Sejarah Bumi Perkemahan Leuwi Panjang

  • 01 September, 2018  21:03:43 


  • Tak banyak yang tahu bagaimana sejarah lahan di Leuwi Panjang yang kini disebut-sebut menjadi Bumi Perkemahan Leuwi Panjang itu. Dalam perbincangan santai dengan sesepuh Mathla’ul Anwar KH Bai Ma’mun di lokasi KBN MA I Sabtu (1/9), diperoleh informasi bahwa lahan yang ditempati lokasi Kemah Bhakti Nasional Mathla’ul Anwar kesatu tersebut awalnya lahan milik keluarga diantaranya H. Sudari, dari Kampung Kacapiamis Menes.

    H. Sudari adalah paman KH Bai Ma’mun. Saat kecil dirinya sering tinggal bersama H. Sudari di Kampung Kacapiamis.

    Menurut KH Bai Ma’mun, sekitar tahun 1957-an dirinya sering ikut menggarap lahan tersebut dengan menanam berbagai macam tanaman. Sedangkan, H. Sudari adalah tokoh MA yang juga pengelola pondok pesantren Al-Ishlah yang menampung secara gratis para pelajar yang sekolah di MA Pusat Menes.

    Baca juga :  Ormas Mathla'ul Anwar Kumpulkan Dana Untuk Korban Bencana Riau

    Bai Ma’mun menuturkan bahwa jauh sebelum lahan tersebut diwakafkan, salah satu putera H. Sudari yang bernama Mad Salim tahun 1950 sudah menyampaikan keinginanya untuk membangun pondok pesantren di wilayah tersebut. Mad Salim mengatakan saat itu bahwa dirinya nanti akan mengaspal jalan untuk masuk ke lahan tersebut.

    KH Bai Ma’mun melanjutkan, lahan milik H Sudari tersebut tersebut diwariskan kepada anak-anaknya diantaranya, Hj. Nurul Aeniah yang mewakafkan lahan tersebut kepada Mathla’ul Anwar. Hj Nurul Aeniah, puteri bungsu dari H. Sudari. Ia mewakafkan lahan seluas 4000 meter untuk Mathla’ul Anwar.

    Mendengar bahwa Hj Nurul Aeniah mewakafkan lahan, selanjutnya, keluarga Hj. Juleha yaitu H. Sarwani dari Cikuning, Kecamatan Muncang, Lebak juga memutuskan untuk mewakafkan lahannya. Selanjutnya pewaris lahan H. Yusri yaitu H. Syihabudin Yusri (alm) juga turut mewakafkan lahannya kepada Mathla’ul Anwar.

    Baca juga :  Universitas Mathla'ul Anwar Rayakan Milad ke-XV

    Kini total luas lahan yang diwakafkan mencapai sekitar 2 ha. Lahan tersebut terdiri dari beberapa blok,yaitu Lewipanjang, Bahar dan Cicere. Semuanya berada di Desa Alaswangi Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten.
    Awalnya lahan tersebut hanyalah hutan kebun yang ditanami bermacam tanaman keras seperti duren, manggis dan tanaman keras lainnya. Sejak dahulu lahan tersebut memang hanyalah hutan, tidak ada penduduk yang tinggal.

    Sementara itu dalam kesempatan berbeda, Hj. Nurul Aeniah salah satu pewaris lahan dari H. Sudari menuturkan asal mula lahan tersebut diwakafkan kepada Mathla’ul Anwar.

    Suatu hari pada tahun 2016, Muhajir Kepala Madrasah Aliyah Mathla’ul Anwar Pusat Menes datang ke rumah Hj Nurul Aeniah mencari lahan bagi pembangunan pondok pesantren tahfidz aliyah. Hj Nurul Aeniah kemudian menawarkan lahan miliknya warisan dari H. Sudari di Lewipanjang untuk diwakafkan bagi lahan pesantren. Setelah itu beberapa warga Mathla’ul Anwar lainnya juga turut mewakafkan lahan sampai diperoleh lahan seperti saat ini yang digunakan menjadi Bumi Perkemahan Leuwipanjang.

    442 total views, 6 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial