Sunday , 31 May 2020

SEBARKANLAH KEDAMAIAN

  • 12 May, 2020  11:39:33 

  •  

    Oleh: Agus Nurcholis Saleh*

    BERSYUKURLAH sebesar-besarnya karena kita bukan hasil karya manusia. Berterima kasih lah yang sebesar-besarnya karena manusia tidak dibuat oleh pabrik di kota. Tapi manusia diciptakan oleh Allah dengan sempurna. Meskipun senyatanya banyak manusia tidak tahu siapa penciptanya. Bahkan ada yang meraba-raba siapa Dia, dan tidak malu-malu untuk melawan Sang Pencipta. Ada juga yang tidak berminat mengetahui-Nya.

    Tapi bagi Allah tidak masalah. Allah mengizinkan dunia untuk “dimiliki” manusia. Silahkan berbuat sebebas-bebasnya. Allah membiarkan semau-maunya manusia. Bahkan, sampai ‘tega’ ketika banyak manusia menganggap Allah tidak ada, sehingga manusia berbuat semena-mena. Tega itu bukan kepada Allah. Tapi manusia sangat tega dengan merusak diri sendiri. Ada pikir untuk menjadi. Ada hati untuk berkomunikasi.

    Manusia ditantang untuk cerdas secara sempurna. Sebagaimana sempurna penciptaannya, maka manusia “dituntut” untuk cerdas dengan selamat di dunia. Tidak hanya dalam lisannya, tapi pikiran dan perasaannya. Ada umur untuk dimanfaatkan. Ada perempatan untuk melanjutkan perjalanan. Allah memberikan segala yang dibutuhkan manusia, termasuk kemampuan untuk memilih kedamaian, kebahagiaan, dan keselamatan.

    Mari kita berandai-andai demi kecerdasan. Suatu waktu, kita diberikan pilihan tentang kejadian yang menimpa manusia. Misal respon yang diberikan hanya dua: cemberut atau tersenyum. Banyak manusia tidak menyadari bahwa ekspresi wajah cemberut dapat menciptakan lipatan dan kerutan pada wajah, khususnya di bagian dahi dan sisi mulut. Akibatnya, wajah manusia jadi tampak lebih tua dan lelah.

    Sedangkan tersenyum adalah berkah dari Allah kepada setiap manusia sebagai sesuatu hal yang paling mendasar yang bisa dilakukan oleh seluruh manusia. Hasil penelitian membuktikan bahwa wajah tersenyum lebih jujur daripada yang tidak tersenyum. Orang dengan senyuman sangat mudah untuk mendapatkan teman, bantuan, atau kelapangan. Sebelum melalui bahasa, senyuman adalah pintu masuk berlapang dada.

    Baca juga :  Kurban dari Indonesia Sampai ke Desa Prasejahtera di Etiopia

    Manakah yang harus dipilih manusia? Fakta menjawab sebaliknya. Sembilan dari sepuluh orang yang diberikan senyuman, memilih melongkeun daripada membalas senyuman. Padahal secara teori, smile is contagious. Senyuman itu menularkan. Tentu, angka 90% stress itu hanya statistik. Sebagai bandingan, sebuah penelitian di tahun 2016, dari sekumpulan foto delapan wajah, empat orang tersenyum, empat lainnya tidak.

    Ada manusia-manusia yang beralasan karena belum kenal baik. Justru di situ keyword-nya. Itulah salah satu ujian untuk manusia. Sebagai sesame ciptaan Allah, senyuman itu kenikmatan yang universal. Allah memberikan kepada semua manusia, tidak si miskin dan tidak si kaya, tidak si pintar tidak juga si bodoh. Pertanyaannya, apa tekanan yang telah menerpa, kenapa banyak sekali yang lebih respon kepada si kaya atau pejabat berkuasa?

    Mari manusia belajar kepada semut hitam. Andai kita berpapasan, manusia diberikan beberapa pilihan: apakah diam, apakah hanya melirik saja, apakah pura-pura tidak melihat, apakah hanya memicingkan mata, apakah hanya sedikit menengok dan diam, apakah seakan-akan tidak ada apa-apa, ataukah meluangkan sedikit waktu untuk menengok dan memberikan senyuman, ataukah berhenti sejenak memanfaatkan kesempatan.

    Diantara pilihan-pilihan yang tersedia, manusia memiliki motif untuk melakukan suatu pekerjaan. Ada kebaikan untuk kebaikan. Kalau kejahatan, pastilah motifnya bersifat mencelakakan. Jika tidak bermotif sama sekali, tidak angin tidak hujan tiba-tiba bermunculan, hal itu sudah menjadi karakter yang tidak bisa berubah lagi. Bisa jadi sudah sebuah rutinitas yang tidak ada kesempatan lagi untuk “memperbaiki”.

    Tentu, manusia bebas memilih apapun pekerjaan yang ingin dilakukan. Diantara cemberut dan tersenyum, mari kita timbang-timbang keuntungan dan kerugian. Apakah senyuman itu pekerjaan formal yang menghasilkan? Kalau tersenyum, berapa bayaran setiap kali ditampilkan? Atas alasan apa saya/kami harus tersenyum? Kalau tidak tersenyum, apa akibat yang akan diterima manusia? Marilah cerdas dalam perhitungan.

    Baca juga :  PELUANG BEASISWA DI UNIVERSITAS ISLAM MADINAH PERIODE TAHUN 2017 M

    Penulis meyakini sepenuh hati bahwa kunci surga itu terletak pada senyuman yang tulus atas nama Allah. Senyuman adalah tanda kebahagiaan yang paling universal. Kalau karena kekayaan, orang miskin tereliminasi. Kalau cantik/ganteng, orang jelek tersingkirkan. Kalau karena pintar/cerdas, orang-orang bodoh terpinggirkan. Kalau karena ukuran status/kedudukan, orang-orang yang tak berkursi akan penuh dengan tekanan.

    Jika menggunakan kriteria buatan manusia, maka yang terjadi adalah persaingan demi persaingan sampai salah satu meregang. Setelah itu, lahirlah balas dendam dan permusuhan yang tiada berkesudahan kecuali dengan kematian. Diantara kedua kutub itu adalah peminggiran, pengusiran, pemecatan, pengaku-akuan, keangkuhan, dan ke-an ke-an lainnya yang tidak memenuhi unsur keseimbangan dan keadilan.

    Oleh karena itu, terimalah kehadiran Allah dengan penuh kebahagiaan. Apa sih yang bisa dibanggakan oleh manusia? Nothing. Semuanya adalah pemberian dari Yang Kuasa sebagai pemilik semesta. Bahkan semakin hari, hutang manusia semakin menumpuk. Andai saja tidak “direlakan” oleh Allah, semua manusia sudah stress diburu debt collector. Sekali lagi, apa alasan manusia untuk tidak berdamai dengan kedamaian?

    Senyuman adalah media penyebar kedamaian. Bagaimana senyuman berhubungan dengan kedamaian, inilah tantangan kecerdasan. Jadi, Allah mengajak umat Islam untuk mengembangkan kesempurnaan dalam hal kecerdasan. Orang tua yang ditantang, supaya sejak kecil membiasakan senyuman kepada anak-anak yang dititipkan. Pelatihan senyuman ini harus disegerakan, supaya jangan terlambat menikmati kebahagiaan dari senyuman.
    Rasulullah SAW. bersabda:
    « وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَمْرٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ ».

    Baca juga :  Husnan Bey Fananie Bicara di Konperensi PBB: Rakyat Indonesia Tak Terima Masjid Aqsa Ditutup!

    Barang siapa hendak masuk ke surge, maka kuncinya keimanan. Allah adalah Maha Kasih dan Sayang. Semua manusia diberikan jaminan. Sejak di zaman persiapan, sebelum diturunkan ke dunia, Allah telah membekali manusia dengan segala-gala yang dibutuhkan nanti di dunia. Setelah manusia menyatakan ikrar, maka semua kebutuhan telah dipersiapkan sebagaimana lamanya usia manusia itu akan hidup di dunia.
    Keimanan itu keyakinan. Surga adalah hadiah bagi yang konsisten berkeyakinan. Untuk mengetahui keyakinan, salah satu tandanya adalah care. Artinya, diantara orang-orang yang beriman harus memiliki kepedulian. Tidak hanya dalam suka, tapi justru care itu harus dalam kondisi berduka. Teman dalam suka, belum tentu berteman dalam duka. Pertemanan sahabat itu harus diuji dalam keterpurukan duka.
    Mungkin sesekali manusia harus diingatkan tentang masa lalu, “Wahai manusia, ingatkah kejadian di masa itu?” Ketika Allah menegaskan dalam satu pertanyaan, dan manusia merespon dengan keyakinan, ‘YA TENTU’. Oleh karena itu, manusia harus segera menjawab ikrar itu dengan pembuktian. Kasih sayang itu harus bersandar sempurna kepada Allah. Jangan setengah-setengah. Jika sudah Islam, masuklah secara keseluruhan.
    Keimanan itu harus dibuktikan.

    Keimanan adalah kepercayaan, karena seketika manusia lahir ke dunia, maka segala bekal telah diberikan. Manusia dewasa di sekitar manusia baru itu yang mendapatkan tugas untuk menjaga, melindungi, dan menyayangi. Sudahkah tersenyum di hari ini? Kalau belum terbit, segera melatih diri, semoga esok hari ada secercah energy, supaya wajah kita memancarkan cahaya.
    Wallahu a’lam.

    *Dosen Program Studi Ahwal al-Syakhsiyyah Fakultas Agama Islam Universitas Mathla’ul Anwar Banten

     46 total views,  2 views today

    Please follow and like us:

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial