Sunday , 18 October 2020

KISAH SAHABAT RASULULLAH SAW, ‘ABDULLAH BIN JAHSHI

  • 11 October, 2019  13:47:23 

  • ‘Abdullah bin Jahshi Al-Asadi adalah seorang Sahabat yang dekat sekali hubungan keluarganya dengan Rasulullah saw. Dia adalah juga salah satu di antara para Sahabat yang memeluk Islam paling awal.

    Dia adalah putra bibi Rasulullah saw, Umaimah binti ‘Abdul-Muṭalib. Dia juga ipar Rasulullah saw, karena saudara perempuannya, Zainab binti Jahshi, adalah istri Nabi yang mulia dan salah satu Ummahatul-Mu’minīn (ibu Kaum Beriman). Dan dia adalah orang pertama yang di angkat oleh Rasulullah sebagai panglima perang dalam Islam. Oleh karena itulah, wajar jika kemudian ‘Abdullah bin Jahshi merupakan Muslim pertama yang di panggil dengan sebutan Amīrul-Mu’minīn (Pemimpin Kaum Beriman).

    ***

    ‘Abdullah bin Jahshi memeluk Islam, sebelum Nabi saw memasuki rumah Al-Arqam (rumah salah seorang Sahabat Nabi, Zaid bin Arqam, yang di pergunakan Nabi untuk memberikan pelajaran tentang agama Islam).

    Pada waktu Nabi saw mengizinkan para Sahabatnya hijrah ke Madinah, untuk menyelamatkan agamanya dari gangguan para kafir Quraisy, ‘Abdullah bin Jahshi adalah “orang kedua” yang mula-mula hijrah setelah Abū Salamah. Sesungguhnya, hijrah karena Allah dan berpisah dengan keluarga dan negaranya fī sabīlillah, bagi ‘Abdullah bin Jahshi bukan hal yang baru, karena dia bersama-sama keluarganya sebelum itu telah hijrah ke Habasyah.

    Namun, hijrahnya ke Madinah kali ini lebih menyeluruh dan lebih lengkap ketimbang hijrahnya ke Habasyah. Selain anggota keluarganya sendiri, juga ikut hijrah besertanya anggota keluarga dari ayahnya – baik yang laki-laki maupun yang perempuan, atau yang muda maupun yang tua.

    Banyaknya anggota keluarga ‘Abdullah bin Jahshi yang hijrah mengakibatkan kampung halamannya tambah sepi dan kosong, sepertinya kampung itu belum pernah ada yang menempatinya. Belum begitu lama keberangkatan ‘Abdullah bin Jahshi dan rombongannya, para pemimpin Quraisy melakukan perondaan dengan berkeliling ke kampung-kampung Makkah, untuk mengetahui siapa saja dari kaum Muslimin yang pergi dan siapa yang tinggal. Di antara para kafir-Quraisy itu terdapat ‘Abū Jahal dan Utbah bin Rabi’ah.

    Utbah melihat rumah-rumah Bani Jahshi dihembus angin bercampur debu, dan pintu-pintunya berderak-derak hidup ditiup angin. Kemudian Utbah berkata: “Perkampungan Bani Jahshi menjadi lengang, menangisi penghuninya….”

    Abū Jahal tiba-tiba menyahut: “Siapakah mereka sehingga ditangisi oleh kampung halamannya?!”

    Tanpa menunggu jawaban, Abū Jahal langsung menguasai rumah ‘Abdullah bin Jahshi, sebuah rumah yang paling bagus dan paling lengkap. Kemudian Abū Jahal mempergunakan rumah beserta seluruh isinya bagaikan miliknya sendiri.
    Sementara itu ‘Abdullah bin Jahshi mendengar apa yang di perbuat oleh Abū Jahal terhadap rumahnya. Dia segera memberitahukan perbuatan Abū Jahal itu kepada Rasulullah saw, dan Rasul bersabda: “Hai ‘Abdullah, apakah kau tidak merasa riḍa, karena Allah mengganti dengan rumah di surga?!”

    “Tentu aku riḍa, ya Rasulullah!” jawab ‘Abdullah.

    “Dan itu sesungguhnya yang akan engkau peroleh,” tegas Nabi saw.

    Mendengar itu, Hati ‘Abdullah bin Jahshi menjadi lega dan puas.

    ***

    Sebelum hijrah ke Madinah, ‘Abdullah bin Jahshi telah mengalami kesulitan demi kesulitan, dan juga penderitaan demi penderitaan. Namun semuanya itu dipikulnya atas dasar pengabdiannya kepada agama baru yang dipeluknya. Begitupun kisahnya sewaktu dia melakukan hijrah ke Madinah. Belum lagi dia mencicipi bagaimana rasanya beristirahat di lingkungan kaum Anshar, setelah mengalami penderitaan akibat gangguan kafir Quraisy, ternyata di Madinah itu pun ‘Abdullah tidak lepas dari ujian atau cobaan pedih yang harus dipikulnya.

    Baca juga :  Aliyah Mathla'ul Anwar Kepuh Resmikan “ALMANPUH.News’

    Pada suatu hari, Rasulullah saw berniat untuk memilih dan mengirim 8 orang Sahabatnya guna melaksanakan tugas ke-militer-an pertama dalam Islam. Di antara para Sahabat yang di pilih oleh Nabi, terdapat ‘Abdullah bin Jahshi dan Sa’ad bin Abi Waqas. Di hadapan orang-orang pilihan beliau tersebut, beliau bersabda: “Aku akan mengangkat salah seorang di antara kalian untuk menjadi pemimpin. Dan pemimpin itu adalah orang yang tahan lapar dan haus.”

    Nabi kemudian mengangkat ‘Abdullah bin Jahshi sebagai pemimpin. Dengan demikian ‘Abdullah bin Jahshi adalah Muslim pertama yang di angkat oleh Nabi sebagai komandan pasukan Mu’minin.

    Sebelum pasukan itu berangkat, Rasulullah memberikan lebih dulu petunjuk-petunjuk kepada ‘Abdullah bin Jahshi, seperti daerah mana yang hendak dituju. Selain itu, diapun diberi sepucuk surat oleh Rasul dengan perintah bahwa “surat tersebut jangan dibuka kecuali telah lewat 2 hari perjalanan.”

    Setelah pasukan tersebut menempuh perjalanan selama 2 hari, ‘Abdullah bin Jahshi pun membuka surat yang isinya sebagai berikut:

    “Bila engkau telah membaca suratku ini, maka teruskanlah perjalananmu sampai di Nakhlah, yaitu suatu daerah yang berada di antara Ṭa’if dan Makkah. Di tempat itu, engkau awasi gerak-gerik orang-orang Quraisy, dan segera laporkan kepadaku.”

    Setelah ‘Abdullah selesai membaca surat tersebut, dia pun lalu berkata: “Baik. Aku akan melaksanakan perintah Nabi Allah.”

    Dan kemudian dia pun memberitahukan isi surat itu kepada anggota pasukannya, dengan berkata: “Sesungguhnya Rasulullah saw telah memerintahkan aku untuk meneruskan perjalanan hingga sampai di Nakhlah. Tugas kita hanyalah mengawasi gerak-gerik orang-orang Quraisy dan kemudian mengirimkan laporannya kepada Rasul. Aku dilarang memaksa seseorang untuk terus mengikuti aku. Oleh karena itu, siapa yang ingin mencari syahid (gugur dalam membela agama Allah) dan merindukannya pula, boleh mengikuti aku. Dan siapa yang tidak ingin ikut, di persilahkan untuk pulang dan tidak ada sanksi apa-apa.”

    Para Sahabatnya serentak menyahut: “Kami tunduk dan akan kami laksanakan perintah Rasulullah saw. Kami akan senantiasa bersama Anda, ke mana pun Nabi Allah memerintahkan!”

    Pasukan kaum Muslimin itu lalu meneruskan perjalanan hingga sampailah di Nakhlah. Mereka lalu melakukan perondaan dengan cara menyamar agar mudah dalam mencari berita tentang kegiatan orang-orang Quraisy.
    Selagi mereka melakukan tugas tersebut, dari kejauhan tampaklah kafilah Quraisy dengan dikawal oleh 4 orang. 4 orang itu adalah: Amr bin Al-Haḍrami, Hakam bin Kaisan, Utsman bin Abdillah dan saudaranya, Mughirah. Mereka membawa barang dagangan, berupa kulit, kismis, dan lain sebagainya.

    Para Sahabat lalu berunding tentang soal kafilah Quraisy tersebut. Apa yang hendak diperbuat? Sebab pada saat itu bertepatan dengan hari-hari terakhir dari bulan Haram, yang di bulan itu telah diharamkan untuk menumpahkan darah – yaitu bulan Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Dalam perundingan itu terdapat berbagai macam pendapat, di antaranya:

    “Kita harus membunuh mereka. Tetapi jika kita membunuh mereka, kita tentu akan dibenci oleh seluruh bangsa Arab, karena kita telah menodai kehormatan bulan Haram….”
    “Tetapi kalau kita tidak membunuh mereka pada saat ini, dan menunggu sampai habisnya bulan Haram, maka mereka pun akan lepas dari kita. Mereka akan tiba di Makkah dan kita diharamkan pula berperang di kota Makkah….”

    Baca juga :  Madrasah Aliyah Mathla’ul Anwar Padarincang Selenggarakan LDKS

    Banyak sekali soal yang mereka perbincangkan. Tetapi akhirnya, mereka sepakat untuk menyergap, membunuh, dan mengambil semua barang dagangan yang mereka bawa. Penyergapan itu dilakukan secepat kilat, sehingga mereka berhasil menaklukkan kafilah tersebut. Satu di antara orang-orang Quraisy itu mereka bunuh dan dua orang lagi mereka tawan, serta seorang lagi lolos melarikan diri.

    ‘Abdullah bin Jahshi dan para anggota pasukannya, kemudian menggiring kedua tawanan beserta rampasannya menuju Madinah. Setelah mereka menghadap Rasulullah dan Rasulullah mengetahui segala hal mengenai penyergapan itu, Rasul pun menjadi kecewa seraya bersabda: “Demi Allah, aku tidak memerintahkan kalian untuk berperang. Aku hanya memerintahkan agar kalian menyelidiki dan mencari berita tentang kegiatan orang-orang Quraisy dan mengawasi gerak-gerik mereka.”

    Setelah pertemuan dengan Rasul, kedua tawanan itu pun ditahan untuk di pertimbangkan kelanjutannya. Sementara itu Rasulullah membiarkan begitu saja barang dagangan hasil rampasan dan tidak mau mengambil satu pun darinya.
    Melihat hal itu, ‘Abdullah bin Jahshi beserta pasukannya menjadi bingung dan menyesali perbuatannya. Mereka yakin akan celaka karena telah melanggar perintah Rasul. Yang lebih menyesakkan lagi adalah sikap para Sahabat lain yang tidak termasuk rombongan pasukannya. Ada di antara mereka yang mengumpat dan membuang muka jika berpapasan dengan ‘Abdullah bin Jahshi, seraya berkata mencemooh: “Inilah orang yang mengabaikan perintah Rasulullah saw.”

    Tekanan batin demi tekanan batin menjadi bertambah-tambah bagi ‘Abdullah, setelah mengetahui bahwa peristiwa itu kemudian dijadikan alasan oleh para kafir Quraisy untuk mencela Rasulullah saw. Para kafir Quraisy itu bahkan secara terang-terangan menyebarluaskan celaan itu ke kabilah-kabilah yang lain dengan menyatakan: “Muhammad kini telah menghalalkan pantangan bulan-bulan Haram. Dia telah mengalirkan darah atau membunuh, merampas harta benda, dan menawan orang-orang….”

    Betapa sedihnya ‘Abdullah bin Jahshi dan Sahabat-sahabatnya mendengar semua itu. Akibat perbuatan ‘Abdullah dan Sahabat-sahabatnya-lah, sehingga Nabi yang mulia di cela. Betapa malunya mereka kepada Rasulullah saw karena mereka telah memojokkan beliau ke dalam suatu keadaan yang sungguh sulit.

    Setelah mengalami penderitaan yang sangat dan beban yang berat yang dirasakan mereka dengan munculnya peristiwa itu, mereka kemudian mendapatkan kabar gembira. Mereka pantas bersuka cita karena Allah SwT telah meriḍai perbuatan mereka. Dan untuk menegaskan hal tersebut. Allah SwT telah mewahyukan kepada Nabi-Nya yang tercantum dalam Surah Al-Baqarah [2] ayat 217:

    يَسْئَلُوْنَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيْهِ قُلْ قِتَالٌ فِيْهِ كَبِيْرٌ وَصَدُّ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَاِخْرَاجُ اَهْلِهِ مِنْهُ اَكْبَرُ عِنْدَ اللهِ وَالْفِتْنَةُ اَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ… (البقرة: 217)

    Mereka menanyakan kepadamu tentang peperangan dalam bulan Haram. Katakanlah: “Berperang di dalam bulan Haram adalah dosa. Namun, menghalangi manusia ke jalan Allah, kafir kepada Allah, dan menghalangi manusia menuju Masjidil-Ḥaram, serta mengusir penduduknya dari Makkah, adalah lebih besar dosanya di sisi Allah. Fitnah itu lebih besar dosanya daripada membunuh…(QS. Al-Baqarah [2]: 217)

    Kegembiraan memancar dari wajah Abdullah dan Sahabat-sahabatnya. Orang-orang lalu berdatangan memeluk mereka dan mengucapkan selamat kepada mereka, seraya membacakan ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan oleh Allah SwT kepada mereka.

    Baca juga :  Lembaga Falak MA: Rabi'ul-Awal 1441 H akan jatuh pada hari Selasa 29 Oktober 2019

    Setelah ayat-ayat suci tersebut turun, legalah hati Nabi saw. Harta rampasan pun beliau ambil dan kemudian menerima tebusan untuk kedua tawanan, serta meriḍai tindakan Abdullah bin Jahsyi dan seluruh pasukannya. Penyerangan ini merupakan peristiwa besar dalam sejarah kehidupan kaum Muslimin. Harta rampasan itu pun merupakan harta rampasan pertama yang di peroleh dalam sejarah Islam. Juga mengenai orang musyrik yang terbunuh adalah orang musyrik pertama yang dibunuh oleh orang-orang Muslim. Kedua tawanan itu pun merupakan tawanan pertama yang jatuh ke tangan kaum Muslimin. Dan bendera perang yang digunakan ‘Abdullah bin Jahshi adalah bendera perang pertama yang diserahkan oleh Rasulullah kepada seorang komandan pasukan militer; sedangkan ‘Abdullah bin Jahshi sendiri akhirnya merupakan Muslim pertama yang bergelar Amīrul-Mu’minīn.

    Dalam mengarungi kehidupannya sebagai seorang Muslim, ‘Abdullah bin Jahshi juga senantiasa ikut dalam berbagai perang melawan kaum kafir. Di dalam perang Badar, dengan penuh keberanian dan berlandaskan keyakinannya, dia turut bertempur membela agamanya. Setelah perang Badar,

    ‘Abdullah bin Jahshi kemudian ikut dalam perang Uhud, bersama Sahabat karibnya, Sa’ad bin Abi Waqqas. Dan dalam perang Uhud inilah, ‘Abdullah bin Jahshi memiliki pengalaman yang tidak dapat dilupakannya:

    Sewaktu perang Uhud, ‘Abdullah bin Jahshi menghampiriku dan berkata kepadaku: “Marilah kita memohon sesuatu kepada Allah SwT.”

    Aku pun menyanggupi permintaannya, dan kami berdua lalu menyingkir ke suatu tempat yang sepi untuk berdoa.
    Aku lalu mengucapkan doaku: “Ya Rabbi, bila aku bertemu musuh, temukan aku dengan orang yang sangat kuat dan bersemangat tinggi. Kami berdua kemudian saling menyerang dan berusaha untuk saling membunuh. Setelah itu, berilah aku kemenangan hingga musuhku dapat ku bunuh dan ku rampas hak miliknya.”

    ‘Abdullah bin Jahshi lalu meng-amini doa-ku dan baru kemudian dia berdoa sendiri: “Ya Allah, temukan aku dengan orang yang memiliki semangat yang tinggi dan otot-ototnya yang kuat. Dan karena Engkau, aku memeranginya. Kami berdua saling menyerang dan akhirnya musuhku itu dapat melukaiku, yaitu dengan memutus hidung dan telingaku. Dan kelak, jika aku menghadap-Mu, Engkau bertanya kepadaku: “Mengapa hidung dan telingamu putus?” ‘Karena Engkau dan karena Rasul-Mu.’ jawabku. Lalu Engkau berkata: ‘Kau benar, ‘Abdullah!”

    Setelah mendengar doa ‘Abdullah bin Jahshi, aku lalu berkata bahwa doanya lebih baik daripada doaku. Lalu pada petang harinya, aku melihat dia gugur dalam keadaan yang sama seperti yang dilukiskannya sendiri dalam doanya, yaitu hidung dan telinganya terpotong.

    ***

    Allah SwT telah mengabulkan doa ‘Abdullah bin Jahshi. Dimuliakannya ‘Abdullah dengan kesyahidan, sebagaimana Allah SwT juga memuliakan pamannya, Hamzah bin ‘Abdul Muṭalib.

    Kedua syahid itu dikebumikan sendiri oleh Rasulullah saw dalam satu kubur. Air mata suci Nabi menetes membasahi tanah tempat keduanya dikuburkan, dan tanah itu menebarkan semerbak aroma syahadah.

    ***

    DAFTAR PUSTAKA

    Basya, Abdurrahman Ra’fat, Dr., Su-arun min Hayatish-Shahabah, (Beirut-Lebanon: Mu’assasah Ar-Risalah dan Darun-Nafa’is, t.t).

    Edrus, Hasan, Kisah Sahabat Nabi (terj), (Bandung: Mizan, 1989).

    Baabul Jannah
    Selasa, 24 September 2019

    Maddais

     300 total views,  2 views today

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial