Tuesday , 27 July 2021

AKAN TETAP JAYA: REFLEKSI 108 TAHUN MATHLA’UL ANWAR

  • 23 May, 2021  19:53:17 


  • Oleh Agus Nurcholis Saleh

    Penulis adalah Dosen di Universitas Mathla’ul Anwar, Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Agama Islam

    108 tahun bukanlah waktu yang sedikit. Siapapun bisa melakukan ratusan hal dengan angka sebanyak itu. Jika dipecah menjadi harian, maka ada 39.420 program yang terealisasi. Jika dihitung dengan mingguan, maka ada 5.616 program yang bisa dilaksanakan. Jika dihitung dengan bulanan, maka Mathla’ul Anwar telah berhasil mewujudkan 1.296 program.

    Jika masih tertatih-tatih, maka setidaknya ada 108 legacy yang telah ditanamkan oleh para pegiatan Mathla’ul Anwar di dunia yang fana ini. Kemudian, legacy itu menjadi paten yang tertancap di benak masyarakat, sehingga bendera Mathla’ul Anwar tidak bisa dilupakan, apalagi dihilangkan dengan begitu saja.

    Pertanyaannya, apa saja legacy yang telah ditancapkan oleh pengurus dan pegiat Mathla’ul Anwar di masyarakat? Ini yang harus dijawab. Hal ini, secara bahasa, penjabat organisasi Mathla’ul Anwar memiliki tugas yang super berat sebagai penerbit cahaya. Kalau matahari sebagai rujukan, Mathla’ul Anwar harus menerangi semesta ini sepanjang masa.

    Mari kita mulai dari Kota Menes, apakah cahaya itu telah memancar ke seluruh dunia? menerangi siapa saja, siapa yang berkenan menerima cahayanya, siapa yang terang-terangan menolak, atau siapa yang mengacuhkan cahayanya, padahal cahaya itu tidak berbeda dengan cahaya aslinya, yaitu Alquran sebagai sumber cahaya yang utama.
    Dari Menes berlanjut ke Pandeglang. Mari kita periksakan kebermanfaatannya.

    Bagaimanakah cahaya Indonesia oleh Mathla’ul Anwar, kita lihat saja cahaya MA di Banten. Bagaimanakah Banten? kita lihat di Pandeglang dan di Menes. Apakah sudah ter-cahaya-i? Itulah refleksi kritis di usia 108 tahun Mathla’ul Anwar.
    Menes di Banten, seperti halnya Yogyakarta di Indonesia.

    Sekolah/madrasah tersebar di mana-mana. Jenis dan tingkat pendidikannya terbanyak di Kabupaten Pandeglang. Hal itu telah menyetarakan Menes dengan kota-kota pendidikan lainnya di Indonesia. Berarti, penduduknya ‘sangat’ berpendidikan. Ini modal besar untuk memelihara cahaya.

    Baca juga :  Bentuk Karakter Siswa, MA Baros Adakan Student Champ Leadership

    Para pecinta Mathla’ul Anwar harus menyadari bahwa ada amanah yang harus diemban, kapanpun, dimanapun, bersama siapapun, dan dalam kondisi apapun, yaitu menjadi sumber cahaya. Dalam bahasa lain, cahaya itu sama dengan ilmu. Oleh karena itu, para pecinta MA harus menjadi ahlu al-ilmi dan berkehidupan dalam sorotan cahaya.

    Dalam sejarahnya, ilmu telah membuktikan sebagai penyelamat kehidupan. Meskipun kalah bersaing dengan harta, seluruh pecinta ilmu telah dan sedang hidup bersama wahyu. Dengan ilmu, hidupnya mengiringi waktu. Tidak sedetikpun hidup dalam bingung. Mereka tidak akan tertipu dan tidak berbakat untuk menipu.

    Ilmu adalah cahaya. Dengan cahaya, tidak seorang pun hamba-Nya yang tersesat karena gelapnya medan perjalanan. Sebagai hamba Allah, semua manusia memiliki tugas untuk menghamba pada-Nya. Ilmu sebagai penerang hamba-Nya, apalagi untuk pegiat MA. Oleh karena itu, tidak hanya berilmu, para pecinta MA harus menjadi sumber ilmu.

    Kepada para pecinta ilmu, Allah menjamin kehidupannya. Allah akan tingkatkan derajat hidupnya. Allah akan menempatkan para ‘ulama dalam maqam-Nya. Janji Allah adalah haq. Manusia harus menolak kebodohan.

    Bawalah dirinya dalam kecerdasan, supaya terhindar dari penganiayaan. Kenali alif-alipan sejak awal, supaya Alquran menjadi teman.
    Bagaimanakah keilmuan para ‘penduduk’ Mathla’ul Anwar? Secara data belum ada pemetaannya. Siapa di depan, seberapa banyak yang ‘terbelakang’, sudahkah membuat barisan, ataukah hanya seperti ‘gerombolan’, bagaikan kabut di pegunungan.

    Sedikit yang diketahui, tapi lebih banyak yang tidak diketahui. Sisanya hanya bisa diprediksi.
    Jika seseorang itu disebut pemimpin karena kaderisasi, sebutlah satu sekolah atau madrasah yang disebut wadah kaderirasi milik Mathla’ul Anwar.

    Bertahannya Mathla’ul Anwar sampai hari ini lebih ditopang oleh rasa terima kasih orang tua karena dahulu telah dicerahkan. Atau tambahannya, itu lebih karena ketokohan dan spesialisasi program.

    Selama ini tidak akan ada label yang disebutkan secara tegas, “Ini lho madrasah kader Mathla’ul Anwar.”

    Tentu, ada banyak sekolah/madrasah yang dipimpin atau dikelola oleh kader-kader terbaik Mathla’ul Anwar. Tapi, jika ada yang menyebutkan satu sekolah sebagai kawah candradimuka kader, parameternya pun belum ditetapkan.

    Baca juga :  Kepala Staf Kepresidenan Kunjungi Mathla'ul Anwar

    Secara mendasar, database adalah masalah krusial klasik di banyak organisasi, lembaga, atau instansi.

    Mathla’ul Anwar pun ikut berada diantara mereka. Bagaimana para pemirsa akan membaca dan menilai dengan benar jika sumber bacaannya tidak ada? Bagaimana Mathla’ul Anwar bisa menarik khalayak untuk mendekat? Inilah tantangan.

    Bisa jadi akan ada kick back atau counter attack. Tapi itupun semakin mempertegas kenyataan. Di dunia teknologi generasi Z, keterbukaan adalah keniscayaan. Google salah satu metode untuk pencarian. Jika belum muncul di Google halaman pertama, berarti 108 adalah angka biasa-biasa saja. Hanya menua tanpa memberikan guna.

    Sejak hari ini, mari kita gaungkan bahwa Menes adalah Mathla’ul Anwar. Jika sepelosok tanah air mengenal Mathla’ul Anwar, maka berduyun-duyun akan pergi ke Menes. Dahulu pernah terjadi. Ada peran founding fathers untuk menggaungkan Menes ke Indonesia. Hari ini, mari kita gaungkan lagi secara cantik dalam ilmu dan publikasi.

    Adalah tugas untuk kita semua supaya MA berkumandang. Secara nasional, publikasi tentang MA bisa dibantu oleh kader yang berada di level nasional. Beberapa berita telah disebarkan, sekian opini telah dibagikan. Namun demikian, publikasi itu harus berbasiskan unit terkecil Mathla’ul Anwar yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah, dan keagamaan.

    Publikasi tentang ketiga hal itulah yang masih sangat kurang. Bisa jadi karena pasokannya yang tersendat karena kiriman sumber-sumber publikasi dari para kader. Atau jangan-jangan, ketiga pondasi itu ‘belum layak’ dibanggakan? Jika demikian yang terjadi, tidak perlu malu untuk mengakui, meresapi, serta menindaklanjuti.

    Setelah itu, segeralah berjama’ah sebagaimana prinsip orang-orang ahlu al-sunnah. Setiap organ di Mathla’ul Anwar harus well-planned working. Harus ada konsensus bagi semua bahwa “Apa yang dikerjakan hari ini adalah yang telah direncanakan di pagi hari”. Setelah itu lanjutkan dengan dokumentasi yang terpublikasi.

    Baca juga :  Tokoh Banten dukung KH Mas Abdurahman Pahlawan Nasional

    Dari publikasi itulah muncul evaluasi untuk kemudian menyusun kembali dasar-dasar yang terlupakan dan terlewati, supaya apa yang terjadi di Mathla’ul Anwar itu bukanlah insidentil atau asal jadi. Tapi semua berbasiskan awalan dan menjadi eksekusi dari program yang telah direncanakan, untuk mewujudkan visi dalam realisasi misi yang tertata rapi.

    Kita harus belajar, kenapa Allah mengulang-ulang hidup dalam 24 Jam, itu supaya manusia terus melakukan perbaikan berkelanjutan. Tiada hari tanpa memperbaiki, karena kemarin telah mengalami, maka yang kurang terasa, kurang greget, kurang pas, kurang dan serba kurang, maka ada bekal untuk esok hari tidak mengulangi.
    Mari kita dokumentasikan keberlanjutan ini.

    Organisasi adalah kebersamaan dalam pergerakan. Itulah kenapa shalat harus dilakukan secara berjama’ah. Organ-organ menjalin harmoni tanpa ada yang merasa harus di depan. Siapapun yang tampil di depan, maka harus diterima sebagai amanah/kepercayaan. Nanti akan bergiliran pada waktu yang terbaik.

    Ada banyak organ yang tidak perlu dilihat orang. Bahkan, akan timbul kemaluan atau kengerian. Selama kehidupan, sedikit organ yang tampil di permukaan. Sisanya harus bersembunyi di dalam. Mereka tidak perlu dilihat ummat. Mereka cukup berbahagia telah menjadi bagian dari pergerakan.

    Jika ada yang kebagian tugas di depan, itu amanah yang harus direalisasikan dan dipertanggungjawabkan. Amanah itu secara dunia-akhirat harus dilaporkan. Kepada yang di belakang, bersabarlah bersama kasih sayang Tuhan. Pada saatnya nanti, amanah itu akan datang di waktu yang terbaik. Begitulah yang diajarkan Allah melalui shalat.

    Harmoni adalah alasan kejayaan. Organ-organ di organisasi harus sadar posisi. Sekali keributan dibesar-besarkan, kejayaan itu hanyalah fatamorgana. Meski ratusan nominalnya, meski berstatus sebagai ‘pembesar’, posisi dan angka itu hanyalah pemanis di mulut saja.

    Tugas kita adalah memelihara cahaya. Selama keberadaanya terjaga, Mathla’ul Anwar akan berjaya sepanjang masa.

    Wallahu a’lam.

     159 total views,  3 views today

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial