Friday , 25 September 2020

‘ABDULLAH BIN SALAM SAHABAT RASULULLAH

  • 13 October, 2019  00:01:46 

  • Husen bin Salam adalah kepala Pendeta Yahudi di Madinah. Walaupun penduduk Madinah berlainan agama dengannya, namun mereka menghormati Husen. Karena di kalangan mereka, dia dikenal baik hati, istiqamah dan jujur.

    Husen hidup tenang dan damai. Baginya waktu sangat berguna. Karena itu membaginya dalam tiga bagian. Sepertiganya ia pergunakan di gereja Yahudi untuk mengajar dan beribadat. Sepertiga lainnya ia habiskan di kebun untuk merawat dan membersihkan tanaman. Sepertiga lagi untuk membaca Taurat dan mengajarkannya kepada orang lain.

    Setiap kali menemukan ayat Taurat yang mengabarkan tentang kedatangan seorang Nabi di Madinah, ia selalu membacanya berulang-ulang dan merenunginya.

    Dipelajarinya lebih mendalam tentang sifat-sifat dan ciri-ciri Nabi yang ditunggu-tunggunya itu. Ia sangat gembira ketika mengetahui orang yang ditunggunya itu telah lahir dan akan hijrah ke Madinah. Karena itu ia selalu berdoa agar Allah memanjangkan usianya supaya bisa bertemu dengan Nabi yang ditunggu-tunggunya dan menyatakan iman.

    Allah memperkenankan doa dan memanjangkan usianya dan mempertemukannya dengan penutup para Nabi, Muhammad saw.

    ***

    Ketika pertama kali mendengar kedatangan Nabi, Husen bin Salam mencocokkannya sifat-sifatnya dengan yang ia ketahui dari Taurat. Begitu mengetahui persamaan-persamaan tersebut, ia yakin benar bahwa orang yang ia tunggu telah datang. Namun hal itu ia rahasiakan terhadap kaum Yahudi.

    Tatkala Rasulullah saw hijrah ke Madinah dan tiba di Quba’, seorang juru panggil berseru menyatakan kedatangan beliau. Saat itu Husen bin Salam sedang berada di atas pohon kurma. Bibinya, Khalidah bin Harits menunggu di bawah pohon tersebut. Begitu mendengar kedatangan Rasulullah, ia berteriak, “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

    Mendengar teriakan itu, bibinya berkata, “Engkau akan kecewa. Seandainya pun engkau mendengar kedatangan Musa bin Imran, engkau tidak bisa berbuat apa-apa.”

    “Wahai bibi! Demi Allah, dia adalah saudara Musa bin Imran. Dia dibangkitkan membawa agamanya yang sama,” jawab Husen.

    “Diakah Nabi yang sering engkau ceritakan?” Tanya bibinya.
    “Benar!”

    Baca juga :  Syukur Warga Mongolia Dapati Paket Pangan di Ramadan yang Dingin

    Lalu Husen bergegas menemui Rasulullah yang sedang dikerumuni orang banyak. Setelah berdesak-desakan, akhirnya Husen berhasil menemui beliau. Ucapan pertama kali yang keluar dari mulut beliau adalah, ”WAHAI MANUSIA, SEBAR LUASKAN SALAM. BERI MAKAN ORANG YANG KELAPARAN. SALATLAH DI TENGAH MALAM, KETIKA ORANG BANYAK SEDANG TIDUR NYENYAK. PASTI ENGKAU MASUK SURGA DENGAN BAHAGIA.”

    Husen bin Salam memandangi Rasulullah dengan lekat. Ia yakin, wajah beliau tidak menunjukkan raut pembohong. Perlahan Husen mendekat seraya mengucapkan dua kalimah syahadat.

    Rasulullah menoleh kepadanya, “Siapa namamu?”

    “Husen bin Salam,” jawabnya.

    “Mestinya ‘Abdullah bin Salam,” ujar Rasulullah mengganti namanya dengan yang lebih baik.

    “Saya setuju!” jawab Husen. “Demi Allah yang mengutus engkau dengan benar, mulai hari ini saya tidak ingin lagi memakai nama lain, selain ‘Abdullah bin Salam.”

    ***

    Setelah itu Husen yang sudah berganti nama dengan ‘Abdullah bin Salam segera pulang. Ia mengajak seluruh keluarganya, termasuk bibinya, Khalidah yang saat itu sudah lanjut usia, untuk memeluk agama Islam. Mereka menerima ajakannya. ‘Abdullah bin Salam meminta keluarganya untuk merahasiakan keislaman mereka kepada orang-orang Yahudi sampai waktu yang tepat.

    Beberapa saat kemudian, ‘Abdullah menemui Rasulullah lalu berkata, “Wahai Rasulullah, orang-orang Yahudi suka berbohong dan sesat. Saya minta engkau memanggil ketua-ketua mereka, tapi jangan sampai mereka tahu kalau saya masuk Islam. Serulah mereka ke agama Allah, saya akan bersembunyi di kamar engkau mendengar reaksi mereka.”

    Rasulullah menerima permintaan ‘Abdullah bin Salam. Beliau memasukkannya ke dalam biliknya dan mengumpulkan para pemuka Yahudi. Rasulullah mengingatkan mereka tentang ayat-ayat Al-Quran dan mengajak mereka masuk agama Islam. Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak mau menerima ajakan beliau. Bahkan dengan beraninya mereka membantah ucapan-ucapan Rasulullah.

    Setelah mengetahui bahwa mereka enggan menerima seruannya. Rasulullah bertanya, “Bagaimana kedudukan Husen menurut kalian?”

    “Dia pemimpin kami, kepala pendeta kami dan pemuka agama kami,” jawab mereka.

    Baca juga :  KSEI UNMA Banten Gelar Kajian, Bahas Perbandingan Teori Ekonomi Syariah

    “Bagaimana pendapat kalian kalau dia masuk Islam? Maukah kalian mengikutinya?” Tanya Rasulullah.

    “Tidak mungkin! Tidak mungkin dia akan masuk Islam. Kami berlindung kepada Allah, tidak mungkin dia masuk Islam,” jawab mereka.

    Tiba-tiba ‘Abdullah bin Salam keluar dari bilik Rasulullah dan menemui mereka seraya berkata, “Wahai orang-orang Yahudi, bertakwalah kepada Allah. Terimalah agama yang dibawa Muhammad. Demi Allah, sesungguhnya kalian sudah mengetahui bahwa Muhammad itu benar utusan Allah.

    Bukankah kalian telah membaca nama dan sifat-sifatnya dalam Taurat? Demi Allah, saya mengakui Muhammad adalah Rasulullah. Saya beriman kepadanya dan membenarkan segala ucapannya.”

    “Bohong!” jawab orang-orang Yahudi. “Engkau jahat dan bodoh, tidak bisa membedakan mana yang benar dengan yang salah,” umpat mereka lalu pergi meninggalkan ‘Abdullah bin Salam dan Rasulullah saw.

    “Engkau lihat wahai Rasulullah. Orang-orang Yahudi itu pendusta dan sesat. Mereka tidak mau mengakui kebenaran walaupun di depan mata,” ujar ‘Abdullah.

    ***

    ‘Abdullah bin Salam menerima Islam seperti orang yang kehausan yang merindukan jalan ke telaga. Lidahnya selalu basah oleh untaian ayat-ayat Al-Quran. Ia selalu mengikuti semua seruan Rasulullah saw sehingga suatu ketika beliau saw memberi kabar gembira dengan surga.

    ***

    Suatu ketika Qais bin Ubadah dan beberapa orang lainnya sedang belajar di serambi masjid. Dalam kelompok itu terdapat seorang laki-laki tua yang ramah dan sangat menyenangkan hati. Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya selalu menarik perhatian orang. Ketika laki-laki itu pergi, orang-orang saling bertanya siapa dia. Di antara mereka ada yang berkata, “Siapa yang ingin melihat penduduk surga, lihatlah laki-laki itu?”

    Qais bin Ubadah segera bertanya, “Siapa dia?”

    “’Abdullah bin Salam!” jawab mereka.

    Qais bin Ubadah memutuskan untuk mengikuti laki-laki itu sampai jauh keluar kota Madinah. Setelah diizinkan masuk, Qais menemuinya.

    “Apa keperluanmu anak muda?” Tanya ‘Abdullah.

    “Saya mendengar orang-orang berbicara tentang diri Bapak. Kata mereka, siapa yang ingin melihat penghuni surga, Lihatlah Bapak! Mendengar ucapan mereka, saya mengikuti Bapak sampai ke sini. Saya ingin mengetahui mengapa orang banyak berkata begitu?”

    Baca juga :  SEBARKANLAH KEDAMAIAN

    “Allah yang lebih mengetahui tentang penduduk surga,” jawab ‘Abdullah.

    “Ya, tapi pasti ada sebabnya mengapa orang-orang berkata begitu?”

    “Baik, akan kujelaskan.”

    “Silakan, semoga Allah membalas segala kebaikan Bapak,” ujar Qais.

    “Pada suatu malam ketika Rasulullah masih hidup, saya bermimpi. Seorang laki-laki datang menemuiku seraya menyuruhku bangun dan mengajakku pergi. Tiba-tiba saya melihat sebuah jalan di sebelah kiri. Saya bertanya, “jalan kemanakah ini?” “Jangan turuti jalan itu, itu bukan jalanmu,” jawab orang itu. Tiba-tiba saya melihat jalan yang terang benderang di sebelah kananku. “Lewatilah jalan itu!” ujar orang tersebut. Saya mengikuti jalan yang terang itu hingga tiba di sebuah taman yang subur, luas dan penuh dengan pohon-pohon hijau dan indah. Di tengah-tengah taman terdapat sebuah tiang besi. Pangkalnya tertancap di tanah dan ujungnya sampai ke langit. Di puncaknya terdapat aula berlapis emas. Orang itu berkata, “Panjatlah tiang itu!” “Aku tidak bisa,” jawabku. Tiba-tiba datang seorang pembantuku. Lalu dia menaikkan tubuhku sampai ke puncak tiang. Aku tinggal di sana sampai pagi dengan perasaan yang sangat bahagia.

    Setelah hari pagi, kudatangi Rasulullah dan kuceritakan kepada beliau perihal mimpiku. Beliau bersabda: “Jalan yang engkau lihat di sebelah kiri adalah jalan ke neraka. Jalan yang engkau lalui di sebelah kanan adalah jalan penduduk surga. Taman yang dirindukan itu adalah Islam. Adapun tiang yang terpancang di tengah taman itu adalah tiang agama. Adapun aula itu adalah pegangan yang kokoh dan kuat. Engkau senantiasa berpegangan dengannya sampai mati.”

    ***

    DAFTAR PUSTAKA

    Basya, Abdurrahman Ra’fat, Dr., Su-arun min Hayatish-Shahabah, (Beirut-Lebanon: Mu’assasah Ar-Risalah dan Darun-Nafa’is, t.th).

    Edrus, Hasan, Kisah Sahabat Nabi (terj), (Bandung: Mizan, 1989).

    Repost

    Baabul Jannah
    Rabu, 25-9-2019

    Maddais

     398 total views,  2 views today

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial