Pemulia Tanaman Dari Indramayu

  • 16 July, 2018  21:39:50 

  • Joharipin tengah melakukan proses persilanganterhadap tanaman padi (doc/joh)

    Mathla’ulanwar,-“Petani adalah pekerjaan mulia. Sayangnya, lelah dan keringat deras dari pekerjaan itu tak sebanding dengan hasil yang diperoleh. Petani banyak yang miskin karena bibit dan pupuk mahal, sedangkan hasilnya sedikit” saat ia memulai ceritanya.

    Awalnya ia mendapat cemoohan dari sesama petani. Tapi  kini apa yang ia lakukan berbuah pujian untuknya. Padi Bongong F7 hasil pemuliaannya tidak hancur disaat tanaman padi lainnya seperti varietas Ciherang di Indramayu diterjang hama penyakit. Bukan hanya petani yang tertarik, tetapi pamong desa pun tertarik. Itulah Joharipin. Petani dari desa Jengkok, Kecamatan Kertasmaya, Kabupaten Indramayu hari-harinya bergelut dengan dunia pertanian. Ia seorang petani kreatif dan penuh inisiatif patut di banggakan oleh negeri ini.

    Profesi dan pengetahuan pertanian ia dapatkan dari leluhurnya.  Sebagai petani ia kerap bingung karena Hasil panen jika dibandingkan biaya produksi bukan membuat untung malah buntung. Berangkat dari fenomena tersebut ia mulai mengidentifikasi permasalahan permasalahan yang ada. Mulai dari mahalnya pupuk bibit padi dan perawatan. Ia mulai berfikir bagaimana caranya menghasilkan benih yang bagus ,tahan wereng dan hanya membutuhkan sedikit pupuk tapi mampu menghasilkan panen yang banyak.

    Joharipin pun memutar otak agar lingkaran setan kemiskinan tak melilitnya. Berbekal pengalamannya sebagai siswa sekolah lapangan, pada 2004, ia mulai mencoba-coba cari padi bibit unggul. Prosesnya lama, dan akhirnya menemukan.

    Baca juga :  Macam-Macam Peradilan Di Indonesia

    Ia menyilangkan padi dengan jenis “kebo” dan jenis “lengong” .dari hasil penyilanganya itulah Joharipin memberinya nama BONGONG . Tanpa di sangka dan di duga sebelumya dengan hasil penyilangan itulah joharipin mampu memperoleh panen 10ton/ha. dari hasil yang begitu memuaskan akhirnya banyak tetangga Joharipin berbondong-bondong kerumahnya untuk mendapatkan padi bongong dan di jadikan bibit.

    Joharipin tengah memberikan pengetahuannya dalam sekolah lapangan di di dangau samping sawahnya (doc/joh)

    Namun, kesuksesan ini tak mulus. Bukannya bantuan dari pemerintah yang ia dapat, tetapi malah teror dan tekanan. Alasannya, petani kini tak mau lagi menggunakan bibit dan pupuk yang telah ditentukan desa. Tentunya, yang semua bikinan pabrik dan bercampur kimia itu.

    “Sepertinya, pemerintah tak senang kalau petani ini maju, karena bisa jadi ancaman mereka,” katanya. “Kami seperti sapi perahan.”

    Joharipin tidak lantas berpuas diri. Ia terus mengembangkan varietas lainnya. Pemuliaan benih yang ia lkukan merupaka tradisi dari kakek buyutnya. Dari hasil kreatifitasnya, Joharipin mampu menjadi teladan bagi sesama petani . Kearifan lokal yang tumbuh dalam dirinya tak sanggup jika dinilai dengan rupiah.

    Baca juga :  Visa Calhaj Gelombang Kedua Dikebut

    Meski mampu berhasil menyilangkan bibit bongong tak lantas menjadikannya sebagai lahan bisnis dengan menjual bibitnya. Banyak pihak yang menginginkanya dengan harga mahal sekalipun.  Tapi beliau mengatakan”jika berminat mampir aja kerumah saya kasih tahu caranya dan saya kasi satu dua batang untuk di bawa pulang dan dibudi dayakan , katanya.

    dikunjungi oleh Muhaimin Iskandar (doc/Joh)

    Ia kemudian menceritakan ingatan masa lalunya, “dulu kalau saat panen, hasil tani semusim itu kebanyakan hanya untuk menambal utang. Petani pun kerap kesulitan modal saat musim tanam tiba” Ceritanya.

    Kini, sawah yang biasanya cuma menghasilkan empat ton per hektare, dengan bibit lokal ciptaannya, hasil panennya melonjak menjadi 7-10 ton. “Rupanya, kami harus menjunjung kearifan lokal, menggunakan bibit warisan nenek moyang,” kata dia.

    Sukses sendiri tak membuatnya sombong, ia mengajari tetangganya tips kesuksesan itu. Satu dua orang mulai mengikuti dan hasilnya pun sama, hasil panen meningkat dua kali lipat. Dari mulut ke mulut kesuksesan itu disampaikan.

    Joharipin akhirnya membagi gratis tips-tips ke masyarakat sekitar. Sekarang, hampir semua petani di wilayahnya sudah menggunakan bonggol, bibit temuannya itu. Tak cuma bibit, ia dibantu petani setempat membuat pupuk organik. Kini, petani tak pernah lagi membeli pupuk bikinan pabrik.

    Baca juga :  Jemaah Haji Diberangkatkan ke Arafah Hari Ini

    Kini, ratusan petani di wilayahnya telah maju. Baru-baru ini, Joharipin mendirikan koperasi simpan pinjam dengan simpanan pokok dan simpanan wajib sebisa petani. Hasilnya pun luar biasa. Belum genap setahun, mereka sudah memiliki kas Rp25 juta.

    Orang jepang pun ingin tahu metode pertanian yang dilakukan oleh Joharipn (doc/joh)

    Joharipin menuturkan, perputaran uang petani di Jengkok lumayan besar. Dari benih saja bisa lebih dari Rp150 juta. Jadi, bila semua transaksi ini melalui koperasi, masyarakat makin sejahtera.

    Atas kesuksesannya, pada tahun 2012, Joharipin diganjar sebagai Pejuang Kesejahteraan Indonesia Versi Danamon Award 2012.

    Saat kami bertemu di Mojokerto Jawa timur, ia berseloroh ” enak jadi petanimah, dalam tiga bulan tidak perlu bekerja penuh, hanya musim tanam, setelah itu kita sesekali melihat tanaman kita dan musim panen” selorohnya.

    Kini ia sering diundang oleh komunitas komunitas petani dari seluruh Indonesia bahkan keluar negeri untuk memberikan pengetahuannya tentang pertanian yang ia jalani. Dengan begi ” saya juga terus menimba ilmu dari kawan petani baik dari Indonesia maupun luar negeri” tutupnya (don)

     

    638 total views, 4 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial