Tuesday , 27 July 2021

MELEWATKAN RAMADAN

  • 12 May, 2021  17:24:02 


  • Oleh Agus Nurcholis Saleh

    *Dosen di Universitas Mathla’ul Anwar, Program Studi Hukum Keluarga Islam

    TARAWEH tadi menjadi taraweh yang terakhir. Nanti juga, sahurnya menjadi sahur yang terakhir. Apakah hidupnya juga akan berakhir? Biasanya ada satu hal jika segala sesuatu menjadi yang terakhir, yaitu keseriusan, kesungguhan, dan segala pengkhususan pengalokasian karena tidak akan datang lagi kesempatan.

    Bagi Alquran, hari terakhir Ramadlan adalah hari deg-degan. Agak dipastikan bahwa Alquran akan merasa kesepian. Mohon dimaafkan jika hamba berasumsi. Ketika di Ramadlan, Alquran selalu dipegang oleh tangan, dibaca oleh lisan, dan diprioritaskan, maka setelah Ramadlan, akan berakhir pula bulan madu nan penuh kasih sayang.

    Kesungguhan yang terlihat dari manusia lebih kepada tunjangan hari raya. Padahal, permintaan Allah sangat sederhana. Saat itu, Allah akan mewisuda. Allah telah menjanjikan takwa sebagai toga. Allah akan menekan tombol off menjadi on, karena selama ini, manusia lebih banyak off untuk menerima kasih dan sayang.

    Allah meminta manusia untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya energi di bulan Ramadlan. Hal itu untuk kelanjutan tugas di sebelas bulan selain Ramadlan. Energi itu berupa kesabaran, berjenis kedisiplinan, berupa kesungguhan dan keseriusan, berbagai koneksi untuk mengintegrasikan jati diri dan berbaik-baik dengan alam.

    Allah berharap manusia tidak melewatkan Ramadlan dengan kesia-siaan. Tentu, dipersilahkan untuk memilih menjauhkan. Apakah jauh dari kebaikan, jauh dari panggilan, jauh dari kesadaran, jauh dari sertifikasi Allah atas segala perjuangan. Sepertinya, manusia lebih bersenang-senang di dunia, karena langsung terasa.

    Baca juga :  PBMA Desak Polri Ungkap Aktor Intelektual Penyiraman Air Keras

    Meskipun telah dimudahkan dalam berbagai aspek kehidupan, manusia merasa mampu menjalani hidupnya tanpa Allah. Hamba takjub dengan kebesaran-kebesaran tempat peribadatan. Tapi saat dipanggil untuk rehat, sayang semiliar sayang, panggilan itu diacuhkan. Bahkan untuk didengarkan pun tidak ada waktu yang disediakan.

    Saat malam tiba, gelapnya malam dipilih untuk dilawan. Tentu tidak masalah jika ada kebutuhan untuk penerangan. Tapi setelah kebutuhan itu berakhir, maka segeralah menikmati gelap. Allah ingin menyelimuti manusia dengan kesegaran istirahat. Allah ingin hadirkan lelap supaya proses pemulihan berjalan secara optimal.

    “Gara-gara” THR, proses alamiah semesta itu “tidak berjalan”. Malam terakhir Ramadlan menjadi malam keramaian. Katanya kesempatan terakhir. Tapi masjid tidak merasakan efek dari akhir Ramadlan. Tentu ada masjid yang semarak dengan Ramadlan. Adapun kebanyakan masjid, tidak ada yang memakmurkan.

    THR Allah pun kalah saingan. Manusia tidak cukup tertarik dengan THR dari Allah. “Tidak jelas”, begitu kata manusia. Janji dan hanya janji, entah kapan ditepati. Manusia hanya percaya pada lidah, pada tangan, dan pada saku di baju atau saldo dalam tabungan. Selain itu, no way. Lagi-lagi, Allah “kalah” oleh manusia.
    Allah ingin memajukan, tapi manusia memilih untuk memundurkan dan menghancurkan. Orientasi masa depan telah diganti dengan kekinian. Jika wujud asli manusia bisa dilihat, maka manusia sudah bonyok tidak karuan. Jika Allah tidak mempertahankan, tercerai-berailah fisik manusia.
    Secara kemanusiaan, status administrasinya masih terjaga. Tapi pikirannya sudah lama tak berguna. Hal itu terjadi sejak manusia tidak membaca.

    Baca juga :  Ormas Mathla'ul Anwar Khawatir Pidato Tito Picu Diskriminasi

    Manusia tidak mampu membedakan kata-kata, mana koran dan mana Alquran. Wajar jika manusia tidak memilih kemajuan, karena manusia tak punya energi untuk menjalankan.
    Satu hal penting saja manusia tidak mampu menjelaskan, seperti pepohonan yang ditebang “hanya” untuk ego dan tekanan. Padahal, pepohonan telah menyumbang kehidupan bagi manusia. Allah tahu manusia akan begitu, maka sumber kehidupan manusia harus dijauhkan dari manusia. Nanti dihancurkan sendiri oleh manusia, tanpa menyadarinya.

    Sadar ga sih bahwa malam ini adalah yang terakhir di Ramadlan? Bisa jadi karena puasa akan berakhir, maka berakhir pula beban tidak minum dan makan. Fokus manusia tidak kepada berakhirnya keistimewaan, tapi sudah konsentrasi pada lebaran. Apapun demi lebaran, secara pakaian, makanan, dan seluruh asesoris kehidupan.

    Padahal, hari fithri itu sangat bergantung pada keberhasilan di Ramadlan. Allah hanya akan memberikan kesucian pada yang mensucikan. Kepada yang mengotori Ramadlan, Allah tidak memperhatikan. Terserah manusia.

    Baca juga :  Lembaga Advokasi Syariah Mathla'ul Anwar Jabar Berikan Penyuluhan Hukum Pada Masyarakat Cileunyi

    Tugas itu sudah diberikan kepada malaikat untuk mendokumentasikan. Allah Maha Tahu kepada yang serius dalam perjuangan.
    Kepada yang melewatkan Ramadlan tanpa bekal perjalanan, bersiap-siaplah. Kehidupan dunia semakin memabukkan. Manusia harus segera mengenali jenis-jenis minuman.

    Jika dunia telah dicintai, maka tegaskan kepada dunia untuk menjadi saksi ahli di masa depan nanti. Apa yang dilakukan manusia di hari ini adalah gambaran di hari nanti.
    Wahai saudara, kehidupan dunia akan semakin melenakan. Hal itu jika pedoman Alquran tidak digunakan.

    Tipuan demi tipuan bermunculan. Masalah akan terus berdatangan dan memaksa manusia untuk mencari jalan. Sebagaimana jika tertekan permasalahan, klausul resiko pun tidak pernah serius diperhatikan. Ah manusia semakin berhutang.

    Allah meminta kita untuk bergerak maju, supaya tidak terlena dengan panggilan menggoda dan rupa-rupa rayuan. Setan telah menyiapkan jutaan jurus dan rumus yang memabukkan. Sekali tergelincir, sulit bagi manusia untuk kembali. Sementara manusia terus menerus menjauhi Allah. Lantas, bagaimana Allah bisa bantu yang menjauh?

    Jika malam ini tidak termanfaatkan, masih ada hari terakhir. Dalam perjuangan puasa ini, jawaban yang terbaik dari paling baik adalah pengabdian. Wallahu a’lam.

     132 total views,  3 views today

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial