Wednesday , 23 October 2019

Kurban dari Indonesia Sampai ke Desa Prasejahtera di Etiopia

  • 28 June, 2019  22:51:32 

  • Mengenal lebih jauh warga Desa Teche, Etiopia, rupanya ada banyak warga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Seperti yang diungkapkan Tenker Dendir (63) dan Miskia Temam (23).

    ETIOPIA – Tak begitu jauh dari Addis Ababa, ibu kota Etiopia, berdiri sebuah desa bernama Desa Teche. Meski jaraknya hanya 12 kilometer dari ibu kota, Desa Teche dikenal sebagai wilayah kumuh. Fasilitas publik Desa Teche jauh terbelakang dibanding Addis Ababa. Layanan publik seperti, akses jalan, kesehatan, pendidikan, bahkan air bersih sulit dijangkau bagi warga Desa Teche.

    Mitra Global Qurban di Etiopia, Abdurouf Abdurahman Hussen, mengungkapkan Desa Teche juga menjadi rumah bagi warga prasejahtera yang tidak mampu menjalani dan bertahan hidup di tengah kota. Kebanyakan dari mereka pindah ke Desa Teche dengan tujuan untuk memperoleh peruntungan sembari bekerja sebagai buruh harian.

    “Pendapatan masyarakat yang rendah, membuat banyak orang tidak bisa menyediakan makanan pokok untuk seluruh anggota keluarganya. Malnutrisi pun umum terjadi di Desa Teche, menyerang kesehatan anak-anak maupun orang dewasa,” kata Abdurouf.

    Baca juga :  Pelatihan Pengembangan Kompetensi Guru yang Berkesan

    Lewat Abdurouf, cerita tentang kehidupan warga Desa Teche pun terdengar oleh masyarakat Indonesia, yakni pada Iduladha tahun lalu. Mengenal lebih jauh, ternyata ada banyak warga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Harga makanan melambung tinggi, termasuk daging sapi saat musim kurban, sebagaimana disampaikan oleh Tenker Dendir (63) asal Distrik Burayu, Desa Teche, Etiopia.

    “Saya dan istri bahkan memikirkan kapan dan di mana bisa menemukan daging kurban untuk perayaan Iduladha kami. Harga daging kurban meningkat setiap tahun. Tahun ini (2018) untuk satu kilogram daging lebih mahal dari tahun lalu (2017),” terang Tenker.

    Adapun Miskia Temam (23), perempuan Etiopia yang bekerja sebagai buruh harian di Desa Teche juga mengungkapkan kisah serupa. “Sejak orang tua meninggal dunia, saya harus bekerja sebagai buruh harian untuk membiayai kehidupan dua saudara perempuan dan satu saudara laki-laki. Terkadang teringat bagaimana orang tua kami membeli pakaian dan ternak demi merayakan Iduladha bersama kami,” cerita Miskia.

    Baca juga :  Majelis Umum PBB Adopsi Deklarasi Hak Asasi Petani

    Pada Iduladha 2018 lalu, distribusi daging kurban Global Qurban menjangkau ratusan warga Etiopia di Distrik Buraya, Desa Teche. Tenker maupun Miskia pun mengaku bersyukur karena kembali bisa menyantap olahan daging kurban pada Hari Raya Iduladha.

    “Di tengah dilema yang kami alami, kami sangat senang mendapat kesempatan untuk memakan daging di hari Iduladha. Terima kasih Indonesia,” tutur Tenker mewakili.

    Insyaallah, pada Iduladha mendatang, Global Qurban juga akan kembali menyambangi warga Etiopia. Tujuannya satu: memberi kesempatan istimewa kepada lebih banyak warga Etiopia menyantap olahan daging kurban yang lezat nan bergizi. [] Penulis: Nimas Afridha Aprilianti

    70 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial