Thursday , 24 September 2020

PENYUCIAN JIWA DALAM PERSPEKTIF TASAWUF AL-GHAZALI: SEBUAH RESENSI BUKU PENYUCIAN JIWA DALAM PERSPEKTIF TASAWUF AL-GHAZALI: SEBUAH RESENSI BUKU MUKHTAR SOLIHIN SOLIHIN

  • 08 June, 2020  10:30:03 

  • Agus Nurcholis Saleh (2020)

    Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwa, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya. Rugi atau untung itu dipilih sendiri dan diputuskan oleh manusia. Tidak ada campur tangan orang lain sama sekali kecuali dengan pemaksaan. Kebaikan atau keburukan dengan paksaan, suatu saat akan luntur dengan sendirinys, ketika orang tersebut benar-benar menyadarinya dimana tempat paling pas untuknya.

    Setiap manusia pasti menghendaki keuntungan dan menyesali kerugian. Ini adalah kodrat asasi, siapapun dan dimanapun manusia itu hidup. Sebagaimana lapisan/bagian yang ada dalam tubuhnya, maka keuntungan dan kerugian itu terbagi tiga. Pertama, keuntungan secara lahiriyah, terlihat alias kasat mata. Kedua, keuntungan secara pikiran. Ketiga, keuntungan secara batiniyah, baik perasaan biasa maupun perasaan terdalam manusia.
    Dari ketiga jenis keuntungan itu, kebanyakan orang terfokus pada badani atau lahiriyah saja. sedangkan kedua keuntungan lainnya terabaikan, atau jarang dipikirkan. Di posisi ini, maka banyak orang akan mengatakan, ”Alhamdulillah sehat badannya mah.” Seakan-akan badan sebagai leader di atas dua potensi lainnya. Padahal, dari aspek kejiwaan, badan itu hanyalah bungkus atau symbol dalam kehidupan.
    Dalam perspektif tersebut, penulis harus mempromosikan buku ini untuk dibaca sebagai pelengkap wawasan. Sebagai umat Islam, Alquran adalah panduan kehidupan. Dengan buku ini, kita akan dibawa untuk berselancar kepada keindahan Islam. Sebagai objek kajian, Al-Ghazali berhasil mengajak banyak umat Islam untuk memandang penting jiwa sebagai objek sekaligus subyek untuk kelangsungan hidup manusia.

    Jiwa laksana cahaya di dalam tubuh manusia. jika cahaya itu terhalangi, maka tubuh menjadi gelap. Dalam kegelapan, manusia akan berjalan di kehidupan tanpa penerangan. Oleh karena itu menjadi sebuah kewajaran jika menabrak atau tertabrak sesuatu. Apakah tabrakan itu hanya pelan-pelan atau terjadi secara keras dan mengakibatkan pecahan (kerusakan), tergantung seberapa terburu-burunya manusia itu berjalan.

    Faktor yang menghalangi cahaya memancar adalah dosa dan maksiat. Cahaya itu bersifat terang. Sedangkan dosa dan maksiat bersifat gelap. Dengan dosa, apa-apa yang terang menjadi gelap. Semakin berdosa maka semakin gulita. Tidak jujur itu sama dengan berbohong. Jujur itu sangat disukai. Kalau tidak jujur maka tidak ada yang menyukai. Orang yang sering berbohong pun tidak menyukai siapapun yang tidak jujur.

    Baca juga :  ISRAEL TEMBAK PENGEMBALA KAMBING DI NABLUS

    Dalam buku ini, ketidakjujuran adalah bagian dari kejahatan lidah (h. 136–138). Al-Ghazali merinci kejahatan lidah ini menjadi lima jenis: la’n, al-aw’d al-kadzib, kidzb, fitnah, dan ghibah. Jika seseorang melaknat seseorang, maka ia sedang memilih dari tiga keadaan: kufur, bid’ah, dan fasik. Ketiga keadaan tersebut sama jeleknya dan sama gelapnya. Oleh karena itu, ketiga keadaan itu akan menjadi penghalang pancaran cahaya hati.

    Itulah sebabnya manusia harus senantiasa membersihkan hati. Manusia sudah berjanji kepada Allah untuk setia di jalan-Nya. Oleh karena itu, manusia harus memenuhi janji itu dalam berbagai kondisi, dan dimanapun manusia berada. Kata kunci dari pemenuhan janji tersebut adalah menjaga lisan dari kejatuhan ke dalam kenistaan. Kata kunci tersebut harus dilaksanakan oleh manusia jika ingin selamat di dunia dan sampai di akhirat.
    Jika manusia tidak bisa memenuhi janji tersebut, maka manusia telah berkhianat kepada Allah. Ketika melanggar janji, manusia telah berbohong, karena dahulu mengatakan iya. Namun setelah di dunia, manusia tertipu oleh gemerlap dunia. Manusia bukan tidak mampu untuk memenuhi janji tersebut, tapi manusia memilih untuk mengabaikan pemenuhan karena factor kemalasan dan ketidakseriusan.

    Berbohong adalah salah satu sifat orang munafiq. Artinya, di depan mengatakan iya sedangkan di belakang berlaku sebaliknya. Kebohongan itu tidak mendatangkan keuntungan sedikit pun kecuali tekanan demi tuntutan. Sekali berbohong, maka ada semacam tarikan untuk melakukan kebohongan berikutnya. Lama semakin lama, manusia itu sudah tidak canggung lagi (sudah biasa) untuk berbohong.

    Kebohongan itu tidak hanya merugikan orang yang dibohongi, tapi yang paling berbahaya adalah menyakiti diri sendiri. Manusia yang berbohong harus melawan nuraninya sendiri. Lisannya dipaksa oleh dorongan hawa (emosi) demi sesuatu yang keuntungannya sesaat saja. Seseorang yang telah biasa berbohong, pasti memaksa nuraninya untuk bengkok. Itulah penganiayaan manusia yang mengakibatkan kerusakan segala-gala.

    Baca juga :  Ribuan Warga akan hadiri Peringatan 101 Mathla'ul Anwar

    Dari kebiasaan itu, manusia mudah sekali memfitnah orang. Oleh karena biasa, ghibah pun menjadi biasa. Ia tidak merasa beban jika harus membicarakan kejelekan orang. Padahal, orang tersebut tidak ada kaitan kepentingan. Ghibah, fitnah, dan bohong adalah tiga sekawan yang harus dijauhkan. Jika berdekatan dengan salah satunya, maka bersiap-siaplah untuk terjun dalam kubangan dosa, kotoran, dan penganiayaan.

    Sungguh, lidah itu tidak bertulang. Peribahasa ini harus menjadi pelajaran bagi manusia untuk waspada dan hati-hati. Oleh karena itu, Rasulullah mewanti-wanti (warning) agar tidak selalu menggunakan lidah untuk memproduksi kata-kata. Jika manusia tidak yakin dengan perkataan yang hendak kita keluarkan, bahwa kata-kata/kalimat itu akan mengandung kebaikan, maka jalan yang terbaik adalah diam.

    Sejatinya, lidah ini disibukkan oleh manusia untuk memuji Allah, dalam berbagai kesempatan. Allah menyebut dua kali dalam Alquran bahwa dzikr itu bisa sambil berdiri, duduk, dan berbaring. Manusia dalam berbagai kesempatan dan keadaan, terutama di tiga kesempatan itu, maka harus selalu ingat kepada Allah (dzikr). Hal ini tidak hanya untuk pembersihan jiwa semata, tapi sekaligus menjaga dan memelihara kesempurnaan manusia.

    Dengan jiwa itulah, manusia dapat berperasaan, berpikir, berkemauan, dan berbuat. Keselamatan dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat banyak bergantung pada keadaan jiwanya karena jiwa itulah tempat bergantungnya kedurhakaan atau ketaatan manusia kepada Allah. Orang yang jiwanya kotor akan menampakkan kedurhakaannya. Sebaliknya, orang yang jiwanya bersih akan menunjukkan ketaatannya kepada Allah (h. 10).

    Kotor dan bersih itu sangat bergantung pada pemeliharaan. Pada awalnya, manusia itu suci dan sempurna. Jika manusia tidak menjaga, maka kesuciannya tidak terjaga. Jika kesempurnaannya tidak dipelihara, manusia sama dengan sedang menganiaya dirinya. Jika sempurna itu di angka 100, maka kemalasan manusia dalam menjaga sama dengan minus dalam angka. Jadi angka 100 itu setiap hari dikurangi sampai tidak ada sisa lagi.

    Baca juga :  Kesan Fauzi Baadila Saat Lihat Praktik Wakaf Produktif di Blora

    Oleh karena itu, Allah mengajak manusia untuk menjaga dan memelihara. Pertama, Allah mengingatkan pemeliharaan itu dengan shalat. Allah memanggil manusia sebanyak lima kali dalam sehari, “Ayo menuju bahagia melalui shalat.” Kedua, Allah mengulangi pemeliharaan manusia secara mingguan. Aktivitasnya masih berupa shalat, yaitu Jum’atan. Allah mengajak manusia untuk meninggalkan aktivitas dunia dengan segera.

    Jika masih ada manusia yang terlena dengan panggilan, dan manusia masih disibukkan dengan urusan dunia, maka Allah menegaskan bahwa hanya Dia-lah yang terbaik dalam memberi rejeki. Dengan demikian, kunci terjadinya kebaikan atau keburukan ada di tangan manusia. Allah hanya memberitahukan, mengingatkan, dan mengizinkan saja. Segala pilihan perbuatan, manusia yang berkuasa. Permasalahannya tertelak pada keyakinan.

    Keyakinan adalah bahasa paling sederhana tentang iman. Pada awal kelahiran, orang tua diberi tugas untuk membangkitkan keimanan. Oleh karena itu, Alquran harus menjadi hal pertama yang harus disampaikan orang tua kepada anak-anaknya. Semakin cepat semakin baik. Segera setelah lahir, bahkan sebelum lahir, saat dalam perut ibunya, Alquran harus segera dikenalkan secara dawam.

    Jika orang tua (ibu) terlambat menyampaikan, maka besar sekali peluang untuk terjadinya kotoran dalam jiwa. Hal itu karena masukan yang tidak seharusnya dimasukkan oleh lingkungan dan keluarga pada manusia fase pertama. Dan membersihkan itu akan lebih pahit, lebih sakit, lebih lama, lebih dalam biaya, daripada menyiapkan dan menjaga sejak pertama gubrag ke dunia. Itulah yang dimaksud dengan Tazkiyat al-Nafs oleh al-Ghazali.
    Buku ini pertama kali dicetak oleh Pustaka Setia Bandung pada Oktober tahun 2000. Buku ini berjumlah 172 halaman. Referensi yang digunakan oleh penulis adalah sebanyak 151 kitab/buku. Sedangkan kitab Abu Hamid Muhammad al-Ghazali yang dijadikan rujukan oleh penulis sebanyak 25 kitab. Semoga berkah Allah untuk semuanya. Wallahu a’lam.

     107 total views,  2 views today

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial