Friday , 25 September 2020

ANTARA WUDHU DAN VIRUS CORONA

  • 24 May, 2020  02:07:08 

  • Oleh: Prof. Dr. H. Muhtar Solihin, M.Ag.*

    Akhir-akhir ini berita penyebaran virus corona (Covid-19) begitu mengharubirukan dunia maya, dan menghiasi berita-berita media massa baik cetak maupun elektronik. Virus yang menyerang seluruh negara-negara di dunia ini belum ditemukan tanda-tanda mereda. Berbagai upaya telah dilakukan oleh para ahli untuk menangkal dan menyembuhkan virus ini, tapi sampai hari ini belum ditemukan kepastian obatnya. Usaha pencarian dan penyembuhan virus corona ini tidak hanya dilakukan oleh para ahli virus dan ahli pharmasi, tetapi juga oleh para ahli agama atau tokoh-tokoh pemikir muslim.
    Yang disebuntukan terakhir itu yakni tokoh-tokoh pemikir cukup menarik, ketika mereka menyimpulkan berupa tawaran bahwa virus corona bisa dicegah penyebarannya dengan “wudhu”. Persoalan yang menarik adalah ada apa dengan wudhu sehingga bisa mencegah penyebaran virus yang jahat itu?
    Istilah “wudhu” berasal dari kata: وضأ (wadha’a) yang artinya adalah kebaikan, kebersihan, dan keindahan (lihat: Kitab al-Shihah Tâj al-llughoh wa Shihâhul Arabiyyah, Jilid 1, hal. 80). Selanjutnya dalam kitab ‘Ain dan kitab Lisânul Arab dijelaskan bahwa sebelum Islam diturunkan tidak dikenal istilah “wudhu” (dengan baris dhomah di huruf waw-nya), tapi yang dikenal dalam percakapan orang Arab jahiliyah sehari-hari sebelum Islam datang adalah “wadhu” (baris fathah pada huruf waw-nya) yang berarti alat untuk bersuci, yakni air (lihat: Kitab Lisânul Arab, jilid 1, hal. 194).
    Kemudian ketika Islam turun, barulah orang Arab mengenal istilah “wudhu” (baris dhommah pada huruf waw-nya) yang maksudnya pekerjaan untuk bersuci. Jadilah istilah wudhu sebagai istilah syar’i yang datang sebagai syariat islam untuk mensucikan diri ketika hendak melaksanakan shalat.
    Tegasnya istilah “wudhu” menjadi istilah syariat yang datang bersamaan Islam diturunkan dan dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Abdullah bin Abdurrahman dalam Syarh Umdatul Ahkam: Kata wudhu adalah kata yang bersifat syar’i, dan tidak di ketahui oleh orang-orang Arab sebelum datangnya Islam. Oleh karena itu kata wudhu adalah kata yang ada karena datangnya Islam, dan sejak datangnya Islam itulah kata wudhu menjadi popular karena bersamaan dengan pekerjaan lima waktu seharai-hari melaksanakan shalat. Selanjutnya perlu juga dijelaskan di sini bahwa kata wudhu menjadi popular dengan mengandung perluasan mengandung perluasan makna menjadi makna “indah” dan “besinar”, jadilah wudhu didefinisikan menjadi “bersih, indah, dan bersinar”.
    Mengapa istilah wudhu meluas dengan makna “indah dan bersinar”? Hal ini karena terkait dengan Hadits Rasul yang mengatakan “Antumul ghurrul muhajjalûn”, sebagaimana hadits yang telah diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. :
    Saya mendengar Nabi SAW bersabda: “Pada hari kebangkitan nanti, pengikut saya akan disebut ‘al-Ghurrul Muhajjalûn’ dari jejak wudhu dan siapa pun yang bisa meningkatkan wilayah pancarannya cahayanya haruslah dilakukan (dengan melakukan wudhu secara teratur)”.
    Kata wudhu terkait dengan “ghurrul muhajjalûn” itu dikarenakan orang yang berwudhu akan memperoleh keindahan di dunia dan keindahan di akhirat. Keindahan di akhirat biasa dikenal dengan “ghurrul muhajjalûn” yang artinya adalah keindahan yang tampak sangat memancar dikarenakan bekas wudhu.
    Disamping mengandung makna “”ghurrul muhajjalûn”, maka ada tambahan perluasan kandungan makna lagi dengan “bersinar”. Tambahan makna “bersinar” itu karena kata wudhu memiliki derivasi makna dengan akar kata dari “dho’u” (sinar) seperti pada kata: “dho’u al-syamsi” (sinar matahari). Oleh karena itulah orang yang berwudhu adalah orang yang “bersih, indah, dan bersinar”.
    Lantas apa kaitannya wudhu itu dengan virus corona (Covid-190)…? Sebagaimana kita ketahui informasi bahwa vius corona itu, berdasarkan pendapat para pakar virus, itu bermula dari wilayah Wuhan Cina yang terbiasa mengkonsumsi makanan dari hewan dan binatang melata yang diharamkan dalam Islam. Di Wuhan Cina itu binatang-binatang buas, serangga, melata, semua diperjualbelikan secara bebas. Ada daging ular, kelelawar, tikus, kalajengking, babi, anjing, srigala dan lain-lain diperjual belikan di sini untuk dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari. Hasil kesimpulan para peneliti virus bahwa dari binatang-binatang seperti itulah virus corona muncul dan berkembang ke seluruh dunia.
    Dalam ajaran Islam kita mengenal bahwa binatang-binatang dan makhluk melata itu diharamkan syari’at. Kontek keharaman itu bisa dideteksi dan dianalisa dari jenis binatang buas dan atau menjijikan itu yang terbiasa hidup dalam alam yang sangat kotor. Alam kotor yang dimaksud di sini bisa dipahami bukan sekedar alam fisik, tetapi secara alam non fisik (psikis). Alam fisik adalah kotoran yang menjijikan, najis, bau, dan penuh kotoran yang sangat membahayakan bagi kesehatan manusia. Sedangkan kotoran dalam makna non fisik (psikis) adalah kotoran jiwa berupa perilaku-perilaku kebinatangannya. Perilaku-perilaku kotor binatang misalnya bisa dilihat dari perilaku yang suka menerkam, menyengat, menyembur, menggigit, mencabik, mencengkram, mengerat dan seterusnya. Binatang-binatang buas dan melata itu biasanya menerkam dengan kejamnya, menyengat mengeluarkan racun, menyembur dengan mendesikan bisa, menggigit dan mengerat dengan gigi-gigi tajam yang mengandung enzim racun/bisa yang mematikan, serta mencakar dan menyambar dengan kuku-kuku tajam dan kuku kotornya.
    Ketika kondisi fisik (kotoran nyata) dan psikis (kotoran sifat kebinatangan) itu berbaur menjadi satu maka akan melahirkan kotoran-kotoran yang dapat menumbuhkembangkan virus corona. Dalam konteks itulah kemudian air yang dipakai untuk berwudhu sesungguhnya merupakan air yang bersih, suci dan menyucikan sebagai gabungan antara “air fisik” dengan “air suci”. Air fisik itu menjadi suci dan menyucikan karena sudah dibacakan lafazh-lafazh atau asma-asma Allah, dibacakan lafazh niat yang suci, dan dido’akan dengan lafazh-lafazh ikhlas karena Allah Ta’ala. Inilah yang akan menjadi “energi fisik” dan “energi spiritual” yang bisa mematikan virus corona.
    Energi fisik yang terkandung dalam air suci untuk berwudhu sesungguhnya dapat berfungsi membersihkan kotoran lahir yang menjadi tempat populasinya virus corona, sedangkan energi spiritual/bathin adalah mematikan sifat-sifat dan perilaku kebinatangan dan perilaku kemelataan yang menjadi sumber munculnya virus corona seperti dijelaskan di atas. Ini tentunya menjadi klop antara energi fisik dan energi spiritual ini yang bergabung mematikan virus corona. Kalau sekedar air biasa (bukan air untuk berwudhu atau bersuci), di Cina (Wu Han) pun sesunguhnya pasti banyak air, tetapi berbeda dengan air wudhu yang suci menyucikan dan sudah memiliki “kekuatan energi spiritual” yang sangat besar.
    Itulah makanya istilah wudhu yang dimaknai sebagai “bersih, indah, dan bersinar”, sesungguhnya dapat mencegah dan menghilangkan virus corona. Untuk itu dalam protokol pencegahan menyebarnya virus corona kita selalu dianjurkan menjaga kebersihan dan sering mencuci tangan, dan bagi ummat Islam tentunya menjadi sangat sangat signifikan protokol kesehatan itu ditambah dengan berwudhu yang di dalamnya mengandung energi spiritual, dan energy ini sanagat efektif untuk mencegah dan menghilangkan virus corona. Semoga []

    Baca juga :  Press Release Mathla’ul Anwar (MA) Menyambut Kabinet Indonesia Maju 2019 – 2024

    *(Guru Besar UIN SGD Bandung, dan Wakil Kordinator-1 Kepertais Wilayah II Jawa Barat-Banten)

     200 total views,  2 views today

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial