Wednesday , 23 October 2019

AGAMA DAN AKHLAK

  • 13 August, 2019  00:04:59 

  • Ilustrasi

    Oleh: Maddais

    Surat Al-Mâ‘ûn memperingatkan kita bahwa beragama dengan tulus tidaklah cukup hanya dengan mengerjakan segi-segi formal keagamaan seperti salat, puasa, haji, dan lain-lain. Keagamaan yang sejati menuntut adanya wujud nyata konsekuensi ibadah, yaitu budi pekerti yang luhur, yang dibidikkan oleh ibadah itu.

    Sebuah hadis yang amat terkenal mengisyaratkan bahwa tujuan tugas suci atau risâlah dibangkitkannya Nabi saw adalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi. Sejalan dengan ini Nabi juga menggambarkan bahwa di antara semua kualitas manusia, tidak ada timbangan atau bobot nilai kebaikan yang lebih berat daripada budi pekerti luhur. Lalu beliau menggambarkan bahwa yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga ialah takwa kepada Allah dan keluhuran budi.

    Penegasan-penegasan Nabi itu merupakan kelanjutan dari ajaran Al-Quran tentang apa yang dinamakan nilai kebajikan (al-birr atau amal salih). Allah SwT menegaskan, Kamu sekalian tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu mendermakan sebagian dari (harta) yang kamu cintai (QS. 3: 92). Dan penegasan-Nya lagi yang lebih terinci, Bukanlah kebajikan itu bahwa kamu menghadapkan mukamu ke timur dan ke barat. Tetapi kebajikan ialah (jika) orang yang beriman kepada Allah, Hari kemudian, para malaikat, kitab-kitab suci dan para nabi; dan orang yang mendermakan hartanya, betapapun cinta orang itu kepada harta tersebut. Untuk kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang terlantar di perjalanan, peminta-minta, dan untuk membebaskan para budak; dan orang yang menepati janji jika membuat janji, serta mereka yang tabah dalam kesulitan, kesusahan dan masa perang. Mereka itulah orang-orang benar (tulus), dan mereka itulah orang-orang yang berbakti (bertakwa) (QS. 2: 177).

    Baca juga :  KEINDAHAN SUARA RASULULLAH SAW

    Dalam kaitan itu menarik sekali memperhatikan komentar A. Yusuf Ali atas firman yang amat penting ini. Dikatakannya: “Seakan untuk menekankan lagi peringatan melawan formalisme yang mematikan, kita diberi gambaran yang indah tentang orang yang salih dan takut kepada Tuhan. Orang itu harus menaati aturan-aturan yang membawa kebaikan, tapi ia harus memusatkan pandangannya kepada cinta Tuhan dan cinta sesama manusia. Kita diberi empat pokok: (1) iman kita harus sejati dan tulus; (2) kita harus memperlihatkannya dalam tindakan-tindakan kebaikan kepada sesama kita; (3) kita harus menjadi warga masyarakat yang baik, yang mendukung organisasi-organisasi sosial; dan (4) jiwa pribadi kita sendiri harus teguh dan tidak goyah dalam segala keadaan.

    Keempat pokok itu saling berkaitan, tapi masih dapat dipandang secara terpisah.

    Iman bukanlah semata-mata perkara ucapan. Kita harus menyadari kehadiran Tuhan dan kebaikan-Nya. Jika kita menyadari itu, maka hal-hal besar menjadi kecil di depan mata kita, segala kepalsuan dan sifat sementara dunia ini akan tidak lagi memperbudak kita, sebab kita melihat Hari Kemudian seolah-olah terjadi sekarang ini. Kita juga melihat karya Ilahi dalam alam ciptaan-Nya, dan ajaran-ajaran-Nya yang tidak lagi berada jauh dari kita, melainkan datang dalam pengalaman kita sendiri. Tindakan-tindakan derma yang praktis mempunyai nilai hanya jika keluar dari rasa cinta dan tidak dari motif-motif yang lain. Dalam hal ini, juga, kewajiban kita dapat berbentuk berbagai macam, berujud jenjang yang wajar; sanak keluarga kita, anak-anak yatim (termasuk siapa saja yang tidak punya topangan hidup atau bantuan); orang yang benar-benar memerlukan pertolongan tapi tidak pernah meminta (kewajiban kita menemukan mereka itu, dan mereka didahulukan sebelum orang yang meminta, dan memang berhak untuk meminta, yakni, bukan sekedar pengemis yang malas, tetapi orang yang memerlukan bantuan dalam bentuk tertentu (kewajiban kita untuk tanggap kepada mereka); dan budak-budak (kita harus melakukan apa saja yang dapat dilakukan untuk memberi atau membeli kemerdekaan mereka). Perbudakan mengandung berbagai bentuk yang tersembunyi dan berbahaya, dan semuanya tercakup di situ”.

    Baca juga :  SEDEKAH DAN PENGARUHNYA

    Dalam menafsirkan firman itu, Muhammad Asad menegaskan bahwa Al-Quran menekankan prinsip yang semata-mata mengikuti bentuk-bentuk lahiriah tidaklah memenuhi persyaratan kebajikan.

    Disebutkan bahwa masalah menghadapkan wajah ke arah ini atau itu dalam salat adalah kelanjutan dari pembahasan tentang kiblat dalam urutan ayat-ayat sebelumnya. Dan memang menghadapkan muka ke arah tertentu dalam ibadah hanyalah bentuk formal lahiriah semata dari sebuah amalan, sehingga tidak seharusnya dipandang dalam kerangka sebagai tujuan dalam dirinya sendiri, sementara tujuan yang sebenarnya terlupakan.

    Jadi, agama kita mengajarkan bahwa formalitas ritual belaka tidaklah cukup sebagai wujud keagamaan yang benar. Karena itu juga tidak pula segi-segi lahiriah itu akan menghantarkan kita menuju kebahagiaan, sebelum kita mengisinya dengan hal-hal yang lebih esensial. Justru sikap-sikap membatasi diri hanya kepada hal-hal ritualistik dan formal akan sama dengan peniadaan tujuan agama yang hakiki. Prinsip ini dipertegas oleh Nabi saw dalam sebuah hadis mengenai dua wanita:

    Baca juga :  Pedoman Dakwah Komisi Dakwah MUI Se-Indonesia

    Abu Hurairah meriwayatkan prinsip penting yang diajarkan Nabi ini, yang memberi peringatan keras kepada orang yang suka pamer kebajikan palsu dan kemunafikan dalam menekuni segi-segi formal keagamaan. Seseorang yang datang kepada Nabi dan menceritakan tentang seorang wanita yang rajin mengerjakan salat, puasa dan zakat, tetapi lidahnya selalu menyakiti sanak keluarganya. Maka Nabi saw bersabda, “Tempat dia di neraka!”. Kemudian orang itu menceritakan tentang seorang wanita yang kedengarannya jelek, karena ia melalaikan salat dan puasa, namun ia rajin memberi pertolongan kepada orang-orang sengsara, dan tidak pernah menyakiti hati sanak keluarganya. Maka Rasul saw bersabda, “Tempat dia di surga!”.

    Seorang tokoh Islam Indonesia, Prof. A. Mukti Ali, pernah mengatakan bahwa orang-orang Muslim banyak yang lebih peka kepada masalah-masalah keagamaan daripada masalah-masalah sosial. Yang dimaksud ialah, banyak orang Islam yang lebih cepat bereaksi kepada gejala-gejala yang dinilai menyimpang dari ketentuan lahiriah keagamaan, seperti soal pakaian atau tingkah laku “tidak sopan” dan “tidak bermoral” tertentu, namun reaksi kepada masalah-masalah kepincangan sosial seperti kemiskinan dan kezaliman masih lemah. Maka hadis di atas dapat dirujuk sebagai sebuah ilustrasi tentang apa yang dikatakan Prof. Mukti Ali itu, dan di situ nampak bahwa Nabi saw justru lebih peka pada masalah-masalah sosial yang lebih substantif daripada masalah-masalah formal keagamaan semata yang simbolik …

    Repost
    TAQURMA, 12-8-2019

    #mds

    143 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial