Tuesday , 11 December 2018

Sepenggal Kisah Umar dan Muhammad bin Amru bin Ash

  • 16 July, 2018  05:47:07 

  • Pemimpin bisa tegas jika ia tidak takut kehilangan jabatannya.

    Muhammad bin Amru bin Ash, putra Amru bin Ash, pernah mencambuk seorang warga Mesir seraya berkata, Terimalah ini, saya adalah anak keturunan orang-orang mulia. Amru bin Ash selaku gubernur Mesir terpaksa memenjarakan warga Mesir yang dipukul anaknya agar tidak melapor kepada Amirul Mukminin Umar.

    Namun, orang itu melarikan diri dari penjara dan pergi ke Madinah untuk menemui Umar. Setelah bertemu Umar, orang itu disuruh menunggu oleh Umar sampai Amru bin Ash dan anaknya yang didatangkan dari Mesir tiba di Madinah. Sesampainya di Madinah, setelah Amru dan anaknya dihadapkan ke sidang pengadilan, Umar memerintahkan orang Mesir yang menjadi korban kekerasan itu untuk mengambil cambuk, Ambil cambuk dan cambuklah anak keturunan orang mulia itu!

    Orang Mesir itu pun mencambuk Muhammad bin Amru sampai kelelahan, tetapi Umar tetap menyuruhnya mencambuk. Setelah selesai memukul Muhammad bin Amru, orang Mesir itu mendekati Umar hendak mengembalikan cambuk, tetapi Umar berkata kepadanya, Lingkarkan cambuk itu di atas kepala Amru yang botak, karena kedudukannyalah anaknya berani memukul Anda! Saat itu Amru berkata, Amirul Mukminin, sudah Anda penuhi dan sudah Anda balas sepuas-puasnya.

    Baca juga :  HIMA-MA UIN Banten Gelar Bedah film Malcolm X.

    Orang Mesir itu kemudian berkata, Amirul Mukminin! Orang yang memukul saya sudah saya pukul. Amru berkata dengan lirih, Sungguh, jika Anda pukul dia, saya tidak akan menghalanginya sebelum Anda sendiri yang meninggalkannya.

    Umar lantas menoleh kepada Amru dan berkata, Amru! Sejak kapan Anda memperbudak orang lain, padahal ibunya melahirkannya sebagai orang merdeka?

    Sikap Umar menunjukkan bahwa masing-masing warga negara tidak boleh dianiaya oleh siapa pun, termasuk oleh pemimpinnya sendiri, dan merupakan hak mereka untuk mendapatkan keadilan yang sama di hadapan hukum.

    Pelajaran lainnya adalah bahwa pemimpin tertinggi suatu pemerintahan harus berani bertanggung jawab terhadap semua tindak tanduk anak buahnya, bahkan harus tegas dan berani menghukum.

    Baca juga :  Zakat Mal

    Seorang pemimpin akan menjadi tegas bila melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar. Kedua, tidak takut kecuali kepada Allah SWT. Orang yang hanya takut kepada Allah tidak akan takut kepada siapa pun, baik kepada anak buahnya, rakyatnya, bahkan instansi lain.

    Ketiga, seorang pemimpin bisa tegas jika ia tidak takut kehilangan jabatannya. Pemimpin seperti ini bisa memutuskan perkara sesuai dengan standar kebenaran dan bisikan hati nuraninya. Mendekati pilkada seperti sekarang ini, kita perlu selektif mencari figur pemimpin sebagaimana dicontohkan Umar bin Khattab. (Rep/abdul Syukur)

    556 total views, 12 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial