Sunday , 22 September 2019

MU’JIZAT AL-QUR’AN (bagian ke-3)

  • 31 May, 2019  22:50:37 


  • Oleh: Maddais

    C. I’JAZ ‘ILMI ( KEMU’JIZATAN ILMIAH )

    Al-Qur’an adalah kitab aqidah dan hidayah. Ia menyeru hati nurani untuk menghidupkan di dalamnya faktor-faktor perkembangan dan kemajuan serta dorongan kebaikan dan keutamaan.

    Kemu’jizatan Ilmiah Al-Qur’an bukanlah terletak pada pencakupannya akan teori-teori ilmiah yang selalu baru dan berubah serta merupakan hasil usaha manusia dalam penelitian dan pengamatan. Tetapi ia terletak pada dorongannya untuk berfikir dan menggunakan akal.

    Al-Qur’an mendorong manusia agar memperhatikan dan memikirkan alam. Ia tidak mengebiri aktivitas dan kreativitas akal dalam memikirkan alam semesta, atau menghalanginya dari penambahan ilmu pengetahuan yang dapat dicapainya. Dan tidak ada sebuah pun dari kitab-kitab agama terdahulu memberikan jaminan demikian seperti yang diberikan oleh Al-Qur’an.

    Semua persoalan atau kaidah ilmu pengetahuan yang telah mantap dan meyakinkan, merupakan manifestasi dari pemikiran valid yang dianjurkan Al-Qur’an, tidak ada pertentangan sedikit pun dengannya. Ilmu pengetahuan telah maju dan telah banyak pula masalah-masalahnya, namun apa yang telah tetap dan mantap daripadanya tidak bertentangan sedikit pun dengan salah satu ayat-ayat Al-Qur’an. Ini saja sudah merupakan kemu’jizatan.

    Al-Qur’an menjadikan pemikiran yang lurus dan perhatian yang tepat terhadap alam dan segala apa yang ada di dalamnya sebagai sarana terbesar untuk beriman kepada Allah.

    Ia mendorong kaum Muslimin agar memikirkan makhluk-makhluk Allah yang ada di langit dan bumi:

    “Sesungguhnya dalam penciptaan dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) mereka yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 190-191).

    Al-Qur’an mendorong umat Islam agar memikirkan dirinya sendiri, bumi yang ditempatinya dan alam yang mengitarinya:

    “Dan mengapakah mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan.” (QS Ar-Rūm [30]: 8).

    Baca juga :  Selamat Kepada Bapak H.Hudori, M.Sc, atas Gelar Doktoral Bidang Pemerintahan

    “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Az-Zariyat [51]: 20-21).

    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan? Dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS. Al-Ghashiyah [88]: 17-20).

    Al-Qur’an membangkitkan pada diri setiap Muslim kesadaran Ilmiah untuk memikirkan, memahami dan menggunakan akal:

    “Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 219).

    “Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Al-Ḥashr [59]: 21).

    “Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir.” (QS. Yunus [10]: 24).

    “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Ar’Ra’d [13]: 3).

    “Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. Al-A’rāf [7]: 32).

    “Sungguh Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada kaum yang mengetahui.” (QS. Al-An’ām [6]: 97).

    “Perhatikanlah betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya). (QS. Al-An’ām [6]: 65).

    “Sungguh Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang memahami.” (QS. Al-An’ām [6]: 98).

    Al-Qur’an mengangkat kedudukan orang Muslim karena ilmu:

    “Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. Al-Mujādalah [58]: 11).

    Al-Qur’an tidak menyamakan antara orang berilmu dengan orang tak berilmu (jahil):

    “… Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS Az-Zumar [39]: 9).

    Al-Qur’an memerintahkan umat Islam agar meminta nikmat ilmu pengetahuan.kepada Tuhannya:

    “Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS Ṭaha[20]: 114).

    Allah dalam ayat berikut mengumpulkan ilmu falak, botani, geologi dan zologi, dan menjadikan semuanya sebagai pendorong rasa takut kepada-Nya:

    “Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit, lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka ragam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya, dan ada (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ‘Ulama.” (QS. faṭir [35]: 27-28).

    Baca juga :  Hukum di Indonesia

    Demikianlah. Kemu’jizatan Al-Qur’an secara ilmiah ini terletak pada dorongannya kepada umat Islam untuk berfikir di samping membukakan bagi mereka pintu-pintu pengetahuan dan mengajak mereka memasukinya, maju di dalamnya dan menerima segala ilmu pengetahuan baru yang mantap, stabil.

    Di samping hal-hal di atas di dalam Al-Qur’an terdapat isyarat-isyarat ilmiah yang diungkapkan dalam konteks hidayah. Misalnya, perkawinan tumbuh-tumbuhan itu ada yang zati dan ada yang khalti. Yang pertama, ialah tumbuh-tumbuhan yang bunganya telah mengandung organ jantan dan betina. Dan yang kedua ialah tumbuh-tumbuhan yang organ jantannya terpisah dari organ betina, seperti pohon kurma, sehingga perkawinannya melalui perpindahan. Dan di antara sarana pemindahnya ialah angin. Penjelasan demikian terdapat dalam firman-Nya:

    “Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan)…” (QS Al-Ḥijr [15]: 22).

    Oksigen sangat penting bagi pernafasan manusia, dan ia berkurang pada lapisan-lapisan udara yang tinggi. Semakin tinggi manusia berada di lapisan udara, maka ia akan merasakan sesak dada dan sulit bernafas. Allah berfirman SwT:

    فَمَنْ يُّرِدِ اللهُ اَنْ يَّهْدِيَه يَشْرَحْ صَدْرَه لِلاِسْلاَمِ وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّه يَجْعَلْ صَدْرَه ضَيّقًا حَرَجًا كَاَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَآءِ كَذلِكَ يَجْعَلُ اللهُ الرّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ (الانعام: 125)

    “Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Ia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah sedang mendaki ke langit.” (QS. Al-An’ām [6]: 125).

    Sudah menjadi kepercayaan yang telah berurat berakar bahwa atom adalah bagian yang tidak dapat dibagi-bagi. Sedang dalam Al-Qur’an dinyatakan:

    “Dan tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun seberat zarrah (atom) di bumi atau pun di langit. Dan tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Yunus [10]: 61).

    Baca juga :  Roadshow NGOBRAS Sambangi Mahasiswa Mathla'ul Anwar dan HMB Jakarta

    Berkenaan dengan embriologi datanglah firman Allah SwT:

    “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah ia diciptakan? Ia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.” (QS. Aṭ-Ṭariq [86]: 5-7).

    “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 2).

    “Wahai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi.” (QS. Al-Ḥajj [22]: 5).

    Tentang kesatuan kosmos dan butuhnya kehidupan akan air. Allah SwT berfirman:

    “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu; kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?” (QS Al-Anbiya [21]: 30).

    Isyarat-isyarat ilmiah dan yang serupa dengannya yang terdapat dalam Al-Qur’an itu datang dalam konteks petunjuk ilahi, hidayah ilahiah. Dan akal manusia boleh mengkaji dan memikirkannya.

    Sesungguhnya hakikat Al-Qur’an adalah hakikat yang final, pasti dan mutlak. Sedang apa yang dicapai penyelidikan manusia, betapapun canggih alat-alat yang dipergunakannya, adalah hakikat yang tidak final dan tidak pasti. Sebab hakikat-hakikat tersebut terikat dengan aturan-aturan eksperimentasi dan kondisi yang melingkupi serta peralatannya. Adalah merupakan kesalahan metodologis, berdasarkan metodologi ilmiah manusia itu sendiri, menghubungkan hakikat-hakikat final Qur’an dengan hakikat-hakikat yang tidak final, yakni segala apa yang dicapai ilmu pengetahuan manusia

    Allahu A’lam

    Baabul Jannah
    Ahad, 20 Mei 2018

    66 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial