Sunday , 22 September 2019

Teguh Memberi Penerang Bagi Umat

  • 29 August, 2019  16:46:17 

  • Oleh: Dr. Akhsan Sukroni, M.Si.
    (Dekan FKIP Universitas Mathla’ul Anwar Banten)

    Dalam dongeng dan cerita rakyat, kegelapan selalu identik dengan kejahatan. Para pesihir dan dukun selalu beraksi di saat hari gelap gulita. Kegelapan secara maknawi senantiasa dikaitkan dengan hal-hal yang tidak menunjukkan baik atau kebaikan. Maka cahaya adalah satu titik yang selalu ditunggu ketika kegelapan segera harus dienyahkan dengan segala marabahayanya.

    Cahaya adalah energi berbentuk gelombang elektromagnetik yang ditangkap oleh indera mata. cahaya adalah sesuatu yang menyinari suatu objek, sehingga objek tersebut menjadi jelas dan terang. Cahaya dalam bahasa Arab dipadankan dengan kata Nur.

    Menurut pakar tata bahasa Arab Ibrahim Anis dalam al-Mujam al-Wasth, nur adalah cahaya yang menyebabkan mata dapat melihat. Sementara itu, Muhammad Mahmud Hijazi, seorang ahli tasawuf mengatakan, nur adalah cahaya yang tertangkap oleh indera dan dengannya mata dapat melihat sesuatu.

    Tangkapan sensori mata tidak bisa mengobjeki materi tanpa adanya cahaya. Maka, ketika cahaya tiada, seolah mata kehilangan peran dan fungsinya sama sekali. Mata tanpa cahaya tak beda ketika ia buta. Dari itu, bila aktifitas sensorik mata sangat menopang aktifitas keseharian, maka kebutuhan kehidupan manusia sangat bergantung pada cahaya. Manusia sebagai makhluk yang berdimensi dua—jasad dan jiwa—kebutuhannya pun serupa. Ketika mata fisik berganting pada cahaya yang kasat, jiwa yang tak kasat menghajatkan cahaya yang tak terindera. Cahaya yang hanya bisa ditangkap oleh jiwa yang haus karena telah peka bahwa gelap itu gulita.

    Empat belas abad silam, cahaya itu turun ke bumi tepatnya di jazirah Arab. Ditepatkan Allah manakala di dataran itu tengah kelam-kelamnya. Kemurnian ajaran Tauhidi Ibrahim yang dikacaukan oleh praktek paganisme menjadi pemantik kejahiliyahan aspek peradaban lainnya. Kejahiliahan dalam aspek sosial, ekonomi, budaya dan politik bermuara pada satu, keterpurukan moral. Ringkas padat datanya terekam oleh sejarah, jelas dan indah saat momen hijrah ke Habasyah dalam paparan Ja’far bin Abi Thalib di hadapan raja Najasyi seolah testimoni seorang jiwa tentang indahnya cahaya Islam menyibakkan kejahiliahan mereka:

    Baca juga :  Ketua DPRD Pandeglang: Saya Bangga Menjadi Bagian dari MA

    “Wahai baginda Raja, dahulu kami memeluk agama jahiliyah. Kami menyembah berhala-berhala, memakan bangkai, berbuat mesum. Memutus tali persaudaraan, menyakiti tetangga, dan yang kuat diantara kami memakan yang lemah. Begitulah gambaran kami dahulu, hingga Allah mengutus seorang rasul dari kalangan kami sendiri, yang kami ketahui nasab, kejujuran, amanah dan kesucian dirinya. Beliau menyeru kami kepada Allah untuk mengesakan dan menyembah-Nya serta agar kami tidak menyembah batu dan berhala yang dulu disembuh oleh nenek moyang kami. Beliau memerintahkan kami agar jujur dalam berbicara, melaksanakan amanat, menyambung tali rahim, berbuat baik kepada tetangga dan menghindari pertumpahan darah. Beliau melarang kami melakukan perbuatan keji, berbicara dusta, memakan harta anak yatim serta menuduh wanita suci melakukan zina tanpa bukti. Beliau memerintahkan kami agar menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, memerintahkan kepada kami agar melakukan shalat, membayar zakat, berpuasa dan selanjutnya.. lalu kami membenarkan hal itu semua dan beriman kepadanya. Kami ikuti ajaran yang dibawanya dari Allah;kami sembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, apa yang diharamkan a tas kami, kami pun mengharamkannya dan apa yang dihalalkannya bagi kami, kami pun menghalalkannya…”

    Dari penggalan testimoni Ja’far bin Abi Thalib yang bernas di atas, kita dapat bersimpul bahwa terangnya cahaya Islam dan gelapnya zaman Jahiliyah itu situs mulanya muncul dalam aspek spiritual yang kemudian meradiasi pada aspek moral yang mengemuka pada tataran ekonomi, sosial dan politik.

    Dengan itu kini kita bisa menakar, dalam era zaman manapun sebaik apapun sebuah peradaban bangsa dipandang tetaplah buruk apabila spiritual moral memburuk. Paparan sejarah mengindikasikan bahwa proses pemeliharaan sebuah peradaban betapa pun luasnya, seyogyanya berpangkal terlebih dahulu dalam dua aspek ini, yakni spiritual dan moral. Maka baru setelah itu aspek -aspek lain akan turut membuntutinya.

    Baca juga :  Rakernas di Menes, MA Gelorakan 'New Energy of Mathlaul Anwar'

    Sejarah lagi-lagi menjadi saksi setelah Islam membebaskan Arab dari jahiliyah, ia kemudian membuatnya merajai ilmu pengetahuan dan sains. Islam kemudia membuatnya mampu mengangkangi kekuasaan banyak benua hingga bertekuk lutut padanya. Namun Islam berhasil merengkuh semuanya dalam dekapan hangat oleh agungnya makarimal akhlaq sebagai visi utama dien ini.

    Dari sinilah Ormas Mathla’ul Anwar (MA) mengaca dan mengacu telah sampai dan menuju apa khittahnya kini dalam frame besar Islam sebagai cahaya zaman. Dalam upaya itu, maka Sembilan prinsip Mathla’ul Anwar dimulakan dengan berpegang teguh pada Alquran dan Assunah sebagai penggambaran dari dua kalimat persaksian, beriman kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Hal ini menjadi syarat dalam diri tiap Muslim untuk bersatuan dalam akidah (keyakinan). Dua prinsip terdepan inilah yang melandasi prinsip-prinsip MA selanjutnya.

    Sesungguhnya umat sebagai penghuni Islam tidak mampu tersublimasi eksistensinya tanpa kokoh kebersamaan dalam ibadah. Karena bukan lah umat kalau tak berjamaah. Dan bukan umat pula kalau bukan ibadah sebagai kata kerjanya. Maka prinsip berjamaah dalam ibadah menemukan urgensinya.

    Prinsip selanjutnya, yaitu toleran dalam khilafiyah dan prinsip bersikap tegas terhadap bid’ah merupakan dua prinsip MA yang menegaskan diri bahwa sebagai Ormas mesti memiliki kedewasaan dalam memenej perbedaan tak pokok, namun berani lugas melantangkan hal pokok yang lian dari yang dititahkan dien ini. Karena aspek fiqih merupakan memang hal yang vital nan riskan.

    Prinsip berorientasi kepada maslahatil ummah. Sebuah peran utama bagi sebuah ormas dalam kancah bangsa dengan segala dinamika pergulatan kekinian, adalah berorientasi utama pada kemaslahatan umat dalam banyak sisi.

    Prinsip piawai dalam siyasah dan prinsip bersama membangun masyarakat dengan pemerintah merupakan dua prinsip yang sesungguhnya sebuah keniscayaan bagi sebuah Ormas dalam menghidupi umat yang mana senantiasa berlokus dengan pra nata politik yang ada. Sinergitas dengan pemerintah sungguh diperlukan karena ulama dan umaro sejatinya adalah pengayom umat.

    Yang terakhir dan paripurna adalah prinsip berjuang di jalan Allah. Ini merupakan pamungkas ke semua prinsip MA yang seakan mewartakan bahwa semua visi dan misi yang dicanang harus menjadi langkah yang dilaku di atas track yang Allah guratkan dalam syariat-Nya, serta semata-mata ditujukan atas karena Lillah, bukan karena hal selain-Nya.

    Baca juga :  Fajri Ismail pimpin PWMA Sumsel

    Mathla’ul Anwar, ia hanya secercah di bumi nusantara dalam ikhtiar sedepa dua depa-nya yang tengah bergeliat memendarkan sinaran hangat nilai-nilai moral spiritual Islam yang menjadi sumber energi bagi insan. Tapi begitulah MA, memang secercah, kecil dipandang namun sarat manfaat. Berharap kemanfaatannya sebesar mentari bagi kehidupan penghuni bumi. Bak mentari yang ikhlas, sepak terjang MA tak menunggu balasan kata terima kasih, apalagi imbalan materi duniawi atas andil besarnya, akan tetapi menanti penghuni langit mencatat tiap poin amalannya.

    Eksistensi Mathla’ul Anwar saat ini adalah buah perjuangan yang ikhlas dan tak kenal lelah dari para founding father Mathla’ul Anwar yang pada saat itu merasa gelisah akan kondisi umat kususnya umat Islam di Banten, yang jauh dari kemajuan akibat penjajahan kolonial.

    Sebagai Organisasi Modern, Mathla’ul Anwar memiliki idealisme gerakan yang berasaskan Islam dengan tuntunan Ahlussunah wal jama’ah yang bersumber pada Alquran dan Assunnah. Maksud dan tujuannya ialah menegakkan dan menunjung tinggi ajaran Islam yang sesuai dengan tuntunan Ahlussunah wal jama’ah dengan berbagai amal usaha, program, dan kegiatan dalam bidang dakwah, sosial, pendidikan, ekonomi, politik, dan sebagainya.

    Melalui sembilan prinsip yang dipegang teguh, Mathla’ul Anwar sejak kelahiran hingga perkembangannya saat ini telah mengukuhkan diri sebagai organisasi Islam modern yang tetap istiqomah dan senantiasa konsisten dalam melaksanakan dakwah, teguh dalam memberi penerang bagi umat.

    Semoga rangkaian Rakernas yang diselenggarakan di Menes pada tanggal 30 Agustus s.d. 1 September 2019 mampu lebih meneguhkan kembali orientasi dan prinsip-prinsip mulia tersebut. Semoga.. amiin.. []

    60 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial