Saturday , 21 November 2020

Menghadirkan Keluarga Ibrohim AS di Rumah Kita

  • 30 July, 2020  22:27:01 

  • Oleh: Dede Fahruroji
    (Sekretaris PDMA Kabupaten Bogor)

    Mathlaulanwar.or.id,- (Inspirasi) Rasa khawatir, jengah bahkan mungkin kecewa akan kita rasakan saat melihat keadaan gaya hidup dan pergaulan anak disekitar kita, dimana kondisi saat ini sudah jauh dari harapan kita sebagai orang tua; kenakalan remaja, pergaulan bebas serta berbagai jenis kecacatan serta penyakit sosial telah menjangkit ke setiap sendi kehidupan, bahkan mungkin telah lama hadir dalam keluarga kita, dan celakanya kita sendiri tidak mampu menepisnya karena kitapun sudah dalam kondisi yang sama telah dijangkiti penyakit akut yang mengerogoti moralitas serta sistem religiusitas kita.

    Dalam keadaan yang semakin kritis, kita terdorong untuk mengenang romantisisme masa lalu, dimana harmoni kehidupan yang dihadirkan oleh para orang tua kita sangat syahdu sehingga proses hidup dan kehidupan berjalan begitu padu. Kita rindu suasana sore, dimana anak anak terlihat hilir mudik pergi ke surau untuk mengaji, mereka menenteng tas lusuh berisikan buku dan kitab suci, mereka tidak kenal HP, gudget apalagi game online seperti sekarang.

    Saat ini tidak ada satu juruspun yang mampu menepis moderenisasi yang terus menggerogoti sendi kehidupan selain kita harus membentengi semua keluarga dengan menghadirkan spirit keluarga Ibrohim AS didalam rumah kita.

    Setidaknya ada tiga langkah yang harus dilakukan untuk menghadirkan keluarga Ibrohim AS di dalam rumah kita.

    Pertama, kesungguhan berdoa agar dikarunia anak saleh. Nabi Ibrahim AS menginginkan keturunannya menjadi keturunan yang saleh, beliau selalu berdoa untuk dikaruniai anak yang
    saleh, “Rabbi habli minasshalihin” demikian doa yang selalu dibaca Nabi Ibrahim AS. Dalam kehidupan sekarang, sudahkan kita serius dalam berdoa dan bermunajat kepada Allah Swt sebagai Sang Pemberi segalanya ? Sudahkah kita sungguh sungguh memohon dikaruniai anak yang saleh ?.

    Kedua, Keteladanan orang tua. Dalam sebuah syair puisi yang berjudul Children Learn Wahat They Live karya Dorothy Law Nolite mengisyaratkan kalau anak akan belajar sesuai dengan kehidupan sehari harinya yang ia jalani, jika anak dibesarkan dalam celaan ia akan belajar memaki. Jika anak dibesarkan dalam permusuhan maka ia akan belajar berkelahi, begitu juga jika anak dibesarkan dalam dorongan maka ia akan belajar percaya diri Ini penting, bagaimana kita menerjemahkan keteladanan tersebut dalam kehidupan sehari hari ?. Kata kuncinya, jika ingin memiliki anak sholeh maka kita sebagai orang tua harus lebih sholeh dan menjadi contoh bagi anak anak, sehingga akan terbentuk keluarga-keluarga hebat, keluarga yang sanggup mengabdikan seluruh kemampuannya untuk mencari keridhaan Allah Swt.

    Baca juga :  Berawal dari Rp. 400.000 menjadi sesuatu

    Ketiga, Pola komunikasi Keluarga yang baik. Ketika kenakalan remaja dan gaya hidup anak anak sudah sangat menghawatirkan, menjadi penting bagi orang tua memikirkan gaya berkomunikasi dengan anak-anaknya. Sebetulnya, orang tua bisa meniru gaya komunikasi Nabi Ibrahim dengan anaknya. Memang gaya komunikasi Nabi Ibrahim ini merujuk al-Quran. Tetapi, hemat saya, gaya komunikasi ini berlaku universal yang bisa dipelajari oleh orang tua saat ini. Coba kalau kita tengok surah ash-Shafat ayat 102. Ayat ini bercerita tentang dialog nabi
    Ibrahim dengan anaknya Ismail tentang penyembelihan (kurban):

    “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?’ Ia menjawab, ‘Hai bapakku,
    kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”

    Topik pembicaraan antara Ibrahim dan Ismail adalah mimpi Ibrahim. Dalam mimpi itu, Ibrahim melihat dirinya menyembelih anaknya sendiri. Dalam dialog Ibrahim meminta anaknya memikirkan mimpi itu. Tetapi jawaban yang muncul dari Ismail adalah meminta Ibrahim melaksanakan perintah Allah.

    Mari kita perhatikan dialognya. Ibrahim berkata, “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
    menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu?” Ismail menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah
    kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

    Ibrahim sama sekali tidak mengatakan bahwa Allah memerintahkan dirinya untuk menyembelih Ismail. Tetapi Ismail memaknai mimpi yang diceritakan ayahnya itu wahyu Allah untuk menyembelihnya. Maka timbul pertanyaan mengapa Ismail begitu percaya bahwa cerita ayahnya adalah wahyu dari Allah ?. Dalam kajian ilmu komunkasi, keberhasilan sebuah proses komunikasi dalam menghadirkan komunikasi efektif disebabkan oleh hal hal sebagai berikut, :

    Baca juga :  Puisi : Santri Membangun Indonesia

    1. Kredibitas Tinggi
    Kredibilitas adalah kepercayaan. Komunikan percaya komunikator tidak memihak dalam penyampaian pesan. Saat berdialog dengan Ismail, kalimat yang disampaikan Ibrahim tidak menunjukkan bahwa peristiwa penyembelihan itu untuk kepentingan Ibrahim. Kalimat yang disampaikan Ibrahim hanya menceritakan mimpi apa adanya. Ibrahim tidak menambahkan keterangan pada mimpi itu sebagai wahyu dari Allah. Kalimat itu berupa, “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu”. Kepercayaan Ismail kepada Ibrahim semakin menguat ketika Ibrahim meminta pendapat Ismail tentang perisitiwa itu dengan kalimat, “Maka fikirkanlah apa
    pendapatmu?.” Dalam kajian komunikasi, penerima pesan (komunikan) percaya kepada penyampai pesan (komunikator) apabila komunikator memiliki kredibilitas tinggi.

    Everett M Rogers (1983) mengatakan, kredibilitas adalah tingkat di mana komunikator dipersepsi sebagai suatu kepercayaan dan kemampuan oleh penerima. Menurut Alexis S Tan (1981)
    kredibilitas sumber terdiri dari dua unsur, yaitu keahlian dan kepercayaan. Keahlian diukur dengan sejauh mana komunikan menganggap komunikator mengetahui jawaban yang benar, sedangkan kepercayaan dioperasionalisasikan sebagai persepsi komunikan bahwa komunikator tidak memihak dalam penyampaian pesan.

    2. Kesamaan Pengetahuan dan Pengalaman
    Proses komunikasi akan berlangsung efektif, jika komunikator dan komunikan memiliki kesamaan. Wilbur Schramm menyebut ada dua kesamaan yang membuat komunikasi efektif, yaitu frame of reference (kerangka acuan) dan filed of experience (bidang pengalaman). Schramm menyatakan bahwa filed of experience atau bidang pengalaman merupakan faktor yang amat penting untuk terjadinya komunikasi. Apabila bidang pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, komunikasi akan berlangsung dengan lancar. Sebaliknya jika pengalaman komunikan tidak sama dengan pengalaman komunikator, akan timbul kesukaran untuk mengerti satu sama
    lain, atau dengan kata lain situasi menjadi tidak komunikatif. (Effendy,2003:30-31).

    Merujuk ke surah Ash-Shafat ayat 102 itu, disebutkan bahwa ada kesamaan
    pengalaman dan pengetahuan antara Ibrahim dan Ismail. Hal itu dapat dilihat dari redaksi awal ayat, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim….”. Ada dua hal yang ditunjukkan dari redaksi ayat ini. Pertama, usia Ismail saat itu berada pada usia memahami perkataan dan peristiwa dengan baik. Kedua, Ibrahim dan Ismail melakukan berbagai macam kegiatan bersama. Walau dalam ayat tersebut tidak diceritakan secara detil bentuk usaha kegiatan yang dilakukan keduanya.

    Baca juga :  IKAMA akan Menggagas usaha Biocyclo Farming dan Aquaculture

    Tujuan yang ingin dicapai Ibrahim dalam proses komunikasi adalah kerelaan Ismail untuk “dikorbankan”. Selain itu, Ibrahim berharap Ismail mengetahui bahwa “penyembelihan” itu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dua target yang ingin dicapai Ibrahim dalam komunikasi itu berhasil terpenuhi. Hal itu disebabkan, kesamaan frame of reference (kerangka acuan) dan filed of experience (bidang pengalaman). Kondisi itu juga ditopang dengan usia Ismail saat itu yang mampu berfikir dengan baik.

    Dari uraian di atas, dapat diambil point-point sebagai acuan dalam berkomunikasi kepada
    anak. Pertama, orang tua hendaknya selalu melakukan kegiatan bersama sehingga terbentuk kesamaan frame of reference (kerangka acuan) dan filed of experience (bidang pengalaman) antara orang tua dan anak. Kedua, menyelaraskan antara perkataan dan
    perbuatan. Hal inilah yang akan meningkatkan kredibilitas orang tua di mata anak. Ketiga, menyesuaikan pesan/informasi yang disampaikan kepada anak sesuai dengan usia sang
    anak. Seringkali, orang tua tidak menyesuaikan perkataan (informasi) yang disampaikan dengan usia anak. Kondisi ini membuat anak tidak mampu menalar pesan yang disampaikan dengan baik. Hasilnya, tujuan komunikasi tidak akan tercapai. Ketiga point di atas hendaknya bisa menjadi acuan para orang tua dalam berkomunikasi kepada anaknya.

    Jika hal ini dilakukan, penulis yakin komunikasi yang dilakukan akan berhasil. Hal itu telah dibuktikan oleh Ibrahim. Pertanyaan yang muncul, kapan kita akan mengikuti gaya komunikasi yang dicontohkan Ibrahim itu sehingga Keluarga Ibrohim AS akan benar benar hadir dalam rumah kita.

    Editor : Ghobriz

     62 total views,  2 views today

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial