Wednesday , 19 June 2019

Catatan Kecil Relawan Mathla’ul Anwar Care

  • 18 January, 2019  00:12:46 

  • Berperanlah sekecil apapun dalam setiap kesempatan yang Allah beri, baik dalam amalan suka ataupun duka. Jadikan tubuh kita menikmati jejak-jejak amalan, hingga kelak setiap jengkalnya dapat menjawab pertanyaan Allah di yaumul hisab.

    Termasuk saat ini ketika Bencana Alam kembali terjadi di Indonesia.

    Selepas Gempa di Lombok dan Tsunami di Palu yang sampai saat ini masih menyisakan trauma. Kini musibah itu hadir di kampung halaman saya di Pandeglang.

    Ketika bencana alam di Lombok dan Palu hanya mampu menggerakkan lisan dalam do’a dan ajakan kepada sesama muslim untuk berbagi, saat ini tentu peran saya harus lebih, apalagi ini terjadi di kampung halaman.

    Relawan Mathl’ul Anwar Melakukan Evakuasi Jenazah Korban Tsunami

    Seizin suami dua hari selepas bencana Tsunami Selat Sunda menghancurkan pemukiman dan tempat wisata di daerah Banten dan Lampung, saya segera pulang ke Indonesia.

    Bismillah… Saya tanamkan ke dalam hati, pulang kali ini adalah untuk misi kemanusiaan dan bakti pada ibu bapak.

    Selalu, jika saya pulang, saya banyak menghabiskan waktu dengan adik-adik juga teman-teman, selain dengan Ibu dan bapak. Namun kali ini, saya ingin mengambil peran untuk mereka yang memerlukan bantuan akibat bencana Alam Tsunami Selat Sunda. Apapun itu, sekecil apapun ia.

    Saya bergabung dengan Mathla’ul Anwar Care. Mereka membuka peluang pada siapa saja yang ingin menjadi relawan. Di antaranya adalah saya.

    Alhamdulillah sejak hari Selasa, 25 Desember 2018 saya membersamai mereka. Saya memilih standby di Posko Induk di Menes, karena bagaimanapun ibu-bapak juga masih rindu pada anaknya yang sudah 6 bulan tidak jumpa.

    Di Posko induk MA yang terletak di Cimanying, saya mengambil peran apa saja yang bisa dilakukan, mulai dari packing paket makanan pokok seperti beras, mie instan, bubur instan, Sarden, biskuit, juga nasi bungkus.

    Beberapa hari pertama Relawan Mathla’ul Anwar memilih membagikan nasi karena di pengungsian para korban Tsunami belum bisa memasak, sehingga memerlukan makanan dan Minuman siap saji.

    Penyerahan Bantuan Logistik untuk Pengungsi Korban Tsunami

    Tidak hanya makanan pokok, tetapi juga perlengkapan mandi, keperluan bayi, pakaian layak pakai lengkap dengan underwarenya, dikemas sesuai dengan jenisnya seperti khusus pakaian untuk wanita dewasa atau khusus untuk anak-anak, dan Berbagai obat-obatan.

    Ketika waktu libur sekolah sudah mulai berakhir Di lanjut dengan membagikan perlengkapan alat sekolah dan dapur. Alhamdulillah

    Baca juga :  Sifa, Penderita Hidrosefalus Butuh Uluran Tangan

    Semua bantuan ini diperoleh dari para donatur, baik berupa barang tersebut ataupun berupa uang yang akhirnya di belanjakan keperluan yang belum ada dan sangat diperlukan untuk para korban.

    Subhanallah semua relawan bergerak dengan sistem dan tentu dengan keikhlasan InsyaAllah. nampak kepenatan di wajah mereka namun suasana keceriaan menutupi kepenatan itu, di sela-sela kerja ada saja celetukan mereka yang membuat geli hati hingga kami tertawa bersama.

    Saya rasa ini adalah kenikmatan sosial yang sangat langka untuk didapat.

    Posko Induk Mathla’ul Anwar

    Ok, kenapa saya bilang bersistem?
    Pertama, ketika ada bantuan masuk, MA care mencatat 1 per 1 jenis barang yang masuk lalu dipack. Jika ia berupa beras karungan, maka dipack ke dalam plastik, 2 Sampai 3 liter perplastiknya, nantinya akan di campurkan dengan mie, biskuit, sarden dan apa saja yang tersedia. Setiap satu kepala keluarga mendapatkan satu paket plastik.

    Begitupun ketika barang keluar yang akan didistribusikan ke korban, mereka mencatat juga secara detil. Sehingga mudah dalam pengecekannya.

    MA Care ada
    Buku rekaman khusus terkait ini, jika suatu hari ada yang ingin tahu apa saja bantuan yang di salurkan oleh MA care dari para donatur. Maka mudah mendapatkannya.

    Bantuan yang ditampung di posko Induk Cimanying Menes, nantinya disalurkan ke 7 titik posko lapangan. Posko lapangan letaknya lebih dekat dengan daerah yang terkena gelombang Tsunami.

    Saya menyempatkan berkunjung ke posko Lapangan. Ada getar hati yang membuat lidah tak henti berdzikir, sepanjang perjalanan pesisir pantai menuju daerah Sumur, salah satu tempat yang terkena Tsunami, disajikan pemandangan Kuasa Allah yang Maha Besar.

    Gelombang Tsunami yang menghantam wilayah pesisir pantai seolah jari-jari tangan terbuka yang ditepukan ke tanah. Setiap jarinya mengenai tanah dan bagian kosong di antara jari-jari tidak kena. Begitupun dengan Tsunami yang terjadi di wilayah Banten.

    Satu area habis; rumah-rumah, pepohonan, hotel-hotel dan berbagai penginapan dan tempat wisata hancur, bahkan puluhan rumah nyaris tak bersisa, tetapi dalam jarak yang tidak jauh (masih pesisir pantai), ia selamat dan seperti tak disentuh air. Lalu ada lagi yang terkena, dan area lain tidak.

    Hampir semua masyarakat mengatakan, bahwa tempat-tempat tertentu (dalam makna negatif) hampir semua hancur. Dalam hal ini saya awam memaknai kenapa? tetapi satu hal yang perlu kita bangun adalah tetap berkhusnudzon. Pastinya mengandung hikmah.

    Baca juga :  Warga Arab Israel Turun ke Jalan Protes UU Bangsa Yahudi

    Semoga kita semua bisa mengambil Hikmah musibah yang menyapa kita, yaitu adanya musibah karena Allah menginginkan kita segera merundukan diri di hadapan keagungan-Nya serta berlirih-lirih mengadukan kelemahan, kehilafan, dan kehinaan. Hanya Allah saja yang Maha kuat, dan Sumber kekuatan yang tak pernah kering, tak pernah habis dan tak pernah berakhir.

    Demikian Allah perlihatkan ayat-ayatNya untuk di ambil pelajaran bagi kita yang selamat. Dengan keMaha KuasaanNya, siapapun tidak boleh lari dan tidak boleh mengelak dari taqdir; kematian dan musibah.

    *

    Sepanjang pemandangan pantai sisa terjangan Tsunami yang saya saksikan,  beberapa posko Relawan berdiri. Sedikit miris ketika Melihat tumpukan baju menggunung, sumbangan dari hamba-hamba Allah sedang di pijaki oleh anak-anak kecil di pengungsian, mungkin para korban sudah cukup keperluannya untuk pakaian, dan terlalu banyak yang menyumbang pakaian.

    Berbagai lembaga dan instansi baik swasta maupun dari kalangan pemerintah mendirikan posko, terlihat dari spanduk yang menempel disetiap posko yang dilalui.

    Pengepakan Barang di Posko Induk

    Posko lapangan Mathla’ul Anwar masih belum terlihat, karena ia terletak lebih dekat dekat dengan pasar sumur dan area yang terkena Tsunami, tepatnya di MTs MA Sumur.

    Alhamdulillah, saya dan teman-teman sampai di posko lapangan Sumur sekitar pukul 15.00. Di sana ada 1 Relawan MA Care, Ibu Rodiah yang sudah dari hari ke dua selepas Tsunami terjadi tinggal di sekolah itu, ketika saya kesana adalah hari ke enam.

    Beliau ditemani seorang guru dari SMA Cibaliung, saya lupa namanya, beliau menemani bu Rodiah, karena kenal dengan bu Rodiah dan sekolah sedang libur. Yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari posko. Sementara beberapa relawan lainnya sedang membagikan paket paket bantuan yang dihantar dari Posko MA induk Cimanying.

    Ketika di sana secara otomatis kami mengemas beberapa peralatan mandi dan beras yang esok pagi akan di antar ke para korban. Bantuan yang belum dikemas bukan dari posko induk, tetapi dari beberapa donatur yang dikirim ke posko lapangan langsung dilakukan pengepakan.

    Sambil mengemas, Ibu guru SMA cibaliung tadi bercerita kondisi selepas bencana Tsunami, bahwa yang terkena dampaknya tidak hanya korban Tsunami yang secara fisik rumahnya hancur, tetapi juga mereka yang dekat dengan area itu, karena pasar dan berbagai toko tidak beroperasi, mereka kesulitan untuk mendapatkan bahan makanan.

    Baca juga :  Ponpes Mathla'ul Anwar Al-Bantani Siap Terima Santri yang Tidak Mampu
    Pembagian Bantuan Logistik Oleh Relawan Mathla’ul Anwar di Wilayah Kecamatan Sumur

    Sehingga bantuan yang diberikan oleh para donatur tidak hanya diberikan kepada para korban, tetapi juga masyarakat sekitar posko. Ada hal menarik disini, beberapa bantuan yang dibagikan oleh posko lain tidak terlebih dahulu dikemas dan pembagiannya tidak merata. Karena jika yang datang 20 box mie, maka yang dapat hanya 20 rumah.

    “Bagus ini di kemas dulu, dibungkus sesuai jumlah kepala keluarga dan diantarkan langsung ke setiap keluarga, jadi semua kebagian” kata si ibu. Lagi-lagi saya bilang dalam hati, MA Care bersistem.

    *
    Relawan MA care hampir semua adalah guru dan staf dari sekolah-sekolah di bawah Ormas Mathla’ul Anwar. Saya salut hormat kepada mereka, sejak Tsunami terjadi tanggal 22 Desember 2018. Esoknya Ahad (yang sebetulnya adalah hari pertama mereka berlibur) sudah kembali ke sekolah sebagai Relawan MA care untuk Tsunami Selat Sunda.

    Dari pagi hingga malam mereka terlibat dalam berbagai aktivitas di posko induk dan lapangan. Saya yakin mereka ingin sekali berlibur bersama keluarga, tetapi rasa cinta mereka pada saudaranya yang terkena musibah lebih besar dari cinta kepada diri sendiri. Bagi saya ini Sifat mulia yang tidak banyak orang memilikinya, Semoga Allah tanamkan kebahagiaan selalu di hati mereka, dan mereka merasakan Rihlah (berlibur) dalam amal ini.

    *
    Tiga minggu sudah saya di Indonesia, sudah saatnya untuk kembali pulang ke Singapur. 2 minggu membersamai MA Care dan 1 minggu menjaga ibu yang sedang sakit di klinik, semua ini memberikan pengalaman yang mendalam untuk saya. Ini hanya sedikit pengalaman dalam mengambil peran yang semoga dapat menyengat semangat menebar manfaat.

    Sebentar lagi boarding, saya akan memasuki pesawat, dan terbang membawa semua kenangan indah untuk saya jadikan kisah pada semua family dan murid-murid di Singapore.

    Mengakhiri tulisan ini saya meminjam pantunnya Mas Sholihin Abu izzudin; “kalau bukan karena secawan tinta tak akan kugubah sebait puisi, kalau bukan karena Cinta tak akan hadir aku di sini (Mathla’ul Anwar)”

    Rabu, 16 Januari 2019

    238 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial