Sunday , 22 September 2019

MU’JIZAT AL-QUR’AN (Tulisan ke-4)

  • 02 June, 2019  23:44:47 


  • Oleh: Maddais

    D. I’JAZ LUGHAWI ( KEMU’JIZATAN BAHASA ).

    Sejarah menyaksikan, ahli-ahli bahasa telah terjun ke dalam medan festifal bahasa dan mereka memperoleh kemenangan. Tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang berani memproklamirkan dirinya menantang Al-Qur’an, melainkan ia hanya mendapat kehinaan dan kekalahan. Bahkan sejarah mencatat, kelemahan bahasa ini terjadi justru pada masa kejayaan dan kemajuannya ketika Al-Qur’an diturunkan. Saat itu bahasa Arab telah mencapai puncaknya dan memiliki unsur-unsur kesempurnaan dan kehalusan di lembaga-lembaga dan pasar bahasa. Dan Al-Qur’an berdiri tegak di hadapan para ahli bahasa dengan sikap menantang, dengan berbagai bentuk tantangan. Volume tantangan ini kemudian berangsur-angsur diturunkan menjadi lebih ringan, dari 10 surah menjadi 1 surah, dan bahkan menjadi 1 pembicaraan yang serupa dengannya.

    Firman Allah SwT:

    قُلْ لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ اْلإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلى أَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هذَا الْقُرْآنِ لاَ يَأْتُوْنَ بِمِثْلِه وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا (الإسرا: 88)

    “Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (QS. Al-Isra [17]: 88)

    أَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرهُ قُلْ فَأْتُوْا بِعَشْرِ سُوَرٍ مّثْلِه مُفْتَرَيتٍ وَّادْعُوْا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مّنْ دُوْنِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ صدِقِيْنَ. فَاِنْ لَّمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكُمْ فَاعْلَمُوْا اَنَّمَآ اُنْزِلَ بِعِلْمِ اللهِ… (هود: 13-14)

    “Ataukah mereka mengatakan: ‘Muhammad telah membuat-buat Al-Qur’an itu.’ Katakanlah: ‘(Jika demikian), maka datangkanlah 10 surah yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang benar.’ Jika mereka (yang kamu seru itu) tidak menerima seruanmu itu, ketahuilah, sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dengan ilmu Allah.” (QS. Hud [11]: 13-14).

    أَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرهُ قُلْ فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مّثْلِه وَادْعُوْا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مّنْ دُوْنِ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ صدِقِيْنَ (يونس: 38)

    “Atau (patutkah) mereka mengatakan, ‘Muhammad membuat-buanya.’ Katakanlah: ‘(Kalau benar yang kamu katakan itu), cobalah datangkan sebuah surah seumpamanya.’” (QS. Yunus [10]: 38).

    وَ إِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مّمَّا نَزَّلْنَا عَلى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مّنْ مّثْلِه… (البقرة: 23)

    “Dan jika kamu (tetap) dalam keadaan ragu tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah (saja) yang semisal Al-Qur’an itu…” (QS. Al-Baqarah [2]: 23).

    أَمْ يَقُوْلُوْنَ تَقَوَّلَه بَلْ لاَّ يُؤْمِنُوْنَ. فَلْيَأْتُوْا بِحَدِيْثٍ مّثْلِه إِنْ كَانُوْا صدِقِيْنَ (الطور: 33-34)

    “Bahkan mereka berkata: Dia (Muhammad) mengada-adakan Al-Qur’an ini, tetapi mereka itu tiada beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan berita seumpamanya, jika mereka orang benar.” (QS. Aṭ-Ṭūr [52]: 33-34).

    Namun demikian, tak seorang pun dari mereka sanggup menandingi atau mengimbanginya, padahal mereka adalah orang-orang yang sombong, tinggi hati dan pantang dikalahkan. Seandainya mereka punya kemampuan untuk meniru sedikit saja daripadanya atau mendapatkan celah-celah kelemahan di dalam nya, tentu mereka tidak akan repot-repot menghunus pedang dalam menghadapi tantangan tersebut, sesudah kemampuan retorika mereka lemah dan pena mereka pecah.

    Baca juga :  Apa Motif di Balik Krisis Rohingya?

    Kurun waktu terus silih berganti melewati ahli-ahli bahasa Arab, tetapi kemu’jizatan Al-Qur’an tetap tegar bagai gunung yang menjulang tinggi. Di hadapannya semua kepala bertekuk lutut dan tunduk, tidak terfikirkan untuk mengimbanginya, apalagi mengunggulinya, karena terlalu lemah dan tidak bergairah menghadapi tantangan berat ini. Dan senantiasa akan tetap demikian keadaannya sampai hari kiamat.

    Diriwayatkan dari Ibnu Ishaq; Yazid telah menceritakan kepadaku dari Muhammad bin Ka’b al-Qurthubi, ia berkata: Pada suatu hari pernah terjadi, bahwa ‘Utbah bin Rabi’ah (salah seorang pemimpin Quraisy) –ketika sedang duduk sendirian di Masjid- berkata, “Wahai kaum Quraisy, bolehkah aku pergi kepada Muhammad untuk berbicara dengannya dan menawarkan beberapa hal kepadanya? Mudah-mudahan dia dapat menerima sebagiannya, dan kita pun dapat memberi apa yang dikehendakinya, supaya dia berhenti dari (mengajak) kita.” Ini terjadi setelah Hamzah masuk Islam, dan mereka melihat Sahabat Rasulullah saw semakin bertambah banyak. Kemudian mereka menjawab, “Kami setuju wahai Abul Walid. Pergilah kepadanya dan ajaklah dia berbicara.”

    Maka dia pergi kepada Rasulullah saw sehingga duduk berhadapan dengan beliau. ‘Utbah berkata, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya kamu dikalangan kami, sebagaimana telah kamu ketahui, termasuk keluarga terhormat dan keturunan mulia! Sesungguhnya kamu telah membawa sesuatu yang amat besar kepada kaummu; engkau telah memecah belah persatuan mereka; engkau tololkan mimpi-mimpi mereka; engkau cela tuhan-tuhan dan agama mereka; engkau kafirkan bapak mereka yang telah tiada. Maka dengarkanlah, aku tawarkan kepadamu beberapa hal untuk kamu pertimbangkan, mudah-mudahan kami dapat mengumpulkan harta untukmu, sehingga kamu menjadi orang yang paling kaya di antara kami; jika kamu hanya menginginkan kerajaan dari dakwahmu ini, maka kami angkat kamu menjadi raja di antara kami, sehingga kami tidak akan memutuskan suatu perkara tanpa menyertakanmu; dan jika yang datang kepadamu itu penyakit yang kamu idap yang tidak dapat kamu hilangkan, maka kami siap mencarikan obat, dan akan kami korbankan harta kami untuk menyembuhkanmu, barangkali kamu “diganggu” orang lain sehingga ada orang yang dapat menyembuhkannya.”

    Ketika ‘Utbah selesai mengemukakan tawarannya, dan Rasulullah saw telah mendengarnya, maka beliau berkata, “Sudah selesai pembicaraanmu, wahai Abul Walid?” Abul Walid berkata, “Silakan,” Maka Rasulullah saw membaca:

    بسم الله الرحمن الرحيم. حم (1) تَنْزِيْلٌ مّنَ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ (2) كِتبٌ فُصّلَتْ ايتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لّقَوْمٍ يَعْلَمُوْنَ (3) بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لاَ يَسْمَعُوْنَ (4) وَقَالُوْا قُلُوْبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مّمَّا تَدْعُوْنَآ إِلَيْهِ وَفِيْ أذَانِنَا وَقْرٌ وَمِنْ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ إِنَّنَا عمِلُوْنَ (5) (فصلت: 1-5)

    Bismil-Lahir-Rahmanir-Rahim. Haa Miim (1.) Diturunkan dari Dzat Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (2). Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui (3). yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (darinya); maka mereka tidak mau mendengarkan (4). Mereka berkata: “Hati kami berada dalam tutupan (yang menutup) apa yang kamu seru kami kepadanya, dan ditelinga kami ada sumbatan, dan diantara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu, sesungguhnya kami bekerja (pula)”(5). (QS. Fuṣilat [41]: 1-5).

    Baca juga :  Kisah Para Penyelamat Nyawa Jamaah

    Kemudian Rasulullah saw meneruskan bacaannya kepada ‘Utbah, sementara ‘Utbah sendiri mendengarkannya seraya meletakkan kedua tangannya ke belakang punggungnya dan bersandar pada keduanya. Kemudian, Rasulullah saw mengakhiri bacaannya pada ayat sajdah (ayat ke- 37, surat Fuṣilat) seraya bersujud. Lalu Rasulullah saw berkata, “Kamu telah mendengar, wahai Abul Walid, apa yang kamu dengar, maka terserahlah itu padamu.”

    Maka ‘Utbah kembali kepada kawan-kawannya, lalu sebagian mereka berkata kepada yang lain, “Kami bersumpah, demi Allah, sungguh Abul Walid telah datang kepadamu tidak dengan wajah seperti ketika ia pergi kepada Muhammad.” Ketika Abul Walid duduk bersama mereka, mereka bertanya, “Apa yang telah terjadi, wahai Abul Walid?” Ia menjawab, “Sesungguhnya aku baru saja mendengarkan, demi Allah, suatu perkataan yang belum pernah aku dengar perkataan seperti itu sama sekali. Demi Allah, perkataan itu bukan sya’ir, bukan sihir, juga bukan mantera. Wahai kaum Quraisy, taatilah aku; serahkanlah urusan itu padaku; dan biarkan orang ini (Muhammad) dengan apa yang dibawanya. Demi Allah, perkataannya yang baru aku dengar darinya itu akan menjadi berita besar. Jika orang-orang Arab mengalahkannya, maka kalian telah lepas darinya dengan orang lain; dan jika dia menang atas orang-orang Arab, maka kekuasaannya menjadi kekuasaan kalian, kemuliaannya juga kemuliaan kalian, dan kalian akan menjadi orang yang paling bahagia dengannya.” Mereka berkata, “Demi Allah, dia telah menyihirmu dengan perkataannya.” Abul Walid berkata, “Inilah pendapatku tentang dia; maka lakukanlah apa yang kalian kehendaki.”

    Setiap manusia yang memusatkan perhatiannya pada Al-Qur’an, ia tentu akan mendapatkan rahasia-rahasia kemu’jizatan aspek bahasanya tersebut. Ia dapatkan kemu’jizatan itu dalam keteraturan bunyinya yang indah melalui nada huruf-hurufnya ketika ia mendengar harakat dan sukun-nya, madd dan gunnah-nya, fasilah dan maqta’-nya, sehingga telinga tidak pernah merasa bosan, bahkan ingin senantiasa terus mendengarnya.

    Kemu’jizatan itu pun dapat ia temukan dalam lafaz-lafaznya yang memenuhi hak setiap makna pada tempatnya. Tidak satu pun di antara lafaz-lafaz itu yang dikatakan sebagai kelebihan. Juga tak ada seseorang peneliti terhadap suatu tempat (dalam Al-Qur’an) menyatakan bahwa pada tempat itu perlu ditambahkan sesuatu lafaz karena ada kekurangan.

    Kemu’jizatan didapatkan pula dalam macam-macam khitab dimana berbagai golongan manusia yang berbeda tingkat intelektualitasnya dapat memahami khitab itu sesuai dengan tingkatan akalnya, sehingga masing-masing dari mereka memandangnya cocok dengan tingkatan akalnya dan sesuai dengan keperluannya, baik mereka orang awam maupun kalangan ahli.

    Baca juga :  Ajaran Rasulullah Ketika Seseorang Terlilit Hutang

    وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ (القمر: 17/22/32/40)

    “Dan sesungguhnya Kami telah mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar [54]: 17/ 22/ 32/ 40).

    Demikian pula, kemu’jizatan akan ditemukan dalam sifatnya yang dapat memuaskan akal dan menyenangkan perasaan. Al-Qur’an dapat memenuhi kebutuhan jiwa manusia, pemikiran maupun perasaan, secara sama dan berimbang. Kekuatan fikir tidak akan menindas kekuatan rasa dan kekuatan rasa pun tidak akan menindas kekuatan fikir. Firman Allah SwT:

    اَللهُ نَزَّلَ اَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتَابًا مُّتَشبِهًا مَّثَانِىَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُوْدُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ إِلى ذِكْرِ اللهِ… (الزمر: 23)

    “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah…” (QS. Az-Zumar [39]: 23).

    …وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا (النساء: 82)

    “…Dan sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisā [4]: 82).

    PENUTUP

    Demikianlah, bila setiap perhatian difokuskan maka akan tegaklah dihadapannya hujjah-hujjah Al-Qur’an dalam sikap menantang dan memperlihatkan kemu’jizatan.

    Pada akhirnya, semoga wawasan keilmuan kita semakin bertambah dan kita dapat mengamalkannya. Ᾱmīn.

    DAFTAR PUSTAKA

    Abdullah, Muhammad Mahmud. Al-Thibb fi Al-Qur’an wa Al-Sunnah. Libanon: Dar al-Kutub, 1990.

    Al-Jauziyyah, Ibnu Qoyyim, Al-Thibb An-Nabawi. Dar al-Fikr al-Arobi, tth.

    Anwar, Rosihon. ‘Ulum Al-Qur’an. Bandung: Pustaka Setia, 2000.

    Ash-Shabuni, Muhammad Ali, Prof. Dr., At-Tibyan fi ‘Ulumil Qur’an. Damascus: Maktabah Al-Ghazali, 1991, Edisi Indonesia, Bandung: Pustaka Setia, 1999, Cet. ke-1.

    Ash-Shalih, Subhi, Dr. Mabahits fi ‘Ulumil Qur’an. Beirut Libanon: Darul Ilm Lilmalayin, 1985, Cet. ke- 16.

    Asy-Sya’rawi, Mutawalli, Mu’jizat Al-Qur’an, (terj), Bungkul Indah.

    Al-Qattan, Manna Khalil, Mabahits fi ‘ulumil Qur’an, Mansyurat al-Asr al-Hadits, 1973. Cet. ke-3. Edisi Indonesia: Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, Litera AntarNusa, 1992, Cet. ke-1.

    Basya, Abdurrahman Ra’fat, Dr., Su-arun min Hayatish-Shahabah, Beirut-Libanon: Muassasah Ar-Risalah dan Darun Nafa’is, Kisah Sahabat Nabi,(terj.), Hasan Edrus. Bandung: Mizan, 1991.

    Bik, Hudhari, Tarikh al-Tasyri’ al-Islami, Sejarah Pembinaan Hukum Islam, (terj.) Semarang: Darul Ihya, 1980.

    Hisyam, Ibnu, Sirah Ibnu Hisyam.

    Jalal, Abdul, Prof. Dr. H. ‘Ulumul Qur’an. Surabaya: Dunia Ilmu, 1989, Cet. ke- 1.

    Khollaf, AB. Wahhab. Khulashah Tasyri’ Islam. Solo: Ramadhani, 1995, Cet. ke- 9.

    Shihab, M. Quraish. Mu’jizat Al-Qur’an. Bandung: Mizan, 1997.

    Allahu A’lam

    Baabul Jannah
    Ahad, 20 Mei 2018

    Maddais

    168 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial