Wednesday , 23 October 2019

10 Amal yang Tidak Terputus Pahalanya

  • 21 September, 2019  18:49:25 

  •  

    Oleh: Maddais

    Bersumber dari Kitab Manẓūmāt Karya K.H. Mas Abdurrahman

    Berikut ini adalah Bab Keempat dari Kitab Manẓūmāt Karya K.H. Mas Abdurrahman, yang menjelaskan tentang “10 Amal Yang Tidak Terputus Pahalanya”.

    Kitab Manẓūmāt ditulis oleh K.H. Mas Abdurrahman pada tahun 1926 M/ 1345 H. dengan 3 bahasa (Arab, Indonesia, Sunda).

    K.H. Mas Abdurrahman (pendiri Mathla’ul Anwar, 1916) adalah teman belajar K.H. Hasyim ‘Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama, 1926) ketika study di  adalah Haramain. Keduanya adalah murid dari Syekh Nawawi Al-Bantani (Ulama Besar Islam yang berasal dari Banten, termasyhur sebagai Bapak Kitab Kuning Indonesia).

    الباب الرابع

    هذه منظومات من يجري عليه عمله الخير بعد وفاته

    إِذَا ابْنُ آدَمَ مَاتَ لَيـْـْسَ يَجْـــرِي عَلَيـْــــه مِنْ خِصَـــالِ غَيْــرِ عَشْـــرِ

    وَهِيَ عُلُــــوْمٌ بـَثَّـــهَا وَهَكَذَا دُعَاءُ نَجْـــلٍ صَــالـِحٍ لـِـيُـــنْقِــذَا

    وَغَــرْسُ نَخْـــلٍ صَدَقَاتٌ تَجْــــرِي تـَـوْرِيْثُ مِصْحَــــفٍ رِبَاطْ ثُــغْــــرِ

    إِجْـــرَاءُ نَــهْرٍ حَضْــرُ بِـــئْرٍ نَافِعِــــيْنْ لـِلنَّــــاسِ فَافْعـَـلَنْ تــَـنَلْ قُرَّةَ عَيْنِ

    بِنَاءُ بَيْتٍ لـِلْـغَــرِيـْبِ يـَأْوِي بـِنـَـا مَحـَــلِّ الذِّكْرِ وَالْفَـتَاوِي

    وَعَاشِرٌ تـَعْلِـيـْــمُ قُـرْآنٍ كَرِيـْــم خُذْهَا مِنْ أَحَادِيْثِ ذِي خُلُقٍ عَظِيمْ

    هَذَا تَمَامُ غَـرْضِي مِنْ نَـظْمِـــهِ وَالْحَـمْــدُ للهِ عَلَى تَمَـــامِهِ

    ثُمَّ صَلاَةُ اللهِ مَعَ سَــــلاَمِهِ عَلَى النَّبِـي وَآلــِـهِ وَصَحْبـِــهِ

    وَمَنْ تَبـِـــعَ لَـهُــم أَبَادَ الْآبِدِيْنَ يَا رَبِّ أَحْسِـنْ خَتَـــمْنَا وَالْمُسْــلِمِيْنَ

    الخاتمة

    تمت كتابة هذه المنظومات بعون الله المعين

    وذلك في 12 جمادي الأولى سنة 1345هـ

    والله أعلم بالصواب

    BAB KEEMPAT

    Inilah syi’iran menerangkan orang yang amalnya yang baik sesudah matinya

    Kala mati seorang putus amalnya; selain sepuluh tak putus pahalanya

    Ialah (1). ilmu-ilmu yang disiarkannya; (2). doa anak ṣalih dengan selamatnya

    Dan (3). tanaman kurma sedekah jariahnya; (4). mewariskan muṣḥaf (5) jaga benteng negrinya

    (6). Menjalankan kali, (7). gali sumur hanya; untuk manusia umum manfaatnya

    (8). Bikin rumah tempat yang asing tinggalnya; dan (9).tempat beribadah Masjid lainnya

    Kesepuluh (10). ngajar Qur’an dengan hak (benar)nya; Ini dari ḥadīth yang sahih ambilnya.

    Ini khotamnya yang ku kehendakinya; puji bagi Allah atas sempurnanya

    Lagi rahmat Allah serta sejahteranya; atas Nabi dan keluarganya dan sahabatnya

    Dan yang ikut akan dia selamanya; ya Tuhan baiki khātimah kami punya.

    Kesepuluh amalan di atas menjadi amal yang pahalanya terus mengalir tiada putus, karena orang yang masih hidup akan terus mengambil manfaat dari ke-10 hal tersebut. Manfaat yang dirasakan orang yang masih hidup inilah yang menyebabkannya terus mendapatkan pahala walau ia sudah meninggal dunia.

    Dari pemaparan di atas, sudah seharusnya kita berusaha mengamalkan 10 hal tersebut atau paling tidak mengamalkan salah satunya, agar kita mendapatkan tambahan pahala di akhirat kelak, sehingga timbangan amal kebaikan kita lebih berat dari pada timbangan amal buruk.

    Allah SwT berfirman:

    Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barang siapa berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. ( QS. al-A’rāf [7]: 8 )

    Allahu A’lam

    10 AMAL YANG TIDAK TERPUTUS PAHALANYA

    Penjelasan dari Kitab Manẓūmāt Karya K.H. Mas Abdurrahman

    Para penghuni kubur tergadai di kuburan mereka, terputus dari amalan saleh, dan menunggu hari hisab yang tidak diketahui hasilnya. Mereka berada dalam kesepian, hanya ditemani amalnya ketika di dunia.

    Dalam suasana demikian, ada beberapa orang yang kebaikannya terus mengalir. Jasad mereka bersemayam dengan tenang di alam kubur, namun balasan pahala mereka tidak berhenti. Pahala mereka terus berdatangan, padahal mereka terdiam dalam kuburnya, menunggu datangnya kiamat. Sungguh masa pensiun yang sangat indah, yang tidak bisa terbeli dengan dunia seisinya.

    ḤADĪTH PERTAMA:

    Rasulullah saw telah menyebutkan ada tujuh amalan yang pahalanya tetap mengalir ke kubur seseorang tatkala ia telah meninggal. Sebuah ḥadīth yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam Musnad-nya dengan sanad hasan, dari Anas bin Mālik ra, Rasulullah saw bersabda,

    سَبْعٌ يَجْرِيْ لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ وَهُوَ فِي قَبْرِهِ : مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا ، أَوْ أَجْرَى نَهْرًا ، أَوْ حَفَرَ بِئْرًا ، أَوَ غَرَسَ نَخْلًا ، أَوْ بَنَى مَسْجِدًا ، أَوْ وَرَثَ مُصْحَفًا ، أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ

    “Ada tujuh amalan yang pahalanya tetap mengalir untuk seorang hamba setelah dia meninggal, padahal dia berada di dalam kuburnya: (1) orang yang mengajarkan ilmu agama, (2) orang yang mengalirkan sungai (yang mati) (3) orang yang membuat sumur, (4) orang yang menanam kurma, (5) orang yang membangun masjid, (6) orang yang memberi mushaf Al-Quran, dan (7) orang yang meninggalkan seorang anak yang senantiasa memohonkan ampun untuknya setelah dia wafat.” (HR. al-Bazzar dalam Musnadnya 7289, al-Baihaqi dalam Syuabul Iman 3449, dan yang lainnya. Al-Albani menilai ḥadīth ini hasan).

    Baca juga :  Pandu Cahaya islam Kunjungi Perguruan Mathla’ul Anwar Pasir Durung

    Sudah saatnya kita bersemangat menanam investasi pahala selama masih di dunia. Karena masa hidup di dunia adalah kesempatan yang Allah jadikan tempat beramal. Untuk masa yang lebih abadi di setelah wafat.

    Kita akan melihat lebih dekat 7 Amal yang dijanjikan Nabi saw, sbb:

    Pertama, mengajarkan ilmu pengetahuan

    Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu yang bermanfaat, yang mengantarkan seseorang mengenal agama dan Rabbnya. Ilmu yang menjadi petunjuk seseorang ke jalan yang lurus. Ilmu yang mengenalkan jalan hidayah dan jalan kesesatan. Ilmu yang mengajarkan mana yang haq dan mana yang batil. Mana yang halal dan mana yang haram.

    Ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan seorang ulama yang memberi nasihat kepada umat. Para dai yang ikhlas memberikan pencerahan bagi umat. Hingga Imam Ahmad pernah memuji ulama seperti orang yang menghidupkan masyarakat yang telah mati Hatinya. Dalam pengantar bukunya ar-Rad ‘ala Jahmiyah,

    الحمد لله الذي جعل في كل زمان فترة من الرسل بقايا من أهل العلم يدعون من ضل إلى الهدى ويصبرون منهم على الأذى يحيون بكتاب الله الموتى ويبصرون بنور الله أهل العمى فكم من قتيل لإبليس قد أحيوه وكم من ضال تائه قد هدوه فما أحسن أثرهم على الناس وأقبح أثر الناس عليهم

    Segala puji bagi Allah yang menjadikan generasi ulama sebagai pejuang di masa fatrah dari para rasul. Mereka mengajak orang yang sesat menuju jalan petunjuk, bersabar terhadap setiap gangguan dari masyarakat. Mereka menghidupkan manusia yang mati Hatinya dengan kitabullah.. dan membuat bisa melihat orang yang buta agama dengan cahaya Allah. Betapa banyak korban Iblis yang dia hidupkan, dan betapa banyak orang sesat dalam kebodohan yang mereka tunjukkan ke jalan hidayah. Sungguh indah kiprah mereka di tengah masyarakat, namun sungguh buruk sikap masyarakat yang tidak memahami hak mereka kepada ulama. (ar-Rad ‘ala al-Jahmiyah, h. 6)

    Ketika orang yang berilmu wafat, maka ilmu mereka pun tetap kekal di tengah-tengah masyarakat. Di saat jasad mereka tertanam di tanah kuburan, pahala mereka tetap bermunculan. Para ulama mengatakan,

    يموت العالم ويبقى كتابه

    “Saat ulama pergi, buku-buku mereka tetap kekal abadi.”

    Apakah ini juga berlaku untuk ilmu dunia?

    Pertanyaan ini pernah disampaikan kepada Imam Ibnu Utsaimin.

    Jawaban beliau,

    الظاهر أن الحديث عام ، كل علم ينتفع به فإنه يحصل له الأجر ، لكن على رأسها وقمتها العلم الشرعي ، فلو فرضنا أن الإنسان توفي وقد علم بعض الناس صنعة من الصنائع المباحة ، وانتفع بها هذا الذي تعلمها فإنه ينال الأجر ، ويؤجر على هذا

    Secara teks ḥadīth, ilmu di sini sifatnya umum, semua ilmu yang bermanfaat, bisa mendatangkan pahala. Hanya saja, yang paling bermanfaat adalah ilmu syariah. Andai ada orang yang wafat, dan dulu dia pernah mengajarkan tentang ketrampilan yang mubah, dan itu bermanfaat bagi orang yang diajari, maka dia mendapatkan pahala dan juga diberi pahala untuk memberikan ilmu semacam ini. (Liqaat Bab al-Maftuh, 117/16).

    Kedua, mengalirkan sungai yang mati

    Maksudnya adalah membuat aliran pada sungai yang tertahan airnya, agar air tersebut bisa mengalir ke tempat-tempat pemukiman masyarakat, sehingga orang lain bisa memanfaatkannya.

    Betapa besar kebaikan dari amalan yang mulia ini, memudahkan manusia memperoleh air yang merupakan kebutuhan yang paling utama dalam kehidupan manusia.

    Kata Syekh Dr. Abdurrazaq, serupa dengan amalan ini adalah membangun penampungan air di tempat-tempat yang dibutuhkan manusia.

    Ketiga, menggali sumur

    Dalam ḥadīth dari Abū Hurairah ra, Nabi saw bersabda,

    بَيْنَا رَجُلٌ بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ، ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ ، فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنْ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِي كَانَ بَلَغَ مِنِّي ، فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلَا خُفَّهُ مَاءً فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ ، قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّه وَإِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ لَأَجْرًا ؟ فَقَالَ : فِي كُلِّ ذَاتِ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

    Baca juga :  Tiga Ruang Kelas MI MA Pasir Durung Perlu Direhab

    “Suatu ketika ada seorang lelaki yang merasakan sangat kehausan, lalu ia menjumpai sebuah sumur. Diapun turun, lalu meminum airnya. Setelah itu ia naik lagi. Sesampainya di atas, dia melihat seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya memakan tanah yang lembab saking hausnya. Lelaki itu mengatakan, ‘Anjing ini pasti merasa sangat kehausan sebagaimana hausku tadi’.

    Lalu ia kembali turun ke dalam sumur dan memenuhi sepatunya dengan air. Setelah itu ia memberi minum anjing tersebut. (Oleh karena perbuatannya) Allah pun bersyukur kepadanya dan mengampuninya.”

    Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah perbuatan baik kita terhadap hewan mendapat ganjaran pahala?” Rasulullah menjawab, “Ya, pada setiap nyawa itu ada ganjaran pahala.” (Muttafaqun ‘alaihi)

    Jika hanya dengan memberi minum seekor anjing bisa menyebabkan semua dosanya terampuni, bagaimana pula dengan orang yang membuat sebuah sumur, yang bisa dimanfaatkan banyak orang?! Tentu pahalanya sangat besar.

    Keempat, menanam pohon kurma

    Mengapa kurma?

    Kurma adalah pohon yang paling utama dan paling bermanfaat untuk manusia, barang siapa yang menanam kurma lalu membagikan buahnya kepada kaum muslimin, maka pahalanya akan ia dapatkan dari setiap butir kurma yang dimakan. Dan setiap orang ataupun hewan bisa memperoleh manfaat dari buah kurma.

    Sama halnya dengan orang yang menanam pohon yang bermanfaat lainnya, baik bermanfaat karena buahnya atau bermanfaat karena teduhnya atau karena lainnya. Dia juga akan memperoleh pahala.

    Dalam ḥadīth ini disebutkan kurma, karenakan keutamaan dan keistimewaan kurma yang tidak dimiliki pohon lainnya.

    Kelima, membangun masjid

    Masjid adalah tempat yang paling dicintai Allah.
    Dalam ḥadīth dari Abū Hurairah ra, Nabi saw bersabda,

    أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا

    “Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim 1560)

    Karena di masjid, nama Allah diagungkan dan ditinggikan. Tempat ditegakkan salat, ayat-ayat Al-Quran dibacakan, ilmu agama disebarkan, umat Islam berkumpul, untuk maslahat agung lainnya. Allah memuji masjid dalam Al-Quran,

    فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ

    “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS. an-Nūr [24]: 36).

    Karena itu, orang yang membangun masjid, dia akan memperoleh pahala dari setiap aktivitas kebaikan yang dilakukan di masjid tersebut. Nabi saw bersabda,

    مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

    “Barang siapa yang membangun sebuah masjid karena mengharap wajah Allah, maka Allah akan bangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga.” (Muttafaqun ‘alaihi)

    Keenam, menghadiahkan muṣḥaf Al-Quran

    Menghadiahkan Al-Quran berarti memberi fasilitas orang lain untuk bisa mendapatkan pahala sebanyak huruf yang dibaca dalam Al-Quran. Nabi saw bersabda,

    مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

    Siapa yang membaca satu huruf dalam Al-Quran maka dia mendapatkan satu pahala. Dan satu pahala dilipatkan 10 kali. (HR. Tirmidhī 3158).

    Terutama ketika hadiah Al-Quran itu tepat sasaran. Benar-benar diberikan kepada mereka yang rajin membaca Al-Quran atau mereka yang menghafalkan Al-Quran. Sangat disayangkan, jika Al-Quran yang kita berikan itu salah sasaran. Diterima oleh mereka yang jarang membaca Al-Quran, kecuali di bulan ramaḍan.

    Ketujuh, anak saleh

    Anak saleh, harta yang paling tidak ternilai.

    Ketika orang tua mendidik anaknya, maka dia akan mendapatkan pahala dari amal saleh yang dilakukan anaknya. Karena setiap orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain, dia akan mendapatkan pahala selama orang itu mengamalkan ilmunya. Nabi saw bersabda,

    مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

    Baca juga :  Ini Perguruan Tinggi Mitra dan Tata Cara Pendaftaran PBSB 2017

    Siapa yang mengajak ke jalan petunjuk, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya siapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia mendapat dosa seperti dosa orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. (HR. Muslim 2674).

    Sehingga tidak semua orang tua mendapatkan pahala dari amal anaknya. Kecuali jika orang tua yang mengajarkan kebaikan atau mengarahkan anak itu untuk belajar kebaikan.

    Syekhul Islam mengatakan,

    النبي صلى الله عليه وسلم لم يجعل للأب مثل عمل جميع ابنه ، ولا نعلم دليلا على ذلك ، وإنما جعل ما يدعوه الابن له من عمله الذي لا ينقطع

    Nabi saw tidaklah menjadikan pahala untuk bapak sama dengan pahala amal anaknya. Kami tidak mengetahui adanya dalil tentang itu. Namun beliau jadikan ajakan kebaikan kepada anaknya, bagian dari amal orang tuanya, yang tidak akan terputus. (Jami’ul Masail Ibnu Taimiyah, 4/266).

    ḤADĪTH KEDUA:

    Kemudian ḥadīth kedua, ḥadīth dari Abū Hurairah ra, Nabi saw bersabda,

    إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ ، وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ ، وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ ، أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

    Di antara pahala amal mukmin yang akan tetap mengalir setelah kematiannya adalah ilmu yang dia sebarkan, anak saleh yang dia tinggalkan, mushaf yang dia wariskan, masjid yang dia bangun, rumah untuk Ibnu Sabil (orang yang di perjalanan), atau sungai yang dia alirkan, sedekah hartanya yang dia keluarkan ketika masih sehat dan kuat, yang masih dimanfaatkan setelah dia meninggal. (HR. Ibnu Mājah 249 dan dihasankan al-Albani)

    Sabda beliau “atau sebuah rumah yang dibangun untuk para musafir” ini menjelaskan tentang keutamaan membangun rumah yang diwakafkan untuk kepentingan umat Islam, baik itu untuk musafir, atau untuk penuntut ilmu, atau untuk anak yatim, atau untuk para janda, dan fakir miskin.

    Dalam ḥadīth lain, dari Abū Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda,

    إِذَا مَاتَ ابن آدم الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثلاث ثَلَاثَةٍ : إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

    “Apabila anak Adam meninggal, maka terputus darinya semua amalan kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim 4310)

    Para ulama menafsirkan sedekah jariyah dengan wakaf, karena fisiknya tetap dan manfaatnya berkelanjutan.

    Al-Khatib as-Syarbini – ulama syafiiyah – (w. 977 H). Dalam Mughni al-Muhtaj, beliau mengatakan,

    الصدقة الجارية محمولة عند العلماء على الوقف كما قاله الرافعي ، فإن غيره من الصدقات ليست جارية

    “Sedekah jariyah dipahami sebagai wakaf menurut para ulama, sebagaimana keterangan ar-Rafi’i. Karena sedekah lainnya bukan sedekah jariyah.” (Mughni al-Muhtaj, 3/522).

    Di antara semangat beramal para sahabat, mereka yang mampu, semuanya pernah wakaf.

    Sahabat Jabir bin Abdillah ra menuturkan,

    لَـمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِـيِّ صَلّى اللهُ عليهِ وسَلّم ذُو مَقدِرَة إِلّا وَقَفَ

    Tidak ada seorangpun sahabat Nabi saw yang memiliki kemampuan, kecuali mereka wakaf. (Aḥkam al-Auqaf, Abu Bakr al-Khasshaf, no. 15 dan disebutkan dalam Irwa’ al-Ghalil, 6/29).

    Selain beberapa amalan yang di atas, masih ada amalan lainnya yang pahalanya tetap mengalir ketika pelakunya sudah meninggal. Amalan tersebut adalah berjihad di jalan Allah, menghadang musuh dan melindungi kaum muslimin.

    Dari Salman al-Farisi ra, bahwa Rasulullah saw bersabda,

    رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَ

    “Berjaga di daerah perbatasan sehari semalam, lebih baik dari pada puasa dan tahajud selama satu bulan. Apabila ia wafat dalam perang tersebut, pahala dari amalnya ini tetap mengalir, demikian juga rezekinya, dan dia aman dari fitnah.” (HR. Muslim 5047).

    Allahu a’lam
    Semoga bermanfaat!

    61 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial