Thursday , 19 September 2019

MU’JIZAT AL-QUR’AN (bagian 2 dari empat tulisan)

  • 22 May, 2019  04:30:32 

  • Oleh: Maddais

    B. I’JAZ TASHRI’ (Kemu’jizatan Segi Perundang-Undangan)

    Dalam pembinaan hukum Islam, Islam mendasarkan pada 3 asas pembinaan, yaitu:
    1. Tidak menyulitkan,
    2. Menyedikitkan beban, dan
    3. Berangsur-angsur dalam pembinaan hukum Islam seperti yang digariskan dalam Al-Qur’an.

    Mengenai tidak menyulitkan, Allah SwT menyifati Rasul saw dengan firman-Nya:

    “…Dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka…” (QS. Al-A’rāf [7]: 157).

    Dalam ayat lain Allah berfirman:

    “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (QS. Al-Baqarah [2]: 286).

    “…Dia tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…” (QS. Al-Ḥajj [22]: 78).

    Dalam Ḥadīth, Nabi saw bersabda:

    بُعِثْتُ بِالْحَنِيْفَة السَّمْحَة

    “Aku diutus dengan agama yang ringan”

    Adapun tentang menyedikitkan beban adalah merupakan hasil yang mesti (akibat logis) bagi tidak adanya menyulitkan, karena di dalam banyaknya bebanan berakibat menyempitkan.

    Orang yang menyibukkan diri terhadap Al-Qur’an untuk melihat perintah-perintah dan larangan-larangan yang ada di dalamnya niscaya dapat menerima terhadap kebenaran pokok ini, karena dengan melihatnya sedikit memungkinkan untuk mengetahuinya dalam waktu sekilas dan mudah mengamalkannya, tidaklah banyak perincian-perinciannya sehingga banyaknya itu tidak menimbulkan kesulitan terhadap orang-orang yang mau berpegang dengan kitab Allah yang kuat. Sebagian dari ayat yang menunjukkan hal itu adalah firman Allah SwT:

    “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menanyakan (Nabimu) hal-hal yang diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al-Qur’an sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Māidah [5]: 101-102).

    Masalah-masalah yang dilarang ini adalah sesuatu yang telah dimaafkan Allah yakni didiamkan pengharamannya. Seandainya mereka tidak menanyakannya niscaya hal itu di ampuni dalam meninggalkannya. Sebagian dari padanya adalah sabda Nabi saw dikala ditanya tentang haji: “Apakah setiap tahun?” Maka beliau bersabda: “Seandainya saya berkata ya, niscaya haji itu wajib. Biarkanlah saya tentang sesuatu yang saya tinggalkan darimu. Maka sesungguhnya rusaknya orang-orang sebelummu adalah karena banyaknya pertanyaan dan perselisihan mereka kepada Nabi-nabi mereka.”

    Adapun bagian akhir dari asas-asas hukum Islam adalah berangsur-angsur dalam membina hukum. Di mana kebijaksanaan tashri’ dalam menghadapi permasalahan yang timbul di masyarakat dilakukan melalui tahapan-tahapan, sedikit demi sedikit di dalam menjelaskan hukumnya dan untuk menyempurnakan agama-Nya.

    Umat manusia telah mengenal di sepanjang sejarah berbagai doktrin, pandangan, sistem dan tasyri’ (perundang-undangan) yang bertujuan tercapainya kebahagiaan individu di dalam masyarakat. Namun tidak satu dari padanya yang mencapai keindahan dan kebesaran seperti yang dicapai Al-Qur’an dalam kemu’jizatan tashri’nya.

    Kata tasyri’ bermakna perundang-undangan, dengan demikian kemu’jizatan tasyri’ adalah kemu’jizatan di segi persyari’atan, hukum-hukum, dan ajaran-ajaran.

    Menurut Prof. AB Wahhab Khollaf dalam bukunya Khulaṣah Tarikh Tashri’ Islam menyebutkan bahwa pengertian tashri’ menurut istilah shara’ dan undang-undang adalah pembuatan/ pembentukkan undang-undang untuk mengetahui hukum-hukum bagi perbuatan orang dewasa, dan ketentuan-ketentuan hukum serta peristiwa yang terjadi di kalangan mereka.

    Jika pembentukkan undang-undang ini sumbernya datang dari Allah dengan perantaraan Rasul serta kitab-kitab-Nya, maka hal itu dinamai al-Tashri’ul Ilahiyu (perundang-undangan Allah), perundang-undangan yang langsung di buat oleh Allah dengan ayat Al-Qur’an, diilhamkan kepada Rasul-Nya yang dengan ilham itu ditetapkan hukumnya oleh Rasulullah. Perundang-undangan ini dinamai perundang-undangan Tuhan yang murni (Tashri’ Ilahi Mahdi).

    Jika perundang-undangan yang di buat oleh segenap mujtahid muslim baik dari kalangan Sahabat, tabi’in maupun para imam mujtahid dengan cara menggali hukum dari nash/ ketetapan tashri’ Ilahi, jiwanya, pengertiannya, serta sumber-sumber yang ditunjuki olehnya. Perundang-undangan ini dipandang sebagai Tashri’ Waḍ’iyu karena ditinjau dari usaha jerih payah dalam mengambil dan mengolah perundang-undangan yang dilakukan oleh para imam mujtahid tersebut.

    Dengan demikian, kemu’jizatan tashri’ Al-Qur’an ialah kemu’jizatan Al-Qur’an di segi tashri’/ perundang-undangan, dimana Al-Qur’an adalah sekumpulan undang-undang Ilahi yang melebihi semua undang-undang buatan manusia, yang di dalamnya mencakup penjelasan mengenai pokok-pokok aqidah, hukum-hukum ibadah, norma-norma keutamaan dan sopan santun, undang-undang hukum ekonomi, sosial, politik dan kemasyarakatan. Al-Qur’an-lah yang mengatur kehidupan keluarga dan masyarakat, dan Al-Qur’an-lah yang meletakkan dasar-dasar kemanusiaan yang mulia lagi adil yang didengung-dengungkan oleh para tokoh reformis di abad 21 ini.

    Itulah persamaan kebebasan dan keadilan yang mereka sebut dengan demokrasi, musyawarah, dan sebagainya yang berupa dasar-dasar kebudayaan dan undang-undang dalam kebudayaan modern.

    Di antara salah satu segi kemu’jizatan Al-Qur’an adalah adanya tashri’/ undang-undang Ilahi yang sempurna yang melebihi undang-undang buatan manusia.

    Dari sekian banyak doktrin, pandangan, sistem dan tashri’, yang dikenal umat manusia disepanjang sejarah, tidak ada satu pun yang melebihi keindahan dan kebesaran yang di capai Al-Qur’an dalam kemu’jizatan tashri’nya.

    Baca juga :  SMA MA Masohi Selenggarakan MPLS

    Al-Qur’an memulai dengan pendidikan individu, karena individu merupakan cikal bakal masyarakat, dan menegakkan pendidikan individu itu di atas penyucian jiwa dan rasa pemikulan tanggung jawab.

    Al-Qur’an menyucikan jiwa seorang Muslim dengan aqidah tauhid yang menyelamatkannya dari belenggu khurafat dan wahn, dan memecahkan belenggu perbudakkan hawa nafsu dan syahwat, agar ia menjadi hamba Allah yang ikhlas yang hanya tunduk kepada Allah semata.

    1. Di Bidang Aqidah

    Dalam masalah aqidah, Al-Qur’an mengajak kepada aqidah yang suci dan tinggi, jelas lagi terang, dan tiangnya adalah keimanan kepada Allah Yang Maha Agung dan keimanan kepada semua Nabi dan Rasul serta mempercayai semua kitab samawi, sebagai realisasi dari firman Allah Ta’ala:

    “Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya…” (QS. Al-Baqarah [2]: 285).

    Dengan demikian, apabila aqidah seorang Muslim telah benar, maka ia wajib menerima segala syari’at Al-Qur’an baik menyangkut kewajiban maupun ibadah. Setiap ibadah yang difardhukan dimaksudkan untuk kebaikan individu, di samping itu ibadah pun erat kaitannya dengan kebaikan kelompok (masyarakat). Sebagai contoh Salat misalnya, Salat mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Maka apabila seorang berdiri di hadapan Tuhannya sebanyak 5 kali sehari-semalam, tentu kehidupannya akan berpadu dengan syari’at Allah dan tumbuh sebuah kesadaran bahwa ada Pengontrol Yang Maha Tinggi yang selalu memperhatikan akan segala yang terjadi di antara satu salat dengan salat lain. Dengan demikian, maka dia akan memelihara diri dari segala yang membuatnya terjerambab dalam kekejian maupun kemunkaran.

    2. Di Bidang Ibadah

    Dalam masalah ibadah, Al-Qur’an datang dengan membawa pokok-pokoknya. Al-Qur’an menyebutkan salat, puasa, haji, zakat, dan semua perbuatan baik. Ibadah dalam Islam tidak terbatas pada dasar-dasar dan sendi-sendi ini saja bahkan mengandung semua perbuatan baik, kebajikan dan ketaatan. Oleh karena itu, para ‘Ulama menerapkan bahwa semua perbuatan yang dimaksudkan oleh manusia kepada Zat Allah adalah ibadah. Dan mereka berpendapat bahwa niat yang baik bisa mengubah adat menjadi ibadah.

    Apabila seseorang beramal, dan dalam perbuatannya itu ia sengaja menghindari perbuatan haram, serta sengaja memberi nafkah kepada keluarganya, dan atau apabila seseorang makan atau minum dengan maksud agar mampu melakukan taat kepada Allah, maka amalnya merupakan ibadah dan akan diberi pahala. Dalil dalam hal ini adalah:

    وانك لن تنفق نفقة تبتغى بها وجه الله الا اجرت عليها حتى اللقمة تضعها في امرأتك (رواه البخارى)

    “Sesungguhnya engkau tidak sekali-sekali membelanjakan sesuatu yang dimaksudkan kepada Zat Allah, kecuali engkau diberi pahala, sampai satu suap makanan yang engkau letakkan pada mulut istrimu.” (HR. Bukhari)

    Dalam Ḥadīth lain Nabi saw bersabda:

    وفي بضع أحدكم صدقة، قالوا: يا رسول الله أيأتى أحدنا شهوته ويكون له فيها اجر، قال: أ رأيتم لو وضعها في حرام أكان عليه وزر فكذلك إذا وضعها في حلال كان له اجر (رواه مسلم)

    “Dan dalam sebagian masing-masing kamu terdapat sadaqah, kemudian mereka bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah bila salah seorang dari kami menyalurkan syahwatnya akan mendapat pahala?’ Rasul bersabda: “Apakah kalian mengetahui apabila meletakkannya pada hal yang haram ia akan menerima dosa?” Begitu juga apabila ia meletakkannya pada hal yang halal ia akan mendapat pahala.” (HR. Muslim).

    Kalau kita memperhatikan pokok-pokok ibadah yang diwajibkan, kita akan dapat menyimpulkan bahwa Islam telah memperluasnya dan menganekaragamkannya serta menjadikan ke dalam beberapa bagian, diantaranya ada yang berupa ibadah maliah, seperti zakat dan sadaqah.

    Ada yang berupa ibadah badaniah, seperti salat dan puasa. Dan ada pula yang berupa ibadah maliah dan sekaligus ibadah badaniah seperti haji dan berjuang di jalan Allah. Dalam berjuang di jalan Allah ini diperlukan pengorbanan harta dan jiwa. Keanekaragaman ini mengandung tujuan dan hikmah yang luhur, yaitu agar jiwa tidak terbiasa pada sesuatu yang hanya merupakan adat semata, atau akhirnya jiwa akan merasa bosan atau pun resah dengan satu ibadah saja.

    3. Di Bidang Pemerintahan

    Al-Qur’an telah menetapkan kaidah-kaidah pemerintahan Islam dalam bentuk yang paling ideal dan baik. Yaitu suatu pemerintahan yang didasarkan pada musyawarah, persamaan dan larangan kekuasaan individual.

    … وَشَاوِرْهُمْ فِي اْلأَمْر … (ال عمران: 159)

    Baca juga :  Jumlah santri baru di Pondok Pesantren Mathla'ul Anwar Pontianak melonjak drastis

    “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)

    … وَأَمْرُهُمْ شُوْرى بَيْنَهُمْ … (الشورى: 38)

    “…Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka…” (QS. Ash-Shura [42]: 38).

    Ia adalah pemerintahan yang ditegakkan atas keadilan mutlak yang tidak dipengaruhi rasa cinta diri, cinta kerabat atau faktor-faktor sosial yang berhubungan dengan kekayaan dan kemiskinan.

    Dalam hal ini selaras dengan firman Allah SwT:

    “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisā [4]: 135).

    Di samping itu pula, keadilan pun harus tetap ditegakkan dengan tidak terpengaruh oleh rasa dendam, walaupun terhadap musuh yang dibenci sekalipun.

    Allah SwT berfirman:

    ”Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adilah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS. Al-Māidah [5]: 8)

    Otoritas legislative dalam pemerintahan Islam pun tidak memberi keleluasan atau tidak menyerahkannya kepada manusia, akan tetapi tetap menyerahkannya kepada Al-Qur’an. Jika keluar dari ketentuan ini maka berarti telah kafir, zalim dan fasiq. Allah SwT berfirman:

    … وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللهُ فَاُولئِكَ هُمُ الْكفِرُوْنَ (المائدة: 44)

    “… Dan barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS. Al-Māidah [5]: 44).

    … وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللهُ فَاُولئِكَ هُمُ الظّلِمُوْنَ (المائدة: 45)

    “… Dan barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang zalim.” (QS. Al-Māidah [5]: 45).

    … وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللهُ فَاُولئِكَ هُمُ الْفسِقُوْنَ (المائدة: 47)

    “… Dan barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang fasiq.” (QS. Al-Māidah [5]: 47).

    اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ (المائدة: 50)

    “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik dari pada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Māidah [5]: 50).

    4. Dalam Bidang Tindak Pidana

    Dalam tindak pidana, Al-Qur’an menerapkan sanksi-sanksi serta mewajibkan kepada umat manusia untuk melaksanakan, memeliharanya dan menjaga kerukunan hidup masyarakat, harta benda, dan harga dirinya agar tercapai kehidupan yang bahagia dan sejahtera. Hal itu tidak akan terwujud, kecuali dengan jalan yang aman dan tenteram.

    Al-Qur’an telah menegaskan tentang adanya bibit-bibit kejahatan serta bahayanya yang besar terhadap masa depan individu dan masyarakat. Pada tiap-tiap kejahatan itu, Al-Qur’an menerapkan sanksi-sanksinya yang setimpal, yang tidak bisa ditambah atau dikurangi. Islam mempermudah dalam penerapan sanksi tersebut, serta menyerahkan kejahatan-kejahatan ringan kepada hakim muslim untuk melaksanakan sanksi menurut pendapatnya berdasarkan Sunnah Nabi dan dengan bentuk yang menunjukkan semangat Islam dalam memberikan kebaikan kepada manusia serta menghindarkan masyarakat dari kehancuran dan kezaliman.

    Adapun kejahatan-kejahatan besar (perbuatan kriminal) yang sanksinya amat berat telah ditentukan Al-Qur’an yang terdiri atas 5 macam yaitu: Pembunuhan, Zina, Mencuri, Merampok, dan Merusak kehormatan manusia dengan tuduhan jahat.

    Firman Allah SwT:

    “Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah [2]: 179).

    “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya itu 100 kali dera.” (QS. An-Nūr [24]: 2).

    “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya.” (QS. Al-Māidah [5]: 38).

    “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan 4 orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) 80 kali dera.” (QS. An-Nūr [24]: 4)

    5. Di Bidang Hubungan Internasional (HI)

    Di Bidang Hubungan Internasional, Islam menerapkan dasar-dasarnya, baik dalam keadaan damai atau pun perang dengan cara yang paling sempurna dan dengan peraturan yang seadil-adilnya. Sebagaimana firman Allah SwT:

    “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Ḥujurat [49]: 13).

    Baca juga :  Ulama Kharismatik Abuya KH Saifudin Amsir Berpulang

    “Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian) mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At-Taubah [9]: 4).

    6. Dalam Urusan Pergaulan Sesama Insan

    Dalam urusan pergaulan sesama manusia, Al-Qur’an mengharamkan memakan harta orang lain dengan cara yang tidak sah. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SwT:

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisā [4]: 29).

    Al-Qur’an menganjurkan untuk bersaksi ketika mengadakan jual beli dan menulis utang piutang, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SwT:

    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu berutang-piutang tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Hendaklah seorang penulis (Sekretaris) di antara kamu menuliskannya dengan benar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 282)

    Islam di dalam memberikan pendidikan terhadap keluarga, yang merupakan benih/ cikal bakal masyarakat, maka disyari’atkanlah perkawinan guna memenuhi garizah seksual dan kelangsungan jenis manusia dalam keturunan yang suci dan bersih. Allah SwT berfirman:

    “Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, suapay kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rūm [30]: 21).

    “Dan bergaulah dengan mereka (istri-istrimu) secara ma’ruf.” (QS. An-Nisa [4]: 19).

    Dari paparan di atas, nampaklah bahwa kelebihan tasyri’ (undang-undang) Al-Qur’an yang penuh kebijaksanaan atas undang-undang manusia dan peraturan yang ada di muka bumi, maka secara realita dapat diungkap sebagai berikut:

    a. Sekitar 15 tahun yang lalu, di Amerika pernah mencoba membuat undang-undang mengenai minum-minuman keras (khamar, arak), tetapi gagal karena undang-undang yang mereka terapkan tidak sesuai dengan metode bijaksana yang diterapkan Islam melalui Al-Qur’an dalam mengharamkan minuman keras. Pada akhirnya mereka membolehkan kembali, namun tetap menganggap minuman keras mengandung bahaya laten.

    b. Beberapa negara Barat, khususnya Amerika, pernah membolehkan perceraian setelah melarang perceraian karena bertentangan dengan ajaran-ajaran gereja. Akan tetapi mereka terlalu berlebihan dalam soal undang-undang perceraian, sehingga undang-undang tersebut justru menimbulkan masalah besar dan akhirnya mereka tetap membolehkannya.

    c. Reformis-reformis Eropa mengumandangkan pendapatnya tentang perlunya poligami, sehingga sebagian kaum wanita memprotes adanya undang-undang tersebut karena banyak di antara mereka yang telah menjadi janda tidak dapat menikah lagi, akhirnya timbul permasalahan yang mengancam masyarakat Eropa.

    d. Terjadinya pengkhianatan-pengkhianatan dalam kehidupan rumah tangga tersebar di kalangan masyarakat Eropa yang modern dengan bentuk yang sangat melampaui batas sehingga banyak keluarga yang terancam bubar. Akhirnya, banyak dijumpai anak-anak yang tak ber-ayah. Hal ini terjadi karena kebebasan bepergian dan bebasnya pergaulan antara pria dan wanita.

    e. Pemerintah Spanyol pernah mengeluarkan ketetapan dan memberlakukan undang-undang berupa pelarangan pelacuran resmi di negaranya, dan melarang kaum wanitanya berpakaian bikini.

    f. Di masyarakat maju seperti Eropa, terjadi peningkatan kejahatan setiap harinya padahal sanksi-sanksi yang diterapkan telah jelas dan tegas bagi setiap pelaku kejahatan, baik sanksi yang berbentuk tahanan bertahun-tahun bahkan hukuman mati dan hukuman gantung. Namun masih saja dijumpai berbagai tindak kejahatan yang membangunkan bulu kuduk, seperti penculikan, pembunuhan dan pencurian di siang bolong pada rumah-rumah, perampokan bank-bank dan toko-toko besar bahkan ada komplotan-komplotan gang yang mengancam keamanan dan keselamatan penduduk.

    Beberapa hal di atas adalah bukti konkrit atas kegagalan undang-undang dan peraturan buatan manusia, sedangkan Islam dengan Al-Qur’annya sungguh telah membuktikan keamanan dan kedamaian serta menghapus kejahatan langsung dari sumbernya. Inilah perbedaan antara Undang-undang Al-Qur’an dan undang-undang buatan manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya.

    Al-Qur’an merupakan Dustur Tashri’ paripurna yang menegakkan kehidupan manusia di atas dasar konsep yang paling utama. Dan kemu’jizatan Tashri’nya ini akan senantiasa eksis untuk selamanya. Dan tidak seorang pun dapat mengingkari bahwa Al-Qur’an telah memberikan pengaruh besar yang dapat mengubah wajah sejarah dunia.

    Allahu A’lam

    Semoga bermanfaat!

    Baabul Jannah
    Senin, 20 Mei 2019 M/15 Ramadan 1440 H.

    Maddais

    142 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial