam sistem dan struktur sosial family finance bisa dibilang seperti pelacur. Tidak diakui secara formal, tapi ada dan bekerja. Mereka bekerja dengan senyap dan terang-terangan. Mereka juga punya metodelogi dalam mencari dan mengelola nasabahnya.

    Hadirnya rentenir tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Sistem perbankan kita memang tidak seberani rentenir itu, karena high risk (resiko tinggi) secara hokum, sosial, bahkan ekonomi sendiri.

    Kembali ke mudik tadi. Di dua desa tempat destinasi mudik itu hasil dari rentenir itu sama. Menjerat warga dari satu kubangan ke kubangan lain. Beberapa tetangga saya yang miskin itu, yang saya tahu bagaimana mereka pengen punya rumah dengan luas hanya 30-an meter dan berbahan kayu dan bambu itu, akhirnya dijual karena tidak bisa menutup utang.

    Berapa utangnya? Awalnya tidak banyak. 1jt. Jika performancenya bagus, pinjaman mereka ditingkatkan… dan begitu seterusnya. Lama-lama, pinjaman itu mereka simpan hanya untuk mencicil pinjaman mingguannya. Sebab sistem tanggung renteng di kelompoknya membuat mereka begitu terikat dan “terbaiat”.

    Lama-lama utang mereka makin besar, karena dana yang dipinjam tidak diputar dan produktif. Bayangkan, ada satu keluarga yang harus mencicil perminggu sebesar 150ribu. Di kampung, uang segitu sangat besar. Maka wajar jika akhirnya mereka seperti yang diceritakan oleh Muhammad Yunus dalam Bank Kaum Miskin (Marjinkiri: 2007), terjebak seumur hidup hanya bekerja untuk membayar utang yang tidak pernah lunas.

    Tentu saja tidak ada yang baru dalam kata kunci yang saya tulis ini. “Rentenir”, “warga desa”, “jebakan pinjaman”, atau “Kemiskinan” dan “kemiskinan berbagi” merupakan isu lama bagi warga desa. Termasuk pada dua entitas warga desa yang yang temukan ketika mudik tersebut.

    Justru karena tidak ada yang baru, bagaimana kita mengurangi fakta mengerikan ini? Apakah tidak ada metode dan cara yang keampuhannya… yaa… 70 persen lah. [Jika pembaca memiliki ide dan pikiran atau temuan, silahkan tuliskan di kolom komentar]

    Mari kita kembali kepada cerita mudik dan rentenir itu.
    Berbekal kata kunci yang didapatkan di lapangan, saya mencoba mencari di internet. Eureuka! Dapat!. Ternyata mereka terorganisasi dengan rapi. Ada visi misi yang indah. Bahkan mereka juga menjelaskan metodelogi. Keren bukan. Mereka terorganisasi dan memiliki cabang di daerah lain di Indonesia.

    Nama mereka macam-macam. Ada koperasi, BMT (beneran… berbasis syariah), atau istilah lain yang kadang keren juga. Hanya satu kesamaannya: mereka menawarkan pinjaman kepada pelaku yang tidak memiliki penghasilan jelas dan tidak bankable. Bunganya? Mulai dari 5% sampai 30% perbulan (untuk yang 30% perbulan, sebenarnya saya juga belum menemukan langsung).

    Baca juga :  QUO VADIS FORUM ALUMNI MATHLA’UL ANWAR

    Katakanlah rata-rata 10% perbulan. Itu sangat tinggi sekali. Tapi bukan itu poin pentingnya. Menjawab pertanyaan pada paragraph di atas, jawabannya bisa dikatakan cukup susah karena menyangkut bukan hanya persoalan struktural (bank resmi kurang mau “bermain” di situ), tetapi juga kultural dan sosial.

    Ketika didalami mengapa mereka mau mengambil pinjaman yang dari sisi persyaratan sebenarnya diperuntukkan untuk usaha. Alasannya sederhana: tidak ada tetangga atau teman, atau sodara, atau lembaga di sekitar mereka yang mau memberikan kebutuhan mendesak mereka.

    Memang, sebagian ada yang dipakai untuk memenuhi selera konsumtif mereka. Alasannya: “pengen juga atuh seperti yang lain… pergi ke kota rame-rame beli bakso si Mas x …”. Sebagian lain untuk kebutuhan nikahan. Jarang untuk pendidikan mah. Sebab bagi kalangan miskin ini, pendidikan tidak/ belum menjadi prioritas.

    Maka menjadi jelas di sini bahwa persoalan mendasar dari “membuncah”nya rentenir atau bisnis keuangan illegal di desa-desa yang menjerat penduduk miskin tidak terjadi secara sepihak. Ada peran kedua belah pihak (penyedia jasa dan peminjam) yang kemudian bertemu pada ruang kepentingan yang sama.

    Secara sosial, meluruhnya empati dan peduli dari lingkungan sekitar; dan secara kultural karena hedonisme dan konsumtivisme juga dimiliki oleh kalangan miskin meski dengan takaran yang berbeda.

    Tentu saja maraknya sistem rentenir tidak sepenuhnya merupakan kesalahan mereka. Ada banyak faktor yang membuat mereka bisa berkembang, subur, dan membesar. Salah satunya ada “celah”, atau peluang yang selama ini tidak tergarap dengan baik oleh program pemerintah.

    Maka muncul pertanyaan, apa yang membuat rentenir itu subur di satu tempat (atau katakanlah satu desa) sedang di desa lain biasa saja, atau malah tidak berkutik?
    Dari diskusi pada bagian awal tulisan ini ditayangkan, banyak pandangan, pendapat, dan juga opini yang menjelaskan hal ini. Tetapi tulisan ini kembali akan berangkat dari laporan lapangan dengan kasus yang sangat spesifik di dua desa yang menjadi destinasi mudik.

    Sambil mencoba menganalisis persoalan keterjebakan warga desa oleh rentenir ini (apapun bentuk dan namanya), saya mencoba melakukan profiling pada 3 orang warga yang saat ini akhirnya menjadi pengontrak setelah rumahnya dijual paksa untuk membayar cicilan.

    Keluarga pertama adalah merupakan buruh tani dan pekerjaan serabutan lainnya. Awal mula masuk ke jeratan rentenir ini karena anak gadisnya sudah dilamar dan mau mengadakan pesta penikahan. Keluarga kedua pun tidak berbeda dengan yang pertama ini hanya sekilas telihat lebih baik.

    Keluarga ketiga, saya kenal betul bahwa dulu dia merupakan pekerja pertanian sekaligus punya tanah yang dia garap sendiri. Rumahnya juga tembok. Berbeda dengan keluarga pertama yang rumahnya bilik bambu.

    Baca juga :  Pelajaran Sangat Berharga Dari Genosida Umat Islam Bosnia (Refleksi Terhadap Toleransi Beragama)

    Mengapa sampai akhirnya hartanya habis?
    Setelah ditelusuri dengan pendekatan akademis, apa yang ditemukan di lapangan bisa disederhanakan menjadi tiga klaster perilaku: konsumtif, ikut-ikutan, dan kebutuhan mendesak.

    Konsumtif
    Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa imajinasi ingin seperti tetangganya. Bayangkan mereka keluarga butuh tani yang mendapatkan penghasilan sehari antara tigapuluh sampai limapuluh ribu saja. Jika mereka gajian perminggu, berarti pendapatan mereka sekitar 200 ribu sampai 350 ribu rupiah.

    Maka begitu ada tawaran pinjaman pertama sebesar 1,5 juta, sangat menggiurkan. Apalagi diiming-imingi jika kinerjanya bagus maka akan ditingkatkan sampai 10 juta. Betapa menggodanya.

    Dengan uang sebesar itu, hasrat konsumtif mereka tersalurkan. Tadinya jelas tidak besar. Hanya untuk “sekedar” jajan bakso ke kota.

    Namun di mana-mana setan konsumtivisme tidak akan pernah memuaskan “ummat”nya dalam satu tegukan kenikmatan. Apalagi mereka ternyata merasakan bahwa makan-makan bakso bareng dengan teman-teman sekelompok (biasanya minimal 10 orang itu) alangkah nikmatnya.

    Ikut-ikutan
    Kelompok kedua tadinya ada yang ikut-ikutan saja. Sehingga karena keuangan rumah tangganya cukup baik, maka kinerja angsuran tahap pertama berjalan lancar sekali. Kelompok ini kemudian mendapatkan tawaran lebih besar.

    Begitu ditawarkan bisa mendapatkan pinjaman besar, mulai mereka berbinar untuk memutarnya pada usaha yang lebih besar, dengan resiko tentu lebih besar lagi.
    Ketika mereka kemudian ‘tidak berhasil’ di usaha tani yang dijadikan andalan, mulailah hantu pinjaman untuk menutup pinjaman itu dilakukan. Lama-lama terus demikian sampai akhirnya ketika ditotal “terlalu mustahil” untuk bisa dibayar melalui usaha normal mereka.

    Kebutuhan
    Kebutuhan mendesak seperti pernikahan anaknya merupakan salah satu penyebab jebakan ini menghampiri. Kata-kata “nanti bisa diangsur dari hasil amplop-cecepan para undangan” demikian menggiurkan. Tapi ternyata, namanya pesta tidak bisa diprediksi seperti dagang gorengan. Akhirnya karena tidak bisa mengangsur pinjaman, asset yang dimiliki satu-satunya itu terpaksa dilepaskan.

    Adalah Ibu X. Karena keadaan ekonomi yang ngepas, dia biasa berhutang ke sana kemari. Namun namanya utang ke tetangga dan saudara, selain terbatas jumlahnya, juga terbatas interval waktunya. Tetangga atau sodara memiliki keterbatasan, di mana tidak setiap waktu ia butuh ada—apalagi dengan jumlah yang kadang di atas kebiasaan.

    Itulah awal mulai Ibu x akhirnya terlibat utang yang kemudian membengkak, membesar, dan ketika akhirnya ia harus rela melepaskan asset satu-satunya yang dimiliki untuk melepaskannya dari beban tagihan.

    Celah inilah yang kemudian dibidik dengan cerdik oleh para rentenir yang masuk ke desa. Sayang karena observasi ini tidak khusus menelaah fakta dan fenomena ini. Tetapi berdasarkan hasil ‘ngobrol’ dengan warga yang juga mengamati fenomena ini, para rentenir tidak hanya menawarkan ada dana yang bisa dipakai untuk menutupi kebutuhan dasar, tetapi juga “sisa”nya untuk memenuhi hasrat kesenangan. Jalan-jalan ke mall dengan membawa uang tentu lebih pede meski tidak belanja—atau akhirnya hanya jajan bakso saja.
    ***
    Jadi dalam konteks simbiose-mutualisme itu, rentenir dan pengutang sama-sama dalam posisi yang tepat, yang akhirnya terjadi hubungan. Dalam fase pertama pinjaman, para pengutang “dilatih” untuk biasa dulu mendapatkan uang besar. Bayangkan saja, biasa hanya mendapatkan upah 200ribuan perminggu. Sekarang memegang uang 1,5 juta. Bau “harum” uang besar itu tentu merupakan pesona sendiri bagi mereka.

    Baca juga :  MERAWAT KEMURNIAN MAKNA “KEMERDEKAAN“

    Dalam kolom diskusi sebagai tanggapan atas tulisan ini, beberapa isu mencuat, seperti: negara hadir, PNPM, BSM, BumDesa, dan lain-lain yang intinya sebenarnya banyak peluang yang bisa dioptimalkan oleh kita semua untuk mengadvokasi warga desa ini.

    Akan tetapi justru di sini titik masalahnya.
    Pertama, banyak warga desa jika mendapatkan pinjaman dari dana pemerintah, anggapannya adalah hibah yang tidak perlu dikembalikan. Karena tidak perlu dikembalikan, mereka langsung menggunakannya untuk kebutuhan konsumtif.
    Kedua, banyak lembaga pemerintah pun terikat atura yang ketat dan kuat dalam menyalurkan dana hibah ini. Tidak sedikit bahkan para fasilitator bantuan ini juga ada yang “main” dengan cara memotong sebagian hak warga atau memasukkan sodaranya.

    Ketiga, fakta yang ditemukan di atas, merupakan realitas sosial budaya yang mengubahnya memerlukan waktu yang cukup panjang. Sementara di sisi lain, program pemerintah basisnya kegiatan yang—selain pendidikan formal seperti SD, SLTP, SLTA—sangat terbatas oleh waktu, anggaran, dan sebagainya.

    Lalu bagaimana? 
Saat ini, miliaran dana masuk ke desa-desa. Fase-fase awal sebagian besar alokasi untuk infrastruktur. Tentu saja, hadirnya infrastruktur ke pedesaan ini tidak kalah dilematisnya. Sebab, banyak cerita bahwa mulusnya jalan-jalan di perdesaan, alih-alih meningkatkan arus masuk dana ke desa, yang terjadi justru banyak warga menjual sawah dan ladangnya dan kemudian dibelikan sepeda motor. Lagi-lagi konsumtifisme menjadi jebakan yang kemudian potensial dimanfaatkan oleh rentenir ini.

    Di sini, tentu saja meski tidak ampuh banget, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, civil society, dan masyarakat dengan sistem yang lebih solid dan komprehensif dari sebelumnya perlu dilakukan. Bagaimana formulanya, kita harus menemukannya secara bersama-sama.

    Ada banyak kisah sukses (success story) yang tentu saja tidak mesti ditiru mentah-mentah dalam mengatasi masalah rentenir yang masuk ke pedesaan itu. Ada yang mengoptimalkan dana masjid, BUMDesa, maupun kerjasama dengan kampus melalui program KKN sistematis. Tentu saja ini memerlukan intensitas dan ketekunan. Agar kehadiran negara benar-benar dirasakan.

    *Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

     

    268 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial