Sunday , 22 September 2019

KH TUBAGUS MUHAMMAD SHOLEH: ULAMA KHARISMATIS DARI KANANGA

  • 08 September, 2019  16:39:43 

  • Ada tiga tokoh yang berperan besar dalam mendirikan organisasi Islam besar Mathla’ul Anwar (MA) di Menes, Pandeglang, yaitu KH Entol Muhammad Yasin, KH Tubagus Muhammad Sholeh dan KH Mas Abdurrahman. MA kini tumbuh besar dengan jumlah cabang yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia.

    Dari ketiga tokoh pendiri MA tersebut, KH Tubagus Muhammad Sholeh adalah yang paling senior dan figur kharismatis (Rosidin, 2007: 27). Tubagus Sholeh lahir pada tahun 1853.

    Ayahnya, Tubagus Yusuf, merupakan seorang guru agama di Kananga. Dilihat dari gelar “tubagus” yang ada di namanya, ayah Tubagus Sholeh merupakan orang yang mempunyai kekerabatan dengan kesultanan Banten.

    Tubagus Sholeh mendapatkan pendidikan dasar agama dan bahasa Arab dari gemblengan ayahnya. Setelah itu, ia meneruskan pendidikannya dengan “mondok” di berbagai pesantren. Ia jalani masa “mondok”-nya selama kurang lebih 17 tahun dari tahun 1874 hingga 1891.

    Baca juga :  PCI Siap Gelar Kemah Bakti Nasional Mathla'ul Anwar

    Sepulangnya dari pesantren, Tubagus Sholeh menikah dengan seorang perempuan bernama Safrah. Dari pernikahannya ini, ia dikaruniai 8 orang anak, 7 laki-laki dan 1 perempuan.

    Pada pernikahannya yang kedua dengan Artafia dari Kampung Baru, Tubagus Sholeh memiliki 5 orang anak, 3 laki-laki dan 2 perempuan. Dari ketiga belas anaknya ini, Tubagus Ahmad Suhaemi menikahi adiknya KH Entol Muhammad Yasin, Siti Zainab. Sementara putrinya yang bernama Enong, dinikahi oleh KH Mas Abdurrahman.

    Dengan demikian, ketiga pendiri MA ini pada akhirnya diikat menjadi keluarga besar baik ikatan besan maupun menantu. Jaringan pernikahan seperti ini memang umum terjadi juga di kyai-kyai besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

    Pada tahun 1902, Tubagus Sholeh berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Di Mekkah ia tinggal selama kurang lebih 2 tahun. Sekembalinya dari Mekkah, ia mendirikan pondok pesantren.

    Baca juga :  Inilah Para Pembicara Hebat Indonesia di Pelatihan Kader Generasi Muda MA Tangsel

    Pada mulanya, santri yang mengaji kepadanya hanya sebanyak 25 orang. Namun jumlahnya semakin banyak ketika Mathla’ul Anwar didirikan.

    Ketika Pemberontakan Komunis pada tanggal 13 November 1926 yang melibatkan banyak kyai, Tubagus Sholeh tidak luput dari kecurigaan kolonial Belanda. Pada tanggal 17 November, ia ditangkap saat sedang shalat di masjid tempat tinggalnya (Williams, 1990: 241).

    Usianya yang sudah senja, saat itu usianya 73 tahun, ia terluka saat terjadinya penangkapan. Lukanya itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan. Ia ditahan selama kurang lebih 2 bulan.

    Ia baru dibebaskan setelah J.W. Meyer Ranneft, seorang anggota Komisi Penyelidikan, menemuinya di dalam penjara. Akan tetapi, beberapa hari setelah ia diizinkan pulang ke rumah, Tubagus Sholeh meninggal dunia.

    Baca juga :  Ketua Umum PBMA: MA Salah Satu Pelopor Madrasah Modern

     

    Oleh: Maftuh Ajmain

    58 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial