Monday , 17 May 2021

MA Tak Ada Dalam Kamus Sejarah, GEMA MA Minta Hilmar Farid Mundur

  • 03 May, 2021  16:44:57 

  • Banten, Mathlaonline – Ketua Umum DPP Generasi Muda Mathla’ul Anwar (GEMA Mathla’ul Anwar), Ahmad Nawawi Arsyad mengaku sangat kecewa atas beredarnya Kamus Sejarah Indonesia terbitan Kemendikbud. Dari dua seri yang diterbitkan, sebut Nawawi, sama sekali tidak mencantumkan nama Ormas Mathla’ul Anwar, apalagi nama para tokoh pendirinya.

    Nawawi menjelaskan, Mathla’ul Anwar adalah sebagai salah satu Ormas Islam tertua yang lahir jauh sebelum proklamasi kemerdekaan tepatnya tahun 1916, yang sampai hari ini tetap eksis dan konsisten dengan tiga gerakan utamanya yaitu dakwah, pendidikan dan sosial.

    “Mathla’ul Anwar sebagai salah satu organisasi Islam tertua dan sudah memilki perjalanan sejarah yang panjang terutama dalam bidang pendidikan, tentu saja sudah berkontribusi besar bagi kemajuan bangsa dengan jutaan alumninya yang sampai hari ini berkiprah di banyak bidang, baik pemerintahan maupun swasta di republik ini,” ujar Nawawi dalam keterangannya, Rabu (28/4).

    Baca juga :  Ahyudin: Zakat Fitrah Lebih dari Sekadar Seremoni

    Atas kekecewaan tersebut, Nawawi yang juga merupakan Dewan Pendiri Relawan Solidaritas Ulama Muda untuk Jokowi (SAMAWI) meminta Hilmar Farid segera mengundurkan diri atau dicopot dari jabatan Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemendikbud karena dinilai sebagai orang yang paling bertanggung jawab soal Kamus Sejarah Indonesia itu.

    “Sangat naif dan mengejutkan kalau seorang Hilmar Farid sebagai Dirjen Kebudayaan Kemendikbud yang katanya Expert di bidang sejarah sampai tidak tahu dan mengabaikan fakta keberadaan Ormas Islam Mathla’ul Anwar. Keteledoran Hilmar Farid sebagai Dirjen dan pihak yang paling bertanggung jawab soal ini, sungguh tidak bisa ditolerir lagi. Permintaan maaf tentu tidak cukup,” ungkap Nawawi.

    “Maka sebagai bentuk pertanggungjawaban intelektual, sejarah dan moral, kami meminta beliau dengan kesatria  segera mengundurkan diri atau diberhentikan dari jabatan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud,” tegas Nawawi.

    Baca juga :  UN bukan cuma ujian tapi buat ukur kompetensi siswa

    Nawawi menjelaskan, keteledoran Hilmar Farid tersebut sangat membahayakan bagi Indonesia, khususnya generasi muda.

    “Kami membayangkan, kalau keteledoran Hilmar Farid ini tidak mencuat dan menjadi sorotan publik, maka rakyat Indonesia, khususnya generasi muda menkonsumsi kamus sejarah yang sarat dengan kealpaan tersebut. Bangsa kita bisa menjadi bangsa yang buta sejarah. Ini sangat membahayakan,” paparnya.

    “Maka menurut kami, aneh sekali, apabila Hilmar Farid masih dipertahankan. Banyak pihak akan mempertanyakan visi-misi pemerintah, khususnya dalam bidang kesejarahan dan kebudayaan,” sambungnya.

    Lebih lanjut, Nawawi juga meminta Kemendikbud secara serius mengevaluasi dan menyusun ulang Kamus Sejarah Indonesia dengan melibatkan banyak pihak.

    “Harus penuh ketelitian, kecermatan dan melibatkan banyak pihak yang kompeten, termasuk ormas-ormas. Sehingga terbit kamus sejarah yang komprehensif. Sehingga bangsa kita akan menjadi bangsa yang menghargai serta menjunjung tinggi sejarah,” tutupnya. (Red)

     48 total views,  3 views today

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial