Friday , 12 July 2019

Terkatung-katung, Nasib Rohingya Menggantung

  • 21 June, 2019  11:46:37 

  • Keterangan foto: Penindasan dan penggusuran yang diterima etnis Rohingya membuat mereka disebut “Palestina di Asia Tenggara”.

    COX’S BAZAR – “Palestina di Asia Tenggara”, ungkapan itu pernah ditulis tahun 1992 oleh salah satu media ternama Indonesia, Tempo. Ketidakjelasan nasib etnis keturunan Bengali itu memang telah menjadi perhatian dunia sejak lama. Pasalnya, orang-orang Rohingya tidak diakui sebagai warga negara oleh pemerintah Myanmar. Mereka pun kerap mendapat perlakuan buruk, seperti ancaman penghapusan ras, sebagaimana diberitakan berbagai media massa. Bahkan, ketika masih berada di Myanmar, orang-orang Rohingya tidak mendapat hak-hak warga negara seperti etnis-etnis lain di Myanmar.

    “Kami orang-orang Rohingya tinggal di kamp pengungsian. Sungguh, sangat sulit hidup sebagai manusia dan situasi ini tidak lagi tertahankan bagi kami. Di Myanmar, begitu banyak etnis yang hidup selayaknya manusia, mengapa Rohingya tidak dapat hidup di sana?” ungkap salah seorang pengungsi kepada TRT World, sebagaimana dirilis Kamis (20/6).

    Kini, jumlah pengungsi Rohingnya hampir menyentuh satu juta jiwa. Lebih dari 200 ribu rumah tangga atau setara lebih dari 901 ribu jiwa Rohingya terdaftar menjadi pengungsi. Data itu dimutakhirkan PBB dan pemerintah Bangladesh pada medio Juni 2019. Jumlah tersebut kian bertambah jika dibandingkan jumlah orang Rohingya yang bereksodus dari Rakhine ke Bangladesh dua tahun lalu.

    Baca juga :  PLO Kecam Israel Penjarakan Penyair Palestina

    Mia Kadera, pria paruh baya itu adalah salah satu bagian dari ratusan ribu pengungsi yang ada. Ia beserta delapan anaknya pergi mencari tempat yang lebih aman ke Bangladesh. “Saya sungguh tidak ingin datang ke sini (Kamp pengungsian Kutupalong). Saya meninggalkan rumah, dan lima bulan pertama tinggal di rumah kerabat,” aku Mia kepada TRT World, Juni ini.

    Selama ini, Mia dan anak-anaknya tinggal di bilik bambu beratap jerami. “Namun kekerasan dan kekejaman berlanjut yang mana membuat kami sampai ke sini satu setengah tahun lalu. Kami berkorban banyak,” jelasnya, sambil merapikan salah satu bilik rumahnya. Pada masa pelarian itu, ia pun berpisah dengan istrinya, menurut Mia, besar kemungkinan istrinya dibunuh militer Myanmar.

    Baca juga :  Jemaah Haji Mulai Pulang Ke Tanah Air

    Belum ada masa depan cerah, bagi Rohingya. Untuk mencari tempat aman, mereka pun rela menembus pegunungan Buthidaung dan menyusuri Sungai Naf, menuju sebuah wilayah di bagian paling selatan negara Bangladesh: Cox’s Bazar, tempat yang mereka anggap lebih aman dari Arakan.[] Penulis: Gina Mardani Cahyaningtyas

    64 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial