Monday , 26 July 2021

Masyarakat Berpancasila

  • 01 June, 2021  18:53:44 

  • Oleh: Ahmad Syafaat

    Lihatlah. Turun ke kampung, kemasyarakat, dijalan, dipasar masih banyak potret pemandangan yang memilukan, mengiris hati berkeping-keping. Ada anak-anak terlantar yang didiamkan, ada orang tua jompo tak diperhatikan. Apakah nilai pancasila berlaku di kehidupan nyata? pertanyaan ini tak perlu jawaban cukup dijawab dengan tindakan. Sesuai Peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni 2021 mengangkat tema Pancasila dalam tindakan bersatu untuk Indonesia tangguh.

    Pembawa obor kebangsaan jangan sampai padam ditengah hiruk pikuk perjalanan bangsa ini, cahaya nilai-nilai pancasila harus tercermin dalam diri kehidupan sehari-hari. Generasi muda harus berada di depan membawa obor untuk mencegah paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila, arah perjalanan bangsa ini ditangan generasi muda yang akan menerima tongkat estafet pembangunan.

    Tak lekang oleh zaman, Mathla’ul Anwar sebagai ormas Islam yang turut berkontribusi dalam bidang dakwah, pendidikan, dan sosial, tetap meyakini Pancasila sebagai dasar negara yang harus dipertahankan. Keyakinan ini penting untuk _mengcounter_ paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila.

    Pemahaman dan tafsiran pancasila tidak boleh di kapitalisir oleh kelompok tertentu, puncak dari implementasinya adalah kesejahteraan masyarakat Indonesia. Menurut penulis pendekatan ala millenial harus digalangkan agar ruh pancasila menyatu dengan generasi bangsa. Seperti kesadaran beragama, kepedulian sesama, menjaga keberagaman, dan peduli kondisi sosial.

    Baca juga :  Antusias Warga MA Jelang "Kemah Bhakti Nasional Mathla'ul Anwar ke-1" 2018

    Jika merujuk tentang pemahaman kaum muda terhadap pancasila nyatanya belum secara integral mempraktekannya. Hal ini memang harus ada ijtihad generasi muda dalam menginternalisasi pancasila menjadi gerakan civil society yang mampu membangkitkan spirit kebangsaan.

    Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam Pancasila itu ialah semangat bersatu, menghormati perbedaan, rela berkorban, pantang menyerah, gotong royong, patriotisme, nasionalisme, optimisme, harga diri, kebersamaan, dan percaya pada diri sendiri. Pancasila harus dijadikan cara hidup _(way of life)_ seluruh anak bangsa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

    Penerapan pancasila harus di mulai dari Istana Sampai ke kampung-kampung, bahkan kesadaran ini dimulai dari keluarga. Terpenting ialah hakikatnya tetap terpelihara dan diamalkan.

    Gardu Kebangsaan

    “Masyarakat Berpancasila” Bukan saja karena warganya yang hafal sila-sila Pancasila, tetapi yang terpenting bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila bisa diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

    Baca juga :  MTs Mathla'ul Anwar Jatiuwung Sabet Juara 2 Marawis Dalam Festival Internasional Al 'Azhom

    Gardu atau pos ronda merupakan tempat kecil yang ada di perkampungan. Biasanya sering kita mendengar dan melihat pos ronda atau gardu di benak kita pasti langsung terpikirkan dengan kegiatan siskamling (Sistem Keamanan Keliling). Padahal pos ronda bermultifungsi menjadi tempat yang strategis sebagai embrio menumbuhkan nilai dan wawasan kebangsaan serta dapat bertransformasi menjadi tempat pengejawantahan nilai-nilai pancasila, jika penulis sebut sebagai “Gardu Kebangsaan”. Dimulai dari gardu atau pos ronda biasanya lahir entitas yang menyatu dengan masyarakat dan lingkungan.

    Sejatinya pos ronda memiliki peranan penting dalam membumikan pancasila di akar rumput, jika menelisik dan menghitung ada berapa pos ronda disetiap kampung? apakah masih hidup? bayangkan, jika pos ronda hidup dan berjalan aktifitasnya di setiap kampung seperti budaya gotong royong, menjaga keamanan, hidup rukun sesama tetangga, Semua masyarakat guyub, tetapi di tengah arus modernisasi fungsi pos ronda hampir pudar dan tereliminasi oleh hidup yang individulistik.

    Baca juga :  Mathlaulanwar.or.id, "Intelegence and Connected"

    Gardu Kebangsaan ini merupakan suatu wujud aplikasi dan internalisasi nilai-nilai Pancasila sebagai pondasi moral, sosial, budaya dan ekonomi dalam mendukung suatu ketahanan nasional yang berkelanjutan melalui kegiatan kemanusiaan, sosial dan pendidikan.

    Gagasan munculnya ‘Gardu Kebangsaan’ sebagai lokomotif perwujudan nilai pancasila. Berbagai daerah lain sudah hadir dengan berbagai istilah seperti dusun Pancasila, Desa Pancasila, Kampung Pancasila, bermula dari kegelisahan sebagian masyarakat melihat kondisi bangsa pasca reformasi 1998 lalu. Dimana masyarakat selama 23 tahun terakhir ini diperlihatkan kondisi bangsa yang mengalami disorientasi tujuan  kemerdekaan, dengan ditemukannya masih banyak kemiskinan, konflik sosial, demonstrasi, kriminalitas sehingga mengusik rasa aman dan nyaman masyarakat.

    Kehadiran gardu kebangsaan ini juga dikarenakan tereduksinya nilai-nilai pancasila semenjak reformasi bergulir. Pemerintah dan masyarakat seolah-olah apatis terhadap nilai-nilai Pancasila sehingga memunculkan kesadaran warga masyarakat untuk membangun kembali jati diri bangsa. Selamat hari lahir pancasila 1 Juni 2021, tetaplah harum dan menyinari bangsa ini.

    Penulis adalah Ketua DPW HIMMA Banten

     114 total views,  3 views today

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial