Sunday , 22 September 2019

SEDEKAH DAN PENGARUHNYA

  • 06 July, 2019  14:10:09 

  • Rasulullah saw pernah bercerita, ada seorang lelaki berkata, “malam ini sungguh aku akan bersedekah.”

    Dengan niatnya itu, ia ke luar rumah membawa sedekahnya, lalu diberikan kepada seorang pencuri. Paginya, orang-orang geger, si anu, semalam telah bersedekah kepada pencuri. Namun, orang itu tetap memuji Allah, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu atas pencuri.”

    Malam berikutnya, laki-laki itu berkata pula, “Aku hendak bersedekah lagi.” Dia ke luar, lalu diberikan sedekahnya kepada seorang pelacur. Paginya, demikian pula orang-orang berkata, semalam si anu telah bersedekah kepada pelacur. Dan sekali lagi, orang itu memuji Allah, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu atas pencuri dan pelacur.”

    Malam berikutnya, laki-laki itu berkata lagi, “Aku hendak bersedekah lagi.” Dia ke luar, dan kali ini sedekahnya diberikan kepada orang kaya. Dan sama seperti kemarin, orang-orang berkata, tadi malam si anu telah bersedekah kepada orang kaya. Tapi, untuk kesekian kalinya, laki-laki itu tetap memuji Allah, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu atas pencuri, pelacur, dan orang kaya.”

    Baca juga :  Menggebyarkan Produk Halal dari Masjid ke Masjid

    Kata Nabi, besok ketika orang itu datang di hadapan Tuhan, maka akan dikatakan padanya, “Sesungguhnya sedekahmu diterima.”

    Selanjutnya, Nabi saw, menerangkan, bahwa sedekah yang diberikan kepada pencuri, ada kemungkinan berpengaruh padanya, hingga ia berhenti dari perbuatannya yang tidak terpuji itu. Sedang pelacur, mudah-mudahan dengan sedekah itu ia berhenti berzina. Ada pun orang kaya, maka diharapkan ia dapat mengambil pelajaran, sehingga mau menafkahkan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya.

    Di saat lain, Rasulullah saw pernah bercerita pula tentang pengaruh sedekah. Seorang lelaki berada di suatu padang tandus, ketika tiba-tiba ia mendengar suara di langit dari sepotong awan, “Siramlah kebun si Fulan.”

    Baca juga :  Gerhana dalam Pemahaman Ilmuwan Islam

    Awan itu menurut, ia mengucurkan airnya pada tanah bebatuan hitam yang keras, dan tak lama kemudian tampaklah sebuah aliran air di tanah datar yang banjir dengan air hujan tersebut. Oleh laki-laki tadi, aliran itu diikuti terus, sampai suatu saat ia bertemu dengan seseorang yang sedang bekerja di kebun, mengarahkan air ke dalam kebunnya dengan cangkul. Maka laki-laki itu menegur si pekerja, “Hai hamba Allah, siapakah nama Anda?”

    “Saya Fulan,” jawab pekerja itu menyebut namanya, yakni nama yang persis seperti yang didengar dari balik awan tadi. “Kenapa Anda menanyakan nama Saya?”

    Pendatang itu menanyakan, “Saya tadi mendengar suara dari balik awan yang telah mengucurkan air ini. Kata suara itu, ‘Siramlah kebun si Fulan,’ yakni nama Anda sendiri. Gerangan apakah kiranya yang Anda perbuat dalam kebun ini?”

    Baca juga :  Siswa Perguruan Ma Pusat Galang Dana Untuk Rohingnya

    Jawab tukang kebun, “Kalau itu yang Anda tanyakan, maka sesungguhnya Saya ini senantiasa menunggu hasil perkebunan ini. Bila telah ke luar hasilnya, maka yang sepertiga Saya sedekahkan, sepertiga Saya makan bersama keluarga Saya, dan sepertiganya lagi Saya tanam lagi di kebun ini.”

    Allahu A’lam
    Semoga bermanfaat!

    Sumber tulisan:
    Abdur Razaq Naufal, Laqad Kana Lakum fikum Uswatun Hasanah/ Kisah-kisah Teladan Sepanjang Sejarah Islam (Bandung: Husaini, 1987), 29-30.

    Baabul Jannah Tangerang
    Sabtu, 6 Juli 2019 M/
    3 Dzulqa’dah 1440 H.

    Maddais

    116 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial