Tuesday , 22 October 2019

‘ABDURRAHMAN BIN AUF {SAHABAT RASULULLAH SAW }

  • 03 October, 2019  02:18:42 

  •  

    Namanya memang tak setenar Sahabat-sahabat lain seperti: Abū Bakar, ‘Umar bin Khaṭṭāb, ‘Uthmān bin ‘Affān, atau Ali bin Abī Ṭalib. Tak banyak pula kisah-kisah heroik di medan laga tentang dirinya. Tapi bukan berarti ia tak pernah turun ke kancah jihad fīsabīlillah. Jika namanya disebut, yang pertama kali terbayang adalah kekayaan dan sifatnya yang dermawan.

    ‘Abdurrahman bin Auf, namanya memang tak setenar Sahabat-sahabat di atas. Tapi nama itu punya arti tersendiri. ‘Abdurrahman bin Auf, kalau boleh di ibaratkan, bagai sebuah cermin yang memantulkan sifat sederhana meski hidup dalam limpahan kekayaan.

    ***

    Suatu ketika, Madinah pernah dibuat heboh. Siang itu, tatkala suasana lenggang, tampak kepulan debu membumbung tinggi di kejauhan. Sebuah tanda, rombongan besar sedang menempuh perjalanan. Penduduk Madinah bertanya-tanya, pasukan manakah yang akan datang atau kafilah dagang siapa yang sedang melakukan perjalanan.

    Tak lama kemudian, rasa penasaran itu terjawab akhirnya. Rombongan besar itu adalah kafilah dagang yang dipimpin ‘Abdurrahman bin Auf. Lebih dari 700 kendaraan penuh dengan muatan dibawanya. Siang itu, tiba-tiba Madinah seolah berubah menjadi pasar yang besar, penuh gegap gempita.

    Bagaimana tidak, 700 kendaraan penuh dengan muatan berhenti di sepanjang jalan Madinah. Hiruk-pikuk penduduk siang itu akhirnya sampai juga ke telinga ‘Ᾱishah yang sedang istirahat di rumahnya. Ketika mendengar pemimpin kafilah besar itu adalah ‘Abdurrahman bin Auf, seketika ‘Ᾱishah teringat Rasulullah saw semasa hidupnya. ‘Ᾱishah mendengar Rasulullah pernah bersabda, beliau melihat ‘Abdurrahman bin Auf memasuki surga dengan sangat perlahan. Orang-orang yang kala itu berada di sekitar, mendengar hal itu segera berlari mendapati ‘Abdurrahman bin Auf.

    ***

    Di tengah rombongan kesibukannya, ditemukan ‘Abdurrahman bin Auf sedang melepas lelah. Kemudian orang itu menyampaikan apa yang baru saja di dengarnya dari ‘Ᾱishah. Setelah mendengar hal itu, seketika menjadi pias wajah ‘Abdurrahman bin Auf. Darah dalam tubuhnya seolah menguap entah kemana.

    Baca juga :  MACAM-MACAM AIR UNTUK BERSUCI

    Ia berlari-lari kecil menuju rumah ‘Ᾱishah. Ia meninggalkan rombongan di tempat semula. Setelah sampai di depan rumah ‘Ᾱishah, ‘Abdurrahman bin Auf pun berkata, “Sungguh engkau telah mengingatkan aku pada Ḥadīth, yang seumur hidupku tidak pernah kulupa.”

    “Hari ini, demi Allah, aku berharap engkau mau menjadi saksinya, 700 kendaraan lengkap dengan isi dan muatannya aku serahkan, aku persembahkan untuk berjuang di jalan Allah,” lanjut ‘Abdurrahman lagi.

    Allahu Akbar, suasana yang sejak tadi sudah gegap gempita, kini lebih gegap gempita lagi. Suara takbir dan tahmid seolah-olah hendak meruntuhkan langit di atas kota Madinah. Hari itu, Madinah benar-benar dipenuhi berkah Allah untuk kesekian kalinya lagi. 700 kendaraan dengan dagangannya, oleh ‘Abdurrahman bin Auf dibagi-bagikan kepada seluruh penduduk Madinah.

    Tak ada terbetik rasa kecewa dalam Hati ‘Abdurrahman bin Auf, ketika membagikan hartanya, karena yang ada dalam Hatinya hanya rasa cinta kepada Allah semata.

    ***

    Di kalangan Sahabat, ‘Abdurrahman bin Auf memang terkenal sebagai seorang yang bertangan dingin jika berdagang. Ia pandai sekali mengatur perniagaan. Saking pintarnya ia, seolah-olah setiap barang yang disentuhnya menjadi emas dan perak dan bisa membuatnya menjadi kaya. Tapi cobaan yang diberikan itu, tak membuatnya lupa daratan dan meninggalkan ibadah.

    ***

    Ada sebuah kisah yang bisa dijadikan bukti, bahwa Allah benar-benar menganugerahkan kemampuan dagang yang luar biasa pada ‘Abdurrahman bin Auf.

    Ketika kaum muslimin Makkah berhijrah ke Madinah, oleh Rasulullah, masing-masing mereka di persaudarakan. Setiap muslim Muhajirin bersaudara dengan muslim Anṣar. Kala itu ‘Abdurrahman bin Auf di persaudarakan dengan seorang Anṣar yang tak jauh berbeda dengan dirinya.

    Adalah Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anṣary, seorang Sahabat Anṣar yang juga saudagar di Madinah. Ia di persaudarakan dengan ‘Abdurrahman bin Auf. Ketika ia mendengar bahwa ia di persaudarakan dengan ‘Abdurrahman bin Auf, Sa’ad segera mencari ‘Abdurrahman bin Auf lalu berkata, “Wahai saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang paling kaya. Pilih dan ambillah separuh hartaku untukmu. Aku juga mempunyai dua istri yang cantik, mana yang menarik Hati, boleh kau pilih.”

    Baca juga :  Penusukan Terhadap Wiranto, MA Eropa: Tindakan yang Keji

    Mendapat kepercayaan yang besar sedemikian, tak membuat ‘Abdurrahman bin Auf melambung tinggi. Tanpa berniat sombong, ia menolak tawaran Sahabat Anṣar. Sebagai gantinya, ia memilih diberitahu di mana letak pasar kota Madinah. “Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu. Tunjukkan saja di mana letak pasarnya padaku,” kata ‘Abdurrahman bin Auf.

    ***

    Setelah itu, ia membeli beberapa barang dagangan dan menjualnya lagi. Dari situlah ia mendapat keuntungan untuk memulai hidup baru. Hanya dalam waktu singkat, ia berhasil menjadi pedagang yang berhasil.

    ***

    Suatu hari, tak berselang lama, ‘Abdurrahman bin Auf, datang berkunjung menemui Rasulullah. Ia datang dengan busana rapi dan aroma yang wangi. “Apa kabarmu?” Tanya Rasulullah pada ‘Abdurrahman bin Auf.

    “Rasulullah, aku telah menikah dengan seorang wanita,” jawab ‘Abdurrahman bin Auf.

    “Berapa mahar yang kau berikan?” Tanya Rasulullah lagi.

    “Seberat emas sebesar biji-bijian, ya Rasulullah,” katanya.

    “Kalau begitu, buatlah sebuah walimah meski hanya memotong seekor domba,” sabda Rasulullah.

    Riwayat di atas menggambarkan betapa Allah memberikan kemampuan berdagang yang luar biasa kepada ‘Abdurrahman bin Auf. Meski demikian, hal itu tak menjadikannya berubah, tak pula membuatnya sombong, apalagi semena-mena.

    Ia tetap ‘Abdurrahman bin Auf yang rendah Hati. Ia tetap sosok seorang manusia seperti kebanyakan yang lainnya. Bahkan ia kerap kali menjadi seorang yang halus Hatinya. Kondisi kebanyakan Sahabat yang tak beruntung dia menjadikannya sangat perasa.

    ***

    Suatu hari ‘Abdurrahman bin Auf sedang puasa sunah. Menjelang waktu berbuka sengaja ia datang berkunjung ke rumah salah seorang Sahabat. Saat ia menghadapi hidangan buka, tiba-tiba ‘Abdurrahman bin Auf menangis tersedan.

    Baca juga :  116 WNI Dipulangkan ke Tanah Air, Karena Mencoba Berhaji Lewat Jalur Ilegal

    “Mus’ab bin Umair terbunuh, dan ia lebih baik daripada aku. Dia meninggal dengan kafan kain mantelnya. Jika mantel itu ditarik menutup kepalanya, maka menyembul kedua kakinya. Jika ditarik menutupi ujung kakinya terbuka bagian kepalanya.” Kata-kata itu terus saja diulang-ulangi ‘Abdurrahman bin Auf.

    “Hamzah juga sudah terbunuh, dan dia lebih baik dari aku. Aku khawatir dunia ini dihamparkan dan dilimpahkan kepada kita. Aku khawatir kesenangan-kesenangan ini disegerakan kepada kita di dunia saja.” Tangis ‘Abdurrahman bin Auf seakan tak mau reda. Ia sangat khawatir dengan harta yang dilimpahkan kepadanya. Jangan-jangan nikmat Allah disegerakan untuknya hanya di dunia saja.

    ***

    Meski demikian ada juga Ḥadīth Rasulullah yang sering kali dijadikan olehnya sebagai penghibur Hati. Ia pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Wahai Ibnu Auf, Anda termasuk orang yang kaya raya, dan aku melihatmu memasuki surga dengan perlahan-lahan. *PINJAMKANLAH KEKAYAAN ITU KEPADA ALLAH, NISCAYA ALLAH AKAN MEMUDAHKAN LANGKAHMU DI KEMUDIAN.”*

    Untaian kalimat itulah yang membuat Hati ‘Abdurrahman bin Auf sejuk dan merasa tenang. Selain terkenal sebagai seorang yang sangat dermawan, ia juga cukup di pandang di kalangan Sahabat Muhajirin dan Anṣar.

    ***

    Ketika Rasulullah wafat, antara Sahabat Anṣar dan Muhajirin saling bersengketa, berebut kekhalifahan. ‘Abdurrahman adalah salah satu orang penengah yang bijak di antara mereka. Ia juga termasuk orang yang mensosialisasikan program pemilihan khalifah sepeninggal Rasulullah.

    Menjelang ia wafat, sejarah sempat merekam kata-kata terakhir yang keluar dari bibirnya. Kata-kata yang ternyata menjadi kekhawatirannya seumur hidup. “Sesungguhnya aku selalu khawatir, dipisahkan dari Sahabat-sahabatku karena kekayaanku yang melimpah ruah.” Katanya.

    ***

    DAFTAR PUSTAKA

    Basya, Abdurrahman Ra’fat, Dr., Su-arun min Hayatish-Shahabah, (Beirut-Lebanon: Mu’assasah Ar-Risalah dan Darun-Nafa’is, t.th).

    Edrus, Hasan, Kisah Sahabat Nabi (terj), (Bandung: Mizan, 1989).

    Repost

    Baabul Jannah
    Senin, 23-9-2019

    Maddais

    52 total views, 2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial