Thursday , 9 July 2020

Mengenal KITAB MANẒŪMĀT Karya KH Mas Abdurahman Al-Janakawi

  • 25 November, 2019  08:39:18 

  • Mathlaonline–Naskah ini merupakan hal yang unik dan satu-satunya yang ditulis dalam bentuk naẓam (syair) dan disiapkan untuk segmen pembaca dalam tiga bahasa sekaligus: Arab, Indonesia, dan Sunda sekaligus yang disusun secara bergantian. Uniknya lagi, naẓam dalam ketiga bahasa yang dipakainya memiliki tingkat kualitas yang sama baiknya.

    Menarik bahwa naskah ini ditulis tidak sekedar untuk bimbingan keilmuan dan keagamaan, tetapi juga disusun sebagai media bagi pembangunan sebuah Masjid.

    Pada cover kitab ini tertulis siapa yang membeli kitab manẓūmāt ini berarti mempunyai darma, karena sebagian harganya akan diwakafkan untuk pendirian Masjid kampung Soreang Menes.( Lihat, Gambar Masjid Kampung Soreang Menes dalam. Jika dilihat dari segi usia sejak awal didirikan pada 1345 H/ 1926 M, menurut Undang-undang RI nomor 11 tahun 2010 pasal 1, bangunan Masjid Kampung Soreang Menes terkategori benda cagar budaya (BCB) yang dilindungi dan perlu dilestarikan keberadaannya karena sudah berusia lima puluh tahun ke atas dan memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan/atau kebudayaan. Lihat, Undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya, dalam www.kebudayaan.kemdikbud.go.id. Lihat, DirektoratKebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga, Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan, Studi Penyelamatan Kekayaan Budaya,(Jakarta: Bappenas, 2006), h. 5. Lihat juga, makalah hasil Penelitian Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan RI tentang “Rumah Ibadah Bersejarah” yang diseminarkan pada Pra Seminar “Rumah Ibadah Bersejarah” di Hotel Sofyan Betawi – Jakarta, pada Kamis, 11 Agustus 2016 dan Seminar “Rumah Ibadah Bersejarah” di Merlynn Park Hotel, Jl. K.H. Hasyim Asy’ari, Gajah Mada – Jakarta Pusat, pada Kamis – Jumat, 17 – 18 November 2016.)

    Baca juga :  Mathla'ul Anwar Siap Sukseskan Program Menteri Agama

    Kitab yang membahas tentang akhlak dan etika ini, berukuran 17 x 12 cm, terdiri dari 4 bab dan berjumlah 10 halaman, selesai ditulis pada, 12 Jumadil Ula 1345 H/ 1926 M. atau 19 tahun sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945/ Jumat legi, 9 Ramaḍan 1364 H, (Lihat, Suryanegara, Api Sejarah 2, h. 153, 204.) dan diterbitkan oleh Toko kitab Harun bin Ali Ibrahim, Pekojan, Betawi (Jakarta).

    Bab pertama kitab Manẓūmāt menjelaskan tentang segala hal yang dapat menyebabkan hafal dan lupa, serta yang menyebabkan kaya dan fakir; Bab kedua menjelaskan tentang keutamaan bersiwak (gosok gigi); Bab ketiga menjelaskan tentang tujuh golongan yang mendapat naungan pada hari kiamat; sedangkan Bab keempat menjelaskan tentang sepuluh amal yang pahalanya takkan pernah putus (terus mengalir).

    Baca juga :  Syaikh Mesir turut Memberikan Tausiyah dalam KBN MA

    Akhlak dan etika sebagaimana disebutkan dalam kitab Manẓūmāt menjadi kelaziman dalam dunia pendidikan Islam.Misalnya al-Zarnūjī juga membahas hal ini dalam kitab Ta’līm al-Muta’allim, (Pengarang kitab Ta’līm al-Muta’allim Ṭariq al-Ta’allum adalah Syekh al-Zarnuji, yang nama lengkap beliau adalah Syekh Tajuddin Nu’man bin Ibrahim bin al-Khalil Zarnuji. Lihat, Marwazi, “Konsep Pendidikan Dalam Kitab Ta’lim al-Muta’allim Karya Az-Zarnuji dan Aplikasinya di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Mojo Kediri,” Disertasi PPs IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1998, h. 28. Syekh Ibrahim bin Ismail, Sharah Ta’līm al-Muta’allim (Petunjuk Menjadi Cendekiawan Muslim). Penerjemah M. Ali Chasan Umar, (Semarang:PT. Karya Toha Putra, 2000), h. iii. Aliy As’ad, Terjemah Ta’limul Muta’allim Bimbingan Bagi Penuntut Ilmu Pengetahuan,(Kudus: Menara Kudus, 2007), h. ii. Lihat juga, Abdullah Kafabihi Mahrus, Ta’lim Muta’allim,(Kediri: Santri Salaf Press, 2015), h. 3.) dan al-Ghazālī (w. 505 H.) yang dikenal sebagai Ḥujjah al-Islām dan juga termasuk salah seorang pemuka Ash’ariyah, membahasnya dalam kitab Iḥyā al-‘Ulūm al-Dīn. ( Karya Al-Ghazālī yang paling monumental adalah Iḥyā al-‘Ulūm al-Dīn, karya yang dapat disebut sebagai magnum opus Al-Ghazālī mengenai etika spiritual. Lihat, Didin Saepudin, “Kejayaan Imperium Islam: Kajian Sejarah, Politik, dan Intelektual di Masa Dinasti Abbasiyah,” h. 215. Lihat juga, Hamdani Anwar, “Ijtihad Abu Yazid dan Hulul Al-Hallaj (Studi Perbandingan tentang Tauhid dalam Sufisme),” h. 48.)

     359 total views,  2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial