Masalah Halal: Kaitan Antara Syar’i, Teknologi dan Sertifikasi

  • 05 July, 2018  15:40:51 

  • Dr. Ir. H. Anton Apriyantono *

    Staf Pengajar Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor

    Pendahuluan

    Menyimak polemik mengenai masalah label halal dan sertifikasinya baru-baru ini telah mendorong penulis untuk menyumbangkan pemikiran dalam masalah ini. Hal ini didorong oleh latar belakang penulis sebagai orang yang sehari-hari berkecimpung di bidang teknologi pangan dengan segala permasalahannya dan juga pengalaman penulis sebagai auditor LP-POM MUI Pusat. Walaupun demikian, perlu ditegaskan bahwa tulisan ini semata-mata hanya pandangan penulis yang tidak mewakili lembaga apa pun yang menaungi penulis.

    Ketika teknologi pangan belum berkembang seperti saat ini, dimana tidak ada atau tidak banyak makanan dan minuman olahan yang beredar, masalah halal dan haramnya makanan dan minuman relatif tidak serumit sekarang (bagaimana rumitnya permasalahan halal ditinjau dari segi teknologi pangan akan dikemukakan pada seri kedua tulisan ini), walaupun dari segi syar’i permasalahan selalu ada, terutama karena adanya perbedaan pendapat di antara para ulama. Meskipun demikian, perbedaan pendapat tersebut relatif tidak banyak dan relatif lebih mudah dipecahkan. Lain halnya pada keadaan sekarang, dimana teknologi telah berkembang sedemikian rupa sehingga hal-hal yang dulunya tidak ada menjadi ada dengan bantuan teknologi. Sebagai contoh, dahulu orang membuat roti cukup dengan menggunakan bahan dasar terigu, ragi dan air.

    Baca juga :  Perjalanan Haji: Antara Ibadah dan Bisnis

    Akan tetapi, sekarang tidak cukup hanya dengan bahan utama itu saja, tetapi perlu ada tambahan bahan lainnya yang disebut dengan bahan tambahan makanan seperti shortening(mentega putih), perisa atau flavor (bahan untuk menimbulkan aroma dan rasa tertentu), dan anticacking agent. Di antara bahan-bahan tambahan tersebut banyak yang bagi orang awam tidak mengetahui asal usulnya, akan tetapi bagi ahlinya telah diketahui bahwa di antara bahan tambahan makanan tersebut (ambil contoh shortening) ada yang mengandung lemak babi atau bahan yang dapat berasal dari lemak babi yang diperoleh melalui reaksi kimia dengan menggunakan bahan awal salah satu komponen yang berasal dari lemak babi. Sehingga, diperlukan usaha yang sangat keras untuk mengetahui mana yang halal (tidak mengandung unsur babi) dan mana yang tidak halal. Itu baru satu contoh permasalahan saja, bisa dibayangkan apabila masalah asal bahan dikaitkan dengan bahan-bahan dari hewan lainnya (sapi, kambing, kerbau, ayam) yang tidak disembelih dengan persyaratan syariat Islam, tentu akan lebih rumit lagi. Juga jika dikaitkan dengan cara penyembelihannya, akan menambah pula kerumitan permasalahan.

    Baca juga :  KH Mas Abdurrahman dan Beberapa Karyanya

    Datangnya era globalisasi tidak dapat dihindari lagi. Hal ini akan membawa konsekuensi banyak makanan dan minuman impor baik yang jelas keharamannya atau yang tidak jelas keharamannya beredar di tengah-tengah kita. Ditambah lagi, banyak sekali bahan utama dan bahan tambahan makanan yang harus diimpor untuk memproduksi bahan pangan olahan di dalam negeri, dimana telah digambarkan di atas bahwa tidak mudah mengenali asal bahan tersebut, dengan kata lain tidak mudah menentukan kehalalan bahan tersebut. Dengan demikian, apabila tidak ada jaminan kehalalan suatu bahan atau produk pangan, maka akan sulit sekali bagi awam untuk memilih mana makanan dan minuman yang halal dan mana yang haram. Untuk itulah diperlukan adanya peraturan dan pengaturan yang jelas, yang menjamin kehalalan suatu bahan atau produk pangan.

    Baca juga :  Menjaga Independensi Pimpinan KPK Melalui Revisi Sistem Seleksi

    Di samping itu, umat Islam perlu dibekali dengan pengetahuan yang cukup tentang masalah ini, bahkan para ulama harus bekerjasama dengan para ilmuwan dalam menentukan kehalalan suatu bahan atau produk pangan mengingat permasalahan ini memerlukan pengetahuan yang mendalam mengenai asal usul bahan itu sendiri di samping pengetahuan hukum Fiqih.

    Dalam kaitan dengan yang digambarkan di atas, penulis berusaha mencoba membahas permasalahan halal baik dari segi syar’i, teknologi maupun sertifikasi karena ketiganya sangat berkaitan erat, dimana ketiganya tidak dapat berdiri sendiri. Pembahasan ini dimaksudkan untuk memberi gambaran yang lebih jelas kepada awam, tidak tertutup kemungkinan untuk pula meluruskan beberapa pandangan yang penulis anggap keliru yang dapat menyesatkan, bahkan dapat menyebabkan diambilnya suatu keputusan yang sangat merugikan semua pihak.

     

    Berikutnya 1. Tinjauan Syar’i

    778 total views, 4 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial