Sunday , 11 April 2021

KIPRAH MATHLA’UL ANWAR DALAM BIDANG DAKWAH DAN PENDIDIKAN DI INDONESIA

  • 01 March, 2021  10:29:48 


  • Oleh: Ukun Kurnia

    Pendahuluan

    Organisasi Mathla’ul Anwar (MA) pada dasarnya adalah organisasi sosial-kemasyarakatan, dengan nuansa keagamaan Islam yang kental, seperti halnya Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Persis dan lainnya. Saat ini, Mathla’ul Anwar sudah berusia kurang lebih 105 tahun, yang berarti Mathla’ul Anwar sudah lebih dari 1 abad berkiprah dalam bidang kemasyarakatan dan keagamaan, khususnya dalam hal dakwah Islam dan penyelenggaraan pendidikan.

    Menjelang perhelatan Muktamar ke XX Mathla’ul Anwar (MA) yang akan dilangsungkan pada bulan April di Jakarta, tentu akan menarik rasanya untuk meninjau kembali bagaimana kiprah Mathla’ul Anwar, khususnya dalam bidang dakwah keislaman dan pendidikan di masyarakat. Upaya ini penting, terutama dikarenakan tidak semua orang memahami bagaimana eksistensi dan sumbangsih Mathla’ul Anwar, sekaligus untuk mengukur bagaimana potensi Mathla’ul Anwar sendiri di masa mendatang.

    Sejak berdiri pada tahun 1916 M, terutama oleh tokoh-tokoh seperti K.H. E. Moh. Yasin, K.H. Tb. Moh. Sholeh, K.H. Mas Abdurrahman, dan lainnya, yang terinspirasi juga oleh gerakan Sarekat Dagang Islam (SDI) pada tahun 1908 M, Mathla’ul Anwar sudah mengalami pasang surut dan pergolakan tertentu yang membuat dirinya matang dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada.

    Tujuan utama dari pendirian Mathla’ul Anwar sendiri adalah untuk meningkatkan kehidupan umat Islam di Indonesia menjadi lebih baik, di mana ajaran dan nilai-nilai Islam bisa menjadi dasar dan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Tujuan ini pula yang kemudian membuat para tokoh pendiri organisasi ini, mendirikan lembaga pendidikan dan berbagai bentuk pengajian keagamaan, yang diyakini menjadi langkah penting untuk membangun masyarakat yang selaras dengan nilai-nilai dan ajaran Islam tersebut.

    Dengan kata lain, organisasi Mathla’ul Anwar, sedari awal sudah meyakini bahwa dakwah keislaman yang dilakukan melalui kegiatan pengajian ataupun kegiatan-kegiatan kemasyarakatan lainnya, serta penyelenggaraan pendidikan dalam bentuk pendidikan formal, merupakan upaya penting untuk membangun kehidupan umat dan menjadi locus utama kegiatan organisasi Mathla’ul Anwar itu sendiri.

    Karena itu, tidak mengherankan pula jika pada akhirnya kiprah panjang Mathla’ul Anwar dalam bidang dakwah dan pendidikan ini sangat besar, dan bisa sinergi dengan kiprah organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan lain seperti Muhammadiyah ataupun NU.

    Namun demikian, karena kondisi dan alasan-alasan tertentu, Mathla’ul Anwar pernah mengalami masa surut, yang membuatnya harus menyusun ulang eksistensinya yang sempat meluas ke berbagai daerah di Indonesia. Hal ini pula yang membuat peninjauan kembali kiprah Mathla’ul Anwar dalam bidang dakwah dan pendidikan ini penting untuk dilakukan, agar Mathla’ul Anwar bisa kembali menyadari sejarahnya yang besar, dan bisa memberikan kontribusi lebih pada kehidupan umat dewasa ini.

    Mathla’ul Anwar dan Perluasan Makna Dakwah

    Pada masa awal pendiriannya, para tokoh Mathla’ul Anwar sudah meyakini bahwa dakwah Islam yang sesuai dengan ajaran ahlus sunnah wal jama’ah, adalah hal yang penting untuk dilakukan, karena pada saat bersamaan, tengan menguat gerakan pembaharuan dan pemurnian keagamaan di berbagai belahan dunia Islam, terutama yang berfokus pada doktrin Muhammad bin Abdul Wahab (wahabisme). Pendirian Mathla’ul Anwar, dengan demikian, memiliki tujuan praktis sebagai wadah di mana para ulama di daearah Banten bisa menyatukan gagasan untuk kemudian dimanifestasikan dalam tindakan-tindakan praktis membangun kehidupan umat Islam.

    Sekaligus memiliki tujuan ideologis, yakni bagaimana pandangan Islam rahmatan lilalamin, Islam ahlus sunnah wal jama’ah —yang mengakui pandangan empat mazhab utama (mazhab syafi’i, hanafi, maliki, dan hambali)—bisa tetap teguh di masyarakat.

    Pendirian organisasi Mathla’ul Anwar sendiri, pada saat itu memang bisa dilepaskan dengan fenomena sosial yang marak, yakni berdirinya organisasi sosial kemasyarakatan, seperti Sarekat Dagang Islam (1908) di Jakarta, Muhammadiyah (1912) di Yogyakarta, Al-Irsyad (1914) di Jakarta, yang kemudian disusul juga oleh NU (1926) di Surabaya, Persatuan Islam atau Persis (1923) di Bandung, Pergerakan Tarbiyah Islamiyah atau Perti (1928) di Bukittinggi, atau Al-Jam’iyah Washliyah (1930) di Medan, dan lainnya.

    Namun demikian, tentu saja pendirian Mathla’ul Anwar bukanlah sebagai kelatahan untuk ikut-ikutan membentuk organisasi sosial kemasyarakatan, tapi karena kebutuhan tertentu dan motivasi untuk membangun kehidupan umat yang lebih baik dari para tokoh pendiri Mathla’ul Anwar itu sendiri terutama kehidupan ummat di Banten.

    Baca juga :  Wakil Wali Kota: Kami Apresiasi Keberadaan Mathlaul Anwar di Kota Salatiga

    Beberapa motivasi utama dari pendirian Mathla’ul Anwar, yang nantinya ikut memengaruhi gerakan dan pemahaman dakwah dari para tokohnya, di antaranya adalah:

    Motivasi keagamaan: Mathla’ul Anwar berdiri sebagai wadah untuk menjalankan dakwah Islam yang bernafaskan ajaran Aswaja, guna membendung upaya kristenisasi yang gencar dilakukan oleh para misionaris Belanda. Gerakan kristenisasi ini misalnya secara eksplisit bisa ditemukan dalam pernyataan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, A.W.F. Idenburg: “bahwa dapat tetap dipertahankan tanah jajahan Hindia tergantung buat sebagian besar dari kristenisasi rakyat di sini.”

    Perlu diingat juga, bahwa selain gerakan kristenisasi, terdapat gerakan-gerakan pembaharuan Islam dan gerakan purifikasi (pemurnian) ajaran Islam (puritanisme Islam) yang dibawa baik oleh kalangan ulama beraliran wahabi, ataupun mereka yang berhaluan modern.

    Dalam praktiknya, ada banyak ulama atau kyai yang kemudian melarang berbagai praktik kedaerahan, budaya, dan ajaran-ajaran tradisional Islam yang sudah dibangun sejak lama di masyarakat. Para tokoh-tokoh pembaharu ini bahkan memiliki wadah gerakan yang lebih formal dan mendominasi berbagai organisasi sosial kemasyarakatan yang ada.

    Para ulama berhaluan tradisional dalam hal ini pada akhirnya merasa perlu untuk membuat suatu wadah tertentu di mana mereka bisa menyalurkan aspirasi dan menyatukan perjuangan untuk mempertahankan ajaran-ajaran Islam berhaluan tradisional yang didasarkan pada empat mazhab utama (ahlus sunnah wal jama’ah) tersebut.

    Motivasi kebangsaan: pendirian organisasi Mathla’ul Anwar juga dilatari oleh semangat nasionalisme, yakni menyatukan perlawanan terhadap praktik kolonialisme dan penjajahan Belanda. Organisasi Mathla’ul Anwar dengan kata lain didirikan untuk menjadi wadah komunikasi umat Islam di tanah Banten, guna menyatukan dan mengorganisir upaya-upaya yang dibutuhkan untuk perjuangan melawan kolonialisme.

    Kesadaran tentang perlunya organisasi yang baik dalam perjuangan melawan kolonialisme ini tumbuh seiring banyaknya kegagalan perjuangan melawan penjajahan dan kolonialisme dengan cara yang sporadis dan mengandalkan fisik serta senjata.

    Motivasi sosial: pendirian Mathla’ul Anwar merupakan wadah untuk menyatukan gagasan yang diperlukan dalam meningkatkan kehidupan sosial umat Islam, secara lebih terstruktur, sistematis, dan bisa melibatkan semua elemen yang ada di masyarakat.

    Adanya organisasi, dalam hal ini, bisa memberikan penyatuan visi dan misi, serta dasar-dasar yang jelas tentang langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk peningkatan kehidupan umat sesuai dengan ajaran Islam, serta pengelolaan sumber daya yang diperlukan dalam perwujudan upaya tersebut.

    Berbagai motivasi inilah yang mendasari semangat dan gerakan dakwah Islam yang dilakukan oleh para ulama di Banten, terutama yang tergabung dalam organisasi Mathla’ul Anwar, sehingga bisa menghasilkan gerakan dakwah yang terorganisir.

    Dalam hal ini, gerakan dakwah yang dilakukan oleh organisasi Mathla’ul Anwar tidak saja dilakukan dalam bentuk kegiatan-kegiatan pengajian keagamaan, tapi seiring pertumbuhan dan perkembangan organisasi, Mathla’ul Anwar juga melakukan dakwah sosial dalam bentuk bentuk gerakan-gerakan sosial keagamaan bernuansa ekonomis. Dakwah Islam dalam hal ini tidak saja dimaknai sebagai aktivitas penyebaran ajaran-ajaran Islam dalam bentuk pengajaran formal, tapi juga kegiatan-kegiatan sosial tertentu yang menjadi bagian dari ajaran Islam dalam penegakan sendi-sendi keagamaan pada kehidupan itu sendiri.

    Istilah dakwah bil hal, dalam hal ini menjadi salah satu jargon penting yang mengemuka di lingkungan organisasi Mathla’ul Anwar, terutama pada Muktamar Mathla’ul Anwar ke XIV pada tahun 1991.

    Dakwah bil hal dalam hal ini dimaknai sebagai kegiatan syiar keagamaan dengan mempertimbangkan faktor situasi dan kondisi (konteks) yang tengah berkembang di masyarakat. Jika yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah peningkatan aktivitas perekonomian dan kesejahteraan hidup, maka organisasi Mathla’ul Anwar harus bisa memberikan pertambahan nilai dalam hal tersebut, sebagai bagian dari dakwah keislaman.

    Karena itu pula, pada tahun yang sama Mathla’ul Anwar mulai mengembangkan pengumpulan dana wakaf/hibah di masyarakat, yang dikenal dengan istilah Dana Firdaus, dengan bekerjasama dengan salah satu lembaga keuangan besar, yakni BRI.
    Pada tataran yang lebih tradisional, pengajaran nilai-nilai keislaman juga terus dilakukan dalam bentuk pengajian oleh para tokoh ulama yang tergabung dalam Mathla’ul Anwar.

    Beberapa karya keilmuan yang mengungkap pengajaran dalam bidang Fiqh dari KH. Mas Abdurrahman misalnya (al-jawaiz fi ahkamul janaiz, kitabussholat,al mandzumaat) dan bidang tauhid (seperti Miftah al-baab al-salaam fi arkaan al-Islam wa al-Imaan) terus digunakan sebagai salah satu rujukan utama di lingkungan masyarakat Menes, Banten. Hal yang sama juga bisa dilihat pada peran sentral para kyai atau ulama yang tergabung di Mathla’ul Anwar, yang menjadi tempat bertanya bagi masyarakat untuk setiap persoalan yang mereka hadapi.

    Baca juga :  Gerhana Cincin Matahari 2019

    Melalui pendekatan sosial-persuasif seperti ini, banyak masyarakat yang bisa merasakan manfaat langsung dari organisasi Mathla’ul Anwar.

    Mathla’ul Anwar dan Pendidikan Moderasi Keagamaan

    Selain dalam bidang dakwah, kiprah utama dari Mathla’ul Anwar, adalah di bidang pendidikan. Sedari awal, Mathla’ul Anwar sudah meyakini bahwa pembangunan kehidupan umat Islam di Indonesia secara umum, tidak akan terlepas dari pendidikan.

    Masyarakat yang terdidik akan mampu memberdayakan diri mereka sendiri, yang tidak saja bisa melepaskan dari keterpurukan akibat penjajahan, tapi juga melepaskan diri dari kungkungan kebodohan yang menjadi penyakit utama di masyarakat.

    Karena itu, salah satu gerakan awal yang dilakukan oleh Mathla’ul Anwar di awal berdirinya, adalah membangun lembaga pendidikan (madrasah) untuk generasi dasar di Menes, Pandeglang, Banten.

    Dari madrasah pertama ini, Mathla’ul Anwar kemudian terus mengembangkan kegiatan pendidikannya dengan membangun lembaga-lembaga pendidikan lainnya, dari mulai tingkat dasar (madrasah ibtidaiyyah), hingga tingkat pendidikan tinggi (universitas). Pada tahun 1951 atau kurang lebih 30 tahun sejak berdirinya saja, tercatat tidak kurang dari 800 lembaga pendidikan yang sudah berada di bawah naungan Mathla’ul Anwar.

    Lembaga pendidikan Mathla’ul Anwar ini tersebar di berbagai daerah mulai dari Banten, Lampung, Bogor, Karawang, dan lainnya. Padahal sebelumnya, yakni pada tahun 1947, hanya ada sekitar 75 madrasah saja. Namun jumlah tersebut mengalami penyusutan yang sangat besar, terutama pada periode Orde Baru, ketika di tubuh Mathla’ul Anwar mengalami perpecahan yang disebabkan oleh kondisi poltik saat itu, dan banyak lembaga pendidikan Mathla’ul Anwar yang berafiliasi dengan NU dan memiliki nama Nahdlatul Ulama di belakangnya, Mathla’ul Anwar Li Nahdlatil Ulama (MALNU), atau beralih pengelolaan oleh Yayasan tertentu.

    Namun demikian, seiring gerakan sosial politik Mathla’ul Anwar yang mulai banyak bekerjasama dengan pemerintah, terutama ketika Mathla’ul Anwar terlibat dalam pendirian sekretariat bersama Golkar, eksistensi Mathla’ul Anwar juga mulai kembali menguat. Hal ini kemudian ditindaklanjuti pula dengan berbagai upaya revitalisasi madrasah yang sebelumnya sempat tidak terurus, di berbagai daerah. Pada saat yang bersamaan, Mathla’ul Anwar juga semakin meluaskan pengaruhnya hingga terdapat di 24 propinsi di Indonesia.

    Salah satu hal penting yang menjadi ciri dari lembaga pendidikan Islam yang didirikan oleh Mathla’ul Anwar ini adalah aspek modernisasi pendidikan. Modernisasi ini misalnya terlihat dari masuknya mata pelajaran umum, bahkan sebelum adanya instruksi dari pemerintah untuk memasukkan mata pelajaran tersebut.

    Beberapa mata pelajaran umum tertentu, seperti Bahasa Indonesia, Aritmetika, Sejarah Dunia, Geografi, ataupun Ilmu Pengetahuan Alam sudah terlebih dahulu diajarkan di madrasah-madrasah Mathla’ul Anwar, dan dianggap sebagai bekal penting bagi siswa-siswanya dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Mathla’ul Anwar tersebut.

    Apa yang menjadi ciri lain dan kebanggaan utama dari pendidikan di Mathla’ul Anwar adalah keunggulan dalam bidang bahasa, khususnya Bahasa Arab. Hal ini tidak mengherankan mengingat Bahasa Arab menjadi bahasa pengantar di madrasah ataupun pesantren yang berada di bawah naungan Mathla’ul Anwar.

    Ciri lainnya adalah fleksibilitas kurikulum pendidikan Mathla’ul Anwar yang bisa menyesuaikan dengan tuntutan Standar Pendidikan Nasional, yang diiringi juga dengan pemenuhan muatan lokal tertentu.

    Selain hal-hal tersebut, kiprah utama dari Mathla’ul Anwar dalam bidang pendidikan ini tentu saja keberhasilannya dalam mencetak kader-kader ulama dan tokoh publik penting lainnya di masyarakat. Lulusan lembaga pendidikan Mathla’ul Anwar bahkan sudah banyak yang menjadi tokoh di berbagai bidang, baik di tingkat lokal maupun nasional. Karena itu pula, pada beberapa kali perhelatan muktamar Mathla’ul Anwar, para pejabat tinggi negara akan ikut serta meramaikan acara tersebut, sebagai bentuk pengakuan atas eksistensi Mathla’ul Anwar di kancah sosial politik dan keagamaan di Indonesia.

    Baca juga :  Profil KH.Oke Setiadi Anggota Amirul Hajj dari Mathla'ul Anwar

    Apa yang lebih penting dari kiprah panjang Mathla’ul Anwar dalam bidang pendidikan ini adalah keberhasilannya dalam menerapkan ajaran-ajaran Aswaja yang moderat. Hal ini kemudian didukung pula dengan penekanan pengajaran tentang nilai-nilai yang terkandung pada Pancasila sebagai dasar negara, yang juga menjadi basis ideologis organisasi Mathla’ul Anwar selain ajaran Islam itu sendiri.

    Pendidikan moderasi keagamaan, yang sesuai dengan semangat Aswaja itu sendiri, merupakan hal penting yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia hari ini, mengingat banyaknya friksi di masyarakat yang seringkali timbul oleh kekerasan ideologi keagamaan tertentu, yang tidak bisa menerima perbedaan antara satu dan lainnya.

    Bentuk pengajaran dan pendidikan moderat seperti ini pula yang sebenarnya harus bisa dikemas secara lebih baik, sehingga lembaga-lembaga pendidikan Mathla’ul Anwar tidak kalah bersaing, hanya karena kalah kemasan meskipun memiliki keunggulan tertentu dalam nilai-nilai yang diajarkan.

    Terlepas dari hal tersebut, apa yang perlu dicermati juga adalah bahwa jumlah lembaga pendidikan, khususnya madrasah yang berada di bawah naungan Mathla’ul Anwar, pada hari ini belumlah mencapai jumlah yang sebelumnya pernah dimiliki oleh Mathla’ul Anwar.

    Lebih dari itu, diperlukan manajemen kelembagaan pendidikan yang lebih baik dari Mathla’ul Anwar itu sendiri, terutama untuk mengembangkan lembaga-lembaga pendidikan yang ada, agar bisa terus bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya.

    Hal ini penting untuk ditekankan, mengingat lembaga pendidikan yang dimiliki oleh Mathla’ul Anwar saat ini, belum bisa dikatakan sudah menjadi lembaga pendidikan unggulan pada tingkat nasional. Beberapa madrasah yang dahulu sempat menjadi pilihan utama masyarakat untuk pendidikan anak-anak mereka, juga sudah mulai kalah bersaing dengan sekolah-sekolah lainnya.

    Kondisi seperti ini, jika terus didiamkan, dan tidak mendapatkan perhatian yang serius dari pihak manajemen Mathla’ul Anwar secara khusus, akan menjadi sinyalemen negatif terkait peran dan kiprah Mathla’ul Anwar dalam bidang pendidikan di masa mendatang.

    Karena itu, menyambut perhelatan Muktamar ke XX yang akan diselenggarakan pada tahun ini, persoalan peningkatan eksistensi lembaga-lembaga pendidikan Mathla’ul Anwar ini perlu dibicarakan secara lebih serius, agar lembaga pendidikan Mathla’ul Anwar kembali bisa seperti dahulu, menjadi lembaga pendidikan kebanggaan dan dipertimbangkan di masyarakat.

    Penutup

    Eksistensi sebuah organisasi, sebenarnya akan lebih banyak bergantung pada keberadaan manusia-manusia di dalamnya, tidak terkecuali organisasi sosial kemasyarakatan seperti Mathla’ul Anwar, ataupun unit-unit di bawahnya, seperti lembaga-lembaga dakwah ataupun lembaga pendidikan Mathla’ul Anwar.

    Jika sumber daya manusia di dalamnya memiliki kemampuan untuk menjalankan setiap fungsi manajemen dengan baik, mampu menerapkan konsep-konsep manajemen tertentu yang berfokus pada misalnya peningkatan mutu, perbaikan berkelanjutan, dan lainnya, maka eksistensi organisasi Mathla’ul Anwar secara keseluruhan juga akan tetap terjaga dengan baik.

    Tuntutan seperti ini sudah lazim adanya, mengingat manajemen organisasi yang mumpuni akan menjadi prasyarat utama kelangsungan berbagai aktivitas yang dijalankan organisasi bersangkutan.

    Karena itu, jika Mathla’ul Anwar ingin tetap bisa menyelenggarakan kegiatan dakwah ataupun pendidikannya, pembenahan organisasi secara keseluruhan mutlak diperlukan.

    Tanpa hal itu, maka sulit bagi Mathla’ul Anwar untuk tetap eksis, terutama ketika masyarakat hari ini sudah terbiasa dengan persaingan antar lembaga pendidikan, persaingan antar dai, yang jika tidak disikapi secara baik, akan memudarkan eksistensi Mathla’ul Anwar itu sendiri.

    Ketika Mathla’ul Anwar, baik secara personal tokoh-tokohnya, ataupun lembaga-lembaga pendidikan di bawahnya, tidak memiliki daya tawar yang tinggi di masyarakat, atau keunggulan-keunggulan tertentu, maka akan sulit baginya untuk tetap bertahan di tengah persaingan yang ada.
    Kiprah panjang Mathla’ul Anwar dalam bidang dakwah ataupun pendidikan memang harus diakui oleh semua pihak.

    Namun sejarah emas dari suatu organisasi, tidak akan bermakna apa-apa, jika tidak ada kegiatan tertentu yang bisa dilakukan untuk menunjang sejarah panjang tersebut. Karena itu, pengurus Mathla’ul Anwar hari ini harus menjadikan sejarah panjang Mathla’ul Anwar ini sebagai pelecut kesadaran untuk peningkatan daya juang mereka hingga Mathla’ul Anwar terus bisa eksis dan berkembang di masa mendatang.

    hadaanallahu wa iyyaakum ilaa shirootimmustaqiim

     209 total views,  10 views today

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial