Wednesday , 10 July 2019

Hidup Tenang Tanpa Hutang (Kisah pengusaha roti yang terbebas dari riba bank)

  • 17 December, 2018  20:41:43 

  • Kami biasa memanggilnya Na-u, panggilan akrab yang disematkan oleh teman-teman sekampungnya. Entah apa maknanya dan siapa yang pertama kali memberi nama tersebut. Nama lengkapnya adalah Amin Hidayat, berprofesi sebagi pengusaha Roti. Kami berteman sejak kecil dan bertemu kembali setelah ia menjadi pengusaha.

     

    Tahun 1996 , Sebagai anak kampung dan berbekal ijazah Aliyah ia memulai peruntungannya di Ibu Kota. Pekerjaan yang ia dapatkan adalah jualan sayuran membantu saudaranya dan berjalan 1 tahun. Kemudian dia melamar jadi pelayan di sebuah restoran sambil berharap taraf kehidupannya membaik. Tapi apa daya tidak ada promosi jabatan selama 3 tahun dan tak ada kenaikan gaji yang begitu berarti untuk menambah penghasilannya.

    Tahun 2000 ia putuskan untuk berhenti dan mencari pekerjaaan lain, ahirnya bekerja disebuah pabrik Roti sebagai karyawan biasa. Setelah bekerja selama 3 tahun ia putuskan untuk berjualan kue dan menjajakannya dari warung ke warung.

    Di awal tahun 2003-an Ia datangi tetangga kampungnya yang berada di kota dan terlihat sukses. Ia ajak tetangganya   untuk berinvestasi di usaha kue donat. Di awal usaha ini moncer, para pemuda dari kampung berduyun-duyun ikut denganya untuk bekerja dan hasilnya cukup lumayan. Tapi namanya usaha, lambat laun usaha kue tersebut gulung tikar.

    Tidak patah arang, ia kembali merintis usaha roti di bulan februari 2006. Ia beri merek rotinya dengan nama“KOTA”. Seiring dengan usahanya, ia mulai akrab dengan dunia perbank-an. Pinjaman demi pinjaman dari pihak bank ia dapatkan meski tidak mudah karena harus ada agunan. Berawal mengagunkan Rumah Mertua yang berada didaerah jagakarsa Jakarta Selatan, Pelan pelan ia sewa lahan di kawasan jagakarsa yang tidak begitu jauh dari rumah Mertuanya untuk usaha rotinya tersebut.

    Merek Roti Kota

    Ia bangun jaringan keagenan di beberapa tempat agar hasil produksinya terjual habis. Ia sewakan agennya satu tempat plus suplai gerobak kayuh roti di bebrerapa wilayah Jakarta dan Tangerang, dan usahanya lancar.

    Tidak puas dengan satu pabrik, di tahun 2010 ia kemudian membeli sebidang tanah di kawasan Ciputat. Kemudian ia bangun kembali satu pabrik yang lumayan besar dan kapasitasnya mampu memproduksi roti untuk memenuhi permintaan agen agen yang sudah berkembang. Di samping pabrik ia bangun juga rumah tinggal yang layak. Tentu biaya semua itu dari pinjaman bank dengan mengandalkan usaha roti.

    Untuk memperbesar usahanya ia kemudian menjaminkan aset-aset yang ia miliki ia jaminkan ke pihak bank. Tidak hanya tanah bahkan termasuk surat-surat mobil. Istilahnya “saya sekolahkan surat surat berharga yang saya miliki supaya pinter” hahaha

    Baca juga :  101 tahun Mathla'ul Anwar

    Saking dipercayanya oleh pihak bank, ia diberikan Kredit Tanpa Agunan yang cukup besar, dan ia tak ragu mengambilnya. Ia miliki beberapa kartu kredit. Kepada kami ia berdalih, itu untuk kebutuhan yang mendadak. Sambil tersenyum dan berujar “ Semua tinggal gesek, bayar? nanti dipikirkan!”. Kemudian terlena.

    Ia berseloroh “jangankan pagar rumah, cat rumah saya saja dari pinajaman” sambil terkekeh.

    Pertengahan tahun 2012 ia mulai merasakan pusingnya punya utang dan harus mencicilnya ditambah bunga dan lain lain. Saban kami datang ke kantornya, sering ia hanya memakai kaos oblong dan celana pendek  ditemani secangkir kopi hitam. Airmukanya tidak pernah cerah.

    Di mejanya menumpuk bon-bon yang harus dibayar tidak lupa buku kecil yang sudah lusuh dengan setia menemaninya. Isinya hitung hitungan cahsflow usahanya. Pokoknya ia selalu bercerita betapa beratnya mencicil hutang-hutangnya. Hutang ke bank,leasing, kartu kredit dan para supplier. Sementara usahanya ternyata masih megap-megap tak sepenuhnya lancar dan tidak sesuai harapan. Akhirnya setiap ketemu ia selalu tepuk jidat dan berkata haddeh..!!!

    Salah satu Roti tawar produk perusahan Kota

    Dari pengakuannya, akhirnya kami tahu berapa ia berhutang ke bank. Ya, kami hanya melongo mendengar angka lebih dari 1M(satu milyar) dan kami sebagai kawan tidak bisa memberikan solusi apapun kecuali mengatakan sabar sambil menemani minum kopi, itupun kopi dari dia. Bahkan kadang makan malammpun ia sediakan.

    Belum lagi hutang ke supplier, hampir setengah milyar. Jika di total seluruh hutangnya satu setengah milyar. Bukan uang kecil bagi dia, di tengah-usaha yang kembang kempis dan butuh waktu lama untuk melunasinya atau bisa bangkrut.

    Yang paling bikin sakit kepala, saat jatuh tempo. Uang setoran kurang atau belum ada. Keluhan demi keluhan tentang denda dan bunga keluar dari mulutnya. Jadi keuntungan yang ia dapat harus dipakai menutupi bunga dan denda. Ya kadang-kadang himpaslah bahkan minus.!” kata dia.

    Hari berganti minggu, berganti bulan dan berganti tahun ia bergelut dengan hutang dan riba. Seberapapun kuatnya ia menekan biaya produksi dan mencari pundi pundi keuntungan dari usahanya, tetap hasilnya untuk membayar pinjaman dan bunga plus denda.

    “pokoknya hidup saya tidak pernah tenang, dan kadang terbangun di tengah malam karena hutang yang menumpuk dan tak kunjung selesai dan sangat memberatkan”

    Yang paling menyedihkan setiap menjelang lebaran, setelah membayar upah dan THR karyawannya, kadang yang tersisa hanya uang receh gopean. Uang receh ini yang ia gunakan untuk membeli bahan bakar mobilnya pulang ke kampung.

    Baca juga :  Menteri Israel ingin Al-Aqsha dibuka untuk Yahudi yang ingin berdoa.
    Roti manis, salah satu produk Kota

    “bisa ente bayangin pakai mobil bagus tapi beli bensin Rp 50.000 dengan uang pecahan gopean(koin), itupun ane akalin berhenti dibeberapa SPBU untuk mengisi bensin beberapa kali,karena malu kalu beli sekaligus pake uang koin”” kata dia sambil tertawa.

    Berkat ajakan seorang teman, ia bergabung dengan satu komunitas agar terbebas dari hutang dan riba. Namanya MTR (Masyarakat Tanpa Riba). Dari sana ia menyadari betapa hinanya punya hutang dan berdosanya terlibat riba. Langkah barupun dan hidup barupun ia mulai. Bertaubat dengan sebenar benarnya taubat dan bertekad untuk melunasi hutangnya dengan cepat sebagaimana yang diajarkan dalam komunitasnya.

    Kemudian ia mulai mempraktekan teori-teori yang ia dapat selama ia bergabung dalam komunitas tersebut. Pertama kali menggunting semua kartu kredit yang ia miliki. Kedua ia melakukkan negoisasi dengan pihak bank untuk melunasi hutang-hutangya, meski uang untuk melunasi hutang tersebut belum tersedia. Dan yang keTiga ia jual asset-asset yang dianggap tidak terlalu produktif dalam menopang usahanya. Mobil kesayangannya ia jual dengan harga dibawah pasar dan beberapa tanah yang ia miliki juga ikut dijual. “Bisa jadi rumahpun saya jual asal hutang tertutupi” ucap dia

    Langkah menggunting dan sekaligus negosiasi dengan pihak bank bukan perkara gampang. Butuh keberanian selanjutnya dalam menghadapinya karena asset yang sedang ia jual untuk menutupi hutang tersebut belum laku. Masalah selanjutnya adalah pihak ke tiga atau debt kolektor yang siap menyatroni rumah.

    Benar saja, debt kolektor silih berganti datang kerumahnya. Ia dipaksa memberi kepastian kapan bisa melunasi dan membayar bunga dan denda. Dengan kata kata kasar dan tidak nyaman. Bahkan tak segan mereka untuk mempermalukan dirinya agar tetangga mengetahui bahwa dirinya punya hutang dan agar ia segera melunasi hutang tersebut.

    Awal-awal kedatangan debt kolektor ia agak ketakutan dan enggan menghadapi debt kolektor. Tapi ia kembali diingatkan untuk apa ikut bergabung dengan komunitas yang selama ini mengajarinya menyelesaikan hutang. Mau tak mau debt kolektor yang bertampang seram  dan kerap berkata kasar   yang datang kerumahnya ia hadapi dengan tenang. Sampai akhirnya debt kolektor menyerah dan tidak lagi datang ke rumahnya.

    Pernah suatu kali, ia didatangi debt kolektor yang mengancam. Jika tidak dilunasi hari itu juga barang-barang yang ada di rumah dirumah akan disita. Ia pun tak bergeming sambil menegaskan “kalau cara bapak menagih dengan seperti ini, jangan harap bapak bisa keluar selamat dari sini”.  Akhirnya debt kolektor tersebut langsung lunglai dan meminta maaf kepadanya. Pupus sudah harapan debt kolektor dapat uang tambahan.

    Baca juga :  Ade Munwaroh Yasin Apresiasi Mathla'ul Anwar Bogor

    Sampai akhirnya uang untuk melunasi tersedia, dan dalam negoisasi dengan bank ia pastikan kapan melunasi hutangnya. Di pertengahan tahun 2017 ia lunasi semua hutangya sekaligus, darimana? Ya dari asset asset yang ia jual. Dengan lunasnya hutang ke bank jangan ditanya   status BI Checkingnya, Hitam sudah.

    “yang penting sekarangmah tenang dulu dari hutang dan riba, urusan punya mobilmah sekarang juga pakai aja yang ada” sambil menunjuk beberapa mobil box yang biasa mengantarkan roti ke agen.

    Soal hutang ke suplierpun pelan pelan ia lunasi, sampai hanya menyisakan 1 bon saja. Artinya hanya punya hutang satu pembayaran saja. 5 BPKB mobil yang disekolahkan sudah kembali lagi.

    Di tahun 2018 ia berkeinginan menunaikan rukun Islam ke lima bersama kedua orang tuanya melalui haji furadah. Kami menyaksikan minggu ke minggu akan kepastian ia dan kedua orang tuanya serta ibu mertuanya berangkat atau tidaknya. Saat itu ia bersungguh-sungguh memohon kepada Allah agar ia ,orang Tua serta ibu mertua diberi kesempatan menunaikan ibadah haji pada tahun itu. Akhirnya pihak penyelenggara dua minggu menjelang wukuf memberi kepastian bahwa dia bersama kedua orang tuanya dan ibu mertua bisa berangkat. Berangkat melalui jalur furadah ini butuh lima kali lipat dari ongkos haji reguler, dan ongkos semuanya ia tanggung juga. Sambil berbisik kepada kami “butuh hampir 1 milyar agar kami berEmpat bisa berangkat ketanah suci”

    Amin Hidayat (berkacamata) menyempatkan diri datang ke arena Rakernas Mathla’ul Anwar

    “alhamdulillah saya bersama kedua orang tua dan ibu Mertua telah menunaikan rukun islam yang ke-lima dan di sana saya bertemu dengan guru saya semasa di MTs MA dulu” katanya.
    Kini ia sudah lega karena terbebas dari hutang dan riba.

    Hari-harinya, ia isi dengan mengontrol produksi roti dan kadang turun langsung membantu para karyawannya. Ia selalu mengingatkan para karyawannya untuk berhenti berproduksi saat jam shalat tiba dan mengajaknya untuk shalat berjamaah di masjid yang jaraknya sepelemparan batu dari pabrik roti.

    Rutinitas lainnya ia menjadi motivator bagi pengusaha-pengusaha seperti dirinya yang masih terjebak hutang dan riba. Setiap bulan dua sampai tiga kali ia harus keluar kota memberi materi dari pertemuan ke pertemuan dengan rekan rekannya. Jangan ditanya apakah ia mendapatkan uang atau tidak dalam kegiatan tersebut,

    Kini ia bisa hidup tenang tidak diburu oleh penagih hutang

    *Apakah Anda juga mau bebas hutang dan hidup Tenang..?*

    1,346 total views, 18 views today

    Please follow and like us:

    2 comments

    1. Gmana cara gabung komunitas mta gan.Terima kasih ats tanggapanya

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial