Setan Pun Takut Kepada Abah Cholid

  • 08 July, 2018  04:18:39 

  • Oleh:Dhona El Furqon

    Tokoh Mathla’ul Anwar yang satu sangat unik. Kami menyebutnya Abah Kholid. Bahkan jin pun sering ia usir karena tempat menetap jin tersebut sering dijadikan pemujaan oleh masyarakat.

    Ia adalah anak pertama dari istri ketiga KH Mas Abdurrahman  bernama Siti Chadijah.  Lahir di Kampung Majau di tahun 1918-an (sekarang Desa Majau Kecamatan Saketi). Majau dikenal oleh orang-orang tertentu sebagai  tempat penitipan harimau dari berbagai daerah. Mungkin hanya beberapa orang tertentu saja yang memiliki ilmu dalam soal harimau, maka orang sering menyebutnya Maung (harimau) majau.

    Kembali ke Cholid kecil, ia mendapatkan pengetahuan agamanya langsung dari ayahnya. Sementara  pendidikan formalanya  lulus di kelas VII Mathla’ul Anwar Menes. Lulusan kelas VII Mathla’ul Anwar  saat itu sudah bisa mengajar karena kualitas pendidikan sangat diperhatikan betul. Apalagi kelulusan santri-santri Mathla’ul Anwar ditentukan oleh sosok KH Mas Abdurahman.

    Di akhir tahun 1937-an ia menikah dengan salah seorang anak saudagar dari kampung Ciandur, Saketi Pandeglang.  Bersama Istri dan Mertuanya, ia Pergi Ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji.

    Akan tetapi selepas menunaikan Ibadah Haji, Ia malah menjual visanya kepada orang lain agar ia bermukim di tanah Haram. Sementara  istri dan mertuanya kembali ke kampung ciandur saketi Pandeglang.

    Selama di Mekkah ia memperdalam ilmu agama kepada Syaikh-Syaikh yang mengajar mesjidil Haram. Untuk menghidupi dirinya ia bekerja keras menjadi kuli angkut di pasar.

    Menurut pengakuan orang yang pernah bertemu di tanah Mekkah, ia bahkan menjadi jawara di pasar dekat Mekah. Semua orang mengenalnya disamping orang yang menuntut ilmu agama ia juga tokoh pasar yang disegani. Untuk menjadi orang yang disegani ia harus menaklukan jawara dari suku Badui dengan cara berkelahi. Ilmu silat ia dapatkan saat masih remaja dari seorng tokoh kampung Majau, KH Soleman. KH Soleman memiliki putera bernama KH Menjadi KH Hasan Rafiq  yang menikah dengan adiknya KH Cholid, yakni Hj Muslimah.

    Baca juga :  ES BUAH TERNIKMAT , PERJUANGAN SEORANG GURU UNTUK KELUARGANYA

    Selama empat tahun ia menetap dan belajar di Mekah. Setelah merasa ilmu pengetahuan tentang agamnya cukup ia memutuskan untuk ia kembali ke Indonesia  di tahun 1943-an. Dengan menumpang kapal  laut yang berbeda  beda dari semenanjung arab ke Kolombo, Singapura dan terakhir Ke Pulau Bangka.

    Di Pulau  Bangka ia menetap dan menikahi  anak seorang tokoh setempat, gadis itu bernama Halimatus’diyah. Sebagai Ulama dan Jawara ia menjadi tokoh yang disegani  di tanah Bangka. Ia menunjukan kepada masyarakat Bangka untuk tidak takut terhadap takhayaul. Bahkan orang setempat menjulukinya orang sakti, karena tidak takut mendatangi tempat tempat yang dianggap angker oleh masyarakat setempat, dan ia menyatakan tempat angker adalah takhayul dan bohong belaka.

    Menjelang kemerdekaan Republik Indonesia, ia mohon izin kepada mertuanya untuk memboyong istri dan anaknya ke kampung Majau untuk memperkenalkan kepada ibunya. Izinpun diberikan kepadanya karena ia tidak akan lama di pulau Jawad dan akan kembali ke Bangka.

    *************

    Pasca 1945, oleh pemerintah Republik Indonesia di  Banten, KH Cholid diangkat menjadi Camat di Kecamatan Cimanggu Pandeglang.

    Baca juga :  Biografi KH. Uyeh Balukiya Syakir Syuja'i

    Kebijakannya saat menjadi camat  Cimanggu sangat bertentangan dengan kebijakan Pemerintah Pusat. Ia menganjurkan Banteng-Banteng yang dilindungi agar disembelih untuk dikonsumsi masyarakat. Akhirnya ia di pindahkan kedinasannya menjadi camat di Kecamatan Munjul.

    Menjelang agresi Belanda di tahun 1947-an, ia diangkat menjadi Tentara Rakyat Indonesia dengan Pangkat Kapten. Pertempuran dengan Belanda ia lakukan dengan memobilisir Rakyat yang ingin bergabung dalam milisi bersenjata.

    Saat menjadi tentara ia sangat menentang agar hormat kepada bendera. Ia bersikukuh bahwa menghormat bendera adalah mengada ada dan jatuh kepada musyrik Karena selembar kain.

    Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari dinas ketentaraan dan hijrah ke Lampung untuk menjadi Petani. Selain menjadi petani ia juga mengembangkan lembaga pendidikan Mathla’ul Anwar  sebagai cabang dari Menes. Di akhir tahun 1950-an ia bersama kembali ke Menes menjadi pengasuh Perguruan Mathla’ul Anwar Pusat Menes sampai akhir hayatnya.

    Sosok Abah Cholid, dikenal dengan ketegasannya. Saudara dan murid muridnya mengenang KH Haji Cholid tidak toleran dengan  Takhayul Bid’ah dan Churafat. Ia mengajarkan ilmu tata Bahasa Arab, Kitab Kuning lainnya kepada santri santri Perguruan MA Pusat Menes.

    Mengenai cerita KH Cholid yang menentang takhayul, pernah seorang masyarakat bernama Haji Ajong  di kampung gereduk kecamatan Bojong  berpapasan dengan rombongan makhluk tapi bukan manusia membawa peralatan masak dan bungkusan lainnya.

    Saat ditanya oleh orang tersebut dari mana mau kemana, salah satu ketua rombongan menjawab “kami harus mengungsi karena di usir oleh si Cholid karena tempat kami ditebang oleh si cholid”. Kata si ketua rombongan. H Ajong meyakini bahwa itu adalah makhluk Jin yang terlihat dan mengataknnya kepada kami.

    Baca juga :  Kiai Mukri, Ulama MA yang Bermukim dan Mengislamkan Warga

    Rupanya, KH Cholid bersama anak murid muridnya telah menebang sebuah pohon besar di Kampung Panggodegan (sekarang Kampung Bojong Nangka Desa Majau)

    Komplek pemakaman Daleum, telah ada sejak zaman kerajaan Pajajaran Nampak Batu Nisan dan Batu disampinya yang pernah di Jatukan ke sungai Cimajau dikembalikan sebagai situs(doc/aziz)

    Pernah Juga ia memindahkan batu besar dan menjatuhkan ke sungai Cimajau. Ternyata batu tersebut dijadikan pemujaan oleh masyarakat setempat, tempat tersebut bernama Daleum. Belakangan ini batu tersebut dikembalikan karena menjadi situs cagar budaya.

    Di awal kemerdekaan ia pernah berkirim surat kepada presiden Soekarno agar Banten di berlakukan Syariat Islam. Surat tersebut dibawa KH Entus Kadzim dengan menaiki sepeda ke Istana Negara, namun  Presiden Soekarno menolak permintaan tersebut.

    Murid-muridnya, mengenang KH Cholid sebagai tokoh yang keras dan tegas.  Ia selalu menekankan agar muridnya bisa membaca dan memahami isi kandungan Al Quran agar kelak bermanfaat. Bahkan menjelang wafat ia masih bersikeras menolak untuk tidak di bawa ke rumah sakit. Ia bersikukuh bahwa ia tidak sakit. Saking tawadhunya, selama hidupnya ia menolak untuk diambil fotonya.

    KH Cholid meninggalkan seorang istri bernama Hadijah,  dan satu anak bernama Nahdahtiyah dari perkawinan dengan yang kedua .  Istri Pertamanya ia ceraikan saat mukim di Mekah, sementara Istri keduanya Halimatusa’diyah dari Bangka ia ceraikan saat menjadi Camat Munjul.

    Tahun 1972 KH Cholid  meninggal dan dimakamkan di samping mesjid Soreang Menes.

    Ditulis berdasarkan wawancara dengan  tokoh tokoh yang mengenalnya

     

    576 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial