Wednesday , 19 June 2019

MU’JIZAT AL-QUR’AN (1)

  • 20 May, 2019  06:04:38 

  • Oleh: Maddais

    ALLAH SWT berfirman:

    وَقَالُوْا لَوْلاَ اُنْزِلَ عَلَيْهِ ايتٌ مّنْ رَّبّه قُلْ إِنَّمَا اْلايتُ عِنْدَ اللهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ. أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّآ أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتبَ يُتْلى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِيْ ذلِكَ لَرَحْمَةً وَّذِكْرى لِقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ (العنكبوت: 50-51)

    “Dan orang-orang kafir Makkah berkata: ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya mu’jizat-mu’jizat dari Tuhannya?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya mu’jizat-mu’jizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata.’ Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sedang ia dibacakan kepada mereka?” (QS. Al-‘Ankabūt [29]: 50-51)

    PENDAHULUAN

    Di dalam ‘Ulūmul Qur’an kita mengenal macam-macam I’jazil Qur’an, di mana para ‘Ulama dalam hal ini memiliki keterangan berbeda, yang disebabkan perbedaan tinjauan masing-masing. Di antara para ‘Ulama itu adalah:

    1. Dr. Abd. Razaq Naufal, di dalam kitab Al-I’jazul ‘Adad lil-Qur’an al-Karim menerangkan bahwa I’jazil Qur’an itu ada 4 macam, yaitu:
    a. Al-I’jazul Balaghi, yaitu kemu’jizatan segi sastra balaghahnya, yang muncul pada masa peningkatan mutu sastra Arab.
    b. Al-I’jazut Tashri’ yaitu kemu’jizatan segi pensyari’atan hukum-hukum ajarannya, yang muncul pada masa kebangkitan ilmu dan science di kalangan umat Islam.
    c. Al-I’jazul ‘ilmi yaitu kemu’jizatan di segi ilmu pengetahuan, yang muncul pada masa kebangkitan ilmu dan science di kalangan umat Islam.
    d. Al-I’jazul ‘Adadi, yaitu kemu’jizatan segi kuantity atau matematis/ statistik yang muncul pada abad ilmu pengetahuan dan teknologi canggih sekarang.

    2. Imam Al-Khothoby (wafat 388 H.) dalam kitab Al-Bayan fi I’jazil Qur’an mengatakan, bahwa kemu’jizatan Al-Qur’an terfokus pada bidang kebahasaan saja, dengan kata lain bahwa I’jazul Qur’an itu hanya satu macam saja, yaitu hanya I’jazul Balaghi. Sebab kemu’jizatan Al-Qur’an itu hanya terdiri dari balaghah saja, sekalipun dengan lafal dan makna yang sama. Maksudnya dengan susunan uslub yang demikian itu bisa mencakup kefasihan lafal, kebaikan susunan, dan keindahan makna.

    3. Imam Al-Jahid (wafat 255 H.) di dalam kitab Niẓamul Qur’an serta Al-Bayan wa at-Tabyin menegaskan bahwa kemu’jizatan Al-Qur’an itu terfokus hanya pada bidang susunan lafal-lafalnya. Maksudnya I’jaz Al-Qur’an itu hanya satu macam saja yaitu mu’jizat susunannya. Sebab susunan lafal-lafal Al-Qur’an berbeda dengan kitab-kitab lain, terutama dengan lafal mufrad dan murakkab, adanya taqdim dan ta’khir, adanya hadhaf dan zikir, adanya faṣal dan waṣal, dan sebagainya yang sungguh amat menakjubkan.

    4. Moh. Ismail Ibrahim dalam buku yang berjudul Al-Qur’an wa I’jazihi al-‘Ilmi mengatakan, orang yang mengamati Al-Qur’an dengan cermat, mereka akan mengetahui bahwa kitab itu merupakan gudang berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Sebab kitab Al-Qur’an itu berkaitan erat sekali dengan bermacam-macam disiplin ilmu pengetahuan, karena itu Ismail Ibrahim menyimpulkan bahwa kemu’jizatan Al-Qur’an terfokus pada bidang ilmu pengetahuan atau I’jaz ‘ilmi saja.

    Dari beberapa I’jaz Al-Qur’an di atas penulis berasumsi bahwa I’jaz Ṭibbi (kemu’jizatan segi pengobatan) pun terdapat dalam Al-Qur’an.

    Dari itu, dalam makalah ini penulis membatasi pembahasannya yang meliputi pada:
    I’jaz Ṭibbi,
    I’jaz Tashri’,
    I’jaz ‘Ilmi, dan
    I’jaz Lughawi.

    Untuk lebih jelasnya kita jelajahi (explorasi) pembahasan (diskursus) berikut ini:

    PEMBAHASAN

    Pengertian:

    Kata mu’jizat diambil dari masdar a’jaza yang memiliki pengertian melemahkan atau menjadikan tidak mampu, atau sebagaimana yang dikutip oleh Prof. Dr. H. Abdul Djalal H.A. ialah sesuatu yang luar biasa, ajaib atau mena’jubkan.

    Menurut istilah mu’jizat ialah sesuatu yang luar biasa yang melemahkan manusia baik sendiri maupun kolektif untuk mendatangkan sesuatu yang menyerupai atau menyamainya yang hanya diberikan kepada Nabi dan Rasul Allah.

    Mu’jizat itu merupakan sesuatu yang berbeda dengan biasanya, yang menyebabkan orang tidak mampu mendatangkan hal yang serupa. Definisi lain dari para ‘Ulama adalah bahwa mu’jizat yaitu suatu hal atau peristiwa yang luar biasa yang terjadi melalui seseorang yang mengaku Nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada orang yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa tetapi mereka tidak mampu melayani tantangan itu.

    Manna’ Al-Qaṭṭan mendefinisikannya demikian:

    أَمْرٌ خَارِقٌ لِلْعَادَةِ مَقْرُوْنٌ بِالتحدي سالم عن المعارضة

    “Sesuatu hal luar biasa yang disertai tantangan dan selamat dari perlawanan.”

    A. I’JAZ ṬIBBI ( Kemu’jizatan Al-Qur’an Segi Pengobatan )

    Al-Qur’an merupakan kitab pamungkas, diturunkan kepada Nabi terakhir dengan membawa agama yang bersifat umum dan berlaku abadi sebagai penutup seluruh agama yang ada. Kitab suci itu merupakan undang-undang (al-Qonun) dari Allah SwT untuk memperbaiki makhluk, aturan-aturan samawi sebagai hidayah bagi bumi ini, yang penurunnya meletakkan syari’at, menitipkan setiap gerakan dan menggantungkan segala jenis kebahagiaan.

    Baca juga :  PBMA Berikan Penghargaan kepada 11 Pendiri Mathla'ul Anwar

    Kitab itu merupakan hujjah dan mu’jizat terbesar Rasul saw yang berdiri tegak di dunia sebagai saksi atas kerasulan dan bukti atas kenabian beliau, serta menunjukkan atas kebenaran dan kejujurannya.

    Al-Qur’an dari awal sampai akhir merupakan kekuatan yang mampu mengubah wajah dunia, menggeser batas-batas wilayah kehambaan, mengubah laju sejarah dan menyelamatkan humanitas yang sedang terpeleset, sehingga membuat format makhluk baru. Karena itulah Al-Qur’an merupakan objek perhatian dari Rasul saw, para Sahabat dan ‘Ulama salaf maupun khalaf sampai saat ini.

    Kemu’jizatan Al-Qur’an dari segi pengobatan, sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah, merupakan bagian dari ilmu-ilmu yang penting dalam kehidupan manusia serta ‘Ulama-‘ulama muslim semua, serta merupakan bagian yang bermanfaat dari pemberian Nabi Muhammad saw, dimana dengan ilmu ini kita bisa melakukan pengobatan atau penyembuhan, karena di dalamnya terdapat hikmah-hikmah dalam melemahkan kebanyakan dokter-dokter yang selalu mengedepankan akal mereka.

    Dengan perantaraan mu’jizat, Allah SwT mengingatkan kepada manusia bahwa para Rasul itu merupakan utusan yang mendapat dukungan dan bantuan dari langit. Mu’jizat yang telah diberikan kepada para Nabi mempunyai fungsi yang sama, yaitu untuk memainkan peranannya dan mengatasi kepandaian kaumnya di samping membuktikan bahwa kekuasaan Allah itu di atas segala-galanya.

    Suatu umat yang tinggi pengetahuannya dalam ilmu kedokteran jasmani misalnya, tidak wajar dituntun dan diarahkan kepada mu’jizat yang bersifat rohani, karena mereka pada dasarnya tidak mutafanin di bidang tersebut walaupun pada dasarnya semua ilmu pengobatan diambil dari Al-Qur’an.

    Tuntunan dan pengarahan yang ditujukan kepada umat harus berkaitan dengan pengetahuan mereka, karena Allah tidak akan mengarahkan suatu umat pada hal-hal yang mereka tidak tahu. Tujuannya adalah agar tuntunan dan pengarahan Allah itu bermakna. Disitulah letak nilai mu’jizat yang telah diberikan oleh para Nabi.

    Namun demikian tidak mustahil terjadi hal-hal di luar kebiasaan pada diri siapa pun. Namun apabila bukan dari seorang yang mengaku Nabi, hal itu tidak dinamakan mu’jizat. Sesuatu yang luar biasa yang tampak pada diri seseorang yang kelak bakal jadi Nabi pun tidak dinamakan mu’jizat tetapi irhaṣ. Keluarbiasaan itu juga bisa terjadi pada diri seseorang yang taat dan dicintai oleh Allah, tetapi hal ini pun tidak dinamakan mu’jizat, hal seperti itu dinamakan karomah atau kekeramatan, yang bahkan tidak mustahil terjadi pada seseorang yang durhaka kepada-Nya. Yang terakhir ini dinamakan ihamah (penghinaan) atau istidraj (suatu rangsangan untuk lebih durhaka lagi).

    Disaat kita mencurahkan pola pikir kita dalam perenungan dan pemberian makna dalam ayat-ayat Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa penciptaan manusia itu terjaga dengan dua ilmu, yang pertama adalah ilmu Al-Qur’an dan kedua adalah ilmu Al-Bayan (penjelas), sehingga ilmu Al-Qur’an yang merupakan pemberian dari Pencipta langit dan bumi bisa memberikan ketenangan dan manisnya hal-hal yang tak terkira, sebagaimana yang disampaikan oleh Allah SwT dimana Al-Qur’an merupakan شفاء ما في الصدور adapun ilmu bayan disini memiliki kekhususan dalam nikmatnya pengungkapan bahasa dan rahasia-rahasia yang diturunkan oleh Allah sebagaimana dalam ayat وانزل الله عليك الكتاب والحكمة وعلمك .

    Jadi dari sini bisa dipahami bahwa kalam Al-Qur’an memiliki kekhususan yang mujarrab, hal ini bisa dimengerti bahwa apa yang datang dari Allah SwT adalah sesuatu yang terbaik.

    Kalam Allah SwT melebihi setiap kalam yang lain, artinya Allah melebihi semua makhluk-Nya. Al-Qur’an merupakan obat penawar yang sempurna, cahaya petunjuk yang membawa rahmat bagi alam semesta, dimana jika Al-Qur’an diturunkan di atas gunung niscaya ia pecah karena keagungan dan kemuliaannya, sebagaimana ayat Al-Qur’an mengatakan:

    وَنُنَزّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَّرَحْمَةٌ لّلْمُؤْمِنِيْنَ… (الاسراء: 82)

    “Kami turunkan di antara Al-Qur’an sesuatu yang menyembuhkan (penyakit hati) dan rahmat untuk orang-orang yang beriman…” (QS. Al-Isra[17]: 82).

    Selanjutnya ilmu ṭibb dimana orang yang memilikinya disebut ṭabib, menurut bahasa Arab mempunyai beberapa makna:

    Baca juga :  Muhasabah Ramadhan, Menangkal liberalisme

    1. Sesuatu yang dapat membawa kebaikan. Jadi ṭabib adalah orang yang dapat memperbaiki secara umum.
    2. Keahlian dan kepintaran. Jadi ṭabib adalah orang yang memiliki keahlian dan kepintaran.
    3. Adat atau tradisi. Jadi ṭabib maksudnya adalah orang yang berpegang pada adat (tradisi).
    4. Sihir atau guna-guna. Jadi ṭabib adalah orang yang melakukan sihir atau melakukan guna-guna terhadap orang lain.

    A. Macam-Macam Penyakit

    Penyakit terbagi dua, yaitu penyakit rohani (psikis) dan penyakit jasmani (fisik).

    a. Penyakit rohani atau hati ( مرض القلوب )

    Penyakit rohani terbagi menjadi dua, yaitu:
    1). Perasaan cemas dan ragu
    2). Nafsu yang tak terkendali

    Penyakit hati dalam bahasan ini disinggung dalam ayat Al-Qur’an:

    فِي قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللهُ مَرَضًا… (البقرة: 10)

    “Dalam hati mereka ada penyakit (syak wasangka), lalu ditambah Allah penyakit itu;…” (QS. Al-Baqarah [2]: 10).

    b. Penyakit badan ( مرض الابدان )

    Mengenai penyakit badan ini Allah SwT berfirman:

    لَيْسَ عَلَى اْلأَعْمى حَرَجٌ وَّلاَ عَلَى اْلاَعْرَجِ حَرَجٌ وَّلاَ عَلَى الْمَرِيْض حَرَجٌ… (النور: 61)

    “Tiada dosa atas orang buta, dan atas orang yang pincang, dan atas orang yang sakit…” (QS. An-Nūr [24]: 61).

    Adapun penyakit jasmani dalam melakukan ibadah seperti pada ibadah puasa, wudhu dan haji sangat diperhatikan, karena mempunyai hikmah yang sangat dalam dan Al-Qur’an menjelaskannya secara terang, dimana manusia dapat memikirkannya dan memahaminya. Hal yang demikian ini memang logis, mengingat bahwa pada dasarnya pengobatan jasmani dilakukan dengan salah satu dari ketiga caraberikut:
    a. Memelihara kesehatan
    b. Memperkuat kekebalan atau ketahanan tubuh terhadap penyakit
    c. Mengobati atau menyembuhkan penyakit

    B. Penyembuhan Penyakit

    1. Penyakit Rohani

    Untuk mengobati penyakit rohani, tidak ada jalan lain kecuali mengikuti petunjuk Rasulullah Saw., dimana beliau mengembalikan semuanya pada Al-Qur’an yang telah disebutkan diatas dengan kemu’jizatan dari sisi pengobatan yang dimilikinya.

    Jika ada yang berpendapat bahwa pengobatan rohani dapat dilakukan dengan tanpa petunjuk Rasul, jelas pendapat tersebut keliru.

    Al-Qur’an sebagai obat, disini mengandung pengertian bahwa obat yang bisa ditimbulkan dari Al-Qur’an pertama haruslah ada akan adanya kekuatan iman terhadap turunnya Al-Qur’an, yang kedua membenarkan akan adanya Dzat yang menurunkan penyakit, bahwa sesungguhnya Dzat itu berkuasa untuk menolak kapan saja.

    Sebagian ‘Ulama berpendapat bahwa segi kemujizatan Al-Qur’an adalah sesuatu yang terkandung dalam Al-Qur’an itu sendiri yaitu faedah dan hikmah yang terkandung dalam tiap-tiap kalimatnya berbeda dengan kalimat yang dikeluarkan oleh orang Arab, hal ini sebagaimana Ḥadīth yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Sayyidina Ali r.a yang mana Nabi pernah mengatakan bahwa خَيْرُ الدَّوَاء القُرْآن .

    Al-Qur’an merupakan obat yang paling sempurna untuk semua macam penyakit rohani/ jiwa maupun penyakit jasmani, penyakit dunia dan juga penyakit akhirat. Jika pengobatan Al-Qur’an dilakukan dengan sempurna, penuh keyakinan dan iman yang kuat serta melengkapi syarat-syaratnya, maka seseorang itu tidak akan menderita sakit dalam jangka waktu yang lama.

    Betapa tidak! Penyakit tidak akan sanggup menangguhkan kalamullah (Al-Qur’an), yang jika diturunkan di puncak gunung, maka gunung itu akan tidak sanggup memikulnya, dan jika kalamullah itu diturunkan pada bumi maka bumi pun akan berkeping-keping.

    Diriwayatkan dalam Sahih Bukhari-Muslim bahwa seorang Sahabat pernah megobati seorang Arab badui dengan surat Al-Fatihah, kemudian Allah menyembuhkannya, kemudian Sahabat tersebut mengambil upah dan Nabi pun mengetahui hal itu serta tidak melarangnya.

    Surat Al-Fatihah yang merupakan intisari Al-Qur’an, sab’ul mathani (tujuh ayat yang diulang-ulang dalam rakaat Salat), obat yang ampuh, penawar yang jitu, doa penyembuhan yang sempurna, kunci kekayaan dan kesuksesan, pemelihara kekuatan, penolak kesedihan, kebimbangan, ketakutan dan duka cita, bagi orang-orang yang mengetahui rahasia surat Al-Fatihah dan cara mempergunakannya untuk kebutuhan yang dipergunakannya.

    Ketika sebagian Sahabat mengetahui keutamaan surat ini, maka manakala mereka disengat kalajengking, mereka mengobatinya dengan membacakan surat Al-Fatihah untuk kesembuhannya itu, dan memang sembuh seketika itu juga karena Nabi Muhammad saw bersabda:

    وما ادراك انها رقبة

    “Tidakkah kamu tahu, bahwasanya dia (surat Al-Fatihah) itu merupakan doa untuk memohon kesembuhan penyakit.”

    Disebutkan juga dalam Ḥadīth yang dikeluarkan oleh Abi Hatim dari Al-Laits, bahwa Nabi Muhammad saw mengatakan ada ayat-ayat yang merupakan obat dari adanya sihir, yang mana terlebih dahulu dibaca di suatu tempat yang didalamnya berisi air, selanjutnya air tersebut dimandikan pada seseorang yang terkena sihir, ayat tersebut adalah:

    Baca juga :  Baru Berusia 25 Tahun Sudah Diangkat jadi Menteri

    فلما القوا موسى ما جئتم به السحر ان الله سيبطله الى قوله تعالى ولو كره المجرمون

    Ataupun ayat lain yang terdapat dalam surat Ṭaha dari ayat yang berbunyi:

    ان ما صنعوا كيد ساحر

    Kemudian masih banyak lagi Ḥadīth-ḥadīth yang menceritakan kemu’jizatan Al-Qur’an dari sisi pengobatan yang lain, diantaranya Ḥadīth yang dikeluarkan oleh Al-Baihaqi di dalam doa-doa dari Ḥadīthnya Anas, dimana Nabi mengatakan:

    ما انعم الله على عبد نعمة في اهل او مال او ولد فيقول ما شاء الله ولا حولا ولا قوة الا بالله الا برئ من كل افة الا الموت

    Ibnu Katsir mengatakan: Yang paling manjur untuk menghilangkan sihir adalah apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, yaitu membaca surat Al-Falak dan An-Nās. Dalam sebuah Ḥadīth disebutkan:

    لم يتعوذ المتعوذ بمثلهما قرأة اية الكرسي فانها مطردة للشيطان

    2. Penyakit Jasmani

    Sebenarnya sumber penyakit yang paling pokok dari penyakit ini berasal dari makanan. Oleh sebab itu, bangsa yang tidak banyak ragam makanannya, jenis penyakitnya juga sedikit.

    Ahli kedokteran bangsa Arab bernama Harits bin Kaldah pernah mengatakan: “Pencegahan merupakan obat paling utama, perut adalah sumber penyakit dan setiap orang hendaklah memakan apa yang telah menjadi kebiasaannya serta melaparkan diri juga merupakan obat.”

    Muhammad Mahmud Abdullah menerangkan dalam kitabnya tentang pembagian obat dalam Al-Qur’an, yang terdiri dari dua bagian:

    a. Pengobatan yang bisa diindra manusia

    Dalam pengobatan ini dijelaskan secara gamblang oleh ayat-ayat Allah baik pengobatan itu berasal dari hujan yang turun dari langit maupun dari sesuatu yang tumbuh dari bumi. Ayat-ayat tersebut antara lain:

    1. ماء السماء (ونزلنا من السماء ماء مباركا)
    2. عسل النحل (فيه شفاء للناس)
    3. زيت الزيتون (شجرة مباركة زيتونة)
    4. التين والزيتون معا (والتين والزيتون)
    5. ماء الأرض خاصة (اركض برجلك هذا مغتسل بارد وشراب)
    6. اللبن (لبنا خالصا سائغا للشاربين) وغيرها من الايات القرآن.

    Bentuk realita dari jenis pengobatan di atas bisa kita lihat pada sistem pengobatan jasmani yang selama ini dilakukan oleh para dokter jasmani, dimana pada dasarnya pengetahuan tentang ilmu pengobatan jasmani diambil dari Al-Qur’an.

    b. Pengobatan Yang tidak bisa diindra oleh manusia.

    Istilah yang dipakai dalam bahasan ini mungkin lebih cocok dengan pengobatan melalui bacaan-bacaan ayat Al-Qur’an, dimana Allah telah mengatakan bahwa Al-Qur’an merupakan obat dari penyakit yang ada di dalam dada.

    Dalam hal ini ada satu contoh penyakit yang biasa kita sebut dengan penyakit kesurupan. Sebenarnya cara mengobati penyakit ini dapat dilakukan dengan dua cara:

    1). Si penderita sendiri harus menguatkan jiwanya, meluruskan I’tikadnya hanya kepada Pencipta dan Pemelihara jiwanya serta memohon perlindungan secara benar, baik dengan lisan maupun dengan hatinya.

    Cara ini dapat diibaratkan dengan peperangan melawan musuh dimana harus dipenuhi dua syarat, yakni memakai alat senjata yang ampuh dan pemegangnya juga harus memiliki kekuatan prima. Jika kedua hal ini tidak dimiliki, maka akibatnya kekuatan hati akan runtuh, dengan demikian tidak ada gunanya lagi senjata yang ampuh tadi.

    2). Orang yang mengobatinya adalah orang yang memiliki I’tikad yang benar dan kuat serta mempunyai senjata yang ampuh sebagaimana diterangkan pada pengobatan pertama.

    Dengan demikian orang yang mengobati itu cukup mengatakan: “Keluarlah dari tubuh si sakit !” atau ia cukup mengucapkan basmallah atau hauqallah.

    Dari diskripsi yang telah dikemukakan di atas memberikan penjelasan bahwa pengobatan secara Al-Qur’an ini akan menjadi jelas dan terwujud faedahnya apabila syarat-syarat yang telah ditentukan itu telah terpenuhi, yakni adanya kekuatan iman yang tertanam kepada Allah SwT, kekuatan iman terhadap turunnya Al-Qur’an, keyakinan yang kuat terhadap diutusnya Nabi Muhammad saw oleh Allah SwT serta adanya keikhlasan dalam menjalankan perintah dan menjauhi adanya larangan dari Sang Khalik Allah SwT.

    Allahu A’lam

    Semoga bermanfaat!

    Baabul Jannah
    Senin, 20 Mei 2019 M/15 Ramadan 1440 H

    Maddais

    58 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial